
Suara menggelagar yang ngalahin suara geledek itu nikin semua orang langsung noleh. Gak ada satu pun yang berani ngomong, bahkan nafas aja masih mikir-mikir. Aura permusuhan kental sekali terasa bikin semua orang merinding ngeri, bukan cuma itu tapi tatapan mata yang tajam bahkan kalo di bandingi sama samurai lebih tajam lagi. Seandai nya bisa ngebunuh orang dengan tatapam mata doang, bakalan gak berbentuk lagi tu tubuh.
Andre yang awalnya memaksa kucing kecil itu menuruti keinginannya buat cium dengan paksa mendengar teriakan itu langsung menghentikan aksinya. Mendapati Big Bos yang tak jauh berdiri darinya dengan tatapan mata yang luar biasa mengerikan, gak bisa di ungkapkan dengan kata-kata dan aura yang berada di sekitarnya menjadi lebih horor di bandingkan di kuburan yang sangat angker sekali pun.
"Apa yang kamu lakukan di kantor saya hah?!"
Andre yang ketakutan setengah mati itu gak berani liat langsung, cuma bisa nunduk dengan kaki gemetar. *M*ampus gue, kalo gak cari akal bakal gak selamat gue hari ini, batinnya.
Semua orang tau seberapa ngerinya bos mereka kalai sedang marah, gak ada satu pun yang berani membantahnya saat mood nya jelek. Beruntung akhir-akhir ini big bos itu punya mood yang baik hingga gak ada drama pecat-pecatan walau bikin kesalahan sekali pun. Kalo biasanya tu ya, gak ada kata toleransi buat kesalahan sekecil apa pun dengan konsekuensi surat pengunduran diri.
"Maaf tuan, saya hanya memberi pelajaran pada siswi magang itu." Akhirnya Andre mendapatkan alasan untuk menyelamatkan dirinya, bagaimana pun bos akan mempercayainya yang telah 10 tahun mengabdi kepada perusahaan ini di bandingkan siswi magang yang baru aja ia lihat hari ini.
"Pelajaran? Di kantor kita tidak pernah sekali pun memberi pelajaran tentang bagaimana caranya bertingkah laku tidak sopan kepada lawan jenis. Apa kah peraturan yang kamu setujui kurang jelas selama ini?!"
Untuk mencegah hal-hal yang tak di inginkan Rega memberlakukan peraturan bahwa di larang adanya kontak fisik dengan lawan jenis atau menjalin hubungan terhadap lawan jenis. Karena akan mempengaruhi kinerja kantor saat bermain dengan perasaan.
Terkecuali, ia dapat menoleransi hubungan suami istri.
"Bu bukan seperti itu, saya selama 10 tahun bekerja sangat paham dan mengerti. Tapi dia..." Menunjuk Ella yang dengan santainya, "Berani-beraninya merayu saya untuk memudahkan dan mendapatkan nilai tinggi saat magang di kantor ini." Berkata dengan penuh percaya diri, merasa terselamatkan dengan alasan yang di anggapnya sudah sangat benar itu.
"Enak aja! Ngapain lo nuduh gue kayak gitu! Lo yang ngelakuin hal kurang ajar sama gue!" Ella merasa tuduhan palsu yang di berikan padanya itu sangat marah, merayu cowok Br*ngsek kayak gitu jatuhin harga dirinya.
"Maaf Tuan, anda lihat sendiri bagaimana tingkah lakunya? Bahkan kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat kasar." Jelas Andre sangat tenang dan puas, merasa pembelaannya saat ini sudah benar.
"Gue robek mulut lo! Laki-laki tapi kayak banci! Beda muka sama belakang. Cih! Najis gue!"
Rega yang sebenarnya tau duduk perkara yang terjadi sangat marah dan geram, sebagai atasan yang baik ia harus mencontohkan dan mengambil tindakan yang tidak sewenang-wenang terhadap bawahannya. Kalo nurutin hati, udah di bikin babak belur tu cowok yang berani-beraninya nyentuh wanitanya, apa lagi ngelakuin hal kasar yang ia lihat dengan mata dan kepalanya sendiri. Bukan cuma di bikin babak belur, tapi di musnahin dari peredaran tata surya.
