
Suara lantang dan menggelegar kanyak gunung yang siap meletus itu memenuhi ruangan dan bikin semua orang yang ada disana mengarahkan pandangan mata mereka seketika ke arah datangnya suara. Siapa lagi kalau bukan tuan muda, pangeran dan pewaris tahta dari keluarga Mahendra yang fotonya udah berhambur ria di atas lantai itu berdiri di depan pintu dengan pesonanya yang luar biasa bak seorang idol yang siap buat jumpa fans. Bukan hanya para kaum hawa, tapi kaum adam pun terpesona olehnya. Penampilan Rega yang stylish itu membuat nilai plus-plus untuknya, mereka yang melihat layaknya bidadara yang turun dari khayangan karena pesonanya namun mereka tak menyadari bahwa yang berdiri saat ini adalah malaikat maut yang bisa menentukan hidup dan mati mereka setiap saat.
Cahaya yang seketika terpesona dengan kedatangan laki-laki itu tanpa sadar menatapnya dengan kekaguman luar biasa tak bisa ia sembunyikan, bahkan matanya dengan serta merta melihat tanpa berkedip saat berjalan di sampingnya dan pesona yang luar biasa itu mampu menghentikan detak jantung serta kemarahan yang telah meluap-luap. Bukan hanya Cahaya, Anggi dan Tya pun seketika terpesona karenanya. Bagai karya seni yang luar biasa sempurna itu berjalan di dekat mereka tanpa cela dan tanpa ada kekurangan di sana-sini.
Yun segera beranjak dari tempatnya dan dengan santainya melenggang mengambil tempat di dekat jendela membiarkan para kaum hawa itu mengagumi pesona Rega lebih jelas lagi sebelum mereka di hadapkan dengan sisi gelap seorang Rega. Padahal gak ada yang ngasih kabar tapi tu antena Rega peka banget jadi tau secepat ini dan dalam waktu yang singkat udah nongol disini, pakek satelit apaan tu cowok atau jangan-jangan punya cctv dan sejenisnya yang bisa tau apa pun dengan cepat.
Cowok yang jadi pusat perhatian plus pemeran utama kali ini mendekati Ella yang udah acak adul gak karuan, baju udah compang-camping, mukanya lebam-lebam. Rega sampek mengernyitkan alisnya gak percaya sama pemandangan yang ada di depannya, kalo orang yang kayak gini dia bakal percaya banget kalo pelakunya Ella tapi kalo Ella yang dalam keadaan kayak gini susah percayanya. "Muka lo kenapa?" Bisik Rega saat tau kalo semua itu cuma akal-akalan doang di liat dari jarak yang dekat.
"Entar aja bahasnya, sekarang bantuin Ella buat kasih pelajaran sama mereka biar jadi orang gak songong." Bisiknya.
"Siapa yang bikin keonaran seperti ini?!" Katanya dengan suara nyaring, Ella aja sampek megangi dadanya karena kaget. "Yun?!"
Dia juga yang akhirnya kena imbasnya, "Security di mall xxx tuan, nona muda di fitnah mencuri di sebuah butik milik anda." Jelas Yun yang sebenarnya males banget, tu suami istri kompak banget meranin drama antagonis dan melankolis.
"Ya ampun sayang, muka cantikmu sampai penyok kayak gini?" Rega memegang wajah Ella dengan wajah serius. "Siapa yang bertanggung jawab dengan semua kekacauan ini?" Tanyanya dengan wajah menakutkan yang langsung bikin mengkerut wajah-wajah yang awalnya kagum tadi.
"Tuan, maafkan saya. Saya yang gak becus dan gak bisa mendidik anak saya." Kata Toto dengan tubuh gemetar mengetahui siapa yang ada di hadapannya saat ini.
"Sayang, bukannya aku udah bilang jadi anak yang baik dan penurut." Rega yang gak sengaja bertemu dengan Anggun itu melihatnya berjalan cepat dengan mengomel gak jelas yang kayak Ella lakukan biasanya saat marah, Anggun gak mungkin ngelakuin hal yang bisa merusak citranya gitu aja tanpa alasan kuat karena ia orang yang membangun semuanya tampak sempurna di depan publik. Saat Rega menghampiri dan menanyakannya Anggun menceritakan perihal semua kejadian tanpa ada satu pun yang tersisa dengan sangat rinci dan emosi yang meledak-ledak tentang apa yang di alami oleh Ella. Seketika membuat Rega marah dan mengosongkan jadwalnya hari ini untuk melihat secara langsung. Rega mengambil foto yang berhamburan di lantai dan memperhatikannya, ternyata itu adalah fotonya yang di ambil secara diam-diam oleh seseorang. "Siapa yang akan menjelaskan semua ini?" Rega merem*asnya geram membuat kertas itu seketika menjadi onggokan sampah dan melemparkan sembarangan, ternyata ada orang yang telah mengusik privasi hingga menguntitnya. Rega memperhatikan setiap wajah yang ada di depannya, semua tampak ketakutan namun hanya seorang wanita yang wajahnya udah seputih kertas dengan tangan saling bertautan satu dan lainnya dan ia sangat yakin kalau wanita tersebut biang keroknya. "Apakah dia putrimu tuan Toto?" Kata Rega mengenali siapa yang ada di depannya tersebut. Salah satu rekan bisnis Rega dan mereka telah lama melakukan bisnis bersama hingga dengan mudah Rega mengenalinya karena beberapa kali ia bertemu.
