
" Honey, kamu sakit apa? "
Ella yang baru aja mau merem langsung melek segar bugar dengar suara teriakan dari lantai dasar. Kaget banget udah kayak penggrebekan di film-film.
Bukan cuma Ella, tapi semua penghuni rumah pada bangun kepaksa.
Tampak Willy menaiki anak tangga dengan berlari yang tambah berisik, suara langkah kakinya menggema dalam ruangan yang sepi itu.
"Malam-malam bikin ribut." Sungut Devi yang kesal tidurnya terganggu menghadang di muka pintu kamar Sonya, kebetulan malam ini Devi ketiduran karena lagi nemeni Sonya.
Willy yang udah gak sabar ketemu adik tercinta itu hanya melirik dua rubah betina yang tak menyukai kedatangannya.
"Keluarga ini apa gak punya tata krama?"
Mendengarnya bikin Willy yang tadi mau mengabaikan mereka berubah haluan untuk melayaninya. "Terimakasih atas kata sambutannya." Willy menyunggingkan bibirnya dengan eksresi mengerikan.
"Datang malam-malam bikin keributan di rumah, cepat keluar sebelum ku panggilkan satpam."
"Tio, panggil satpam." Perintahnya pada Tio yang berdiri tak jauh darinya. Tio melakukan apa yang di perintahkan Tuannya itu
*Ba*kalan ada drama nih kalo udah kayak gini,
batinnya sambil menuruni anak tangga.
Gak perlu waktu lama Tio kembali bersama Mang Udin, yang udah puluhan tahun menjadi satpam di rumah ini.
"Kerja kamu apaan biarin orang luar masuk malam-malam bikin keributan."
Mang Udin yang bingung cuma bisa diam sambil melihat ke arah Rega yang senyum itu. "Maksud Nyonya siapa yang orang luar?" Menurutnya semua yang ada di sini adalah keluarga tuannya.
"Kamu gak bisa lihat, kamu masukin orang luar gitu aja! Mulai sekarang gak usah kerja lagi disini." Menunjuk ke arah Willy kesal.
"Maaf Nyonya, Den Willy adalah adik dari Tuan besar yang berarti dia Tuan rumah ini." Menjelaskan silsilah keluarga di rumah ini, kali aja kan gak tau karena orang baru. "Tuan memerintahkan Mang Udin cuma terima perintah dari Tuan besar juga Nona Ella, jadi Nyonya gak punya hak untuk mecat Mang Udin." Katanya lagi berbangga diri.
"Semuanya sama aja, sama-sama gak waras!" Teriaknya frustasi gak punya hak apa pun di rumah ini walau pun sudah menyandang gelar Nyonya Johan.
"Jangan lupa bikinkan kopi buat asisten saya Nyonya..." Kata Willy bikin suasana tambah runyam tapi malah menyenangkan di matanya.
BRAK !
Devi membanting pintu sekuat tenaga mendengarnya, di rumah ini posisinya tak ubah kayak pembantu di bandingkan Nyonya rumah.
"Kak?"
Willy memalingkan pandangannya, Ella berdiri di muka pintu dengan menyandarkan badannya di sana.
"Kenapa bangun?" Membimbing Ella masuk ke dalam kamar.
"Kakak datang berisik banget gimana Ella gak bangun." Memonyongkan bibirnya kesal.
"Sorry princes.... Kakak udah cemas banget dengar adik kakak yang cantik ini sakit, Tio sialan itu bikin jadwal Kakak gak habis-habis." Mengumpat ke arah Tio yang tampanganya gak berdosa sama sekali udah bikin bosnya kesal bukan main.
"Kok kamu di pasangin ginian?" Menunjuk infus di tangan Ella.
"Kerjaan Im Rega, katanya biar cepat sembuh."
Willy yang denger nama Rega udah merasa perasaannya sebagai lelaki terusik. "Kalian pacaran?"
Ella diam, gak bisa jawab soalnya bingung mau jawab apaan.
"La, kok bengong?" Menyadarkan Ella yang ngelamun.
"Ella gak ngerti jawab apa, habisnya Om Rega ngajak Ella nikah terus."
Willy sempoyongan dengernya, ternyata tu orang beneran nekad langsung ngajak nikah bukannya pacaran.
