
Hai-hai reader sekalian yang tercinta....
Siapin diri buat baca episode ini ya?
Kalo author sendiri sih senyum-senyum geli gimana waktu bacanya.
udah lah di bandingin kalian penasaran langsung aja di eksekusi sampai akhir.
*************
Rega yang merasa perutnya lapar itu membuka mata, rasa ngantuknya kalah sama rasa lapar. Gimana gak lapar cuma makan satu mangkok bubur, itu juga tadi pagi sebelum berangkat ke rumah Ella. Saat jamuan makan Rega yang terlalu bahagia saat itu lupa buat makan, lagian bukan lupa tapi gak ngerasa lapar. Rega yang menggerakkan badannya buat ngelenturin otot-ototnya itu kaget saat ada seseorang di sebelahnya, yang nyala cuma lampu tidur bikin mata Rega yang masih sepet itu gak bisa liat dengan jelas siapa yang ada di sebelahnya apa lagi nyawanya yang belum balik sepenuhnya itu bikin ingatan sama nalarnya lambat bekerja. Rega mencari saklar lampu di sampingnya dengan tangan menggapai sembarang, kalo perutnya gak protes gak bakal melek saking ngantuknya. Pas kamar udah terang, Rega liat sosok yang mirip sama Ella lagi tidur di sampingnya. Tu cowok rupanya masih gak sadar, pas liat udah liat aja. Dianggap mimpi sama Rega kalo ada Ella di sampingnya, jam dinding nunjuk angka tiga yang artinya jam tiga dini hari. Rega yang ngerasa haus itu menginjakkan kakinya di karpet bulu tebal dan lembut yang melapisi lantai kamarnya. Perlahan menuruni anak tangga dan membuka kulkas, mencari sesuatu yang bisa di makan. Cuma ada bahan mentah dan tentu aja tuan muda yang dari kecil tau nya belajar buat berbisnis itu gak bisa bikin bahan-bahan yang ada di sana jadi makanan enak. Ia melirik toples yang ada di atas pantry, membuka dengab malas dan menemukan roti. Biar lah makan roti buat pengganjal perut di bandingkan perutnya bunyi. Setelah urusan perut dan tenggorokan terpenuhi Rega balik lagi ke kamar buat ngelanjutin tidur yang tertunda. Lagian masih gelap di luar, bisa buat tidur beberapa jam lagi sampek pagi buat berangkat kerja.
**************
Ella mengucek matanya dengan sebelah tangan saat kepalanya mulai pusing, gak tau udah berapa lama dia tidur tapi yang jelas kepalanya agak pening kelamaan tidur. Hal pertama yang dilihat saat buka mata gundukan yang di lapisi selimut, Ella yang awalnya ngira kalo itu guling langsung aja meraih dan memeluknya. Pejamin mata bentar lagi biar pusingnya berkurang sedikit, hari ini ada resgestrasi ulang setelah pengumuman kelulusan tes tertulis kemarin. Karena kemarin hari yang sibuk Ella baru tau setelah sore hari mencek email yang masuk, iya..., kemarin adalah hari yang sibuk. (Masih gak nyadar kalo gak ada di kamar sendiri). Merasa ada yang janggal, Ella menekan-nekan guling yang lagi di peluk itu. Dimana-mana itu yang namanya guling pasti empuk, tapi gak tau kenapa guling yang satu ini rasanya agak keras. Cuma pada bagian tertentu aja yang empuk, karena masih males buka mata Ella mengabaikan semua itu dan tetap asik memeluk gulingnya.
Rega yang awalnya udah terbang ke alam mimpi dan langit ke tujuh itu di kagetkan sama sesuatu yang narik tubuhnya, udah di tarik paksa pakek di tindihi lagi sama sesuatu yang lumayan berat. Mau gak mau dia buka mata buat liat apa yang sebenarnya lagi ada di atas badannya, pas buka mata Rega langsung berhadapan suatu benda asing yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Rega mendongakkan kepalanya sedikit dan melihat wajah polos yang lagi tidur dengan nyenyaknya dengan tangan dan kaki yang ada di badannya, bahkan wajah Rega yang dalam posisi terjerat itu udah langsung merah merona.