"Yun!"
Yun yang mengerti segera apa yang bosnya perintahkan meski tanpa mengatakan sepatah kata pun itu menundukkan kepala.
"Sebutkan nama dan jabatan anda."
"Saya Andre, wakil manager dari devisi produksi." Katanya lantang dan bangga.
Bakal naik jabata atau..., naik gajih nih?
"Tuan Andre, dengan hormat silahkan menyerahkan surat pengunduran diri ke meja saya saat ini juga. Saya tunggu dalam waktu satu jam dan kemasi barang anda."
"Apakah anda masih belum tau kesalahan apa yang telah anda lakukan?" Yun mengajukan pertanyaan yang sebenarnya gak perlu.
"Iya, saya tidak melakukan kesalahan apa pun. Bahkan anda bisa melihat kalau siswi itu yang melakukan kesalahan."
Rega yang dari tadi mendam emosinya bikin mukanya merah padam, kok bisa di kantornya ada manusia br*ngsek yang gak bertanggung jawab dan melemparkan kesalahan pada orang lain.
"Tuan Andre, siswi yang anda maksudkan itu bukan siswi magang. Kita tidak menerima siswi atau mahasiswi untuk magang di kantor kita saat ini. " Yun menatap dingin wajah Andre yang berubah pucat mendengar penjelasannya. "Apakah anda masih tidak tahu kesalahan yang anda lakukan?"
Andre menelan ludah dan merasa gugup, kalau bukan siswi magang lalu siapa dia?
Kantor ini tidak akan mudah di masuki oleh orang-orang yang tak ada sangkut pautnya. Orang awam tak akan pernah bisa masuk tanpa ada ijin khusus dari pemilik perusahaan. "Ti-tidak," masih tetap bersikukuh dengan pendapatnya.
"Baik, saya akan mengatakan dengan jelas apa kesalahan yang anda lakukan hingga anda dapat pergi dari perusahaan dengan tenang." Yun melangkah maju beberapa langkah melewati bosnya dan mensejajarkan dirinya dengan Nona Ella yang lagi naik pitam.
"Kepada seluruh karyawan, saya akan mengatakan cukup satu kali dan kalian semua saya harap tidak melakukan kesalahan yang sama dengan apa yang tuan Andre lakukan hari ini." Sesaat, Yun menoleh ke arah Rega untuk mendapatkan persetujuan sebelum memulainya.
Rega mengangguk pelan, memberikan ijin apa pun yang akan Yun katakan.
"Dia adalah Nona Ella Alexa Johan, tunangan sekaligus calon Nyonya dari Rega Adiyaksa Mahendra yang tak lain pemilik dari perusahaan ini." Katanya lantang.
Semuanya sunyi senyap, ya... Sebenarnya mulai tadi udah sunyi. Gak ada yang berani berkutik saat bos mereka marah, kalo gak bakalan berakhir dengan surat pengunduran diri.
Andre yang menyadari kesalahan besarnya dan omongannya yang ia karang menjadi boomerang yang tak terelakkan, kalo kata pepatah, seperti menggali kuburan sendiri. Badannya lemas dan keringat dingin berkucuran dari tubuhnya, bahkan kakinya gak sanggup buat menopang badannya yang kini terjatuh lunglai di lantai. Ia merutuki dirinya sendiri, mengumpat keb*dohannya dan menyesali apa yang telah ia lakukan. Seharusnya ia dapat memprediksi karena bukan orang sembarangan yang dapat masuk ke dalam perusahaan kecuali karyawan dan staf.
Apa pun itu, yang namanya penyesalan gak ada di depan dan pastinya di belakang setelah apa yang di lakukan itu adalah sebuah kesalahan, itu yang terjadi sama cowok playboy macam Andre yang senjata makan tuan karena tindakannya sendiri. Mau nangis darah gak bakalan bisa di perbaiki kesalahan besar yang ia lakukan itu.
Nasi sudah jadi bubur, tinggal nambahi suwiran ayam, sambel sama kerupuk dan jadilah bubur ayam....
******
Jangan lupa Like dan Votenya yach buat dukung Author.
Biar Authornya tambah semangat lagi.
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