
Jangan lupa mampir ke novel autor yang liannya yach...
Ada beberapa novel yang author tulis, ada yang udah tamat, yang gantung, dan yang masih jalan.
kalian buka aja profil author buat nemuin novel-novel yang author tulis. Tapi sempat juga biat mampir ke Labirin Cinta, novel yang khusus ceritain percintaan Yun, jadi yang fans sama abang Yun sang sekertaris tampan cus aja kepoin ke sana yach....
Labirin Cinta juga ganti cover depan ya say... Covernya abang Yun yang gantengnya bikin diabetes akut loh.
*******
Normal maupun cesar, keduanya sama-sama proses melahirkan yang beresiko. Namun seorang ibu tetap berjuang melewati semuanya demi sang bayi yang akan lahir ke dunia ini, begitu pula yang Anggun lakukan saat ini berjuang untuk melahirkan anaknya dengan proses operasi cesar yang sama sekali tak ada dalam jadwal melahirkannya. Di bandingkan keras kepala dan mempertaruhkan nyawa diri sendiri serta sang buah hati akhirnya Anggun menerima saran dari Ella untuk melakukan bedah dan sayatan di perutnya. Kondisinya yang tak memungkinkan membuat Anggun menyerah pada kenyataan dan berserah diri untuk melakulan tindakan ini menyelamatkan nyawa anaknya yang sangat ia nantikan kehadirannya.
"Nyonya, saya akan melepaskan semua asesoris yang ada pada tubuh anda." Kata seorang perawat yang mengenakan baju putih meminta ijin kepada pasiennya untuk melepaskan asesoris yang melekat di badan sesuai prosedur.
Anggun mengangguk, membiarkan perawat itu melepaskan asesoris yang ia kenakan. Tak banyak, hanya anting dan cincin kawin yang Raka sematkan dulu saat melamarnya yang sama sekali tak pernah Anggun lepas dan ini kali pertamanya cincin itu lepas dari jari manisnya.
"Saya akan menyimpannya dan menyerahkan kepada keluarga anda nyonya." Ujarnya dengan menyimpan dalam sebuah kotak khusus perhiasan. Kemudian ia mengambil baju khusus untuk di kenakan selama operasi, "Nyonya, saya akan melepaskan semua pakaian dan menggantinya. Anda tidak usah malu karena hanya ada kita berdua di sini." Meletakkan di samping tempat tidur dan mulai melepaskan satu persatu pakaian pasien tersebut. Perawat yang bernama Elis itu terpana melihat betapa mulus dan bersihnya kulit wanita tersebut. "Kulit nyonya sangat lembut dan mulus, semua wanita pasti merasa iri dengan anda." Katanya tulus memuji, memakaikan pakaian yang telah ia siapkan dengan hati-hati.
Angun tersenyum tipis mendengarnya, sebagai seorang model tentu saja ia harus merawat tubuhnya dengan sebaik mungkin sebagai aset utama dalam pekerjaannya yang menuntut kesempurnaan fisik di mana pun dan kapan pun tanpa terkecuali.
"Nyonya, saya akan mencukur bulu di perut bagian bawah anda." Sebelum operasi, Elis mencukur bulu di perut bagian bawah pasien untuk memudahkan proses pembedahan, kemudian mencucinya dengan antiseptik untuk membersihkannya dari berbagai kuman yang mungkin akan membahayakan yang menyebabkan infeksi.
Mau gimana lagi, Anggun cuma bisa pasrah-pasrah aja apa lagi dalam keadaan kayak gini. Cuma kayak gini sih gak ada apa-apanya di bandingkan dengan menahan rasa sakit yang ia rasakan saat ini apa lagi masih mikirin rasa malu atau lainnya.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Elis bersiap mengantarkan pasien menuju ruang operasi yang telah siap menunggu. Dokter anastesi pun telah siap menunggu untuk menjalankan tugasnya membius pasien agar tidak merasakan sakit saat operasi berlangsung, kalo gak ada anastesi gak kebayang gimana rasa sakit yang bisa aja kan berujung oaca hilangnya nyawa pasien karena rasa sakit tersebut, terlebih dahulu Elis meminta pasien untuk menandatangani surat persetujuan yang sebelumnya telah di tanda tangani suami pasien.
