
Dikala semua orang kalang kabut buat nolong Ella yang kepala bocor akibat benturan benda keras, di sini sang pemeran utama malah enak-enakan tidur sambil mimpi indah dengan berbagai menu kesukaannya yang berjejer rapi di atas meja panjang. Bukan tanpa sebab Ella mimpi kayak gitu, karena perutnya emang beneran lapar yang dari tadi belum makan karena berbagai drama yang terjadi sebelum mereka berangkat sampai akhirnya Ella lupa makan dan perutnya perih karena kelaparan. Walau dalam keadaan tidur, Ella masih bisa mendengar samar-samar apa yang ada di sekitarnya. Tentu saja, suara berisik antara Raka, Yun dan Rega terdengar di telinganya yang bikin mimpi indahnya itu berubah menjadi mimpi mencekam. Oh..., Ternyata gue cuma mimpi? Pantes aja dari tadi makan gak ada rasanya pas masuk dalam mulut. Walau berusaha keras, rasanya susah banget buat buka kelopak matanya yang rasanya udah kayak di gantungi sama besi berpuluh-puluh kilogram. Saking beratnya Ella gak sanggup buat melek, yang ada masih merem walau udah berusaha buat buka tu mata dan liat apa yang tiga lelaki itu ributkan.
"Gimana keadaan Ella?" Kata Rega yang duduk di pinggira tempat tidur istrinya, wajahnya masih sepucat tadi walau tangannya berangsur-angsur hangat. Rasanya udah kayak di ujung tenggorokan nyawa Rega melihat apa yang terjadi di depan matanya langsung, beruntung kecelakaan itu gak mempengaruhi janin yang ada di dalam kandungannya hanya saja pendarahan di kepala Ella membuatnya harus menerima trnasfusi darah. Sejak awal Ella sudah mengidap anemia dan rendahnya HB, di tambah dengan pendarahan yang terjadi membuatnya harus menjalani transfusi. Untungnya stok darah yang cocok tersedia hingga dapat di lakukan transfusi itu dengan cepat.
"Sorry Ga, untuk saat ini gue sih berharapnya semua bakal baik-baik aja. Untuk kandungan gak ada masalah sama sekali, semua baik. Untung calon anak kalian dalam keadaan kuat dan sehat jadi gak ada pengaruhnya, tapi...," Raka memberikan jeda, merasa sedikit ragu untuk mengatakan apa yang mengganggunya saat ini.
" Tapi apa Ka?"
"Kemungkinan Ella bakal amnesia."
*******
Setelah mengantarkan anaknya untuk cek kesehatan, Udin tak langsung pulang. Ia mampir untuk membeli koran dan berharap ada lowongan pekerjaan di sana yang dapat ia masuki untuk mendapatkan uang yang akan ia gunakan sebagai biaya pengobatan anaknya. Penghasilan yang ia hasilkan sebagai tukang kebun di sebuah perkebunan buah hanya cukup untuk menopang kehidupan mereka sehari-hari tanpa bisa menyisakan karena obat yang harus ia tebus mempunyai nilai nominal yang tak sedikit. Bahkan Udin menempuh jalan pintas untuk mendapatkan uang banyak dengan cara instan dan itu adalah pilihan terakhir yang ia lakukan dan menjadi pilihan yang ia sesali kemudian. Udin mengambil dua koran keluaran terbaru setelah melihat apa kah yang ia inginkan ada di sana, mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribu. Uang terakhir yang ia miliki dan berdoa semoga uang itu membawa keberkahan tersendiri untuknya dan keluarga kecilnya. Putri semata wayangnya tampak sangat pucat, dan itu membuat Udin sebagai seorang Ayah merasa tak berguna.
Setelah melewati perkebunan Apel yang sangat luas, akhirnya Udin tiba di rumah yang pemilik perkebunan itu siapkan. Ya, Udin memang tinggal di tengah-tengah perkebunan tempatnya bekerja beserta anak dan istrinya sebagai buruh serta penjaga perkebunan apel tersebut. Selain memudahkan untuknya kerja, Udin dapat menghemat uangnya karena tak harus mengeluarkan uang untuk sewa rumah. Pemilik perkebunan sangat baik, memberikan beberapa sembako gratis dan juga rumah yang dapat meringankan beban hidupnya.
