
Jangan lupa mampir ke novel author lainnya ya... Kontrak Cinta Seratus Hari. Bahasanya ringan kok dan yang jelas enak buat di baca dan asik.
Makasih.....
*****
"Mbak Arum, di panggil Bu Anisa buat ke butik." Kata Desi takut-takut saat mendatangi Arum yang tengah bersantai di sebuah salon buat melakukan perawatan.
"Siapa? Anisa? Mau apa sih cewek kampungan itu?" Katanya kesal karena kesenangannya di ganggu, bukan hanya sekedar perawatan namun sudah menjadi rutinitas Arum melakukan perawatan demi menunhang penampilannya yang pengen terlihat cantik setiap saat. Untuk itu Arum gak segan-segan melakukan berbagai macam treatmen kecantikan yang menurutnya bisa membuatnya terlihat cantik dan lebih muda tentu saja semua itu memerlukan modal yang gak sedikit, bagi Arum bukan hal yang sulit mendapatkan pundi-pundi rupiah tersebut. Bekerja di sebuah butik mewah kelas dunia membuatnya sangat mudah mendapatkan uang dari sana, tentu saja bukan dengan cara yang lumrah tapi dengan cara yang berkelok-kelok dan gak jelas yang merugikan orang lain dan menguntungkan untuknya.
"Itu mbak, kata Bu Anisa mbak harus cepat kesana. Selain Bu Anisa ada Pak Harun juga."
Mendengar nama Harun langsung membuat Arum siaga, siapa yang gak kenal Harun di mall ini. Semua orang takut dan hormat kepadanya, sikapnya yang tegas dan gak bisa di pengaruhi itu membuat nama Harun menjadi nama yang gak bisa di anggap remeh kalau masih mau bekerja seperti biasa. "Apa? Pak Harun?" Arum melepas handuk yang ada di kepalanya dengan cepat dan meletakkannya sembarang. Kalau sampai Pak Harun turun tangan pasti sesuatu yang sangat serius terjadi, Apa yang gue lakuin udah ketahuan ya? Gak mungkin... Mana mungkin ketahuan kalau mirip banget dari berbagai macam sisi.
"Mbak Arum?" Panggil Desi yang melihat Arum tampak melamun dan terdiam.
Tanpa menjawab Arum berdiri padahal treatmen yang di lakuin belum kelar.
"Mbak Arum, kita belum selesai loh... Mbak mau kemana?"
"Bentar Sin, bos gue datang nih gue mau ke sana dulu. Entar sambung lagi kalo urusan gue udah kelar." Katanya dengan memoleskan bedal dan lipstik, walau bagaimana pun penampilan tetap yang utama bagi Arum. Setelah ia rasa semuanya sempurna, Arum merapikan rambut dan pakaiannya. Melenggang keluar dari salkn yang masih berada dalam kawasan mall dengan penuh percaya diri karena ia merasa bahwa dirinyalah yang paling cantik di sini. (Pasti gede banget ya kepalanya Arum sampek bisa kayak gitu....)
******
"Lo liat kan, paman gue manager di mall ini. Kenapa gue harus minta maaf dan takut sama mereka berdua? Gue Jenifer, ratu sosial media, ratu endors dan sosialita, kenapa harus minta maaf sama dua orang wanita hamil yang keliatan banget kalo mereka gak ada apa-apanya sama gue."
Mendengar apa yang Jenifer katakan membuat Harun merasa sangat malu, bagaimana mungkin keponakannya itu bisa dengan lantang dan yakin mengatakan kata demi kata yang keluar dari mulutnya. Seandainya Jenifer anaknya sendiri sudah pasti saat ini ia akan memberikan hukuman yang setimpal atas apa yang ia lakukan, memberikan hukuman atas kesombongan dan keangkuhan yang ia miliki. "Jen, jaga bicara kamu." Kata Harun yang berusaha mati-matian menahan emosinya, itu lah hasil didikan dari orang tua yang selalu memanjakannya. Menuruti apa yang anak mereka inginkan, menutupi kesalahan-kesalahan yang telah di lakukan dan berusaha menutup mata serta telinga mereka tentang apa pun yang di lakukan walau pun mereka sebagai orang tua tahu anak mereka melakukan kesalahan fatal sekali pun. Memiliki satu anak bukan berarti membuat mereka layak raja, tapi itu lah yang terjadi pada Kakaknya yang mendidik anak dengan salah dan menciptakan sebuah kepribadian yang sangat mengerikan.
