
Akhirnya Raka mengikuti segala sekenario yang Anggun lakukan, rasa keterkejutan Raka masih kental ia rasakan saat wanita cantik yang akan menjadi istrinya dalam hitungan hari lagi itu ternyata menyetujui apa yang ia inginkn bahkan menginginkan sesuatu yang sama sekali gak pernah Raka bayangkan sebelumnya tentang yang namanya balas dendam. Walau Anggun gak secara detail menceritakan tentang apa yang terjadi di antara mereka berdua namun Raka dapat mengambil benang merah atas kesimpulannya sendiri setelah mendengar sedikit penjelasan dari Anggun, kesimpulan bahwa mereka saling kenal dan bahkan memiliki hubungan yang mungkin sedikit rumit dulu saat sebelum ia bertemu dan mengenal Anggun seperti saat ini. Ada sedikit rasa cemburu terselip di hati Raka, rasa yang menurutnya itu adalah lumrah sebagai bentuk dari perasaan mencintai dan memiliki yang sama bukan dirinya yang mengontrol secara penuh dan tak berdaya karenya. Namun, di balik rasa cemburu yang ia rasakan ada rasa bangga tiada tara karena Anggun lebih memilihnya di bandingkan laki-laki lain di luar sana yang mampu memberikan apa pun yang lebih lagi di bandingkan dengan apa yang ia miliki saat ini. Dengan keyakinan yang tak dapat Raka bantah bahwa ia dapat berbangga dan menaikkan kerah bajunya dengan menikahi wanita itu dalam pertemuan singkat dari perkenalan yang sama sekali tak pernah Raka bayangkan sebelumnya, tangan Tuhan lah yanh telah ikut campur dan mengatur segalanya hingga ia melangkah menuju takdir menemukan pujaan hatinya untuk pertama dan terakhir kalinya. Restu yang ia kantongi pun tak memerlukan perjuangan hingga meneteskan darah terakhir, hanya perjuangan emosi sesaat tanpa mengorbankan apa pun di dalamnya. Mengingat semua itu membuat Raka merasa sangat bersyukur dan yakin bahkan memang benar adanya jodoh rahasia Ilahi yang manusia sendiri gak akan pernah tau kapan saat itu akan datang dan semua hal yang bersangkutan akan terjadi dengan sendirinya bagikan air yang mengalir tanpa ada hambatan.
"Abang berangkat duluan, jangan lupa menyusul." Menepuk bahu Anggun pelan untuk memastikan kedatangannya.
Anggun mengangguk pelan dan menghadiahkan senyuman manis ke arah calon suaminya tersebut, mungkin Raka gak pernah menyadari bahwa disini Anggun lah yang lebih merasa bersyukur karena memiliki calon suami yang sangat baik menurut versinya. Selama ini hanya Raka yang menyanjung dan memujinya dengan selalu mengatakan ia sangat bersyukur bertemu wanita luar biasa yang membuat Anggun merasa sangat malu karena-nya, namun disisi lain Anggun lah yang merasa seperti itu. Mengenal laki-laki sederhana dengan karakter yang mampu membuatnya tersenyum serta kesabaran yang mampu menyeimbangi sifat kekanakannya. Raka mengulurkan tangan untuk mengajaknya menjadi seseorang yang bisa menghargai diri sendiri lebih di bandingkan saat mereka belum bertemu karena Anggun merasa kurang percaya diri dengan apa yang ada padanya. "Iya, Aku dandan dulu bentar biar keliatan cantik." Senyum manis itu lagi-lagi menghiasi bibirnya yang mampu melelehkan siapa pun yang melihatnya, dan hanya untul calon suaminya itu Anggun memperlihatkan.
Rasanya kaki Raka lemas melihat betapa cantik dan imutnya wanita itu, dulu Raka selalu berkomentar seenaknya saat Rega dengan bangganya menceritakan Ella di depannya seolah-olah hanya wanita itu yang terbaik di seluruh dunia, bukan hanya seluruh dunia bisa di bilang seluruh alam semesta. Kini Raka merasakan sendiri perasaan Rega yang mungkin sama persis yang ia rasakan saat ini, Raka ingin seluruh dunia tau bahwa wanita cantik di depannya itu adalah yang terbaik dari semua wanita terkecuali Mama yang telah melahirkannya. Raka sedikit merasa malu mengingat bagaimana mengatai Rega sebagai bucin g*la karena saat ini ia juga sama dalam posisi Rega, terdengar pilu dan Raka mengakuinya.
"Kenapa?" Tanya Anggun heran melihat Raka yang duduk lemas di depannya setengah berjongkok dengan bertumpu di kursi, bahkan Raka terlihat tak berdaya.