"Paman?" Yun segera berdiri saat melihat motor yang memasuki pekarangan rumah, tampak orang yang ia tunggu datang bersama seorang wanita dewasa dan satu anak wanita yang ia yakini bahwa mereka adalah istri dan anak dari paman.
"Kamu kenapa?" Tanya Udin yang heran melihat kedatangan anak yang ia culik tadi pagi dan bersama seorang anak kecil, Anak kecil???
"Maaf paman..., Yun menyambut kedatangan paman itu, "Bo-bolehkah saya minta bantuan paman?" Katanya dengan ragu-ragu.
"Bu, tolong bawakan air minum dan makanan buat mereka." Ujarnya pada istrinya yang membuka grendel pintu untuk masuk.
"Iya Pak."
"Paman bisa bantu apa?"
"Tolong antarkan anak kecil ini pulang, saya rasa akan sedikit susah untuknya ikut saya jalan kaki." Yun melihat gadis kecil itu yang duduk kelelahan, walau tak mengatakannya secara langsung hanya dengan melihat ekspresinya Yun langsung menyadari.
Udin mengernyitkan keningnya, mencoba melihat anak kecil yang duduk tersebut. "Rumah kamu di mana?"
Ella kecil menggeleng karena ia memang kurang tau atau lebih tepatnya gak tau di mana rumahnya.
Udin menggaruk kepalanya, ngomong alamat sama anak seusia gini emang susah banget. "Kalian kok bisa ketemu?"
Yun menceritakan semua kejadian saat mereka bertemu hingga memutuskan untuk kembali ke rumah tersebut.
"Baiklah...," Udin menimbang apa yang akan ia lakukan pada dua anak di depannya, "Paman akan mengantarkan kamu pulang dulu."
"Tapi paman...,"
"Kamu juga lupa di mana rumahmu?"
"Akh..., bukan begitu...," Yun menyembunyikan kegelisahannya, ia tak ingin Ayah angkatnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan mempersulit paman itu. Mengingat bagaimana sifat kerasa Ayah angkatnya itu membuat Yun menggigit bibir bawahnya.
"Sudah lah, Paman akan mengantarkan kalian berdua pulang. Karena gadis kecil ini belum bisa kita tanya di mana rumahnya sementara itu paman akan mengantarkanmu pulang. Bukannya kamu sendiri tadi yang ngomong kalau kalian jalan berdua bakal bahaya di jalan?"
Yun mengangguk pelan untuk membenarkannnya.
"Karena itu paman akan mengantarkan kalian pulang, paman juga bertanggung jawab atasmu." Katanya penuh sesal. "Paman akan baik-baik saja, jangan khawatir." Katanya seolah tau apa yang anak kecil itu pikirkan. Melihat istrinya datang dengan nampan berisi makanan dan minuman membuatnya berdiri, "Sekarang kalian makan dulu. Sebentar lagi malam pasti kalian lapar kan?"
"Kakak, Eyya lapar...," Memegang ujung baju kakak yang ia temui, mata kecilnya terus melihat ke arah makanan yang ada di dekatnya. Perutnya sudah lapar sejak tadi dan makanan itu terlihat sangat menawan dan membuat cacing-cacing di dalam perutnya berteriak.
Udin menggendong gadis kecil yang sangat cantik itu dan memangkunya, mengambil piring dan mengisi dengan nasi serta lauk pauk. Menyuapi dengan sabar dan sesekali mengambilkan air minum. "Sebaiknya kamu makan juga."
Yun mengangguk dan mengambil piring serta mengisinya, memasukkan suapan pertamanya yang langsung di sambut dengan suka cita oleh indera perasanya. "Bibi, masakan Bibi sangat enak."
Istri Udin tersenyum mendengar pujian tersebut, "Kamu... Bikin Bibi gemes."