"Nyonya, tolong anda tanda tangani surat perjanjian ini dulu. Suami anda telah menyetujui semua bentuk yang tertuang di dalam dan kini giliran anda." Mengambil pulpen dan ma yang berisi surat perjanjian. Surat tersebut memuat rincian prosedur operasi, efek samping serta risiko yang mungkin terjadi, anestesi yang harus dilakukan, dan sebagainya.
Tanpa bertanya atau membacanya Anggun langsung membubuhkan tanda tangannya, dan benar saja ia melihat tanda tanga Raka di sana. Setelah selesai ia menyerahkan kepada perawat yang ada.
"Silahkan anda berbaring dan saya akan membawa anda ke dalam ruang operasi yang semua tim telah menunggu." Ujarnya dengan memperbaiki posisi infus sebelum menuju ruang operasi yang ada di samping.
Anggun melihat orang-orang yang cukup banyak di dalam ruangan dengan memakai baju medis khusus berwarna hijau dengan menggunakan masker. Anggun sama sekali tidak bisa mengenali wajah mereka satu persatu kecuali seorang wanita yang perutnya juga besar, siapa lagi kalau bukan Ella. Hal ini demi memastikan operasi berjalan lancar. Setiap orang yang ada di dalam ruang operasi memiliki tugas masing-masing untuk menjaga keselamatan ibu dan bayi, keberadaan mereka sangat penting dalam melakukan dan melaksanakan perannya masing-masing.
"Sayang?" Raka mendekati istrinya yang telah berganti pakaian khusus dan terpasang selang kateter untuk menampung air pipisnya selama melakukan operasi nanti atau selama keadaan belum memungkinkan pasca operasi untuk pergi ke toilet saat panggilan alam datang. "Abang gendong kamu ya buat pindah tempat, kalungin tangannya di leher Abang." Kata Raka dengan meraup tubuh Anggun dengan kedua tangannya. Gak bakal rela Raka kalo tubuh berharga istrinya itu di gendong oleh pria lain walau pun mereka anggota medis dan gak ada niat apa pun, tetep aja Raka gak rela. Kalo bisa malah Raka bakal ngelakuin operasi sendiri biar gak ada yang liat gimana mulus dan halusnya tubuh Anggun tapi apa mau di kata kalau gak ada pilihan lain yang akhirnya terpaksa tu cowok harus ngiklasin yang sebenarnya gak ikhlas.
Anggun mengalungkan tangannya ke leher Raka seperti yang suaminya itu katakan. "Gak berat Bang?"
Raka menggeleng dan mencium kening Anggun sebelum meletakkannya pelan-pelan di meja operasi.
Dokter Syarif, selaku dokter anastesi mendekat. Memberikan bantal empuk buat di peluk saat nanti ia melakukan suntikan epidural, "Nyonya, saya akan melakukan suntikan epidural di bagian tulang belakang yang membuat anda mati rasa dari punggung ke bawah. Suntikan epidural ini akan membuat anda tetap terjaga selama operasi berlangsung, namun tidak merasa kesakitan saat pembedahan ya...," Katanya dengan mengambil jarum khusus yang telah di sediakan. "Anda menunduk sedikit, peluk aja bantal dan bayangin kalo lagi meluk suaminya." Menyentuh bahu pasiennya itu untuk menunduk dan mendapatkan posisi yang pas, setelah ia rasa posisinya pas maka dokter Syarif melakukan aksinya. Menyuntikkan cairan. "Tahan ya nyonya... Mungkin akan sedikit sakit dan saya harap anda tidak melawannya dan sebisa mungkin anda rileks... Jangan tegang ya... ." Bius epidural juga mungkin tidak bisa bekerja dengan baik saat dokter sulit menemukan rongga epidural di tulang belakang yang akan disuntik atau obat bius tidak mencapai saraf, sehingga tidak efektif mengurangi nyeri. Apabila kondisi tersebut Anda alami, maka dokter akan mengulang prosedur atau merekomendasikan metode penghilang rasa sakit lain dan untuk itu dokter Syarif melakukannya dengan sangat hati-hati agar dalam satu tindakan semua berjalan dengan baik dan lancar.