Akh. ... S*al, kenapa gue harus liat yang ginian sih? Umpatnya frustasi sambil berusaha memejamkan matanya lagi, mengusir pikiran-pikiran mesum yang ada dalam otaknya saat ini. Ini udah terlalu pagi buat nerkam istrinya itu, kalo gak inget hari ini Ella bakal keluar udah langsung lembur beberapa ronde. Rega cuma bisa gigit bibir saat Ella menggerakkan badannya pelan dan menyentuh juniornya yang langsung menegang. Rasanya itu waktu berhenti berputar dan bikin nyiksa banget, Rega melihat jam dinding yang menunjuk angka tujuh. Matahari udah nongol, keliatan dari celah gorden cahayanya dan seketika itu jiwanya menangis dengan histeris. Berada dalam situasi luar biasa menegangkan yang gak pernah terbayangkan yang bikin kepalanya nyut-nyutan. Logika yang di pertahankan mati-matian itu akhirnya runtuh saat Ella menekan kepalanya lebih dalam dan menyentuh benda empuk dan kenyal. Rega melepaskan tangan dan kaki istrinya yang menempel erat layaknya tentakel gurita itu, menempatkan dirinya di atas tubuh Ella dengan menopang kedua tangannya biar gak jadi beban. Rega menatap wajah ella yang terlihat sangat cantik di matanya dengan penuh lasih sayang, awalnya ia memberikan kecupan kecil di kening hingga turun ke pipi dan akhirnya semua bagian wajah Ella ia hadiahi kecupan hingga tak terlewatkan sedikitpun.
Ella yang awalnya mau tidur bentar lagi itu merasa agak geli di wajahnya yang bikin matanya melek, otaknya yang tadi dalam mode tenang langsung on ke mode siaga dan mikir kalo ada hewan yang lagi merayap di wajahnya. Bukannya hewan yang ia dapati tapi wajah Rega yang langsung indera penglihatannya tangkap tengah berada di depannya, senyum hangat dan nafas memburu itu langsung terekam jelas tak bisa terbantahkan.
"O-Om? Ngapain di kamar Ella?" Katanya belum sadar ada dimana sekarang.
Rega tersenyun melihat wajah Ella yang bangun karena kaget itu, matanya langsung membulat membuatnya merasa gemas apa lagi saat menanyakan sesuatu yang mungkin tak ia sadari.
"Ini kamar aku sayang," Katanya parau dengan menahan emosi yang udah mau jebol.
Denger jawaban dari Rega, Ella mengedarkan pandangan matanya. Benar saja, semua yang ada di kamar ini bukan barang-barang yang biasa ia lihat saat buka mata. Barang-barang dan semua yang ada disini terlihat sangat asing di matanya, kamar dengan perabotan mewah dengan luas kamar melebihi kamarnya itu bikin Ella langsung sadar kalau ia saat ini gak berada dalam tempat ternyaman sedunia. "Tapi ini dima..., Emp..." Ella tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Rega sudah membungkamnya dengan ciuman panas penuh hasrat yang bikin seluruh badan Ella merinding karenanya. Ciuman itu berlangsung cukup lama hingga Ella kehabisan nafas dan mendorong tubuh Rega sebelum mati konyol karena gak bisa nafas. Ella yang terengah-engah mengatur nafasnya itu duduk dengan menopang kepala dengan kedua tangan untuk memberikan kesadaran sepenuhnya dari nyawanya yang melayang-layang entah kemana tadi.
"Pagi Honey...," Kata Rega dengan tertawa kecil melihat wajah kaget Ella, ia tahu kalau istrinya itu belum sadar dimana saat ini berada dan belum terbiasa dengan kehadirannya. Jangankan Ella, Rega sendiri aja tadi pas bangun waktu perutnya lapar gak sadar juga kalo di kamar itu ada orang lain selain dirinya. "Sekarang kita ada di rumah utama, kenapa kita ada disini karena kemarin kita sudah menjadi suami istri yang sah menurut agama dan hukum." Kata Rega dengan sejelas-jelasnya biar Ella gak bingung lagi.
Ella yang gak sadar itu langsung konek saat denger apa yang di omongin Rega. Dia lupa hal penting itu dan masih mengira berada dalam zona nyamannya di rumah.
"Itu morning kiss kita, pengen banget rasanya buat ngelakuin yang lain tapi sayang waktunya mepet jadi gak sempet. Kita tunda lagi buat nanti setelah kamu pulang dari regestrasi ulang di kampus, karena dari sini ke kampus memakan waktu tiga jam kalau dalam keadaan jalan ramai jadi kita harus segera bangun dan bersiap-siap." Rega mendekatkan wajahnya untuk melihat apakah Ella mendengarkan apa yang ia katakan.
Ella terkesima dengan wajah tampan Rega, ia tak pernah memperhatikannya sedekat ini. Bulu matanya yang hitam dan lentik itu hingga matanya yang berwarna abu-abu dengan alis tebal yang menjadi paduan sempurna.
