Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Dinas Malam


Setelah melakukan ucap janji Koas di hadapan Dekan Fakultas Kedokteran dan Direktur rumah sakit yang tak lain adalah Raka yang menjadi direktur rumah sakit yang telah di tunjuk (Atas perintah dan kemauan Rega buat Ella melakukannya di rumah sakit milik keluarganya) untuk senantiasa mentaati peraturan rumah sakit, menghormati dan menjaga kerahasiaan pasien dan data rumah sakit lainnya, serta menjunjung tinggi etika dan kehormatan, maka dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan dan menjaga patient safety sesuai dengan standar akreditasi rumah sakit, dilanjutkan dengan kegiatan technical assistance (Pembekalan materi) tentang Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) / Patient Safety, Keselamatan Kerja, Penanggulangan Kebakaran dan Bencana (K3) serta Customer Service kepada 50 koas Fakultas Kedokteran Universitas Achmad Yani sebelum menjalani kepaniteraan klinis. 


Sebelum koas, mahasiswa harus mengikuti beberapa kegiatan persiapan sebelum sepenuhnya menjadi koas. Sebelum memasuki masa koas, mahasiswa wajib mengikuti kegiatan KKR, yaitu pengenalan kegiatan koas disetiap stase/bagian. Disini mahasiswa berperan sebagai pengamat kegiatan senior yang sedang menjalani masa koas. Pada kegiatan ini calon koas diinformasikan apa saja tugas di setiap departemen, ruangan stase, berbagai tanggung jawab koas yang harus dilakukan dalam departemen tersebut, dan pengulangan sedikit materi di departemen tersebut. Kegiatan KKR dimulai dari pukul 10.00-13.00, namun ada beberapa departemen besar yang memungkinkan kegiatan KKR berlangsung hingga pukul 17.00. Dalam kegiatan KKR, penilaian difokuskan pada kedisiplinan selama mengikuti kegiatan.


Nah, setelah mengikuti KKR, ternyata masih ada kegiatan persiapan pra-koas, namanya Pembekalan Dokter Muda. Kegiatan ini dilakukan 1 minggu sebelum masa koas dimulai. Dalam Pembekalan Dokter Muda ini calon koas diberikan informasi mengenai Rumah Sakit, hubungan koas dengan tenaga kesehatan lain, kegawat daruratan, dan sistem kerja di Rumah Sakit. Nah, setelah kedua kegiatan tersebut dipenuhi, maka calon koas diperkenankan untuk mengikuti kegiatan koas.


Akhirnya yang di tunggu pun tiba, Ella beserta enam teman lainnya memulai masa koasnya di rumah sakit keluarga Rega tanpa ada yang tahu tentang statusnya sebagai nyonya besar terkecuali Raka. Ia mendapatkan perlakuan yang sama dengan mahasiswa dan mahasiswi lainnnya yang menjalani koas, bahkan terkadang para seniornya seenaknya memperlakukannya karena merasa iri.


"Setelah ini kamu selesaikan laporan para pasien dan jangan pulang kalau semuanya belum beres." Kata dokter Ervina selaku dokter syaraf di rumah sakit tersebut.


"Maaf dokter, jadwal saya sehabis ini kosong dan biasanya mengenai laporan saya kerjakan di rumah." Kata Ella yang udah ngerasa capek baget karena gak tidur hampir dua hari, dokter yang satu ini kelewat cerewetnya di bandingkan dokter lainnya yang seenak udel nyuruh ini itu walau bukan seharusnya di kerjain. Berhubung dalam masa koas yang gak punya hak buat buka suara akhirnya Ella pasrah-pasrah aja ngelakuinnya selama itu masih batas normal dan gak ngelakuin sesuatu yang aneh-aneh, udah di lakuin malah gak ada yang bener lagi. Salah terus, emang ni orang ada dendam kesumat apaan sih sama gue kok sampek segininya nyiksa gue? Batin Ella.


"Saya gak mau tau, pokoknya kamu harus menyelesaikannya sebelum pulang dan besok pagi sudah siap di atas meja saya." Katanya dengan membereskan peralatannya, sejak awal Ervina gak suka suka dengan dokter muda yang satu ini. Bagaimana mungkin seorang dokter muda bisa mendapatkan perhatian lebih dan perlakuan istimewa dari rumah sakit dan direktur tempatnya bekerja walau ia akui kinerja dan caranyanya melakukan tindakan di atas rata-rata di bandingkan temannya yang lain.