Dengan pandangan mata sayu Raka menatap Anggun yang belum memakai riasan sama sekali di wajahnya itu terlihat sudah sangat cantik di matanya, bukan hanya matanya tapi mata semua orang pasti akan menyetujuinya. Bagaimana bisa Tuhan memberikan sentuhan yang sangat sempurna disana yang membuat Raka seolah tak mau berbagi dengan orang lain dan hanya dia yang melihat kesempurnaan itu. "Enggak, cuma rasanya lemes aja liat senyum bidadari ku yang sangat manis." Tersenyum dengan mengusap tangan Anggun, "Terimakasih telah memilih laki-laki dengan segala kekurangan ini." Mengecup lembut dengan sejuta rasa syukur yang ia rasakan. "Menikahlah dengannya karena kekurangannya, karena aku hanya memiliki kekurangan disana-sini tanpa ada yang bisa ku banggakan dari hidupku yang tak sempurna di bandingkan semua yang kamu miliki dengan kesempurnaan yang membuatku merasa takut, takut kehilangan dan berpaling karena aku bukan orang yang pantas berada disisimu bahkan aku akan berterimakasih walau keinginan itu ada karena rasa kasihan semata."
Anggun menutup mulutnya menahan untuk tidak berteriak, lamaran yang sangat-sangat romantis dalam hidupnya. Selama ini laki-laki mendekatinya dengan mengatakan dan menyuguhkan betapa layaknya mereka untul bersamanya dengan segala kelebihan yang mereka miliki dan mampu mereka berikan untuknya. Mereka yang dengan kepercayaan luar biasa tinggi mampu bahkan lebih tepatnya sangat mampu bersanding dan berjalan bersama. Namun, laki-laki yang bersimpuh di depannya itu mengatakan hal yang jauh di luar perkiraan, melamar seorang wanita dengan menggunakan kelemahannya dan itu membuat Anggun merasa terharu luar biasa. Anggun menarik tangannya yang ada di tangan Raka, menangkupkan ke wajahnya dengan tatapan mata berbinar-binar. Rasa bangga menyeruak ke dalam hatinya, bangga karena ia telah memilih seseorang yang sangat tepat untuk berbagi suka dan duka bersama. "Sayang, aku mencintai dan menyayangimu. Bukan rasa kasihan dan jangan pernah memikirkan hal itu lagi, seharusnya aku yang mengatakannya. Terima wanita yang sama sekali tidak memiliki kelebihan dan kesempurnaan ini menjadi istrimu, ajak dan genggam tangannya untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi. Terimaksih karena telah mempercayaiku dan menemukanku." Tanpa terasa beberapa tetes cairan bening mengalir di pipinya, rasa haru dan bangga melebur menjadi satu. "Tegur aku bila melakukan salah, dan jangan sekali-kali menutupi kesalahanku hanya untuk membuatku tersenyum. Love You...," Anggun menundukkan wajahnya dan mendaratkan ciuman lembut di bibir Raka, walau ia bukan pemain yang handal dalam hal tersebut namun Anggun belajar dari film-film yang pernah ia tonton. Rupanya bukan cuma Anggun yang merasa canggung melakukan ciuman pertama tapi juga Raka, bahkan tubuh laki-laki itu luar biasa menegang dengan mata terbelalak nyaris sempurna yang membuat Anggun yakin bahwa ini juga yang pertama buat Raka. Rasanya hampir mustahil mengetahui bahwa di jaman sekarang masih ada laki-laki yang masih polos dan Anggun merasa semakin bangga karena menemukannya.
Jantung Raka yang udah kayak berhenti berdetak, darahnya udah kayak berhenti mengalir dan rasanya bumj udah berhenti berputar saat Anggun yang tiba-tiba melakukan tindakan jauh di luar batas perkiraan dan pikirannya. Wanita itu membalas cintanya bahkan mengambil inisiatif lebih dahulu untuk menciumnya, ciuman yang pertama kali Raka rasakan dan lakukan itu mampu membuat tubuhnya membeku seketika. Ada aliran seperti tersengat listrik saat bibir mereka bersentuhan satu sama lain yang membuat otaknya tak mampu lagi bekerja, pikirannya seketika kosong karena keterkejutan yang ia rasakan. Bahkan saat Anggun melepaskan ciumannya Raka masih belum sadar sepenuhnya dari rasa terkejut itu.
"Sayang?" Anggun menggoyangkan tangannya cepat di depan wajah Raka yang pucat itu dengan senyum geli menghiasi bibirnya, "Hei!" Menepuk keras pundak Raka untuk menyadarkannya dan sepertinya apa yang Anggun lakukan berhasil untuk mengembalikan kesadaran Raka, buktinya laki-laki itu tergagap.
"I-iya?" Masih dalam keadaan belum sadar sepenuhnya dengan nyawa yang melayang-layang ke khayangan.
"Mau bengong sampek kapan?"
