
"Hai cantik...."
Kayaknya Ella pernah dengar tu suara, tapi lupa dimana. Celingukan tapi gak ketemu sama yang punya. Udahlah..., yang penting menikmati ice cream yang ada di depannya dengan khitmat.
"Kamu cantik banget...."
Iya, Aunthi Anggun! Cewek cantik, montok, bohai dan ramah itu kini duduk di depan Ella dengan elegan. Diliat dari mana pun emang sempurna banget.
"Untung aja tadi Aunthi liat kamu." Menyibakkan rambut panjangnya.
"Aunthi lagi ngapain disini? Sendirian?"
"Iya, Aunthi lagi kabur." Katanya tertawa kecil,
"Kerja terus itu capek banget." Mencomot ice cream yang ada di tangan Ella dan memasukkan ke dalam mulutnya, perpaduan rasa vanila dan stroberi membuat Anggun memejamkan matanya menikmati.
"Itu bekas mulut Ella."
"Gak pa-pa, lagian ya kalo menager Aunthi liat bakal di marahin katanya bisa bikin gemuk."
"Pasti hidup Aunthi berat ya?" Bayangin hidup harus nahan buat gak makan ini dan itu begitu menyiksa.
"Kita jalan yuk cantik." Menarik tangan Ella buat ngikutin langkahnya.
"Kita mau kemana?"
"Gak tau. " Katanya tertawa. Anggun emang gak tau mau kemana, soalnya gak ada rencana sama sekali. Pas liat Ella lewat gak jauh darinya Anggun cepat-cepat cari cara buat kabur menikmati kebebasan yang hampir gak pernah ia dapat. Anggun menghentikan langkahnya pas ngeliat asesoris cantik.
pasti imut banget kalo di pake sama Ella
Sepanjang perjalanan, mata para cowok langsung melotot liat penampilan Anggun yang sempurna dari ujung kaki hingga ujung kepala. Badannya yang udah kayak gitar sepanyol, rambutnya hitam bergelombang, bulu mata lentik alami dan bibirnya yang penuh itu menunjang penampilannya hingga menyihir kaum adam yang berpapasan untuk menoleh ke arahnya.
Ella sempat ngebandingin dirinya sendiri ngerasa ciut kalo di bandingin Aunthi yang satu itu, gak ada apa-apanya bahkan seujung kuku.
"Tu kan bener...." Memakaikan bando telinga kelinci di kepala Ella. "Gemes banget, pengen Aunthi bungkus buat di bawa pulang." Mambil menahan diri gak cubit pipi Ella.
Anggun anak bungsu dari empat bersaudara yang semuanya adalah cowok dan cuma dia yang paling cantik di antaranya dari dulu emang pengen banget punya sodara perempuan. Pertamakali ngeliat Ella, Anggun ngerasa dia itu manis banget. Kulitnya yang kayak permen kapas bikin gemes pengen cubit terus.
"Aunthi, ini banyak banget buat apaan?" Tumpukan asesoris lucu yang memggunung di tangan Ella.
"Buat kamu sayang." Mengerlingkan mata ke arah gadis imutnya itu. "Habis ini kita belanja gaun cantik buat kamu. Aunthi udah gak sabar." Membayangkan mendandani Ella dengan gaun-gaun dan asesoris yang pasti bikin tu cewek makin cantik.
"Tapi, Ella gak perlu yang kayak ginian."
"Gak pa-pa, kamu cukup diam aja ya. Aunthi yang belikan."
"Gak, Aunthi udah kerja capek-capek. Uangnya gak boleh di pake buat beli barang yang gak berguna kayak gini. Ella terima kasih banget udah di perhatiin tapi Ella mohon, Aunthi gak buang-buang uang." Menatap mata Anggun dengan tatapan malaikatnya.
Anggun yang tercengang liat betapa manis dan imutnya cewek di depannya itu akhirnya mengangguk, gak kuasa buat nolak keinginannya. "Mulai sekarang kamu Aunthi anggap jadi adik gimana?"
