Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Teman


Setelah memesan dua nasi goreng dan dua cangkir es kelapa, Azhar berniat kembali ke meja di mana ia meninggalkan Ella dengan membawa dua air mineral buat minum sebelum pesanan datang. Belum nyampek tempat dia udah liat dua orang mahasiswi angkatan terdahulu menghampirinya, disana ia melihat tindakan yang gak bakal di bayangin sebelumnya. Kalo selama ini ia melihat Ella sebagai cewek mungil nan manis dengan rupa dan bentuk seperti itu membuatnya rapuh dan perlu di lindungi dengan sekuat tenaga dari predator yang ada di luar, tapi pikiran itu buyar seketika. Saat dua predator mendekatinya dengan sikap sok kuasa dan mengancam ternyata ia menjadi sosok yang tak sama seperti gambaran visual dirinya selama ini. Dengan sikap tenang dan langkah yang pasti mampu menundukkan dua predator tersebut dengan membuat mereka terpojok hingga tak bisa berbuat banyak dan akhirnya menyerah tanpa perlawanan yang berarti. Azhar mengerjakan matanya melihat pertunjukan luar biasa di depannya itu yang juga menjadi pemandangan yang sama dengan mahasiswa yang tengah ada di kantin, yang awalnya pengen turun tangan buat bantuin Ella langsung di urungkan saat liat semua itu. "Wow, amaizing." Ujarnya dengan tatapan mata tak percaya dan takjub, ternyata kecil-kecil cabe rawit yang langsung mengubah pandangannya tentang Ella dari awalnya gadis manis dan polos menjadi seorang wonder women. Seulas senyum tampak di wajahnya, perasaan puas dan senang menyelimuti hati dan pikirannya. Akhirnya ia memutuskan untuk mendapatkan seseorang yang menjadi tujuan hidupnya, wanita yang sangat sempurna di matanya dari berbagai macam sisi dan memiliki kepribadian yang mampu membuatnya tercengang dan berdecak kagum. Wanita polos namun memiliki sesuatu yang sangat luar biasa di luar pemikirannya, sesuatu yang sangat langka dimiliki wanita lainnya di luar sana yang menurutnya akan sangat cocok dan layak untuk mendapatkan status sebagai Nyonya dalam keluarganya.


Oke, petualangan baru bakal di mulai dan aku gak bakal menyia-nyiakan kesempatan emas ini.


Ella memelankan langkah kakinya saat merasa cukup jauh dari kantin, jadi pusat perhatian dari orang itu bukan gaya dan keinginannya. Ella cuma mau menjalani hari-hari dengan tenang tapi gak tau kenapa malah muncul dua kucing yang pura-pura jadi singa yang kontan memancingnya. Apa lagi kantin dalam keadaan full dari berbagai jurusan.


Kruyuk...


Bunyi perut yang di cuekin itu akhirnya gak bisa lagi di tahan, Ella mengusapnya perlahan dengan mengelurkan nafas kesal karena gagal gak bisa makan. Baru inget kalo tadi dia barengan sama orang yang entah siapa namanya itu, lagi-lagi Ella lupa dan ninggalin penyelamatnya di sana tanpa kabar. Gak pengen jadi artis dadakan bikin Ella ngambil langkah seribu dan langsung nyelonong gitu aja, bukan cuma orang yang di tinggalin tapi tasnya juga ketinggalan. Tadi Ella naruhnya di kursi kantin yang mau gak mau buat balik lagi kesana ngambil.


"Pasti mau ambil ini kan?" Memberikan tas gendong.


Ella menatap lega tas yang akhirnya balik itu, "Iya, makasih." Hari ini kedua kalinya cowok yang memiliki senyum hangat itu menolongnya, pertama saat membawakan map yang berisi perlengkapan administrasi dan yang kedua membawakan tas yang ketinggalan di kursi kantin. "Maaf tadi ninggalin gitu aja."


"Gak pa-pa, tadi pas aku balik gak taunya kamu udah jalan cepet banget keluar. Liat tas di atas kursi jadi aku langsung mikir itu punya kamu yang gak sengaja di tinggal. Kita duduk di bawah pohon aja biar lebih santai." Berjalan mendahului menuju pohon rindang yang tak jauh dari mereka berdiri diikuti oleh Ella di belakangnya. Azhar duduk dengan menyilakan kakinya di atas rumput tebal yang membuatnya tak takut kotor, karpet alami yang diberikan oleh alam itu mampu melindungi dari debu dan kotor pakaiannya.


Ella mengikuti apa yang cowok itu lakukan, duduk di atas rumput.


"Tadi gak sempet makan kan? Jadi aku bungkus nasi goreng yang udah dipesan tadi." Memberikan bungkusan plastik berisi paper bowl (mangkok plastik) dengan nasi goreng yang aromanya bikin ngiler. Gimana gak ngiler kalo toppingnya itu melimpah banget dengan berbagai varian disana.


Mata Ella langsung berbinar-binar karena akhirnya perutnya dapat terisi dengan sesuatu yang diliat sekilas aja udah enak banget, tampilan yang sangat menarik dari berbagai macam toping. Baunya aja harum banget, bau khas rempah-rempah nasi goreng yang langsung menggugah selera. "Maaf ngerepotin terus."