"Benar kok, rasanya enak banget." Katanya jujur, "Tapi, masakan Ibu tentu saja yang paling enak."
"Ha ha ha ha..., " Udin tertawa mendengarnya, "Paman yakin kalau masakan di dunia ini yang paling enak adalah masakan Ibu. Nanti setelah kamu menikah pasti masakan istri kamu yang paling enak."
Yun tersenyum malu mendengarnya, bagaimana mungkin anak kecil sepertinya berpikir sampai ke pernikahan. Sekilas, Yun melihat seorang anak perempuan dengan wajah pucat mengintip dari balik jendela kaca memperhatikannya. Yun melemparkan senyumnya ke arah gadis kecil itu yang langsung membuatnya bersembunyi di balik gorden berwarna biru langit.
*******
"Lo bilang Amnesia?" Kata Rega mengulangi apa yang Raka katakan.
"Gue sih gak bisa mastiin itu, semoga aja saat Ella bangun entar dia bisa ingat kita semua. Tapi kalo inget gimana luka di kepala cukup parah kemungkinan itu bakal ada."
Yun yang datang dengan membawa beberapa koper besar di bantu OB rumah sakit meletakkannya di ujung ruangan, memberikan tip kepada OB yang telah membantunya dan mengucapkan terimakasih sebelum ia keluar ruangan.
Rega mengernyitkan alisnya, barang sebanyak itu? Yun bukan tipikal laki-laki ribet yang selalu membawa banyak barang saat mereka bepergian tapi apa yang ia lihat kebalikan dari Yun yang biasanya dengan koper besar yang terparkir cantik di atas lantai.
Seolah tau apa yang Rega pikirkan membuat Yun mengatakannya, "Barang bini lo, bukan punya gue." Duduk di samping Raka dan menyambar air minum yang baru aja Raka buka untuk ia minum.
"Kebiasaan lo main serobot," Katanya dengan wajah masam, emang kelakuan Yun yang satu ini gak pernah berubah.
"Sementara nunggu Ella sadar, lo istirahat dulu beberapa hari sambil memantau kesehatan dan mempersiapkan kesehatan lo." Kata Raka yang telah mendapatkan labar bahwa semua persiapan sudah selesai dan tinggal nunggu kesiapan Rega.
Mendengar suara ribut-ribut dari tadi bikin Ella mau gak mau membuka mata, mengerjapkan kelopak matanya perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit berwarna putih dengan aksen hiasan pinggir berwarna gold, tentu saja Ella tau kalau ini bukan langit-langit kamarnya.
"Ella?" Kata Raka yang pertama kali melihat mata wanita itu mengerjap perlahan, membuat Rega yang duduk di samping istrinya itu terlonjak.
"Sayang?"
"Kita di rumah sakit." Rega memegang tangan Ella yang memakai selang infus, mengusapnya lembut dan tersenyum. Menyiapkan hatinya jika apa yang Raka katakan itu benar, seandainya Ella benar-benar amnesia dan tak mampu mengingatnya.
"Rumah sakit?" Ujarnya mengulangi dengan mengedarkan pandangan matanya, mengusuri setiap sedut ruangan.
"Hai La?" Raka mendekat dan berusaha bersikap sewajar mungkin untuk melihat reaksi alami Ella.
Ella menatapnya tanpa suara, bahkan tatapan dingin serta ekspresi wajahnya datar saat melihat ke arah Raka. Ternyata trio cecunguk itu yang membuat keributan dan membangunkannya secara paksa dari mimpi-mimpi indahnya.
"Lo tau ini berapa?" Mengarahkan lima jarinya di depan Ella dan lagi-lagi tak ada tanggapan darinya.
"Lo inget sama gue?"
Kali ini mata Ella beralih pada sosok Yun yang berdiri di samping Raka dengan ekspresi yang tak terbaca.
"Kamu inget sama Abi kan?" Tambah Rega yang gak mau kalah sama dua temannya itu.
"Kalian bertiga apaan sih?" Katanya bingung campur kesal melihat ulah mereka bertiga yang aneh banget dari tadi.
"Lo inget sama kita kan?" Tanya Raka lagi.