"Selama itu gak merugikan Aunthi sih gak masalah."
"Kya....! Senengnya, panggil Kakak ya?" Pintanya menggenggam tangan Ella.
"Its oke, kita cari makan dulu sayang. Kakak laper banget." Menggandeng tangan Ella dengan senyum sumringah.
Ella jadi bingung sendiri harus bersikap apa sama Authi eh, salah tapi kakak yang cantik satu ini.
"Tunggu disini, Kakak mau pesan makanan dulu buat kita." Menyuruh Ella menunggu di meja dan melenggang masuk untuk memesan.
"Lo liat cewek yang barusan, cantik banget kayak bidadari." Celetuk seorang cowok yang duduknya gak jauh dari Ella.
"Iya, cantik banget. Beruntung cowok yang bisa memiliki tu cewek. Udah cantik badannya aduhai banget...." Temannya ikut berkomentar.
"Gak usah halu lo, gak mungkin juga dia ngelirik elo. Secara cewek kayak gitu pasti seleranya yang selevel sama dia."
"Ya elah, halu jua urusan gue."
Ella yang denger obrolan itu makin ciut nyalinya, cewek sekelas Anggun aja di tolak sama Rega apa lagi dia yang enggak ada apa-apanya. Apa mungkin Rega serius sama ucapannya atau cuma main-main doang buat ngelepasin rasa bosennya.
"Honey?" Anggun yang ngeliat wajah Ella murung itu merasa bingung, pas di tinggalin tadi gak kayak gitu.
"Are you okey?"
Ella mengangguk mantap dan tersenyum, membuang jauh-jauh pikirannya tersebut, dia sama Rega kan gak ada hubungan apa-apa walau Rega gencar banget melancarkan aksinya buat PDKT selama ini. "Kakak, gak pa-pa nih kita makan bareng? Kalo manager kakak cari gimana?"
"Biarin lah, aku bosen kerja terus. Sesekali nikmatin kebebasan aku, kamu suka apa? Tadi Kakak pesenin beberapa makanan."
"Ella bebas makan apa aja, asal itu makanan bakal Ella makan kok?"
"Kakak Iri banget sama kamu, bisa makan yang kamu mau tanpa harus mikir ini dan itu. Kak kayak Kakak yang harus pilih buat jaga penampilan."
"Tapi Kakak cantik banget, beneran."
Anggun yang tersanjung mendengar pujian itu bersemu merah, baru kali ini ngerasa Ge-er di bilang cantik sama cewek yang imut banget. Biasanya Anggun gak pernah nanggepin kata-kata manis dari para cowok hidung belang.
"Gimana kabar Om kamu?"
"Om yang mana?"
"Rega."
Iya lupa, kalo selama ini Anggun menganggapnya sebagai keponakan Rega. "Baik, Kakak kok suka sih sama Om Rega yang kayak kulkas dua pintu itu? Padahal kan Kakak cantik bisa cari cowok lain yang lebih."
Anggun mengetuk-ngetuk meja, ia tersenyum simpul mengingat kejadian masa lalunya. "Bisa di bilang cinta pada pandangan pertama, walau wajahnya kayak gitu tapi Rega punya sisi lain yang hangat." Menopang dagunya dengan kedua tangan. "Kakak gak sengaja liat anak cowok yang tiap hari datang buat ngasih makan kucing-kucing liar di taman kota, awalnya kakak iseng ngikutin. Semakin hari kakak liat semakin kagum. Dari situ Kakak mulai suka sama Om kamu yang kayak kulkas itu." Mengenang masa-masa di mana tumbuh cinta.
"Masak sih Om Rega kayak gitu?"
"Tu kan kamu aja gak percaya?"
Gak berapa lama pramusaji datang membawakan pesanan makanan yang jumlahnya lumayan banyak. Anggun yang lapar mata karena bingung mau pesan apa akhirnya memesan secara acak.
"Banyak banget Kak?"
"Gak masalah, hari ini kita makan sampek puas" Aji mumpung managernya gak ada.