Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Mimpi Buruk


"Jangan...!!!"


Teriakan Ella membangunkan Rega yang tertidur lelap malam ini, setelah apa yang Yun lakukan Rega memilih untuk tidak membangunkan Ella dan membiarkannya tidur dan tersadar dengan sendirinya. Kesadaran itu Ella dapatkan dengan teriakan histeris, jam menunjukkan pukul dua dini hari yang membuat Rega mengumpulkan nyawanya yang melayang dengan cepat untuk menyadarkan dirinya sesegera mungkin. Wajah Ella terlihat pucat dengan keringat memenuhinya, bahkan kepala bergerak liar tanpa kendali seiring teriakan-teriakan yang terus keluar dari mulutnya.


"Sayang?" Rega menepuk pelan pipi Ella untuk menyadarkannya, ia tak pernah meliha t Ella seperti sekarang ini.


"Jangan..., Aku mohon...," Katanya dengan menggapai tangan kosongnya ke udara, seolah ingin menggapai sesuatu disana.


"Sayang...," Rega mengangkat kepala Ella dan menyandarkan di dadanya, menepuk pipinya lebih kencang di bandingkan tadi untuk membuat kesadarannya kembali. Tak ada reaksi apa pun membuat Rega mengguncang tubuh Ella lebih keras, mengembalikan kesadarannya secara paksa.


Perlahan Ella membuka matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang tertangkap oleh matanya.


"Sayang?" Kata Rega lembut dengan mengelus pipi Ella, "Sayang?" Ulangnya lagi.


Panggilan kedua itu menyadarkan Ella dan dengan sempurna dapat mengenali keadaan sekitar dan juga orang yang ada di sampingnya. "Abi?" Seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat, Ella mengulurkan kedua tangannya untuk menangkupkan ke wajah Rega memastikan apa yang ia lihat adalah kenyataan.


"Iya sayang?" Rega membiarkan Ella meraba wajahnya, terlihat jelas ke kwatiran di kedua matanya saat ini. Rega tersenyum lembut untuk menenangkan Ella secara tak langsung, menghadiahkan ciuman hangat di kedua pipinya secara bergantian.


"Ella takut," Ujarnya dengan mata berbinar-binar, tampak air matanya telah berkumpul di ujung matanya siap menetes.


"Gak ada yang di takutin, semua baik-baik aja." Rega menenggelamkan Ella dalam pelukannya, terdengar jelas detak jantung Ella yang tak beraturan saat mereka menempel satu sama lain tanpa penghalang selain kain yang menempel di permukaan kulit mereka.


"Tapi Ella bener-bener takut...," Mencengkram kuat baju Rega, saat Rega ingin melepaskan pelukannya Ella menahannya. "Jangan tinggalin Ella Bi, Ella gak mau sendirian lagi. Ella takut kehilangan lagi, Ella gak mau kehilangan lagi." Menitikkan air matanya dan mengeratkan cengkraman tangannya seolah tak ingin melepaskan. Ella merasa seakan Rega akan pergi meninggalkannya sendiri setelah ia melepaskan pelukannya tersebut.


Rega memeluk erat, perasaan bersalah langsung merayap ke dalam tubuhnya. Maaf sayang, Abi harus ngelakuin ini semua. Maaf karena belum bisa menjadi suami sempurna seperti yang kamu mau. Rega menciumi pucuk kepala Ella dengan perasaan bersalah, ia tau bahwa ia akan menyisakan luka namun tak ada pilihan lain untuknya.


"Abi harus janji kalau gak bakal ninggalin Ella." Ujarnya di sela isak tangisnya, tanpa alasan yang tepat Ella merasa bahwa Rega akan meninggalkannya.


"Kamu ngomong apa? Bukannya Abi selalu sama kamu?" Jawab Rega, "Mimpi apa tadi?"


Ella menghapus air matanya, menyandarkan kepalanya di dada keras suaminya itu dengan kedua tangannya melingkar di pinggang Rega.


Mimpi???


Kenapa semua itu tampak nyata kalau hanya mimpi???


Rasa sakit yang gue rasa saat Rega ninggalin gue masih terasa.


"Sayang?"


Ella menggelengkan kepala cepat, membuang semua pemikirannya itu. "Ella mimpi Abi ninggalin Ella sendiri, Ella cuma sendiri saat melahirkan. Abi pergi ninggalin Ella." Katanya dengan tatapan mata nanar.


"Itu cuma mimpi, buktinya sekarang Abi masih ada disini kan?" Katanya meyakinkan.


Ella mengangguk mengiyakan, kenyataan yang Rega katakan adalah kebenaran. Mereka masih bersama saat ini dalam keadaan saling memiliki satu dengan yang lain, bahkan kini mereka berpelukan dengan sangat nyaman.


"Ini masih malam, kita tidur lagi atau kamu mau makan? Biar Abi yang masakin." Tawar Rega, soalnya dari tadi Ella belum makan apa-apa. "Abi selama seminggu ini balal ngambil cuti, Abi mau jagain istri Abi yang manja ini sampek kamu bosen." Rega melepaskan tangan Ella yang melingkar di pinggangnya.


"Ella masih mau peluk Abi." Melingkarkan tangannya kembali.


"Tapi kamu perlu makan, kasian anak kita di dalam sana kalau kamu gak makan."


"Gak mau, Ella gak lapar." Katanya lagi.


"Abi ambilin buah ya?" Kata Rega menawarkan alternatif lain buat ngisi perut Ella yang kosong, bujuk ibu hamil itu lebih susah ketimbang bujuk investor.


