
Jangan lupa mampir ke novel author lainnya ya...
- Labirin Cinta
- Kontrak Cinta 100 Hari
Di tunggu partisipasi kalian semua, ceritanya mengandung unsur komedi romantis yang gak bakal bosenin. Mampir dulu, baca baru kalian bisa tau emang asik apa enggak baru kasih like, komentar sam Votenya.
Makasih....
********
"Arum! Jaga sikap dan bicara kamu! Kamu kira selama ini aku diam karena aku takut?!" Bentak Anisa yang udah bener-bener marah, kalo gak kebangetan mana mungkin ia menampar Arum. "Makin lama sikap kamu itu makin keterlaluan."
"Lo berani ya udah sama gue? Gue laporin lo kepolisi karena udah berani nampar gue dan dua temen gembel lo yang udah hina gue." Kata Arum mengancam dengan bawa-bawa nama polisi. "Kecuali kalian bertiga minta maaf dengan cara berlutut, gue masih bisa maafin."
"Mulut lo itu bisa gak sih di jaga? Lo bilang gembel, orang miskin lah. Lo tau gak siapa mereka? Mereka itu nyonya Ella, pemilik mall ini dan temannya nyonya Anggun model kelas dunia. Kalo di mata lo mereka gembel lalu lo apa hah?! Selain mulut lo yang geser otak dan hati lo ikut geser juga." Mantap Anisa... Keluarlah mantra-mantra dari mulut Anisa yang udah gak bisa ngerem lagi, untung aja dia gak ngabsen isi kebun binatang saking marahnya sama Arum yang kalo ngomong gak ingat kalo dia juga menghirup oksigen yang sama sama orang yang di bilamg gembel itu. "Yang harusnya minta maaf itu lo."
"Apa?! Lo bilang otak gue geser?" Tertawa mengejek ke arah Anisa yang pakek acara ngarang cerita bahwa dua gembel itu adalah istri dari Tuan Rega, di liat dari mana sih cewek berbadan kecil dan perutnya besar yang di mata Arum persis banget kayak kecebong itu bisa jadi istri seorang Rega yang cakep dan tajirnya gak ketulungan. Di liat aja pasti orang tau pakek baju lusuh gak mencerminkan istri seorang milyaner, malah cocoknya istri tukang batagor keliling dan temen yang satunya itu, walau badannya tinggi tapi mana mungkin model? Malah model kelas dunia lagi, kalo model tingkat rt bisq jadi. "Yang geser itu otak lo Nis, kalo kayak gini bentuknya lo bilang istrinya tuan Rega berarti gue istrinya pangeran William." Katanya sambil ketawa meremehkan, "Kalo dia model kelas dunia gue malah model alam semesta."
Ini lah susahnya kalo sesama wanita yang lagi berantem, mulutnya dulu yang maju jambak-jambakan urusan belakangan. Tapi kalo cowok yang berantem langsung baku hantam sampek bonyok. Harun cuma bisa diem liat dua karyawannya yang adu mulut di depannya. Malah Anisa yang biasanya kalem sampai terpancing emosi dan jadi kayak gini, gak bisa nyalahin Anisa juga dalam hal ini karena Arum udah kelewat batas.
"Terserah lo mau ngomong apaan, yang jelas gue udah bilang dan jangan sampek lo nyesel sendiri gara-gara mulut lo yang gak punya tata krama." Anisa mencoba mengatur nafasnya, menstabilkan emosinya yang udah meluap-luap. Baru kali ini ia benar-benar lepas kendali sampek gak sadar ngomong kasar kayak gitu. Ya ampun Arum... Apa sih yang ngerasuki lo sampek akal lo itu ketutup kayak gini, heran gue..... Emang lo itu perlu di ruqiyah biar otak dan hati lo stabil. Anisa mengambil tas yang berserakan di lantai, melihatnya dengan teliti luar dalam sampek gak ada yang luput dari penglihatannya. Memang benar yang Anggun katakan kalau tas yang berserakan itu adalah barang palsu.
"Nis, kok butik lo jual barang jelek kayak gini sih? Katanya butik kelas dunia tapi nyata-nya butik kelaa kaki lima." Kata Anggun yang kali ini berkesempatan beraksi, memulai rencana buat bikin tu orang gak berkutik dan gak bisa mengelak lagi karena dari mulutnya sendiri nanti buat bongkar borok yang selama ini Arum lakukan.