"Baik." Cuma kata itu yang Ella ucapkan, lagian mau berdebat gak ada habisnya dan gak bakala menang. Udah jam dua sore dan harus nyelesaikan laporan pasien sebanyak 20 orang yang kebayang sendiri gimana rasanya, rasanya mau nangis tapi di tahan apa lagi matanya udah berasa di tongkat dan di dukung sama kopi.


Tring


Ella membuka hpnya saat mendengar nada pesan masuk.


Udah selesai sayang?


Ni Abi tunggu di ruangan Raka sambil bawa makan siang, kita makan bareng ya?


"Huh....," Ella menghela nafas panjang, setiap. hari Rega datang ke rumah sakit buat bawain makan siang, malam dan lainnya. Sebenarnya Ella udah nolak tapi tetep aja Rega ngelakuinnya dengan alasan makanan di luar itu gak sehat dan higenis.


Maaf Abi, Ella harus ngerjain laporan


Abi makan sama dokter Raka aja ya?


Lama-lama Ella gak enak sama teman satu angkatannya, apa lagi beredar kabar di rumah sakit kalo dia punya hubungan yang spesial sama Raka karena terlalu sering keluar masuk ruangannya. Kabar itu malah udah nyampek kemana-mana, bukan cuma sesama anak koas tapi udah ke dokter poli dan lainnya yang bikin telinga Ella lama-lama panas juga. Malahan di kalangan perawat Ella di bilang simpanan direktur rumah sakit itu.


Pokoknya Abi gak mau tau, kalo kamu gak mau datang kesini Abi yang datang kesana


Langsung aja tu mata Ella yang sepet melek baca pesan Rega, gawat kalo sampek ketahuan di samperin ke ruangan yang bisa bikin heboh.


Iya....


"Mau kemana La?" Tanya Elyn yang liat Ella keluar ruangan sambil nenteng kertas banyak banget itu.


"Mau ganti suasana."


"Lo gak pulang? Bukannya udah jam pulang lo?" Kata Elyn heran liat Ella yang masih ada padahal udah waktunya pulang dan klinik udah kosong.


"Gue harus nyelesai-in laporan pasien dulu sebelum pulang Lyn." Menepuk kertas yang ada di tangannya.


"Kan bisa di kerjain di rumah, lagian lo udah dua hari disini. Apa gak capek? Emang kebangetan ya nenek sihir itu." Katanya geram, habisnya mentang-mentang dokter seenaknya nyuruh-nyuruh.


"Hush! Kalo kedengaran bakal dapet semprot lo."


"Biarin, gue heran kenapa tu orang nyiksa lo sampek segitunya. Bahkan kerjaan dia lo juga yang megang, nyuruh lo beli makan siang segala lagi. Gue aja ngerasa gondok masak. lo terima-terima aja sih la?"


"Bukannya terima aja Lyn, gue gak mau cari ribut disini. Kalo nilai gue jelek ya entar ngulang lagi mending gue berdamai sama keadaan."


"Iya juga sih, nasib kita cuma bisa pasrah di tindas. Udah kayak jaman penjajahan gini. Sini gue bantu lo buat nulis laporan." Katanya menawarkan bantuan.


"Gak usah, lo pulang aja. Lagian pasti lo capekkan habis ngelakuin operasi?"


"Bener nih gak perlu bantuan gue?"


"Iya bener..., lo istirahat aja. Entar malam jaga lagi kan di UGD?"


"Iya, gue duluan ya? Mau nabung buat entar malam."


Ella memperhatikan kepergian Elyn, selama ini mereka gak cukup dekat di kampus tapi pas koas mereka menjadi dekat karena cuma mereka berdua yang satu kampus dan empat lainnya dari kampus dan daerah yang berbeda. Elyn anak yang baik dan sering banget bantuin Ella yang katanya ngerasa perlakuan yang Ella dapatkan kadang gak adil dari dokter disini atau kadang di kerjain sama perawat dan bidan rumah sakit.


Tok tok tok


Ella membuka pintu setelah mengetuknya dan mendapati Rega yang udah duduk di sofa bareng Raka. Dua orang lelaki itu lagi makan siang bareng.