"Gak mau Ella maunya...," Belum lagi selesai ngomong rasanya perut Ella mengeras dan sedikit sakit, refleks ia melepaskan tangan yang melingkar di pinggang Rega dan beralih ke perutnya.


"Ada apa?" Kata Rega panik melihat ekspresi wajah Ella yang berubah menjadi ekspresi menahan rasa sakit.


Ella menggeleng pelan, mengatur irama nafasnya untuk membuat semuanya kembali seperti semula.


"Sayang?" Rega mengangkat wajah Ella, melihat secara langsung dan benar saat ini wajah itu menahan rasa sakit.


"Abi panggil Raka dulu." Mengalihkan kepala Ella ke atas bantal dan meraih hp yang ada di meja samping tempat tidurnya.


"Ka, sekarang lo harus ke rumah gue."


"Ya ampun Ga, lo seneng banget sih ngerjain gue. Ini udah lewat tengah malam mau bikin sensasi apa lagi sih lo sama gue?" Umpat Raka kesal, Rega itu paling bisa nyuruh datang padahal gak terjadi apa-apa.


"Gue gak ngerjain lo, Ella sekarang kesakitan sambil megang perutnya." Katanya cemas dengan menggenggam tangan Ella, walau tak mengatakannya secara langsung Rega tau betul apa yang Ella rasakan dari raut wajahnya.


"Ga, gue juga mau istirahat."


"Brengs*k! Istri guw sekarang lagi kesakitan dan lo itu bisa-bisanya ngomong kayak gitu. Kalo lo gak datang malam ini gue pastiin besok pagi lo bakal gue pecat!"


Raka melihat layar Hp-nya, Rega memutuskan pembicaraan secara sepihak dengannya.


"Kenapa?" Tanya Anggun yang matanya msih merem, kebangun sama suara Raka yang nerima telpon.


"Rega, kumat lagi penyakit. Kebiasaan sok darurat padahal gak ada apa-apa," Jawabnha santau sambil menarik selimutnya lagi.


"Kenapa?"


"Katanya perut Ella sakit, tadi aja Abang liat dia dalam keadaan baik-baik aja malah Yun yang tangannya berdarah."


Mendengar Apa yang Raka barusan omongin bikin Anggu langsung melek, "Apa? Perut Ella sakit?"


"Iya, Palingan cuma akal-akalan Rega."


"Abang apaan sih?!" Anggun menarik paksa selimut Raka, "Abang lupa kalo sekarang Ella dalam keadaan hamil? Bisa aja itu kontraksi atau lainnya. Bukannya Abang cerita kalau Ibu hamil itu gak bisa stres?" Kata Anggun sedikit kesal. "Ella kan masih kuliah, apa lagi ini masa dimana menguras tenaga dan pikiran."


Seketika Raka tersadar mendengar apa yang Anggum katakan, "Iya, ni Abang berangkat." Menyibakkan selimutnya sembarangan, lupa bahwa keadaan stres sangat mempengaruhi janin yang ada dalam kandungannya. "Maaf ya sayang Abang tinggal terus." Kata Raka merasa bersalah dengan Anggun yang setiap saat ia tinggalkan karena tuntutan pekerjaan yang setiap waktu memerlukannya.


Anggun mengangguk, memahami posisinya sebagai istri seorang dokter yang harus rela membagi waktu dengan pekerjaan yang setiap saat memanggilnya. Bukan cuma membagi tapi lebih tepatnya lebih banyak ngalah, untungnya Raka bukan tipe orang yang keluyuran gak jelas kalo udah selesai kerjaannya langsung pulang ke rumah. Tiao mau pergi selalu minta ijin duluan. "Gak pa-pa kok, lagian Anggun juga tau apa yang Abang lakuin itu untuk orang lain." Anggun ikut bangun dan menyiapkan tas yang sering Raka bawa, "Kabari aku nanti kalau udah tau keadaan Ella."


Raka mencium kening Anggun, ritual wajib yang ia lakukan sebelum meninggalkan istrinya tersebut. "Hati-hati di rumah. Abang udah bawa kunci cadangan jadi gak usah nunggu Abang pulang." Ujarnya dengan memakai sandal dan menutup pintu.


Anggun melihat kepergian Raka dengan perasaan khawatir, Semoga aja gak terjadi apa-apa sama Ella dan bayinya, mengelus perutnya yang udah mulai buncit tersebut.


******


Hi mbak-mbak dan mas-mas yang cantik-cantik....


Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu dan baca novel author, secara pribadi author sangat berterimakasih buat kalian semua...


🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗


Rasanya seneng banget kalian masih nungguin Up dari author dan itu jadi semangat buat author mainin jari bikin rangkaian kata.


Jangan lupa Like sama Votenya biar authornya tambah semangat lagi buat berkarya.


Yang pada main tebak-tebakan ada apaan sih sama Rega???


Authot aja masih nebak sebenarnya ada apa sama Rega dan rahasia apa yang Rega sembunyiin dari Ella.


Buat yang penasaran tunggu aja ya...,


Makin kesini makin seru kan, makin bikin bayak pertanyaan yang keluar.


Tetap di rumah aja ya...Makin lama makin banyak aja korban dari pandemi yang lagi naik daun di seluruh dunia. Author rasanya sedih karena masih banyak orang yang sadar sama bahaya dan masih banyak yang keluyuran gak jelas di luar sana, padahal apa susahnya sih diam di rumah???


Sayangi keluarga dan orang terdekat kita dengan tetap menjaga jarak dari kerumunan orang banyak. Jangan lupa pakek masker kalo harus keluar dari rumah dan jangan lupa sesering mungkin cuci tangan sehabis melaksanakan aktifitas.


#Safefamilly