
Rega membawa Andika untuk duduk di salah satu kursi yang terbuat dari kayu di bawah sebuah pohon rindang dengan dedaunan yang tumbuh secara subur, memberikan waktu untuk mertua dan saudara iparnya melepas rindu bersama setelah sekian lama berpisah. Walau ia tau banyak pertanyaan yang ada dalam pikiran laki-laki berkulit sawo matang tersebut yang sangat kontras dengan warna kulitnya saat ini, bukan hanya Andika tapi juga Rega banyak menyimpan pertanyaan disini yang mungkin akan ia tanyakan sedikit demi sedikit.
"Maaf tuan, apa boleh saya...,"
"Jangan terlalu kaku, kita bicara selayaknya teman biar lebih enak dan akrab." Kata Rega memotong kata-kata Andika, rasanya udah kayak hadirin rapat pemegang saham yang sangat membosankan.
"Maaf, gue rasanya canggung." Menggaruk kepalanya dengan tersenyum malu mengingat status sosial yang terlihat sangat jauh berbeda tersebut antara dirinya dengan orang yang ada di depannya walau sama-sama memakai pakaian mahal namun pesona dan aura yang di miliki Rega jauh berbeda dengannya hanya dengan sekali lihat saja. "Gue disini ngerasa kurang nyaman dan minder"
"Kurang nyaman gimana?" Tanya Rega yang gak ngerti maksud Andika, kalo di lihat dari pertama kali datang Rega ngeliat Andika lebih banyak diam dan sorot matanya yang bingung. Itu wajar karena ia berada dalam lingkungan baru dengan orang-orang yang batu pula, merasa sedikit susah untuk beradaptasi dengan cepat. "Gue sama ma elo, sama-sama makan nasi dan nafas pakai oksigen. Bukan cuma gue tapi semua orang yang ada di dunia ini." Katanya lagi.
Andika bingung mengungkapkan apa yang ia rasakan saat ini, antar malu dan juga sungkan. Sadar diri berasal dari rakyat jelata yang kini ada dalam istana penuh dengan orang-orang yang memiliki kekuasaan dan kekayaan yang tak ia miliki. "Itu..., Gue ngerasa canggung dan gak enak. Gue cuma buruh pasar dan kalian semua orang-orang yanh mempunyai kekuasaan dan harta yang banyak banget." Katanya pelan, mencoba menata hati dan kata-kata yang menurutnya pantas untuk di ucapkan tanpa ada yang merasa tersinggung.
"Emang kenapa lo harus malu sama kerjaan lo sekarang? Mau buruh pasar atau apa pun itu gak masalah kan? Asalkan kerjaan lo itu halal." Ucap Rega, baginya apa pun pekerjaan seseorang yang terpenting halal. "Lagian banyak harta dan kekuasaan gak menjamin kenyaman hidup seseorang."
"Lo gak malu punya ipar kayak gue?" Kalimat ini yang ingin sekali ia katakan.
"Lo mikirnya kejauhan, justru gue bangga punya saudara ipar kayak lo. Buktinya lo bisa ngerubah Sonya yang dulu kayak gitu jadi sekarang yang kayak gini." Rega tau persis bagaimana Sonya dulu saat ia masih pedekate sama Ella dan Sonya bisa di bilang jadi salah satu rumput liar merusak pandangan dalam hubungan mereka. Tapi itu sudah menjadi masa lalu, kini Sonya benar-benar berubah menjadi sosok yang sangat bertolak belakang dengan Sonya yang dulu. "Kalo malu sama kerjaan lo ngapain juga? Uang yang lo hasilin itu murni dari jerih payah lo sendiri, banting tulang dan yang terpenting semua itu halal. Kalo kerjaan lo jadi bos mafia atau penjahat gue bakalan malu punya saudara ipar kayak lo."
"Wah, gue gak tau persis sih gimana istri gue dulu. Mana mungkin muka gue yang kayak gini jadi bos mafia? Ha ha ha ha...," Tertawa kecil memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Kalo gue boleh tau, lo bisa sampek kenal sama Sonya tu gimana?"
