
Rega yang tadinya berbalik dengan senyum merekah senang buat balik ke tempat Ella duduk setelah dapet apa yang di mau seketika es krim yang ada di tangannya terlepas dengan sendirinya saat melihat tubuh Ella melambung ke udara saat sebuah mobil menabraknya dengan kecepatan tinggi yang datang dari arah berlawanan. Sekian detik ia mematung menyaksikan dengan mata dan kepalanya sendiri bagaimana peristiwa mengerikan itu terjadi di depan matanya, tepat di depan matanya tanpa mampu melakukan apa pun untuk mencegahnya. Rega melangkahkan kakinya yang tiba-tiba menjadi lemas seolah seluruh kekuatan yang ia miliki hilang seketika namun tetap ia seret dan paksa untuk mendekati istrinya yang telah di kerumuni banyak orang disana, tak lagi memperdulikan bajunya yang terkena tumpahan es krim itu. Bayangan-bayangan pilu yang bikin ngilu tergambar jelas di kepalanya yang mampu melemahkan seluruh otot dan uratnya seketika. Istri dan calon anak mereka kini tengah di pertaruhkan tanpa ada yang bisa menjamin keselamatan mereka sepenuhnya. Dengan langkah gontai Rega menerobos kerumunan orang dan mendapati tubuh Ella yang bersimbah darah dengan mata terpejam sempurna langsung membuatnya merasakan kakinya tak lagi menyentuh tanah, seolah-olah terbang dan membuat dadanya terasa sangat sesak mendapati kenyataan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sosok Ella yang berisik dan menggemperkan itu kini diam seribu bahasa tanpa gerak menjalarkan ketakutan yang luar biasa di seluruh tubuh Rega.
"Ella?" Masih tak percaya dengan apa yang matanya lihat saat ini. "Sa-sayang?"
Agnes yang dalam keadaan memangku Ella itu seketika menyadari kehadiran sosok Rega yang kini duduk di sampingnya dengan wajah pucat dan dengan tatapan mata kosong. Ia hanya menurut saat Rega mengambil badan Ella dan memeluknya erat, bahkan tangannya terasa kebas. Bukan hanya tangan, melainkan seluruh tubuhnya kini terasa kebas dan hatinya sangat sakit melihat bagaimana seorang Rega yang tak pernah menunjukkan ekspresi apa pun selama ini menangis pilu dengan memeluk tubuh yang bersimbah darah tak sadarkan diri itu. Saat itu untuk yang kesekian kalinya Agnes sadar bahwa Ella telah memiliki seleruh hati, jiwa, dan raga Rega. Siapa pun yang menyaksikan pemandangan ini dapat menilainya secara kasat mata bahwa ia sangat mencintainya. Keputusan yang Agnes lakukan memang benar, berdamai dengan keadaan dan menerima semuanya dengan lapang dada.
"Lo ngapain disini?" Tanya Rega saat melihat Agnes yang duduk di sampingnya dengan baju penuh darah dan wajah memucat. Tampak rambutnya awut-awutan dan bajunya robek di beberapa bagian. "Gue gak peduli lo ngapain disini, yang jelas mana mobil lo sekarang? Sisnya bakal gue urus setelahnya."
Agnes menunjuk mobilnya yang tak berapa jauh dari mereka dengan tangan gemetar, kata-kata yang keluar dari mulut Rega sangat tajam dan tatapan matanya sangat jelas tersirat kebencian. Ia memang pantas untuk di curigai dalam hal ini setelah apa yang ia lakukan selama ini orang akan selalu berpikiran buruk tentangnya walau sebenarnya semua itu tidaklah benar. Penjelasan tak ada artinya saat ini, yang Agnes lakukan hanya pasrah dan berharap semoga Ella tak mengalami hal yang terburuk.
"Gue perlu mobil lo untuk ke rumah sakit, siapa di antara kalian yang mau membantu dengan meluangkan waktu kalian nyetir ke rumah sakit!" Teriak Rega lantang membuat semua orang terdiam dan mendengarkannya.