"Ayolah paman, Jen tau apa yang Jen katakan. Paman lihatkan bahwa mereka itu orang-orang miskin yang maunya panjat sosial, mana mampu merek beli barang di sini palingan cuma liat-liat dan numpang foto doang dan Jen kira kalo ada kesempatan mereka bakal nyelipin satu atau dua barang dalam baju yang mereka pakai. Makanya pakai baju kedodoran gitu." Kata Jenifer lagi, mendapat keberanian yang tadi sempat hilang karena kehadiran pamannya tersebut. Kesuksesan yang pamannya dapatkan saat ini tak lepas dari peran orang tuanya yang dulu membiayai sekolahnya hingga mendapatkan gelar sarjana dan bisa memiliki perkerjaan seperti saat ini, mana mungkin pamannya bisa melupakan jasa orang tuanya tersebut hingga membuat Jenifer menjadi besar kepala dan yakin bahwa saat ini tak ada yang bisa melakukan apa pun kepadanya dengan pamannya yang berdiri di belakangnya. "Anda sebagai manager butik ini apa tidak mau memeriksa pakaian mereka? Kali aja kan ada sesuatu yang mereka sembunyikan."
Benar-benar bagaikan di tampar wajah Harun mendengarnya, bagaimana bisa keponakannya itu berkata seperti itu di hadapannya tanpa ada rasa takut sama sekali di wajahnya membuat Harun merasa sangat malu. "Jenifer, minta maaf." Menutup mata rapat-rapat dengan mengepalkan tangannya menahan amarah dan rasa malu yang bercampur menjadi satu.
"Seharusnya mereka yang minta maaf pada Jen paman, mereka bilang bahwa badan Jen semuanya palsu. Jen bakal laporin mereka atas pencemaran nama baik."
Ella yang dari tadi ngeliat cewek gak tau sopan santun itu akhirnya gak bisa nahan kesabarannya lebih lama lagi, "Maaf Tuan Harun, saya akan melakukan sesuatu yang menurut saya pantas untuk keponakan anda dapatkan, kecuali dia mau meminta maaf dan mengakui kesalahan yang telah dia lakukan."
"Nyonya, saya mohon beri saya waktu untuk bicara padanya." Harun menatap Jenifer dengan tatapan murka, kemarahan dan rasa malunya itu udah berasa di ujung tanduk. "Jen, minta maaf." Kata Harun masih berusaha untuk tetap menahan emosi.
"Tidak." Katanya dengan tegas.
"Nona Jenifer yang terhormat, jangan salahkan saya bila saya melakukan sesuatu yang setimpal dengan apa yang telah anda lakukan kepada kami. Anda bukan mempermalukan kami melainkan mempermalukam diri anda sendiri." Kata Ella dengan tersenyum manis, karena sebentar lagi wanita sombong itu gak bakal bisa menegakkan kepala dan berani keluar rumah. "Kalau boleh saya tau, siapa nama anda?"
"Ngapaim nanya nama gue? Mau cari tau siapa gue sebenarnya?" Ucapnya masih gak sadar-sadar. "Gue Jenifer Okta, orang tua gue pemilik perusahaan Antara Jaya dan laki-laki yang berdiri di sana adalah paman gue. Kurang jelas?"
Ella menggelengkan kepalanya pelan dan lagi-lagi ia tersenyum penuh arti, Gue mau liat masih bisa sombong apa lo entar?
"Tuan?"
Harun menoleh ke arah staff yag tadi ia suruh mengambilkan rekaman cctv, namun sebelum ia sempat melihatnya ternyata ada tangan lain yang merebutnya. Siapa lagi kalau bukan nyonya Mahendra, membuat Harun terdiam dan tak bisa melakukan apa pun.