Anggun menutup matanya saat rasa nyeri ia rasakan di tulang punggungnya, mencoba menganggapnya biasa-biasa saja dan menahan diri untuk tidak bergerak dan santai se santai-santainya seperti yang dokter itu katakan tapi yang namanya gugup dan tegang itu satu kesatuan yang bikin Anggun rasanya deg-degan. Padahal gak ada rasa takut sama sekali tapi rasanya tegang banget di tambah ruangan yang rasanya dingin itu malah nambah tegang dan gugup.
"Nanti kalau selama operasi ada rasa sakit, nyonya langsung ngomong aja jangan di tahan jadi saya bisa menangani keluhan anda." Ujarnya setelah berhasil memasukkan semua cairan bius. "Sekarang anda berbaring dan kita akan memulainya." Dokter Syarif juga menyuntikkan obat tambahan untuk memastikan bahwa bagian bawah tubuh benar-benar mati rasa, dua orang asisten dokter membentangkan tangan kanan dan kiri pasien untuk memeasang beberapa alat di bagian-bagian tertentu.
Semua orang bersiap di tempat mereka masing-masing untuk menjalankan tugas yang akan mereka laksanakan. Ella mengambil kursi untuk duduk di sebelah kiri Anggun, menggenggam tangannya untuk memberikan dukungan secara moril bahkan peralatan medis(Instrumen bedah) yang bakal di gunakan untuk bertempur telah tersusun dengan sangat rapi sesuai urutan dan fungsinya yang telah si sterilkan terlebih dahulu demi menghindari infeksi pada pasien.
"Baiklah, sebelum kita kita mulai kita berdoa untuk kelancaran operasi yang akan kita lakukan kali ini. Berdoa menurut agama dan kepercayan masing-masing..." (Kalo kayak gini author jadi inget acara doa pas upacara berlangsung, mengheningkan cipta tapi bingung mau doa apaan waktu itu.) Ruangan tampak sangat sepi saat semua orang berdoa, bahkan suara derak jantung aja sampek kedengaran saking sepinya. "Selesai." Ujar Fuad mengakhirinya.
Kain berwarna hijau di bentangkan di bahu Anggun untuk menghalangi pandangan mata pasien dari aktifitas tenaga medis yang melakukan tindakan, memisahkan tangan dan pandangan matanya dari area operasi yang steril. Anggun hanya bisa melihat ke samping tanpa bisa melihat ke arah perutnya. Lampu besar di atas kepala kini telah menyala, menandakan bahwa saat ini telah siap untuk melakukan tindakan operasi yang langsung bikin tegang. .
"Nyonya, coba angkat satu kakinya." Kata seorang asisten dokter untuk menguji apakah obat bius telah bekerja dengan sempurna atau belum.
Anggun mengangkat sebelah kakinya yang terasa berat dan mulai kesemutan, lama kelamaan mulai mati rasa saking banyak semutnya.
"Angkat lebih tinggi dan setinggi yang anda bisa." Katanya lagi melihat gerakan dari kaki pasien semakin lemah yang menandakan bahwa obat telah berjalan dengan sempurna.
Dokter Anwar selaku pemimpin operasi mengintruksikan untuk segera memulai karena pasien telah kebas dan mati rasa, menandakan bahwa obat telah berjalan dan bisa memulainya. Instrumen bedah alat kesehatan yang satu ini wajib dimiliki oleh dokter yang melakukan operasi dan juga wajib dimiliki oleh Rumah Sakit. Instrumen bedah ini harus sesuai dengan standar Internasional karena alat ini yang membantu dokter dalam melakukan pembedahan, tersusun rapi sesuai urutannya dan tentu saja sudah di sterilkan terlebih dahulu sebelum siap di gunakan.
Ina yang bertindak sebagai perawat dan salah satu asisten dokter Anwar melakukan melakukan desinfeksi pada lokasi pembedahan, kemudian melakukan drapping, menyelimuti tubuh pasien dengan duk besar dan duk kecil, yang terbuka hanya lokasi sayatan saja. "Semuanya siap dokter." Katanya lagi setelah selesai.
"Nyonya Anggun, gimana rasanya mau jadi seorang Ibu?" Ujarnya dengan melakuan sayatan hingga terlihat lapisan putih dan keras, yang disebut juga fasia (jaringan keras yang melapisi otot perut). Mengajak komunikasi pasien adalah salah satu metode pengalihan yang sangat mujarab agar pasien tidak merasa takut. Fasia di robek dengan gunting sampai kelihatan otot perut.