Seorang laki-laki separuh baya maju di antara kerumunan orang-orang yang mulai banyak, "Rumah saya tak jauh dari sini dan saya tahu betul seluk beluk jalan sekitar sini. Tak jauh dari sini ada sebuah rumah sakit." Katanya menawarkan diri karena mengetahui jalan pintas menuju rumah sakit, saat kayak gini jam-jam padat lalu lintas emang perlu jalan altermatif yang bisa membawa ke rumah sakit untuk lebih cepat dengan keadaan darurat.
Tanpa berkata Agnes memberikan kunci mobilnya dan menunjukkan, ia segera mengikuti Rega yang terlebih dulu membawa Ella setengah berlari. Meski dalam keadaan kalut, Rega tak memperlihatkannya secara berlarut-larut dan mampu memguasai emosinya dengan cepat dan mampu berpikir kritis dalam keadaan genting seperti ini karena seorang Rega telah di persiapkan untuk keadaan yang terburuk sekalipun sejak masih kecil.
*********
Rega yang gelisah luar biasa ibaratnya kayak setrikaan yang maju mundur cantik yang kalo di itung entah dapat berapa kilometer panjangnya, ibarat kaya ayam mau bertelor yang udah kelabakan kesana kemari gak tentu arah dan kalo bisa teriak tu kaki mungkin udah ngomelin otak yang nyuruh buat jalan terus gak berhenti-henti. Siapa yang gak gelisah, orang yang paling ia sayangi ada di dalam ruangan serba putih dengan beberapa dokter dan perawat yang masuk bersamanya, udah hampir satu jam gak ada satu pun dari mereka keluar buat ngasih keterangan gimana ke adaan anak dan istrinya disana. Rasanya udara di sekitarnya udah tercemar semuanya sampai gak ada yang bisa di hirup untuk ngisi paru-parunya yang berakibat dadanya sesak. Di mana pun itu yang namanya penyesalan pasti datangnya belakangan, kalo pertama namanya pendaftaran dan itu yang di rasakan Rega saat ini. Nyesel banget tadi ninggalin Ella sendiri dan berakhir tragis yang tak pernah ia bayangkan, seandainya tadi Rega gak ninggalin sendiri mungkin Ella masih bersamanya saat ini. Seandainya tadi Rega ngajak Ella pasti saat ini mereka ada bersama di rumah dan istrihat. Sekarang kata seandainya itu mengisi kepala Rega yang masih belum bisa menerima sepenuhnya. Agnes, iya Agnes....
Rega melihat Agnes di tempat kejadian, melihat saat Ella mendorong tubuh Agnes dan menggantikannya dengan tubuhnya sendiri. Secara tak langsung Agnes penyebab dari semua ini. "Lo ngapain tadi muncul di depan Ella? Lo belum puas apa ngelakuin banyak hal sampai harus menyebabkan ini?" Katanya dengan menatap tajam Agnes dengan tatapan mata murka, kalau saj Agnes tak ada mungkin semua ini gak bakalan terjadi.
"Gue gak sengaja lewat," Katanya tercekat, ngeri melihat tatapan mata dan aura yang begitu pekat dari Rega. Seolah membuat atmosfir di sekitarnya mencekam dan tak bisa untuk berlari.
"Itu alasan lo, gue liat dengan mata kepala gue sendiri kalo semua ini lo penyebabnya!"
Lidah Agnes yang terasa kelu itu hanya menundukkan kepalanya, meski ia mampu untuk menyanggah apa yang Reg katakan tapi ia tak melakukan karena apa yang ia katakan semuanya benar. Secara tak langsung Agnes merasa bahwa ia adalah dalang sari semua kejadian ini, andai saja Ella tak menolongnya maka saat ini yang tergeletak di dalam sana adalah dirinya dan itu mungkin akan lebih baik di bandingkan terus di liputi rasa bersalah seumur hidup dan hidup dengan beban yang luar biasa.