Dengan cepat Ella mengirim dan menyalin rekaman tersebut ke dalam hp-nya dan mengirimkan ke hp Anggun. "Kak Anggun, liat baik-baik." Setelah itu ia memberikan kepada manager Harun yang ekspresi mukanya itu gak bia terdeteksi.
Anggun melihat rekaman cctv yang Ella kirim dan pesan dari Ella.
#Ka, yang namanya Jenifer tadi nge-post foto kita di akun sosial medianya, ganti post video pas dia berkoar-koar sok tadi biar tau rasa. Ancurin aja tu citra dia, bully di sosmed itu lebih kejam di bandingkan dinginnya di balik jeruji.
Anggun tersenyum membacanya, emang bener apa yang Ella bilang bahwa orang macam jenifer yang menganggap dirinya luar biasa itu lebih tepat di kasih hukuman sosial kayak gitu. Orang yang menganggap dirinya lebih di bandingkan orang lain pastinya anggapan dan penilaian dari orang lain itu penting banget buat menunjanhmg hidupnya. Tanpa di minyta dua kali Anggun melakukannya, memposting video yang udah ia potong dan ia anggap adegan heroik penuh drama bukan hanya di sosial media miliknya tapi di akun yutube milik Anggun yang bakalan di tonton orang dari seluruh dunia. Dunia emang kejam tapi kalo gak di mulai buat berbuat kejam mana mungkin Anggun melakukannya.
"Apa yang paman lakukan? Kenapa paman harus mengundurkan diri?"
Harun hanya mendiamkan pertanyaan Jenifer tanpa menjawabnya, cukup tamparan dan rada malu yang telah ia terima hari ini karenanya.
"Paman adalah manager di sini kenapa harus berhenti karena mereka?"
"Diam jenifer sebelum kesabaran paman meledak."
Ella mengambil hp-nya kembali, menghubungi beberapa orang yang bisa membantunya menuntaskan masalah ini dengan tepat. "Iya, Saya Ella. Saya ingin membatalkan semua kerja sama dengan nona Jenifer, kami memutuskan segala macam kontral yang telah kita lakukan." Ella mematikan Hp-nya melihat ke Arah Jenifer yang masih belum sadar posisinya di ujung tanduk.
"Jadi lo gertak gue? gue gak bakal takut." Tantangnya.
"Saya saat ini bukan menggertak anda nona tapi memperingatkan anda bahwa saya bisa menjatuhkan anda hanya dalam hitungan menit. Ini peringatan buat anda bahwa dari mulut anda bisa menghancurkan segalanya."
"Punya apa lo jadi..." Belum selesai mengucapkannya Hp Jenifer bergetar, ia mendapatkan telpon dari managemen yang selama ini menaunginya. Kok bisa nelpom saat yang gak pas banget kayak gini.
"Hallo Jen, beberapa seponsor membatalkan kontrak kerja sama mereka sama lo dan sekarang giliran endors lo yang di batalin. Malahan mereka nungun ganti rugi sama lo." Kata Vivi selaku manager Jenifer yang menangani tentang kontrak dan lainnya.
"Apa? Kenapa bisa?" Kata Jenifer kalang kabut denger apa yang vivi bilang, gimana bisa seponsor langsung membatalkan kerja sama dan endors yabg udah lama banget ia pegang.
"Gue juga gak tau, yang jelaa sekarang lo jadi trending topik di internet. Lo ngapain aja sampek bisa beredar video kayak gitu?"
"Video apaan sih?" Jenifer benar-benar bingung dengan apa yang terjadi, dari pemutusan kontrak kerja, pemutusan dan pembatalan endors dan sekarang video yang beredar.
"Sekarang lo liat aja biar lo ngerti maksud gue, yang jelas semua kerja sama putus dan mereka minta ganti rugi sama lo. Managemen gak mau tau dan gak mau ikut campur sama masalah yang lo lakuin, jadi lo urus sendiri."