Andika menarik nafas pendek, mengingat kenangan beberapa tahun silam saat ia bertemu dengan Sonya. "Waktu itu gue habis pulang dari pasar, gue pulang agak malam karena ada beberapa pedagang yang baru bongkar barang. Gue liat cewek yang lagi nangis di pinggir jembatan, awalnya gue gak mikir apa-apa gak tau nya pas gue jalan beberapa langkah tu cewek nekat nyebur ke dalam sungai. Kaget banget kan gue, langsung aja gue ikutan nyebur buat nolong." Andika menghentikan ceritanya, menatap kilau lampu yang ada di sekitarnya. "Gue bawa ke rumah sakit dalam keadaan gak sadarkan diri, selama di rawat gue jengukin dia karena gue ngerasa kasian. Sonya bilang kalau dia gak punya saudara dan orang tua, gue yang ngerasa senasib sebagai anak yatim piatu yang sebatang kara ngerasa kasian apa lagi dia dalam keadaan hamil muda saat itu."
"Tunggu dulu, jadi lo ketemu sama Sonya saat itu dia dalam keadaan hamil?" Rega bisa menebak apa yang akan Sonya lakukan saat keluar dari rumah dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi Ayahny itu, tapi gak pernah nyangka kalo sampek hamil. Gak mungkin kan Sonya seceroboh itu untuk melakukan tanpa pengaman.
Andika mengangguk, gak ada yang perlu di tutupi disini. Lagi pula Rega bukan orang lain, masih keluarga Sonya. "Iya, anak yang tadi gue bawa ke sini bukan darah daging gue. Namanya Alex, umurnya baru tiga tahun. Tapi gak tau kenapa gue sayang banget sama dia melebihi nyawa gue sendiri." Katanya dengan tersenyum, kelucuan dan wajah polos Alex membuat Andika melupakan segalanya dan telah menganggapnya sebagai anaknya sendiri. "Gue nikah sama Sonya saat dia udah ngelahirin Alex, awalnya Sonya menolak gue. Gue pikir karena gue cuma buruh pasar yang gak punya penghasilan tetap, tapi pikiran gue salam besar. Dia cuma gak mau kalau pernikahan ini atas dasar kasian, dia takut gue gak bisa nerima anak yang ada di dalam perutnya dan memisahkan mereka karena gue cuma menginginkan Sonya"
Rega menepuk pelan bahu Andika, memberikan dukungan untuknya.
"Hingga akhirnya gue yakinin dia bahwa gue emang jatuh cinta dengannya yang apa adanya, gue jatuh cinta dengan caranya menyikapi semua keterpurukannya untuk bangkit, gue jatuh cinta karena Sonya yang dalam keadaan seperti itu masih mempertahankan anak di dalam kandungannya dan menolak untuk melakukan aborsi. Sonya mau menerima lamaran gue dengan satu syarat, kami akan menikah setelah ia melahirkan. Gue setuju karena itu akan lebih baik dalam status anak yang ia lahirkan, awalnya kami menikah untuk Alex, bagaimana pun Alex dalam hal ini tak bersalah. Gue mau dalam kartu keluarga dan akta ada nama gue sebagai ayahnya." Mata Andika berbinar-binar, ia mendapatkan paket luar biasa yang Tuhan berikan. Istri yang catik serta anak yang sangat tampan, sungguh paket luar biasa yang Tuhan berikan untuk anak yatim piatu yang besar di panti asuhan. "Gue mencintai mereka melebihi nyawa gue, apa pun akan gue lakuin buat kebahagiaan mereka."
"Yang lo lakuin benar dengan membawa Sonya pulang ke rumah orang tuanya, gue salut..., di jaman yang kejam sekarang ini masih ada orang berhati putih kayak lo."
"Iya, gue awalnya sempat ragu pas lo datang. Tapi setelah gue pertimbangkan dalam perjalanan pulang, apa pun yang terjadi di masa lalu Sonya dan Alex harus menemui keluarganya untuk meluruskan apa yang telah terjadi. Walau Sonya gak pernah bilang tapi gue tau dia merindukan keluarganya, gue sering dia tidur sambil nangis. Hati gue rasanya sakit tapi gak ada yang bisa gue lakuin, gue juga gak berani tanya karena Sonya menutup rapat mulutnya tentang keluarga atau masa lalunya."
"Jadi lo emang sama sekali gak tau?"
Andika menggelengkan kepalanya, "Sonya menutup rapat-rapat mulutnya jadi gue lebih memilih diam di bandingkan mengorek luka di hatinya."
"Lo ngomong apaan sih? Gue cuma buruh pasar...," Katanya merendah.