"Iya lah inget, muka kalian bertiga itu hampir tiap hari gue liatnya masak iya gak ingat?"
"Huh...,"
Lega banget semuanya dengar kata-kata Ella barusan, berarti yang di takutin Raka itu gak kejadian. Buktinya Ella bisa ingat sama mereka.
"Bukannya yang harusnya di rawat itu Abi? Kok malah Ella yang tiduran disini?" Tanya-nya heran, mereka tadi berangkat buat ngantar Rega mejalani transplantasi sum-sum belakang tapi kenapa malah dia sendiri yang sekarang terbaring di atas tempat tidur dengan infus di kedua tangannya. Malah tiga orang itu langsung action pas Ella bangun, nanyain hal-hal aneh segala yang bikin heran.
"Itu...," Rega bingung mau jelasinnya gimana soalnya pas kecelakaan Ella dalam keadaan tidur jadi sama sekali gak tau dan gak nyadar yang terjadi saama dia.
"Abi kenapa sih?" Liat Rega yang bingung bikin Ella ngerasa ada yang aneh sama suaminya itu.
"Aduh...,"Rintih Ella pelan memegangi perutnya.
"Yang?" Kontan Rega khawatir dan takut liat Ella yang tiba-tiba aja merintih kesakitan dengan memegangi perutnya. "Sayang?"
"La, lo gak pa-pa kan? Apa yang lo rasain sekarang?" Katanya heboh langsung memeriksa perut Ella.
"Aduh La..., lo jangan bikin gue jantungan kayak gini." Tambah Yun yang kalang kabut sendiri.
Tuh kan mereka benar-benar aneh, bukan cuma satu tapi langsung tiga-tiganya bersikap aneh hari ini.
"Abi?"
"Ya sayang?" Jawabnya dengan harap-harap cemas.
"Rasanya Ella...,"
"Udah, lo tenang aja gue bakal ngerawat lo sebaik mungkin."
"Maaf La, gue bener-bener minta maaf semua ini salah gue. Gue yang nyebab-in ini terjadi."
"Jangan tinggali Abi ya sayang? Abi gak bisa hidup tanpa kamu."
Ella mengerjapkan matanya cepat, tingkah mereka bertiga itu emang bikin isi kepalanya bingung tujuh keliling. Apaan coba tingkah mereka yang lebaynya gak ketulungan itu? "Ella tu cuma minta...,"
"Iya sayang, Abi tau." Sahut Rega, "Abi gak bisa jagain kamu dan akhirnya kayak gini."
"Abi?!" Teriaknya jengkel, "Ella mau minta makan, perut Ella tu laper banget. Kalian apa-apaan sih dari tadi aneh banget kelakuannya?" Kesel rasanya di permainin sama mereka, dari tadi mau ngomong aja di potong-potong gak di dengerin sampek habis pakek acara nge-drama lagi.
"Lapar?" Kata Raka yang kayak orang ling lung, mikirnya udah jauh banget. Di kira ada masalah sama kandungan Ella pas tadi merintih sama pegang perut gak taunya cuma laper.
"Iya laper, dari rumah gak ada makan." Jawabnya polos.
"I-iya, entar Abi pesenin makanan."
"Sekarang Abi!"
"Iya, Yun beli-in makanan buat Ella."
"Gak mau kalau beli, Ella mau makan masakan Yun."
Yun yang udah siap sama Hp-nya buat pesen makanan langsung diem denger permintaan Ella, Kenapa gue yang kena imbasnya kek gini? "La, gue mana bisa masak?"
"Abi...," Rengek Ella dengan menatap Rega yang ada di sampingnya.
"Yun...,"
"Ga, sumpah gue gak bisa masak."
Bukannya dengerin malah melotot ke arah Yun yang keliatan banget frustasi, frustasi di suruh masak sama Ella.
"Oke, kalo gak enak jangan protes." Katanya mengalah, liat ekspresi Rega barusan tu ngeri banget. Lo yang hamilin dia gue juga yang kena imbasnya... Awas aja lo Ga bakal gue bales entar.
**********