"Hello Vi? Vivi?!" Teriaknya saat Vivi memutuskan pembicaraan mereka, Jenifer terdiam mengingat apa yang Vivi katakan barusan. Apa maksudnya ini? Apa mimpi dan kerjaan gue bener-bener hancur? Kenapa bisa barengan kayak gini? Di bandingkan penasaran dan bertanya-tanya Jenifer mengbambil dan mencari tau video yang Vivi maksud. Bahkan banyak email masuk di sana, bukan hanya email tapi juga pesan-pesan dan chat yang masul gak terhitung jumlahnya. Jenifer mengesampingkan dan tak menghiraukannya, tujuannya saat ini adalah mencari tau sebenarnya video apa yang Vivi maksudkan. Tak berapa lama ia menemukan video yang di maksud, penggalan kejadian dimana Jenifer memaki dan merendahkan dua ibu hamil berdaster itu. Mulutnya bergetar hebat, bagaimana mungkin video itu bisa tersebar dengan sangat cepat.
Plok plok plok plok plok...
Anggun menepuk tangannya nyaring, memecah keheningan hingga semua orang mengalihkan perhatian kepadanya. "Nona Jenifer yang terhormat, tadi anda melakukan hal yang sama terhadap kami berdua dan kini saya melakukan hal yang sama yang anda lakukan. Bagaimana rasanya nona?" Kata Anggun dengan nada suara lembut namun mematikan, sengaja ia lakukan untuk membuat wanita sombong itu merasa menderita. "Anda mengatakan bahwa kami emak-emak pakek daster yang mencuri di sini Karena miskin bukan?" Anggun berjalan perlahan mendekati Jenifer yang kini matanya berkaca-kaca. "Kami memang miskin nona, tapi asalkan anda tau kemiskinan yang anda ukur hanya dengan melihat apa yang kami pakai dapat membeli dan merubah kehidupan anda dalam sekejap. Bagi anda kami pencuri dan orang miskin yang tak layak menginjakkan kaki disini, tapi tau kah kalau si miskin yang anda sebutkan pemilik dari mall ini." Anggun sengaja membisikkannya di telinga Jenifer biar lebih dramatis dan mencekam.
"Si-siapa kalian?" Katanya dengan terbata-bata.
"Perkenalkan secara resmi, Ella Alexa Johan Mahendra. Istri dari pemilik dan penerus keluarga Magendra serta pemilik mall yang anda katakan milik keluarga anda ini."
Bagaikan di sambar petir dan di sengat listrik seketika tubuh Jenifer menjadi dingin dan kaku, aliran sarah dan detaj jantungnya berhenti mendengar. "Keluarga Mahendra?" Gumamnya hampir tak terdengar.
Semua orang yang bergelut dalam dunia bisnis pasti mengetahui siapa Mahendra, keluarga kaya raya yang memiliki kerajaan bisnis dan mengusai hampir semua bidang bisnis. Menjadi salah satu keluarga yang sangat berpengaruh dalam perputaran ekonomi, menyadari dan kini dapat menyusuri benang merah hingga Jenifer mendapati kenyataan kariernya benar-benar hancur. Tentu saja itu terjadi karena sponsor yang menyokongnya serta kontrak-kontrak lainnya tak luput dari jangkauan dan campur tangan keluarga tersebut. Runtuh sudah semua yang Jenifer banggakan, semua yang ia miliki kini benar-benar menjadi debu tanpa sisa.
*******
Hai hai kalian semua....
Siapa yang masih melek jam segini??? Author masih melek nih, padahal udah jam. 23.52 yang bentar lagi mau tengah malam cuma buat lembur nulis. Ngambil waktu malam karena siang sibuk, di bagi-bagi gitu waktunya.
Saatnya nyusul dua lelaki-ku yang udah pada ngorok dan adu kekuatan siapa yang paling keras ngoroknya 😂, tutup telinga biar gak denger suara mereka itu yang bikin polusi udara. Ada gak yang senasin sama ane???? Gak bisa tidur denger suara kayak gitu???
Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu Up dan tetep baca novel yang author tulis ini, lope lope lope deh buat kalian.
Jangan lupa buat kasih like, komen dan vote-nya yach....
Biar author tambah semangat lagi nih nulisnya. Buat yang udah ninggalin jejak berula like, vote serta komentarnya author ucapin banyak-banyak terimakasih. Dukungan dari kalian itu luar biasa berarti buat author.