" Selama ini gue diem setiap lo campuri urusan gue, lo kira gue gak tau apa yang lo lakuin di belakang gue?"
Tak ada bantahan yang keluar dari mulut Agnes kecuali hanya buliran bening yang terus menetes dari ujung matanya, apa pun yang di katakan Rega terdengar sangat menyakitkan namun semua itu adalah kenyataan yang tak terbantahkan. "Bahkan kalai gue bisa milih, gue lebih milih semua itu gue yang ngalamin." Katanya lirih karena apa pun itu tak akan merubah kenyataan dan kebencian yang Rega rasakan untuknya.
"Rega? Apa yang terjadi?" Kata Mommy Devi dengan terengah-engah, mendapat kabar bahwa Ella mengalami kecelakaan membuatnya sangat terkejut dan langsung datang ke tempat yang Rega katakan. Tak mendapat jawaban membuatnya semakin cemas, bahkan tampak wajah Rega terlihat sangat frustasi dan seorang wanita tengah duduk di lantai dengan mata sembab dan keadaan yang tak kalah kacau. "Rega!"
Rega memberanikan diri menatap mertuanya itu, entah dari mana ia harus mengawali tapi semua itu terasa sangat sulit. Tak ada jawaban dari mulutnya yang ada hanya gelengan kepala pelan dan pasrah membuat mertuanya itu terduduk lunglai. "Mom, maaf..." Katanya lirih dengan mata berkaca-kaca, bagaimana pun Ella adalah istrinya dan saat ia membawa pergi dari rumah orang tuanya Rega berjanji akan menjaga anak mereka dengan nyawa sebagai taruhannya. Orang tua mana yang tak akan histeris mengetahui kenyataan yang memilukan ini.
"Ba-bagaimana keadaan putri Mommy?" Devi berusaha membendung emosinya dan menekannya sebisa mungkin, tak ingin memikirkan hal-hal yang akan membuatnya lebih takut lagi.
Ceklek...
Ketiga orang yang dalam keadaan kacau balau itu mengarahkan pandangan mata mereka ke arah pintu yang terbuka secara bersamaan, keinginan terkuat mereka adalah mengetahui bagaimana keadaan Ella saat ini.
"Gimana keadaan istri gue?" Kata Rega tak. sabar dan menuntut.
Raka menatap sahabatnya itu tak tega, entah apa yang harus ia katakan saat ini.
"Lo mau berdiri sampai kapan hah?!"
Raka menghela nafas panjang, memperhatikan semua orang yang menunggu dan menginginkan kabar baik tentunya dengan harap-harap cemas. "Sorry Ga, gue udah ngelakuin yang terbaik dan semaksimal mungkin dan Tuhan mempunyai rencana lain." Katanya dengan menepuk bahu Rega pelan.
"Gue cuma manusia biasa, tangan gue juga bukan tangan Tuhan."
Rega mencengkram kerah baju Raka kesal, "Ngomong lo berbelit-belit banget! Gue gak mau tau dan yang gue tau istri sama anak gue dalam keadaan baik-baik aja."
"Gue juga berharap hal yang sama, tapi kenyataannya semua itu gak terjadi."
BUK!!!
Rega melayangkan tinjunya ke wajah Raka, "Br*ngsek, mulut lo itu gak bisa ngomong yang baik apa?!" Katanya emosi, " Lo kira gue bisa lo kibulin hah?!" Rega yang masih belum puas melampiaskan amarahnya itu kembali mencengkram kerah baju Raka dengan amarah yang menggebu-gebu. "Lo mau gue b*nuh atau lo bilang kalau istri dan anak gue dalam keadaan baik."
Raka yang gak ada pilihan lain itu mengunci tangan Rega dan mendorongnya ke dinding, "Walau gue mati di tangan lo itu gak bakalan bisa balikin keadaan yang ada. Lo harus bisa nerima kalo mereka udah gak ada Ga!" Katanya penuh emosional tak terkendali.
