
Sekali lagi, Ella memandangi pantulan dirinya di depan cermin. "Wah, ternyata bakat yang aku punya bisa di sebut multifungsi." Merasa puas dengan hasil make up nya yang cepat.
Terakhir kalinya ia merapikan rambut dan bersiap keluar dengan penuh percaya diri. Papa pasti menunggu dan kini bersiap pulang, karena sudah larut malam. Bisa-bisa besok bangun kesiangan dan telat masuk sekolah. Langkah kakinya yang ringan dan raut wajah gembira tegambar jelas. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok tinggi dengan setelan jas berdiri tak jauh darinya. Sesekali melihat kearah jam tangannya, mungkin sedang menunggu seseorang karena sikapnya yang sedikit gelisah.
"Om Rega." Sapa Ella riang dengan senyum sumringah.
"Apa kita saling kenal?" Gadis manis yang sejak tadi ia perhatikan kini berdiri disampingnya dan tersenyum. Yang lebih membuatnya terkejut ia mengetahui namanya.
"Wah, ni Om-om makin hari makin tua. Makin nambah deh pikunnya."
Om?
Sepertinya ia sedikit ingat sosok yang selalu memanggilnya Om, apa mungkin mereka orang yang sama.
"Malah bengong lagi, kesambet lo Om kalo kebanyakan bengong."
"Elo?" Berusaha mengingatnya.
"Syukurlah kalo udah inget jadi gak harus ngingetin lagi."
Rega menarik nafas panjang dan membuangnya kasar, kenapa juga harus ketemu sama tu bocah pas lagi sikonnya gak dukung kayak gini. Cuma bikin emosi sama naik darah doang ketemu tu cewek.
"Lagi janjian sama ceweknya ya Om?"
Penuh selidik melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kalo kencan gaul dikit lah Om biar ganteng maksimal, jangan pakai kayak gini nanti dikira mau kerja." Memberikan saran tapi yang dikasih saran gak nanggepi sama sekali dan berwajah datar.
"Kapan gue kawin sama Tante lo?" Katanya hampir meledak.
"Gak usah marah, nanti ganteng nya ilang diganti sama keriput."
"Gue berharap banget gak bakal ketemu lo lagi dimana pun itu, bahkan di ujung dunia sekalipun."
"Tapi buktinya kita ketemu, gak usah jauh - jauh sampek ujung dunia." Katanya polos.
Rega mencengkram bahu wanita didepannya itu kuat hingga membuatnya sedikit meringis.
"Lo nguntit gue?"
"Apaan sih?" Melepas paksa tangan rega dari bahunya dan meninggalkan bekas merah pada kulit bahunya yang putih mulus itu.
"Gak ada sejarahnya nguntit orang. Kayak gak ada kerjaan aja. Om ini jadi orang kaku banget, pikirannya negatif mulu sama orang lain."
"Pantes lah kalo negatif apa lagi sama orang kayak elo yang perlu waspada saat ketemu."
"Enak aja, emang Ella buronan atau sejenisnya yang harus di waspadain kalo ketemu?" Katanya sedikit jengkel.
Tanpa sadar Rega menarik ujung bibirnya sedikit melihat gadis mungil yang berdiri hanya sampai dadanya itu menampakkan muka nya kesal, membuatnya sangat imut. "Setiap ketemu pasti gue sial."
"Yang harusnya bilang gitu Ella, bukan om. Tuh lihat...." Menunjuk perban di kakinya. "Karya seni yang Om bikin akibat meleng pas nyetir. Kan yang sial Ella bukan Om, orang yang di rugiin Ella kok." Katanya ketus, "Udah cantik kaya gini malah tu perban bikin merusak pemandangan."
Rega melirik ke bawah, benar ia lupa saat itu menyerempetnya dan meninggalkan luka disana. Ada sedikit rasa bersalah saat melihatnya.
"Om benci banget ya sama Ella?"
"Gak sempek tahap benci, cuma kuping gue panas lo ngoceh mulu."
"Selamat Om, artinya telinga Om masih waras dan berfungsi dengan baik." Menyalami Rega tanpa persetujuan darinya.
"Kan Ella pernah bilang kalo jodoh itu gak bakal kemana " Melambaikan tangannya dan meninggalkan Rega yang mematung.