"I-iya." Dengan cepat Raka berdiri dan berjalan cepat meninggalkan Anggun, belum satu menit ia kembali karena melupakan sesuatu yang penting dan menyadari ia telah melakukan kesalahan.
Anggun menahan tawa saat melihat apa yang Raka lakukan, laki-laki itu sangat gugup hingga salah masuk pintu. Yang Raka masuki adalah pintu menuju balkon bukan pintu keluar dan Anggun gak sempat menahannya. Betulkan, gak lama tu orang langsung balik lagi dengan wajahnya yang keliatan malu.
"He he he he...," Sambil garuk-garuk kepala buat nutupin malunya, "Maaf sayang salah pintu."
"Huahahahahaha...." Kali ini Anggun udah gak bisa nahan lagi, kelakuan konyol Raka itu bikin perutnya sakit. Emang dari awak Anggun udah tau kalo Raka itu konyol, tapi liat secara langsung kayak gini rasanya bikin geli.
"Gak usah ketawa gitu, kan malu." berjalan ke arah Anggun yang tertawa terpingkal-pingkal menertawakan kekonyolannya, lagian kunci mobilnya ketinggalan di meja rias gak jauh dari tempat Anggun.
"Habisnya kamu lucu banget gitu...,"
Raka menarik ujung bibirnya, melihat Anggun sesenang itu ia merasa bahagia. "Senang ya ngetawain?" Menundukka wajahnya dan mencium bibir Anggun, memberikan balasan setimpal dengan apa yang ia lakukan barusan. Ciuman yang Raka lakukan saat ini atas kesadaran penuh, ia melakukannya dengan lembut dengan bermodalkan film p*rno yang ia download sebagai hadiah pernikahan Rega atas ide Yun dan ternyata ada manfaat yang ia rasakan saat ini. Ciuman itu berlangsung sangat lama dengan Raka yang mendominasi dan memimpinnya karena sifat pasif yang Anggun tunjukkan itu membuktikan Rak lah pengalaman pertamanya. Raka melakukan ciuman lembut dan bukan ciuman panas yang menuntut karena ia sadar akan membuatnya tersihir, ia melakukannya dengan landasan cinta dan tak menambahkan n*fsu di dalamnya yang akan mengakibatkan tuntutan lain karenanya. Di rasa cukup Raka melepaskannya dengan tersenyum dan menghadiahkan ciuman kecil di kening Anggun. "Terimakasih telah menjaganya selama ini dan memberikannya padaku." Mengusap bibir Anggun dengan tangannya dan lagi-lagi mencium pipi wanita yang mukanya udah merah padam karena malu. "Akh..., rasanya mau malam ini aja kita nikah." Menjatuhkan Kepalanya di bahu Anggun, merasa gak rela buat berpisah. "Enam hari itu rasanya lama banget, malam ini kita ke penghulu yuk sayang?" Katanya yang langsung mendapatkan cubitan bertubi-tubi di pinggangnya, dengan wajah meringis Raka berdiri dan memusut bekas cubitan Anggun.
"Cepat pergi sana!" Sambil nunduk buat menyembunyikan wajahnya yang terasa panas, gak nyangka Raka bakal ngelakuin hal yang selama ini cuma ada dalam hayalan Anggun dan rasanya lebih menyengkan di bandingkan cuma menghayal doang.
"Iya, dandan yang cantik biar dengan bangga Abang kenalin ke seluruh dunia kalau calon istri Abang ini yang paling cantik. Walau sebenarnya gak ikhlas kalo ada cowok lain yang liat."
Anggun mendelik ke arah Raka, "Sekalian aja di bungkus buat pajangan lemari." Sahutnya lagi.
*******
Azhar yang dari tadi tengok sana-sini buat 4nunggu Anggun itu sebenarnya dari seratus persen cuma enam puluh persen aja keyakinannya, bahkan tadi nelpon buat mastiin aja hp nya aja gak aktif.
Tring
Azhar mengambil hp nya yang ia taruh di dalam kanton celananya, hari ini ia berpakaian santai dengan celana 3/4 berbahan jins dan kaos lengan pendek tanpa kerah tentu saja dengan badan wangi bermandikan parfum yang satu kilometer udah terdeteksi keberadaannya. Senyum senang akhirnya tersungging di bibirnya yang biasa ia paki buat ngerayu cewek, teenyata umpannya itu berfungsi dengan baik. Buktinya Anggun menanyakan tempat dan waktu yang ia katakan kemarin. Kali ini Azhar benar-benar merasa yakin akan keputusannya dan menutup semua cerita lama tentang petualangan cintanya. Kapalnya akan berlabuh di dermaga yang telah ia tentukan dan pensiun untuk berlayar saat mengucapkan janji sehidup semati. Dengan cepat Azhar membalas chat yang Anggun kirimkan dan ia pun memesan buket mawar untuk menyambut kedatangan calon pengantin wanitanya, tawa bahagia memenuhi hatinya karena sebentar lagi ia akan memenangkan dua pertarungan sekaligus. Bagaimana mungkin ia kalah dengan Rak yang sejak dulu terkenal dengan sebutan jomblo abadi itu? Bukan karena wajahnya, tapi Raka seperti tidak memiliki kepercayaan penuh untuk mendekati wanita, apa lagi berani melamarnya seperti yang ia katakan. Kali ini Azhar berniat untuk menambahkan sesuatu sebagai taruhannya karena merasa kemenangan mutlak ada di genggaman tangannya.