"Lo belum pulang La?" Tanya Raka heran.


"Belum dok." Duduk di samping Rega yang udah bukain kotak makanan.


"Gak usah formal gitu kalo kita disini, lagian gak ada yang liat kok." Raka melirik tumpukan kertas yang Ella bawa, "Bukannya ini jadwal lo habis?"


"Dokter Ervina minta gue bikin laporan pasien sebelum pulang."


"Kan bisa lo kerjain di rumah, lagian lo udah berapa hari gak pulang kan? Laki lo sampek ubanan nungguin lo." Sindirnya, soalnya heboh banget Rega istrinya nginep terus di rumah sakit.


"Sebenernya sih gitu, cuma mintanya hari ini juga harus selesai." Membuka mulutnya saat Rega menyodorkan sendok berisi makanan.


"Hah? Gak bisa di biarin nih. Dah lo pulang aja, kerjain laporannya di rumah. Bukannya gue gak tau apa yang dia lakuin sama lo, cuma gue tau dia sampek mana mau ngerjain lo. Makin lama di diemin makin parah tu orang." Kata Raka mulai habis kesabaran yang tau perlakuan semena-mena dokter Ervina sama Ella. Kalo sampek Rega yang turun tangan bakal gawat darurat, bisa-bisa ni rumah sakit jungkir balik.


"Gak pa-pa kok, lagian buat latihan nguji iman dan nyali."


Rega menatapa tajam Raka, kalo bukan karena Ella yang minta buat gak. ikut campur udah ia pecat tu dokter. "Kalau ada apa-apa sama Ella gue bakal minta pertanggung jawaban lo." Ancamnya.


"Iya gue tau, lagian gue udah nyuruh orang buat ngawasin Ella. Selama ini gak semua berjalan biasa aja, dokter lainnya gak ada yang tau hubungan kalian berdua. Tapi tang gak gue suka sama dokter Ervina satu ini aja Ga. Sok banget dia nyuruh Ella yang enggak-enggak."


"Abi, jangan gitu dong..., malam ini temenin Ella tidur disini ya Bi? Kan kerjaan Abi bisa di bawa dan di kerjain disini." Katanya mengalihkan perhatian Rega yang udah mau marah.


"Iya sayang, Abi temenin. Lagian kan baju Abi udah Yun bawakan." Katanya yang langsung luluh denger permintaan Ella.


"Abi gak usah mikir macam-macam, lagian kalo emang kebangetan Ella gak bakal tinggal diem kok."


Raka mengangguk setuju, "Gue bakal dukung lo."


Rega mengangkat badan Ella dan memindahkannya ke tempat tidur yang ketiduran di atas meja setelah menyelesaikan tugasnya, sebenarnya Rega gak mau Ella ngelakuin semua ini dan kalo bisa memilih Rega cuma mau Ella tinggal di rumah tanpa melakukan apa pun. Bukan Ella namanya kalo nurut gitu aja, tapi mau gimana lagi udah dari dulu cita-citanya kayak gini yang mau gak mau Rega ijinin. Aslinya gak tega liat orang ia paling ia sayangi itu bersusah payah dan harus dimarahi sama dokter lainnya. Bukannya Rega menutup mata dan telinganya atas apa yang ia lihat dan dengar tentang perlakuan yang Ella terima selama di rumah sakit, tapi Ella selalu memintanya buat gak. ikut campur dalam masalahnya dan Rega cuma bisa nurutin. Lagian ada Raka yang bisa ia percaya di sini untuk mengawasi dan menjaga Ella. Untungnya ada kamar khusus yang disediakan buat perawatan keluarga yang di ubah bentuk buat nginep Ella kalo emang gak bisa pulang, Yun udah mindahin barang-barang Ella ke dalam kamar tersebut buat lebih mudah dan nyaman. Kamar yang gak pernah di buka untuk umum itu di sulap menjadi kamar yang nyaman, walau gak bisa pulang setidaknya Ella dapat istirahat dengan. nyaman dan baik disana yang hampir setiap. malam Rega menemani istrinya itu. Rega mencium lembut pipi Ella dan membereskan kertas yang berserakan dia atas meja. Ia menahan tawa melihat tulisan Ella yang udah kayak ceker ayam itu, gak jelas nulis apa di sana yang Menurutnya kayak coretan anak kecil yang baru bisa megang pulpen. Setelah membereskan kekacauan itu, Rega merangkak dan tidur dengan memeluk istrinya yang tertidur pulas. Ia memandangi wajah yang kelelahan itu dengan lingkaran hitam di kedua matanya, ada perasaan sedih melihatnya.