"Tentu aja seneng banget dok, rasanya udah gak sabar buat liat anak aku yang keluar." Rasa sakit yang tadi Anggun rasakan kini benar-bemar hilang, cuma ada rasa dingin dan kebas di bagian tubuh bawahnya dan rasa lainnya yang susah di ungkapkan.
"Nanti mbak Ella kalo melahirkan mau normal atau kayak mbak Anggun juga? Ni di bikinin jedela tambahan loh mbak buat adik bayinya yang gak bisa keluar lewat pintu utama" Dokter Anwar mengganti nama panggilan biar lebih akrab dan enak sambil melakukan tugasnya sebagai operator. (otot perut di kuak oleh 4 tangan, assisten dan operator, hingga menganga lebar, sampai terlihat lapisan peritoneum, yaitu jaringan tipis pelindung rongga perut).
"Kalo bisa normal aja, tapi kalo gak ya gak masalah sih harus ngelakuinnya." Ella menengok bagian yang tertutup tirai berwarna hijau untuk melihat sejauh mana sudah berlangsung. Ina memberikan gunting pada tangan kanan dokter Anwar dan pinset chirurgi pada tangan kirinya, sedangkan Elis sebagai assisten mendapatkan pinset chirurgi. Operator dan assisten menjepit lapisan peritoneum dengan chirurgi, lalu mengangkat, diantara jepitan lalu di gunting hati-hati agar usus atau isi dalam perut lainnya tidak kena. "Asal bisa keluar dengan selamat dok tanpa ada kekurangan apa pun."
"Gak takut mbak liatnya? Takutnya nanti malah ngeri sendiri pas ngelakuin bedah buat melahirkan." Setelah menganga, dinding rahim bagian luar terlihat jelas, Instrumentator memberikan hak blass pada assisten, dan assisten memasukan serta menarik ke arah bawah paha pasien, agar leher rahim kelihatan jelas oleh operator.
"Ya ampun dok, saya kan juga dokter jadi gak mungkin lah takut." Jawab Ella yang masih melihat dan memperhatikan proses sayat menyayat yang dokter Anwar lakukan hingga sejauh ini dan rasanya biasa-biasa aja karena Ella udah terbiasa dengan kegiatan yang kayak gini.
"Dokternya masih perjaka lo mbak Ella." Kata Elis yang ikut menjadi tim OK dalam operasi kali ini, suasana yang santai dan asik kayak gini sebisa mungkin mereka lakukan agar membuat pasien gak ngerasa tegang dan merasa nyaman tanpa tekanan.
"Masak sih?"
"Bener, malah di sini yang umurnya lumayan dan belum nikah ya beliau."
"Ha ha ha ha...," Dokter Anwar tertawa mendengarnya, julukan perjaka tua udah melekat padanya. "Kamu bisa aja Lis mujinya. Lagian kan dokter Syarif juga baru menikah." operator tidak langsung menyayat dengan pisau, tapi di gunting perimetrium (dinding luar rahim) dan di kelupas selebar 2 cm, kemudian baru menggunakan pisau untuk menyayat miometrium (otot tengah rahim) hingga kepala/ rambut bayi kelihatan.
Namanya di bawa-bawa membuat Syarif ikut menimpali, "Yang penting kan laku dok, di bandingkan kamu yang udah cukup berumur malah kalau di kamoung udah mau punya cucu."
"Ya ampun... Aku ngerasa jadi yang paling imut di antara kalian karena yang masih jomblo cuma aq doang. Tolong puterin musik saudara-saudara aku ya, itu loh para lelaki tampan yang bikin para wanita histeris kalo liat."
"Emang saudara dokter siapa??" Kata Fuad yang gak ngeh.
"Ya ampun Fuad, kamu gak tau kalau boyband kayak BTS itu saudara aku." Sambil memberikan intruksi untuk membantu mendorong agar bayi bisa turun ke bawah, kali ini Fuad langsung melakukannya. Setelah kepala bayi kelihatan, operator memasukan lengan pada dinding rahim yang telah bolong tadi, untuk menarik kepala bayi agar pas untuk di dorong dan di keluarkan.