Agnes yang dari tadi hanya diam itu perlahan mengangkat kepalanya menatap Raka dengan tatapan mata tak percaya, mulutnya terbuka dan air matanya berhenti seketika. "Lo bilang apa tadi?"
Inilah hal tersulit yang harus di lakukan oleh seorang dokter, memberikan penjelasan kepada keluarga pasien yang tak sesuai dengan harapan mereka.
"Bagaimana keadaan putri saya?" Devi berdiri dengan tatapan mata penuh harapan.
"Maaf," Katanya lirih untuk memberikan jawaban yanh sebenarnya.
Rega mendorong tubuh Raka sekuat tenaga hingga membuatnya terpental dan berlari untik melihatnya sendiri, memastika bahwa yang di katakan Raka adalah kebohongan.
Perawat yang ada di ruangan itu segera membungkuk memberi hormat kepada Rega saat masuk dan segera keluar dari ruangan.
Dengan tangan bergetar hebat Rega membuka kain putih yang menutupi tubuh yang ia prediksikan milik istrinya, tak ada yang bisa ia lakukan saat melihat sosok yang punya tenaga lebih setiap harinya itu kini tergolek tak bernyawa dengan badan penuh lebam. Bukan hanya satu, tapi dua nyawa yang kini meninggalkannya. Tak kuat mengahadapi kenyataan di depan matanya itu membuat Rega lunglai, memeluk tubuh Ella yang telah dingin itu dengan air mata yang terus mengalir tanpa suara. Jika bisa ia lakukan, ia akan menukar dirinya yang mengalami semua ini. Tak ada yang ia bisa lakukan ketika takdir berkata lain dan tak ada yang bisa ia lakukan selain menangisi jasad Ella yang ada di pelukannya tanpa suara. Istri dan anaknya yang lebih dulu meninggalkannya, bahkan Rega tak di beri kesempatan melihat buah cintanya itu dan kini telah menjadi bidadari surga. Rega yang tak dapat menerima kenyataan dan bergulat dengan kesedihan itu merasakan sekitarnya terasa hampa dan pandangannya mulai kabur, bahkan ia tak dapat mendengar saat Raka berteriak dan berlari ke arahnya. Seolah waktu berjalan dengan sangat lambat hingga akhirnya ia tersungkur di lantai keramik yang dingin dengan air mata tanpa suara yang menemaninya sebelum semuanya terlihat gelap dan memudar.
*********
Hi Readers yang lagi nunggu..
Ada yang nanya kapan nih Up???
Sorry banget yach, authornya lagi ada tugas negara yang gak bisa di ganggu gugat. Maklumlah emak-emak beranak yang punya segudang kegiatan monoton yang gak bisa di lepasin gitu aja.
Waktu baca komen dari kalian author ngerasa agak gimana, ada yang minta katanya Ella jangan amnesia, jangan keguguran. Noh author bikin Ella gak amnesia sama keguguran. Sebenernya di kepala author udah muncul ide buat ngelanjutinnya tapi ni tangan sama jari masih di pakek buat yang lain dulu. ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Makasih buat kalian yang masih setia nunggu Up dan tetap setia baca novel yang uthor tulis.
Love love dech buat kalian semuanya....
Jangan lupa like dan Vote nya kalo kalian suka dan itu bakalan berarti banget buat author dan jadi motivasi tersendiri yang greget banget dari kalian.
Di rumah aja, jangan lupa menerapkan gaya hidup bersih di manapun dan kapan pun karena kalo bukan kita sendiri siapa lagi.
Buat emak-emak yang nemenin anak nya belajar di rumah semoga kalian di bekali kantong kesabaran yang tebal dan lebar, karena agak susah ngajarin anak sendiri itu yang kebanyakan alasan cuma buat ngerjain tugas sekolah.
😂😂😂😂