"B-benar." Katanya terbata-bata.
Rega berjongkok dan mengangkat dagu wanita yang setengah mati ketakutan itu dan memaksanya untuk mata mereka saling bertemu, "Siapa namamu Nona?" Katanya lembut dengan senyum yang justru lebih mengerikan di bandingkan hantu.
Cahaya menelan ludahnya dengan susah, berada sangat dekat seperti membuatnya susah bernafas. Apa lagi dengan tatapan mata yang menikam itu membuat dadanya terasa sakit seperti tertikam sebuah pedang yang kasat mata. "Ca-cahaya." Katanya lirih dan itu susah sekali untuk mengeluarkan suaranya di bawah tekanan yang begitu menyeramkan.
"Apa yang menyebabkanmu melakukan semua itu? Tidak mungkin segala sesuatu di lakukan tanpa adanya alasan di baliknya." Lagi-lagi Rega memasang wajah dengan senyum manis penuh pesona, namun mulutnya mengatakan hal yang berbeda.
"I-itu..., hanya sebuah kesalah pahaman."
"Apakah salah paham yang anda maksud dengan jadi penguntit?" Kali ini wajahnya berubah datar dan tak ada lagi senyum manis yang tadi ia tunjukkan. "Mencari keburukan orang lain untuk menjatuhkannya?" Sambungnya lagi dan dengan kasar melepaskan tangannya, mengelap dengan tissu seolah-olah ia baru saja memegang sesuatu yang kotor dan menjijikkan. "Anda mampu memfitnah teman anda sendiri demi kepentingan pribadi."
Suasana di dalam ruangan ini sungguh sangat menegangkan, bila di bandingkan dengan berada di rumah hantu, rollercoster atau kuburan yang paling menyeramkan sekalipun tak ada bandingannya. Tak ada suara yang terdengar kecuali langkah kaki Rega yang dari tadi muter gak karuan buat suasana semakin horor.
"Saya tau bahwa apa yang saya lakukan adalah sebuah kesalahan, saya mohon maafkan saya...," Katanya dengan bersimp yg dan air mata mengalir.
"Tuan Toto, dia adalah putrimu. Sangat tidak sopan kalau saya yang bukan siapa-siapa ini menjatuhkan hukuman terhadapnya, lalu hukuman apa yang setimpal atas perbuatannya memfitnah dan mempermalukan Nyonya besar dari keluarga Mahendra? oh..., bahkan kemungkinan bercak darah yang ada di bibirnya ini juga hasil karya dari putri anda."
Toto yang merasa tak memiliki nyawa dan tak lagi merasakan kakinya menginjakkan di lantai itu hanya diam tanpa bisa menjawabnya, memang apa yang telah putrinya lakukan bukan tindakan yang hanya bisa di selesaikan dengan meminta maaf.
"Kalau anda tak bisa menjawabnya, baiklah saya akan menjatuhkan hukuman setimpal buat putri anda sesuai dengan apa yang ia lakukan. Sebelum saya melakukannya anda, nona Cahaya bisa memberikan alasan yang sejujurnya untuk meringankan. Kalau anda tak melakukannya saya dengan suka rela akan mengambil perusahaan dan seluruh aset yang keluarga anda miliki untuk berada di bawah kendali saya." Ancam Rega dengan senyum tersungging di bibirnya bikin suasana tambah mencekam aja.
Cahaya yang udah gak bisa berbuat apa-apa lagi itu mau tak mau harus mengatakannya. "Sebenarnya... itu..., saya...," Susah banget buat memulai sama cari kata-kata yang cocok. Soalnya salah dikit aja nyawanya melayang. Cahaya menata keberaniannya, toh udah kepalang tanggung sekalian aja buat nyebur, mau apa pun yang ia katakan bakalan gak ada pengaruhnya juga. Kalau harus mendapat malu dan menjatuhkan harga dirinya Ella pun akan mendapatkan hal yang dengan apa yang ia dapatkan. Di hadapan putra mahkota keluarga Mahendra ia akan membongkar kedok dan semua kebusukan yang wanita itu simpan. Mungkin sekertaris Yun akan menutupi segalanya, namun bagi orang sekelas pewaris tahta keluarga Mahendra tak akan b*doh melindungi seorang wanita demi reputasi keluarganya.
"Nona? Saya menunggu dan mengharapkan hal yang sepadan dari apa yang akan anda ucapkan. Anda adalah orang berpendidikan dan dari keluarga terpandang, tak mungkin melakukan tindakan tanpa suatu alasan." Kata Rega tersenyum dan menepuk pundaknya pelan untuk memberikan semangat.