"Kamu jawab apa?"
"Ella jawab gak mau lah, masak iya kayak mama sama papa nikah muda?"
Setidaknya kan masih ada harapan kalo di tolak, biar di terima selama belum 'sah' Willy gak bakal nyerah gitu aja.
"Tapi kemaren Om Rega ngajak Ella pacaran dulu selama tiga bulan, habis itu terserah deh Ella mau terima lamarannya apa enggak."
"Kamu jawab apa?"
"Ella jawab iya." Katanya polos sambil pipinya bersemu merah.
Willy ngerasa lemes banget, baru tadi naik ke langit ke tujuh ni udah nyunsep ke lapisan tanah ke tujuh.
"Kak Willy kenapa?" Ngeliat Willy yang tumbang kayak pohon di terpa angin p*ting beliung dan mendarat di kasur empuk Ella kayak kelayangan putus.
"Kayaknya Kakak perlu infus juga."
Tio yang cepat tanggap langsung meminta perawat yang duduk di sofa luar untuk memasang infus.
"Apa-apaan ini?" Kata Willy pas tu perawat datang bawa jarum dan peralatan lainnya.
"Dia meminta saya untuk melakukannya."
Willy menatap Tio horor, kerasa banget atmosfir langsung berubah di dalam kamar itu. Rasanya udah kayak di kutub aja saking dinginnya gara-gara tatapan mata Willy ke arah Tio. Tio cuma cengengesan bukannya takut, santai banget.
"Lo mau esok pagi nama lo ada di batu nisan?" Ancamnya.
"Saya hanya menjalankan perintah untuk melayani bos besar dengan baik, bukannya tadi anda bilang perlu melakukannya? makanya saya memanggilkan perawat."
"Sekertaris si*lan! Lo gak bisa bedain perumpaan sama kenyataan ya!"
"Cuma kadang saya bingung, Tuan muda becanda apa beneran."
Willy melempar buku yang ada di meja belajar.
Tio menghindarinya dengan sangat mudah, karena ia memiliki keterampilan khusus dalam bela diri dan persenjataan. Syarat khusus sebagai asisten dan tangan kanan seorang Willy harus mampu dan memiliki berbagai macam keterampilan di atas rata-rata orang pada umumnya.
"Tuan seharusnya lebih giat berlatih, karena keterampilan tuan kelihatannya menurun."
Baru aja Willy mau ngambil buka lainnya yang gak jauh dari tangannya perawat yang udah dari tadi gatel mulutnya mau ngomel itu buka suara.
"Kalian berdua keluar, disini pasien perlu istirahat bukannya malah bikin ribut." Mendorong dua laki-laki dewasa tapi kelakuan kayak anak kecil.
"Jangan ada yang masuk ke dalam kamar tanpa seijin saya." Katanya sebelum menutup pintu, membiarkan dua orang itu saling pandang dan akhirnya tertawa konyol bersama.
"Kita di usir perawat cantik bro...."
"Iya, di usir dari rumah sendiri."
Willy menyandarkan badanya di dinding kamar dan meluruskan kakinya. "Jomblo akut nih kayak nya kita."
"Lo kan banyak punya simpanan cewek."
"Mereka gak ada yang bener, cuma ngincar harta gue."
"Apa sih bagusnya Rega br*ngsek itu jadi Ella sampek mau di ajak pacaran sama dia?"
"Kalo gue jadi cewek bakal pilih dia, soalnya lo itu kalo marah bawannya batu nisan melulu." Memasang ekspresi wajah takut.
"Gue kebiasaan, susah bedain dua dunia gue."
"Sampai kapan lo bakal hidup di dunia dunia kayak katak?"
"Sampek punya istri dan keluarga kecil, gue sedekahin sama lo tu satu dunia yang gue rintis dari nol."
"Ogah, mana gue mau."
"Gue kasih yang enak malah gak mau?"
"Enak apanya jadi bos mafia, Yang ada nyawa gue di ujung tanduk tiap hari." Tio tak pernah menginginkan jabatan tinggi yang selama ini Willy tawarkan dalan dunia gelap yang mereka jalani, bahkan sejak dulu ia bertekad saat Willy memutuskan berhenti Tio akan melakukan hal yang sama.