"Abi, jangan liatin Ella terus." Katanya pelan dengan membenamkan wajahnya di dada Rega, rasanya nyaman banget setelah beberapa hari gak tidur. "Ella ngantuk banget."


"Iya sayang, Abi cuma liatin aja kok gak bakal ngelakuin apa-apa." Padahal aslinya pengen banget lembur, tapi liat muka Ella yang udah capek banget rasanya gak tega buat ganggu.


********


Udah kayak makanan sehari-hari kena omel, semprot, sumpah serapah atau lainnya yang udah jadi penggangti nasi sebagai makanan pokok disini. Kalo mau nangis udah abis tu air mata, tapi itu lah gunanya di marahin atau apa pun itu buat menggembleng mental sskuat baja dan mempersiapkan diri kita semaksimal mungkin. Pada intinya semuanya itu bakal buat kebaikan diri kita sendiri walau pun kadang kita nya ngerasa nyesek dan melow sendiri dan ngerasa gak adil, emak yang brojolin dan besarin kita gak segitunya dan gak pernah ngomelin kayak gitu lah konsulen yang ketemu gede malah ngomelnya parah banget yang gak pernah ada benernya. Yang ini data pasien salah lah padahal udah minta dari ruang perawat dan data dari pasien yang benar atau hal lainnya yang satu pun gak ada yang gak di komplen. Mungkin pribahasa Konselen selalu benar dan kita selalu salah itu yang paling cocok dan pas buat gambarin keadaan kita yang gak pernah si kasih kesempatan buet bener.


Ella yang malam ini kebagian jaga malam itu habis memantai pasien yang jadi tanggung jawabnya satu persatu dari satu bangsal ke bangsal lainnya dam baru selesai jam sepuluh malam. Jaga IGD lagi asik-asiknya membuat laporan pasien buat di serahin sama dosen itu kaget pas para perawat langsung panik karena kadatangan pasien kejang dengan demam tinggi yang di atar oleh keluarga yang panik juga dan parahnya lagi yang ngantar gak tau gejala yang di alami anaknya karena tadinya lagi kerja dan di telpon buat telpon karena anaknya sakit, mau nanya sama pasien yang masih balita itu berasa gak mungkin banget karena cuma nangis dari datang. Belum lagi pasien yang teriak minta bantuan tiba-tiba muntah atau pasien lainnya yang nguji nyali dan kesabaran tingkat tingkat tinggi yang harus banyak-banyak sabar dan ngelus dada karenanya dan malam ini menjadi malam yang sangat panjang gak siang-siang. Rasanya pengen banget narik matahari biar cepat keluar dan berganti siang.


"Dok, mau kopi?" Tanya Hana selaku perawat yang jaga malam ini, ini kali keduanya ia jaga bareng dokter Ella yang ia rasa sangat ramah dan baik itu. Rasanya udah gak kuat melek lagi tapi masih harus jaga akhirnya memutuskan buat cari kopi di luar sana buat menopang matanya tetap terjaga.


"Boleh kalo gak ngerepotin." Kata Ella sambil mendongakkan kepalanya dari layar laptop. "Sekalian beli gorengan ya buat yang lain." Ella memberikan beberapa lembar uang seratus ribu.


"Ini kebanyakan dok buat beli gorengan." Katanya bingung, masak beli gorengan sampek tiga ratus ribu?


"Beli makanan yang lainnya, terserah mau beli apa atau beli apa yang ada." Soalnya udah dini hari jarang banget ada warung yang buka dalam keadaan menu sempurna.


Hana mengangguk, itu lah enaknya jaga bareng dokter Ella yang terkenal gak pelit sama semua orang dan ramah di bandingkan dokter lainnya yang galak-galak. Apa lagi dokter senior dan perawat senior yang garangnya bukan main itu.


Ella melihat jam tangannya, masih ada empat jam lagi sampek terbit matahari dan rasanya udah lama banget. Dua orang perawat dan bidan yang jaga bareng udah tidur duluan, Ella biarin gitu aja lagian gak ada pasien gawat. Kasian mereka udah melek dari tadi dan satu perawat dalam kondisi hamil yang bikin Ella tambah gak tega.