"Mulai besok lo udah pensiun jadi buruh pasar, datang ke kantor dan gue janji gue bakal ngasih lo pekerjaan yang layak."
"Jangan, gue gak bisa nerima kebaikan lo lagi. Gue ngerasa berterimakasih banget karena udah mempertemukan Sonya dengan keluargnya, gue gak mau jadi orang yang serakah dan memanfaatkan keadaan." Katanya mengingat apa yang telah Rega lakukan adalah keinginan terbesarnya yang tak pernah tercapai selama ini.
"Lo jangan egois gitu, gue ngelakuin ini demi istri gue juga. Lo tau, istri gue juga dalam keadaan hamil saat ini persis sama istri lo. Pikirkan baik-baik, lo bakal mendapat penghasilan tetap dan itu sangat membantu karena sebentar lagi ada tiga orang yang bersandar di bahu lo."
Andika terdiam mendengarkan apa yang Rega katakan dan semua itu adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Usia Alex sudah tiga tahun, sebentar lagi ia akan sekolah dan memiliki adik. Tentu saja kebutuhan mereka akan bertambah dengan kedatangan anggota keluarga baru yang mengharuskan Andika bekerja lebih ekstra dalam mencari nafkah, apa lagi penghasilan sebagai buruh pasar tak memiliki penghasilan yang tetap setiap harinya.
"Andika, kita sebagai sesama laki-laki pasti ingin memberikan yang terbaik sebagai kepala keluarga kepada istri dan anak-anak kita. Jadi pikirkan sekali lagi tawaran gue, gue bukan meremehkan pekerjaan lo sekarang sebagai buruh pasar tapi menurut gue akan lebih bijaksana kalo lo mempertimbangkan dan memikirkan sekali lagi. Gue ngomong gini demi kebaikan lo juga...," Kata Rega memberi pandangan dan pertimbangan untuk Andika mengambil keputusan. "Yang harus lo tanamkan di dalam hati bahwa kami menerima lo apa adanya, jangan pernah lo mikir jauh banget. Semua manusia sama di mata Tuhan kecuali kebaikan yang di miliki, bukan harta yang di miliki."
Andika tersenyum, "Gue tadi sempat takut, gak nyangka Sonya dari keluarga kaya raya dan gue takut banget kalo sampek kalian memisahkan kami karena status gue yang cuma buruh pasar." Katanya menahan malu karena apa yang ia pikirkan semuanya salah.
"Ha ha ha ha..., lo mikirnya kebablasan bro. Datang ke kantor gue, kasih kartu yang gue kasih sama resepsionis di bawah. Mereka bakal ngantar lo ke ruangan gue, jangan sungkan buat meminta bantuan." Ujar Rega, ia menemukan satu orang baik dan polos. Walau tak memiliki kemampuan dan pengalaman, Rega yakin bahwa dengan membimbing secara perlahan dan sabar akan membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Saat ini lebih susah mendapatkan orang yang jujur dan polos si bandingkan mendapatkan orang yang berpengalaman dan berpendidikan.
******
Hi mbak-mbak dan mas-mas yang cantik-cantik....
Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu dan baca novel author, secara pribadi author sangat berterimakasih buat kalian semua...
π€π€π€π€π€π€π€π€
Rasanya seneng banget kalian masih nungguin Up dari author dan itu jadi semangat buat author mainin jari bikin rangkaian kata.
Jangan lupa Like sama Votenya ya biar tambah semangat lagi nih author.
Oh ya, kita beberapa hari ini edisi melow-melow dulu berhubung mood author mau nya melow terusβΊ Suasana hati author agak sedikit galau kehilangan dua kucing peliharaan yang author sayang jadi bawaannya agak gitu lah...
Sebelum kita ending, kita selesaikan dulu masalah-masalah yang timbuk dari awal cerita biar semua tokoh berakhir dengan baik. Mungkin lebih cocok jadi novel religi kali ya yang para pemeran antagonisnya pada tobat semua πππ
Tapi tenang aja, yang baiknya gak bakalan jadi antagonis kok.
Di rumah aja, jangan lupa menerapkan gaya hidup bersih di manapun dan kapan pun karena kalo bukan kita sendiri siapa lagi yang bisa membatasi dan memutus rantai wabah yang lagi berada di puncak-puncaknya ini π’π’π’
Semoga cepat berlalu biar author bisa berhura-horai buat wisata kuliner... π