Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Kandang Bebek


"Selamat La, anak lo keduanya cantik-cantik dan gue bersyukur banget lo gak punya anak cowok." Celetuk Yun yang melihat dua baby girl catik di dalam box bayi, kedua bayi berkulit merah yang sangat menggemaskan itu mampun membuat Yun terpana. Ini kali pertama untuknya melihat bayi yang baru lahir dan membuatnya merasa sangat beruntung bisa melihat makhluk Tuhan yang masih bersih dan cantik tersebut.


"Maksud lo apaan?" Jawab Rega sedikit sinis, ngerasa kalo omongan Yun itu ada hubungan dengannya atau gini deh secara halusnya nyindir dia secara langsung.


"Kalo cowok dan ngewarisin gen lo bakal bikin gue ribet tujuh keliling." Jawabnya santai gak ngerasa kalo banteng bakalan ngamuk sebentar lagi, "Karena ngurus lo aja udah bikin pusing."


"Apa maksud lo hah?! Emang siapa yang nyuruh lo ngurus anak gue?"


Yun tertawa mengejek ke arah Rega yang udah tersulut emosi, "Gak usah gue jelasin udah lo perlihatkan."


Beginilah suasana ruangan yang merupakan kamar VVIP yang sengaja Rega pesan untuk istrinya, suasana yang udah rame banget ngalahin kandang bebek. Gimana gak rame kalo trio cecunguk pada ngumpul dan mulut mereka itu sumpah gak ada yang punya remnya sama sekali, walau ada ayah dan Ibu Rega sekali pun di sana gak ada pengaruhnya apa-apa sama mereka yang bercuap ria layaknya anak burung yang baru netas kelaparan minta makan.


"Ga, lo itu udah jadi Ayah jadi jangan marah-marah." Kata Raka menasehati, "Lagian emang itu rencana Yun buat bikin lo marah. Ha ha ha ha ha ha...." Ternyata gak ikhlas tadi nasehatinnya yang ujung-ujungnya malah ikut ngetawain.


"Maaf Ayah, Ibu...," Kata Ella yang sedikit gak enak, "Mereka bertiga kalo ngumpul emang kayak gini ramenya." Katanya lagi sambik menatap tiga orang lelaki dewasa tapi kelakuannya udah kayak anak TK kalo ngumpul, gini aja di bilang kalo mereka itu kumpulan tiga lelaki keren di luar sana. Padahal keren topengnya doang, aslinya mah udah ancur-ancuran.


"Gak pa-pa kok sayang, lagian Ibu senang mereka bertiga akrab." Jawab Azhari senang melihat kedua putranya bertingkah selayaknya manusia biasa dengan berbagai macam ekspresi, bahkan ia telah menganggap Raka sebagai putranya sendiri karena mereka bertiga selalu bersama-sama sejak dulu.


"Iya, Ayah juga senang melihat Rega dan Yun menjadi orang yang lain. Mereka dapat menjadi diri sendiri tanpa harus menutupi apa pun." Jawab Mahendra mengakui bahwa mereka berdua telah berubah dan bukan lagi menjadi orang yang kaku seperti selama ini dan ia yakin bahwa Ella yang telah merubahnya. "Terimakasih sayang, kehadiranmu adalah sesuatu yang sangat ayah syukuri." Mencium kening menantu kesayangannya tersebut dengan penuh kasih sayang dan rasa terimakasih yang tulus. "Terimaksih menjadi menantu dan putri bagi ayah, terimakasih telah membuat kedua anak laki-laki ayah menjadi manusia pada umumnya dan terimakasih karena telah melahirkan dua cucu cantik untuk ayah." Katanya tersenyum lembut.


"Ayah...," Rasanya suara Ella tercekat di tenggorokan mendengar ucapan Ayah mertuanya yang terasa berlebihan tersebut.


"Kita akan pulang setelah kau membaik, ayah telah merenovasi rumah kita dan mulai saat ini kita akan tinggal bersama."


"Benarkah ayah?" Kata Rega seakan tak percaya, selama berpuluh-puluh tahun ayah memutuskan untuk meninggalkan rumah utama karena menurut ayah ia akan selalu teringat mendiang istrinya saat berada di sana dan menyisakan rasa sakit juga penyesalan yang amat dalam.


"Benar."