"Teruskan." Potong Rega.
"Saya melakukan semua ini untuk membuktikan dan membuat dokter Azhar sadar bahwa wanita yang sedang mendekatinya adalah wanita busuk yang memakai topeng di balik wajahnya yang terlihat polos."
"Plok-plok-plok." Rega bertepuk tangan dan mendektai Cahaya, ia meletakkan tangannya di bahu wanita itu untuk memberikan rasa percaya diri yang luar biasa. "Saya suka wanita yang punya keberanian." Bisiknya. "Lalu apa yang anda dapatkan?"
"Saya mendapati Ella sering keluar dan masuk hotel dengan laki-laki yang sayangnya saya sendiri tak pernah melihat wajahnya secara langsung. Tapi foto-foto itu sudah menjadi bukti yang kuat kalau ia melakukan tindakan yang tidak bermoral dengan menginap dan berc*nta dengan seorang pria."
Rega mengambil satu lembar foto yang berserakan di lantai. "Nona Ella, apa pembelaanmu?"
Ella kali ini harus memuji akting dan kerjasama Rega yang cemerlang itu, "Itu..., yang di katakan Cahaya semuanya benar. Tapi, apa salah menginap dan berc*nta dengan suami sendiri?"
Tya yang udah mau pingsan itu memilih buat menundukkan wajah sambil terus berdoa semoga semua ini berlalu dengan cepat, udah kayak nunggu giliran malaikat maut datang buat ngambil nyawa-nya aja. Apa lagi dengan tangannya sendiri ia menyelipkan gelang tersebut ke dalam tas, bahkan Cahaya berani-beraninya menampar dan menambah daftar fitnahnya buat Ella.
"Lo aja yang ngeles pakek acara punya suami, yang benernya cuma kumpul kebo kan?! Gue udah minta bukti kalo emang dia suami lo, tapi nyatanya lo gak bisa buktiin. Itu artinya cuma alesan lo buat nutupin kebusukan lo."
"Br*ngsek ya lo! Dari tadi nyolot aja kerjaannya." Katanya terpancing emosi, kalo enggak di halangin sama Rega udah di bikin babak belur. "Mulut lo emang minta di robek!"
Cahaya tersenyum puas, dengan begitu semua orang dapat melihat tindakan bar-bar nona muda yang terhormat itu. "Gue gak takut karena gue punya bukti yang kuat. Bagaimana tuan? Apakah anda bersedia melakukan negosiasi dengan saya?"
Rega menahan tubuh kecil Ella yang punya kekuatan besar itu, menggelengkan kepalanya pelan untuk tidak melakukan apa-apa saat ini. Setelah Ella tenang, ia melepaskannya. "Negosiasi apa?"
"Saya tidak akan menyebarkan foto-foto tersebut ke publik karena akan menjatuhkan citra dan harga diri keluarga anda sampai publik mengetahuinya, tapi sebagai gantinya saya ingin bahwa anda menjadi kekasih dan kedepannya sebagai suami saya." Kata Cahaya Penuh percaya diri dan mantap. Di lihat dari apa yang ia terima, tuan muda yang tampan di depannya itu dari tadi ngasih semangat dan memperlakukannya dengan lembut. Setidaknya ia tertarik kepadanya.
Yun yang dari tadi cuma jadi penonton setia itu nepok jidadnya, ni cewek udah gak tau diri nambah gak tau malu lagi. Nambah pula pedenya gak punya takaran, udah lah dinikmati aja tontonan gratis yang gak perlu pergi ke bioskop.
"Wah-wah..., tuan Toto anda memiliki putri yang luat biasa. Kenapa baru kali ini saya melihat dan mengenalnya? Bagaiman dengan dokter Azhar? Dari cerita yang saya dengar dan simak bukannya anda memiliki perasaan dan hati terhadapnya?"
"Itu..., dokter Azhar tidak sebanding dengan anda." Wajah Cahaya seketika memerah, bagaimana mungkin laki-laki tampan di depannya sebanding dengan dokter cintanya itu. Orang buta sekalipun bakal bisa liat siapa yang paling tampan di antara mereka berdua bila di sejajarkan.
"Apa yang membuat anda yakin bahwa saya akan menerima permintaan anda?"
"Karena saya yakin anda tidak akan mengorbankan nama baik dan perusahaan yang telah keluarga anda kelola selama ini demi seorang wanita yang tak pantas untuk di bela."
*********
Hi Reader sekalian...
Makasih buat kalian yang masih setia nunggu up dan masih setia baca novel yang author tulis ini, padahal udah 200 epsiode lebih lo author bikinnya...
Moga aja kalian gak bosen dan tetep setia.
Jangan lupa buat ninggalin jejak berupa like dan Vote-nya biar author tambah semangat lagi dalam berkarya, dukungan dari kalian semua jadi semnagat dan motivasi buat author sendiri.