"Gak kok, cuma kayak gini apanya yang ngerepoti? Lagian sayangkan kalo udah di pesen gak jadi, kasian juga yang jualan."


Ella mengangguk setuju, satu pemikiran sama dia. "Aku dari tadi lupa nanya, kamu itu siapa? Kok rasanya kita pernah ketemu tapi aku lupa kita ketemunya dimana." Katanya jujur, soalnya penasaran.


Azhar hampir aja keselek dengernya, ni cewek rupanya dari tadi mukanya gitu ternyata lagi berusaha buat mengingat siapa dirinya. Pantes aja sesekali mencuri pandang sambil alisnya mengkerut. "kamu gak ingat?"


Ella menggelengkan kepala, emang kenyataannya gitu kan. "Beneran aku lupa."


Azhar mengulurkan tangannya, sejak pertama kali mereka ketemu gak ada yang namanya perkenalan secara resmi. " Rayvan Azhar Maulana, panggil aja Azhar. Aku disini sebagai salah satu dosen pengajar dan juga dokter bedah, bukan pamer ya?" Katanya dengan tertawa kecil menyebutkan siapa dirinya.


Ella menyambut uluran tangan itu, tangannya yang mungil langsung tenggelam di sana. "Ella Alexa Johan, panggil Ella."


Tangan mungil dan lembut itu begitu kontras dengan tangannya yang besar, tentu aja begitu nyaman dan pas untuk berada di tangannya. Azhar menyadari saat Ella melepaskan tangannya dan beralih ke sendok plastik untuk melanjutkan makannya.


"Pantes aja aku ngerasa kita pernah ketemu, gak taunya pas ujian itu kan?" Akhirnya Ella ingat kalo mereka ketemu di dalam ruang ujian.


"Lama banget ya kamu baru ingat." Baru kali ini ada cewek yang bisa ngelupain gitu aja, gak ada kesan apa pun dari pertemuan pertama mereka yang bikin Azhar sempat kecewa.


"Iya, aku emang gitu. Apa lagi aku sibuk banget beberapa hari ini jadi memori otak aku penuh sama hal-hal yang aku kerjain sehabis tes." Ella tertawa garing, bisa lupa sama hal penting kayak gini. Padahal tu cowok calon dosennya loh, malah di lupain gitu aja.


"Kasiannya diriku yang kau lupakan dengan mudah." Ujarnya dengan ekspresi wajah sedih di buat-buat.


"Hahahaha...," Ella yang liat semua itu gak sengaja keceplosan ketawa, langsung berhenti pas sadar. Entar di anggap gak sopan apa lagi di wilayah kampus kayak gini yang banyak banget orangnya.


Azhar yang liat Ella ketawa lepas itu tersenyum, ternyata lebih cantik saat kayak gitu. "Kenapa diem?"


"Gak sopan calon mahasiswa ngetawain calon dosennya." Liat Ella yang tiba-tiba diem.


"Aku orangnya netral, lebih seneng kalo gak usah bawa-bawa kerjaan yang bikin kaku. Mending gini aja, kita mulai sekarang temenan gak usah ngomong formal kalo di luar kelas soalnya aku ngerasa kayak ada dinding."


"Tapi bener nih gak pa-pa?"


Ella menyambut uluran tangan itu dan tersenyum, "Ella Alexa Johan, lo bisa panggil gue Ella." Emang lebih nyaman kayak gini sih menurutnya, kalo yang tadi emang kaku.


"Mulai sekarang kita teman, jadi lo gak usah sungkan buat minta bantuan sama gue kecuali bantuan nilai saat nanti gue jadi dosen lo. Karena saat gue kerja status dosen dan Mahasiswa itu harga mati yang gak bisa di tawar-tawar."


"Ih, pede..., siapa juga yang minta bantuan nilai? Gue tu yakin kalo bisa dapet nilai cantik tanpa cara kotor kayak gitu. Pantang buat gue...," Katanya sombong, tapi sombongnya Ella beralasan karena otaknya emang encer.


"Iya gue tau, nilai lo aja hampir sempurna. Kalo nurut gue lo itu sebenernya mampu buat dapet nilai sempurna kemaren, cuma lo aja sengaja buat beberapa jawaban yang salah."


"Gitu ya?" Ujarnya sambil cengengesan, dikira gak ada yang nyadar kalo Ella sengaja bikin jawaban yang salah.


"Tadi di kantin lo ngapain sama mereka?" Azhar sebenernya penasaran sama kronologi kejadian di kantin pas tadi pesen makanan.