Yun datang dan memeluk Ayah, dengan tingkah manja yang tak pernah ia lakukan sebelumnya membuat lelaki itu terperanjat. "Ayah, tinggallah bersama kami dan jangan pergi lagi. Aku berjanji akan menjadi putramu yang baik dan akan mengurus segalanya dengan baik asalkan ayah tetap tinggal bersama kami." Katanya dengan memeluk erat, Yun merasa cukup kehilangan sosok ayah saat kecil dan mendapatkannya pada sosok lain yang selama ini membuatnya menjadi seperti ini.


"Azhari, anakmu sedang merayuku. Ha ha ha ha ha....," Membalas pelukan Yun dan menepuk pundaknya lembut. "Bawalah pulang seorang wanita untuk di jadikan menantu keluarga kita." Ujarnya lembut, "Ayah tidak menginginkanmu terus seperti ini, lihat lah Rega yang telah mendapatkan kebahagiaannya dan kini saatnya kau mendapatkan kebahagiaanmu sendiri anakku." Melepaskan pelukannya dan mengusap pipi Yun yang kini telah tumbuh menjadi seorang lelaki dewasa yang mengagumkan, menjadi kebanggaannya. "Ayah berjanji, akan menerima siapa pun yang akan kau bawa pulang asalkan itu adalah pilihanmu."


"Bukan syarat, tapi permintaan lelaki tua yang menginginkan cucu lain dari putranya yang lain."


"Gimana mau punya cucu om, mana ada yang mau sama Yun kalo setiap ketemu cewek tampangnya judes banget." Sahut Raka yang asik memperhatikan kedua keponakan kembarnya yang sangat-sangat manis dan lucu tersebut, liat yang kayak gini mendadak kangen sama yang di rumah. Raka menyayangi Noan melebih apa pun di dunia ini, penghilang rasa penantnya setelah pulang dari bekerja dan itu membuat apa pun akan terlihat menyenangkan untuknya saat Noan ada di depan matanya.


"Benar apa yang Raka bilang, soalnya Yun itu mukanya nyebelin banget kalo ketemu cewek jadi gak bakal laku." Kata Rega nambahin, biar aja sono sekalian buat balas dendam. Mam*us lo Yun... Bakal do adain acara perjodohan lagi buat lo. Ha ha ha ha ha ha....


Yun mendelik kesal ke arah dua orang yang sengaja ngomong kayak gitu buat nyalain api peperangan dan menyudutkan sekaligus menyulitkannya. "Ayah gak perlu repot-repot biat cariin aku calon menantu." Katanya cepat seolah tau situasi genting saat ini sedang mengintainya akibat dua orang yang gak bertanggung jawab tersebut yang sengaja sekongkol ngelakuin ini semua. "Karena gue ngincer salah satu dari anak lo buat gue jadiin istri."


"Hei..., emang gak salah apa lo ngomong? Mana mungkin gue mau punya menantu kayak lo. Mereka gede dan lo udah kakek-kakek." Jawab Rega yang gak terima.


"Udah lah, kalian apa gak capek apa dari tadi ribut melulu. Lagian ini rumah sakit dan kaliam bertiga udah bikin kayak kandang bebek. Kalo mau ribut sana keluar, pindah tempat ke lain." Kata Ella yang udah mulai bosan sama tingkah konyol tiga lelaki tua tapi gak pernah nyadar kalo mereka itu sebenarnya ang udah tua dan selalu bertingkah kayak anak balita tang lagi rebutan mainan.


Langsung diem lah tu tiga lelaki yang dari tadi ribut sendiri denger aba-aba pengusiran dari yang punya kamar, kalo di luar mana mungkin mereka kayak gini kan???


******


Hi Readers....


Sorry banget ya kalo lama Author baru Up kali ini dari vakum berhari-hari dan sampek lupa kapan terakhir kali author bikin cerita dan nyerahin naskahnya. Yang jelas itu udah beberapa hari yang lalu dan authornya sendiri agak lupa 😅


Ada sedikit kendala di mana author sakit dan bad mood yang akhirnya gak bisa buat ngelanjutin lagi dan jalan di tempat, bukan cuma novel yang ini aja yang jalan di temlat tapi semua novel author pada vakum juga.


Sekali lagi author mintaa maaf karena ada halangan dan gangguan yang gak pengen sih ada, tapi mau gimana lagi.


Makasih buat kalian semua yang masih setia buat nunggu Up tiap hari, bolak-balik buat nungguin Up-nya dan gak bosen-bosen kasih semangat buat author. Sekali lagi author ucapkan banyak-banyak terimakasih atas dukungan kalian semua disini.


Jangan lupa kalian tinggalin jejak buat author berupa like, komen dan votenya plus mampir ke novel author lainnya yach...


Makasih...