Denger jam delapan refleks Ella langsung menyingkapkan selimut dan membuangnya sembarang, kalo masih bengong di sini bakalan telat entar. Apa lagi kalo kesiangan antrian pasti udah bejibun dan memakan waktu yang lumayan lama.
Rega cuma geleng-geleng kepala liat Ella dengan langkah seribunya saat kekamar mandi yang hampir aja kejedot pintu saking cepet-cepet. "Apa?" Tanya Rega saat melihat kepala Ella yang nongol di pintu setengah tertutup itu.
"Ella lupa bawa anduk." Katanya dengan wajah memerah dan senyum canggung, kebiasaan kalo ke kamar mandi lupa bawa anduk.
Rega mengambil stok anduk yang ada di dalam lemari dan memberikannya saat Ella mengulurkan tangannya, bukan cuma ngasih tapi Rega menariknya dengan gerakan yang cepat hingga Ella yang tadinya cuma nongol kepalanya doang kini badannga ikut nongol. Kali ini bukan cuma muka Ella yang merah padam tapi muka Rega juga ikutan merah padam sampek matanya hampir jatuh karena melotot, pemandangan wow di depannya itu bikin mimisan dan langsung bikin otaknya gak berfungsi seketika. Ella yang polos tanpa sehelai benang pun menempel di badannya memperlihatkan lekuk tubuh dan bagian-bagian tubuhnya yang bikin cowok itu mati rasa, mati gaya dan mati akal. Pemandangan yang baru pertama kali di lihat dan mungkin ini pemandangan paling indah yang pernah matanya liat selama ini, tubuhnya yang putih bersih tanpa noda sedikitpun itu bikin Rega tercengang dan tak dapat memalingkan matanya ke tempat lain. Rega menggerakkan tangannya yang gemetar untuk memeluk istrinya itu (rasanya udah kayak mau di tabrak mobil yang berhenti tepat di depan kita dengan jarak yang deket banget), dan menutupinya dengan anduk yang ada di tangan satunya sambil matanya terpejam.
Sabar Ga..., sabar..., belum waktunya....
Ella yang gak nyangka Rega bakal narik tangannya itu malah ikut ketarik keluar, padahal dalam keadaan gak pakek apa pun. Gak bisa di hindari badannya itu langsung nempel ke badan Rega dengan wajah yang mendarat di dada suaminya, Ella yang malu dan canggung luar biasa itu merasakan detak jantung Rega yang udah gak beraturan dan keras banget bikin Ella tambah malu. Ia memilih membenamkan wajahnya karena kalo langsung balik tu badan keliatan semua dari muka, gak bisa bayangin gimana rasanya... Untung aja Rega memakaikan anduk di badannya, Ella mengintip sedikit dan melihat Rega melakukannya dengan mata tertutup dan tangan yang gemetar. Ella tersenyum geli karena menyadari ternyata bukan cuma dia yang grogi banget saat ini dan itu menandakan bahwa apa yang di katakan Rega memang benar kalau dirinya adalah yang pertama buat cowok yang kini jadi suaminya.
"U-udah, cepet mandi sana entar telat." Ujarnya dengan menjauhkan badan Ella yang telilit anduk dengan keringat dingin bercucuran dengan satu tangan dan mata terpejam. "Aku mandi di kamar bawah."
"I-iya." Ella menggigit bibirnya dan berbalik menuju kamar mandi di bandingkan memancing beruang yang lagi berhibernasi dan membahayakan waktunya.
Ella..., apa yang lo lakuin sih....
**************
Jangan lupa like dan vote nya kalau kalian suka sama novel yang author tulis ini, terimakasih buat kalian semua yang udah mampir dan luangin waktu buat nunggu Up dan baca.
Teng's-teng's-teng's.....
Author pribadi ngucapin banyak- banyak makasih karena dukungan kalian hingga author bertahan sampai saat ini.
Author gak bakalam bosen buat ngingetin sama kalian semua buat stay at home dan budayakan hidup sehat di manapun dan kapan pun dengan cuci tangan setiap saat dan terapkan dimanapun kalian berada.
Sayangi diri kalian dan orang-orang di sekitar kita, jangan buat mereka merasa gelisah dengan tindakan kita yang egois.
Lakukan hal-hal positif dan ciptakan nuansa menyenangkan di rumah (khususnya buat yang punya anak). Buat bunda yang sekarang nambah kerjaannya(selain tugas negara seorang IRT) jadi guru dadakan, yang semangat ya buat dampingi buah hatinya belajar dan nyelesaiin tugas dari sekolah.
#DirumahAja