"Bisa tuker jadwal gak?" Tanya Haris yang aslinya dari Manado dengan logat nya yang kental itu. "Tolong lah..., aku udah tanya sama yang lain tapi gak ada yang maunya."


"Kapan?"


"Besok, aku mau jemput Mama aku di bandara. Aku suruh buat naik taksi dia gak mau katanya takut nyasar dan di culik." Katanya agak malu pas ngomong alasan mamanya yang terkesan mengada-ada itu.


"Bisa, jam berapa kamu ke bandara? Soalnya aku mau istirahat dulu. Kalo langsung nyambung pagi gak kuat mataku."


"Jam 10, kamu masih punya waktu buat tidur."


"Oke. Kamu udah selesai?" Tanya Ella yang tau kalo Haris baru aja ngelakuin operasi darurat karena kecelakaan.


"Baru aja selesai."


"Dokter! Tolong!"


Kontan Ella dan Haris yang telinganya langsung konek sama panggilan kayak gitu menoleh ke arah belakang datangnya suara dengan berdiri siap, dua orang itu saling melempar tatapan mata.


"Kamu dengarkan Ris tadi?" Tanya Ella buat mastiin kalo bukan cuma dia aja yang dengar suara teriakan barusan tapi gak ngeliat apa pun di sana yang sepi banget. Cuma ada peralatan medis doang dan gak ada orang lain selain mereka berdua.


Haris mengangguk canggung, lagi-lagi dia noleh ke arah ruangan yang sepi itu dan kembali ke arah Ella. "Iya, denger." Tiba-tiba buku kuduknya langsung berdiri semua tanpa komando dan suasana jadi horor yang bikin nyali ciut seketika.


Ella yang nyadarin situasi saat ini lebih memilih diam dan gak membahasnya, yang diem aja udah bikin merinding. "Tu-tunggu Hana datang beli gorengan dulu." Berusaha senormal mungkin kayak gak terjadi apa-apa walau pikirannya udah kesana kemari gak karuan dan detak jantungnya dua kali lebih cepat di bandingkan biasanya.


"I-iya," Kata Haris yang langsung nurut, narik kursi dan duduk di samping Ella. Mereka berdua sama-sama diem dan larut dalam pikiran masing-masing.


"Dok,"


Ella yang mikirnya udah negatif aja itu langsung jatuhin pulpen yang ada di tangannya saking kagetnya. Gak kalah sama Ella, Haris lebih parah lagi sampek jatuhin hp-nya.


"Kalian kenapa?" Tanya Hana yang bingung sambil nenteng bungkusan makanan.


"Enggak kok." Jawab Ella yang udah menguasai keadaan itu.


"Kamu beli apa?" Tanya Haris mengalihkan pembicaraan.


"Beli gorengan sama nasi goreng dok, cuma ini yang ada di warung depan. Maklum udah malam kayak gini."


Haris langsung mengambil dan makan tanpa suara yang di ikuti Ella, kejadian malam ini cukup mereks yang tau kalo gak bakalan geger.


Mereka kenapa sih? Biasanya kalo ngumpul rame banget kok jadi aneh gini ya?" Batin Hana yang liat situasi canggung dua dokter yang biasanya kocak itu.


*******


Hi readers...


Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin yach....


Makasih buat kalian semua yang udah setia dengan nunggu up dan tetap setia baca novel yang author tulis, beberapa hari ini author sibuk banget dalam suasana idul fitri jadi gak bisa nulis naskah dan pending sampek sekarang yang alhamdulillah ada waktu longgar yang sedikit-sedikit bisa buat nyicil dan jadilah satu episode yang terbit ini.


Ini adalah beberapa episode dari bagian episode terakhir dari novel author dan bakal di lanjutin buat season keduanya... (Rencananya sih gak lama lagi cerita Ella dan Rega bakalan tamat, tapi gak tau ya kalo berubah karena suasana hati author juga bisa berubah).


Jangan lupa "like" dan "Vote" nya serta "komentarnya" buat kalian yang suka sama novel yang author tulis. Terimakasih atas dukungan dan partisipasi dari kalian semua yang jadi penyamangat tersendiri buat author.


😘😘😘😘😘