"Tuh kan mbak, gimana mau laku kalo narsisnya kelewatan." Kata Elis yang sibuk mengambilkan intrumen bedah yang di perlukan oleh dokter Anwar.
"Itu kurang narsisnya, malah suami aku ini kelewat narsis. Masak dia bilang lebih ganteng di bandingkan Lee Min Hoo??? Kalian percaya gak sih?" Celetuk Anggun yang mulai terpancing obrolan santai para penghuni ruang operasi tersebut, rasa tegang dan gugup yang ia alami kini telah hilang dan tergantikan dengan suasana hangat dan nyaman.
"Masak sih mbak? Berarti mbak beruntung banget dong punya suami gantengnya lebihin Lee Min Hoo gitu. Mau dong dokter Raka di bagi dikit gitu ilmunya biar aku dapat istri yang cantik kayak mbak Anggun." Ujar Fuad yang sambil mendorong jabang bayi, walau mulut mereka gak bisa diem tapi tangan Mereka juga gak diem dan beraksi. Malah dari tadi gak berhenti-henti lagi kerjanya.
"Boleh, entar habis ini temui aku ya biar aku bagi ilmunya. Tapi kalo punya istri yang cantiknya kayak cintaku gak boleh, soalnya di dunia ini cuma ada satu dan aku gak bakal mau berbagi dan di samain sama yang lain."
"Ya elah Abang..., kumat lagi kan tuh lebay dan narsisnya. Lagian ya bukannya mirip Lee Min Hoo tapi malah Lek mek hok." Kata Anggun yang hapal banget sama narsis dan lebaynya suaminya itu, gak kenal tempat dan waktu kalo udah kumat yang bikin sakit mata dan telinga orang sekitarnya.
"Biarin aja, buktinya kamu cinta dan mau jadi istri aku. Itu bukti kalo abang lebih ganteng dari artis jepang itu."
"Plies deh Abang Raka yang gantengnya seantero jagad raya, tu orang cakep dari Korea ya bukan dari Jepang." jawab Ella yang pengen ketawa dengernya, asal ngomong dan gak mau kalah ya kayak gitu walau pun salah. Sok tau tapi aslinya dia gak tau.
"Kamu mau juga La punya suami kayak cowok cantik itu?"
"Kalo bisa milih sih mungkin..., Kenapa? Mau di aduin sama Rega?" Ngeduluin ngomong di bandingin Raka yang ngomong kayak gitu, Ella mah udah hapal gimana watak nya Raka makanya langsung ceplos aja.
"Iya, bakal gue kasih tau Rega kalo bininya ngelirik cowok lain."
"Bilangin aja sana, lagian ya lelaki ku yang satu itu tau kok gimana halu dan bucinnya sang istri tanpa lo kasih tau. Tapi parah banget sih lo, cowok mulutnya lebar alias tukang ngadu." Jawab Ella yang telak mengudang tawa dari orang lain yang dengernya, yang ada tu mereka berdua berdebat dan lupa kalo sekarang lagi di dalam ruang operasi.
******
Hi Reader...
Siapa nih yang masih melek jam segini??? Yang jelas Author sendiri masih melek ya walau udah lewat tengah malam, hari ini full jadwal dari melek sampek malam yang akhirnya punya waktu buat nyelesaiin dan ngirim naskah lewat tengah malam.
Siapa nih yang punya pengalaman operasi sesar pas lahiran???
Kalo Author malah udah dua kali ngalamin operasi. Awalnya itu bayangan Author agak gimana tapi ternyata pas udah mulai dab masuk ruangan beda banget sama apa yang di bayangin sebelum masuk dan jalanin operasi. Bukannya tegang malah asik dan seru lo, sempet juga di tawarin mau denger musik apaan dan waktu itu author minta k-pop gitu lah, di ajak bicara dan becanda-becanda yang bikin Author gak ngerasa gugup di dalam. Rasanya tu lebih cepet, tapi menurut Author lebih cepat melakukan penyayatan buat ngeluarin si bayi di bandingkan balikin dan rapiin perut kita dengan menjahit satu persaty lapisan kulit yang gak tau persisi ada berapa lapis gitu yang harus di tutup.
Makasih buat kalian yang udah setia buat nunggu Up, tetap setia baca novel yang author tulis ini.
Jangan lupa kasih dukungan lewat vote, komen dan likeny yach...
Makasih....