Azhar yang menyadari kedatangan Raka langsung meletakkan hpnya yang sejejer dengan kunci mobil, "Wah, lo telat sepulu menit."
"Gue kerja dulu baru kesini, kerjaan gue sama lo itu beda." Menarik kursi dan duduk, "Mana cewek lo?" Katanya berbasa-basi dan pura-pura gak tau.
"Bentar lagi juga kemari, katanya masih ada sedikit urusan. Cewek lo sendiri mana? Jangan bilang lo datang sendiri?"
"Emang gue datang sendiri, dan lo datang sendiri. Apa lo gak bisa liat kita dua orang lelaki yang duduk berhadapan?"
Azhar mengangguk pelan membenarkan apa yang Raka katakan. Emang kenyataannya kan mereka berdua datang sendiri-diri gak sama pasangan. "Gue harap cewek yang lo sewa lebih cantik dan seksi di bandingkan cewek yang bakal gue lamar."
Raka yang kaget itu gak bisa nyembunyiin wajah herannya, "Lamar?"
"Iya, gue bakal ngelamar cewek gue di depan lo." Katanya bangga dan senang.
"Ya ya ya..., Terserah lo mau ngapain. Gak usah banyak omong yang jelas lo buktiin aja bro."
Azhar meletakkan kunci mobilnya di depan Raka, "Nih bukti kalo omongan gue salah. Yang kayak gue janjikan sama lo kemarin, dan kalo lo yang kalah gue bakal ambil mobi lo. Karena hari ini gue lagi bahagia bakal gue tambahin."
"Nambah apa lagi? Gak usah muluk-muluk dan banyak omong. Pede banget bakalan menang dari gue?"
"Emang gue yakin kok, lagian pede itu modak gue buat naklukin cewek. Gak kayak lo yang gak pede sama sekali." Azhar tersenyum penuh kemenangan. "Kalo lo yang menang bakal gue tambah nih hadiah buat lo, gue kasih apartemen yang baru gue beli buat lo." Katanya yakin banget.
"Ha ha ha...," Raka tertawa miris, miris karena tu orang yang pedenya kelewat batas bentar lagi bakal amblas. "Terserah lo mau ngomong apaan, tapi gue gak pernah minta dan sebatas mobil aja yang jadi jaminan. Gue gak sekaya lo, kalo apartemen gue kasih sama lo bakal gue ajak tidur dimana bini gue entar?"
Seorang ojek online mengantakan buket bunga lili yang sengaja Azhar pesan untuk ia berikan saat melamar pujaan hatinya tersebut dan gak ketinggalan seperangkat perhiasan dengan kotak kaca transparan.
Raka yang melihat semua itu menjadi sedikit menyiutkan nyali sekaligus membuatnya tersadar bahwa ia telah melamar dan tak memberikan apa pun untuk Anggun. Bagaimana ia bisa seb*doh itu sampai gak mikir sampek sana, pantas gak ada cewek yang mau dekat dengannya selama ini karena kurang peka dan cueknya.
"Lo tau, semya cewek suka yang kayak ginian."
"Gak semua cewek juga kayak yang lo pikirin, buktinya aja Ella gak pernah mau nerima dan makai apa yang Rega kasih." Bantah Raka, "Dan calon istri gue juga sama, dia gak matre."
"Ha ha ha ha..., gue gak ngomongin mereka berdua. Gue cuma mau bikin para wanita merasa di hormati dan merasa mereka itu berharga dengan cara gue sendiri."
Begitulah, dua orang dokter receh itu melakykan perdebatan yang sebenarnya gak. bermanfaat sama sekali dan lebih cenderung buang-buang waktu dan tenaga mereka.
*******
Hai readers sekalian...
Makasih ya buat kalian yang masih setia nungguin Up dan masih setia buat baca novel yang author tulis ini.
Jangan lupa tinggalin jejak kalian dengan like, vote dan komennya.
Makasih yang udah luangin waktu buat like dan ngasih komennya dan relain votenya buat author, semua itu bikin author jadi semangat lagi dalam berkarya dan karena kalian semua author jadi seperti ini dan sampai saat ini.
😘😘😘😘😘😘😘