"Yang tadi?" Ella membuka tutup botol air mineral dan minum dari sedotan. "Awalnya gue duduk cantik gitu disana sambil nahan lapar nunggu nasi goreng yang katanya enak ini, tiba-tiba datang dua orang yang gak di ketahui identitasnya sambil ngomong gak jelas, bentak-bentak dan nyolot gak jelas pakek acara gebrak meja segala. Ya udah gue balik aja keadaan sambil pepet mereka sampek mentok di tembok, mereka itu beraninya cuma gertak lagian pas gue ajak berantem beneran malah mengekeret." Jelasnya santai kayak gak terjadi apa pun. "Mereka itu siapa sih? Songong banget sama sok berkuasa, tempat umum aja di klaim tempat mereka. Apa lagi yang namanya Sisil atau siapa lah tadi gue lupa, sok ngebos gitu. Gue tawarin buat t*njok-t*njokan malah gak berani."


Azhar yang denger cuma geleng-geleng kepala, ni cewek terbuat dari apa sampek berani banget malah nantangin lagi. "Lo gak takut? Kalo gue gak salah ingat yang lo bilang songong dan sok ngebos itu anak direktur dan donatur tetap di kampus yang bakal lo tempati. Gak takut apa beasiswa yang lo dapetin bakal di cabut? Soalnya selama ini yang bikin masalah sama Frisil itu gak ada yang bisa lepas gitu aja." Jelas Azhar, "Gak sedikit lo yang jadi korban mereka, ada yang sampek keluar karena gak kuat."


"Ngapain takut kalo emang gak salah, toh dia manusia juga kan? Cuma karena orang tuanya punya jabatan dan kekuasaan bukan berarti bisa semena-mena kayak gitu. Kita disini cari ilmu bukan cari muka, kalo emang karena hal kayak gini beasiswa gue di cabut gak masalah, keliatan banget kalo orang tua kalah sama anak, gak ada sejarahnya."


Azhar menahan tawanya yang hampir meledak, denger Ella itu berasa dengerin penyangi yang lagi nge-rap. "Bener juga sih yang lo bilang. Terus apa tindakan lo kalo mereka bikin ulah? Atau mereka bakal cari temen buat main keroyok?"


"Cemen dong namanya, ngelawan satu orang aja pakek acara kroyokan. Kalo mau tu satu lawan satu, tapi kalo sendirian kasin entar jadi bubur sumsum." Ketawa geli bayanginnya.


Drrttt...


Ella mengambil hp yang ada dalam kantong tasnya, "Iya bi?"


"Udah selesai belum?" Tanya Rega.


"Udah, ni Ella lagi makan. Emang kenapa?" Lupa kalo tadi minta jemput.


"Kok bisa emang kenapa, kan tadi minta jemput buat pulang."


"Iya, Ella lupa. Entar kalo Abi udah ada di depan telpon aja lagi biar Ella langsung keluar." Mematikan dan meletakkan hpnya kembali.


Azhar yang sebenernya penasaran sama siapa yang nelpon Ella itu berusaha buat gak nanya. Lagian tadi manggil Abi, kemungkinan besar pasti orangtuanya. Lagian kalo pacar pasti manggilnya romantis kayak orang pada umumnya, ini manggilnya Abi. Gak usah mikir yang macam-macam, lagian tu cewek tangannya polosg ak makek apa pun jadi belum punya siapa-siapa. "Kenapa sih lo mau jadi dokter?"


"Gue mau bantu orang yang gak mampu, soalnya kan banyak di sekitar kita yang buat makan aja susah apa lagi buat berobat. Kadang itu mereka sakit gak di rasa karena gak ada biaya. Gue mau buka rumah sakit buat masyarakat ekonomi ke bawah." Raut wajah Ella berubah menjadi sedih saat mengingat begitu banyak oramg di luar sana yang seperti itu.


"Semoaga cita-cita mulia lo itu tercapai, tapi gak segampang yang kita pikirkan kalo mau gitu. Kita perlu modal yang gak sedikit, apa lagi bikin rumah sakit." Azhar menjelaskan secara garis besar.


"Gue percaya Tuhan selalu membantu dan memudahkan niat baik kita, Gue juga yakin itu dapat tercapai asalkan kita berusaha. Lagian kan entar ada tarif buat masyarakat ekonomi atas kalo mau berobat, jadi biaya dari mereka bisa buat nutupin yang satunya."


Wanita di depannya yang tampak sederhana ini ternyata sangat luar biasa, bukan hanya kepribadiannya tapi semangat dan memiliki pemikiran yang sangat langka di temukan di antara teman seumurannya. "Gue bakal dukung usaha lo, entar kalo udah selesai disini gue dengan suka rela bakal bantu di rumah sakit tanpa bayaran sepersen pun asalkan itu untuk masyarakat ekonomi kalangan bawah yang lo rencanain."


"Serius?" Tanya Ella bersemangat.


"Iya serius, bahkan gue bakal bantu secara materi semampu gue buat tambahan."


"Senengnya..., Makasih...," Ella yang kelewat seneng itu gak sadar langsung meluk cowok yang ada di depannya.


Dapat pelukan tak terduga itu bikin Azhar jadi salah tingkah, wajahnya langsung merah dan gugup. Belum pernah ia merasa seperti ini, padahal selama ini udah biasa di peluk atau meluk. Tapi yang ini terasa beda, dadanya luar biasa deg-degan dan ada rasa yang masuk ke dalam hatinya, perasaan asing yang belum pernah ia rasakan.