"Arum? Apa-apaan ini?! Sejak kapan barang-barang kayak gini ada di sini?" Melempar tas yang tadi ia pegang ke arah kaki Arum biar tu orang bisal iat dengan jelas dan gak ngelak lagi, tapi tetep aja ngelak walau udah ketahuan salah. Selama masih bisa ngeles gak bakalan ngaku.
"Mana gue tau, kan lo yang ngurus barang masuk bukan gue." Jawabnya dengan memalingkan wajah. Dasar cewek kampungan, ngapain juga bahas kayak gini? Lagian tu gembel sok tau lagi.
"Iya emang aku yang ngurus barang masuk, tapi aku gak pernah masukin barang jelek kayak gini ke dalam butik. Selama gue yang pegang gak ada yang aneh, tapi pas gue tinggal omset penjualan kita menurun drastis."
"Jadi lo bilang kalo gue gak becus ngurus butik? Gue gak bisa sebaik lo? Lo itu kalo ngomong nyadar Nis, muka kampungan kayak lo aja belagu banget."
"Gue gak ada bilang tapi kalo kamunya nyadar itu tambah bagus, muka gue emang kampungan tapi otak dan hati gue gak kampungan."
Berani banget lo bilang gue kayak gitu di depan Pak Harun, awas aja lo Nis! Jangan panggil gue Arum kalo gue gak bisa ngeluarin lo dari sini.
"Gak mungkinkan dalam empat hari ini sama sekali gak ada penjualan? Gimana mau laku kalo barang kayak ginian di pajang di etalase."
"Jadi lo nuduh gue yang masukin barang-barang kw ini? Lo nuduh gue nukar barang yang asli sama yang palsu hah?!" Kali ini Arum gak sadar kalo udah kejebak, malah dia buka kesalahannya sendiri yang bakal di sesali.
Binggo!
Umpan udah kemakan dan ninggal tunggu buat nangkap aja, kalo orang salah itu mau gimana lun nyembunyiin kesalahannya pasti bakal kebongkar juga.
"Apa? Barang asli di tukar sama yang palsu?" Kata Harun.
Ya ampun! Gue ngomong apaan tadi?
Arum tergagap, menyadari bahwa ia udah salah ngomong. "Itu maksudnya Anisa Pak yang udah nukar barang asli sama barang palsu. Dia pajang yang palsu buat di jual dan dapat untung gede jadi yang aslinya di simpan." Saking gugupnya mulut Arum yang malah ngomong sendiri, gak usah nunggu dari orang lain. "Dan fitnah saya buat apa yang Anisa lakuin."
"Selamat malam."
Semua mata yang tadi tegang langsung mengarahkan pandangan matanya ke pintu, tampak dua orang bapak-bapak memakai jaket hitam berdiri di sana.
"Selamat malam Pak Bagus, maaf udah merepotkan Bapak malam-malam begini." Kata Ella yang langsung maju buat menyambut tamu yang tadi ia telpon, kali ini Ella mengundah orang penting biar mata Arum terbuka lebar dan gak bakal bisa menghina orang hanya melihat tampilan luarnya saja. Ella mengulurkan tangannya untuk menyalami kedua tamunya tersebut dengan ramah.
"Tidak apa-apa nyonya, menjadi kehormatan bagi kami bisa bertemu dengan Anda. Bagaimana kabar Tuan Mahendra dan Tuan Rega? Rasanya lama sekali kami belum bertemu."
"Baik Pak Bagus, Ayah mertua dan suami saya dalam keadaan sehat. Bagaimana kabar anda dan keluarga? Maaf kalau saya belum sempat mampir ke rumah anda, padahal sudah ada di sini dan malah menyuruh anda datang saat malam."
Ayah Mertua?
Suami?
Arum menatap wanita yang tadinya berwajah menyedihkan itu, kini tampak sangat berwibawa dan berkharisma. Wah, ternyata akting lo hebat juga... Gak nyangka gue dan gue gak bakal tertipu sama muka palsu lo itu.
Ya ampun...
Ternyata nyonya Ella keren banget...
"Kami akan merasa tersanjung kalau nyonya sudi mampir ke gubuk kami. Oh ya, ada apa nyonya memanggil saya saat malam begini?"
"Saya ingin melaporkan tindak kejahatan yabg terjadi di mall saya, kebetulan pelaku adalah salah satu karyawan di sini." Kata Ella dengan menatap wajah Arum secara terang-terangan. "Ini Pak Harun, beliau Manager di sini. Pak Harun, beliau adalah Inspektur Jendral Bagus Adirta, sahabat Ayah mertua saya juga suami saya." Hampir aja Ella kelupaan buat ngenalin Pak Harun yang dari tadi diam.
"Senang bisa mengenal Anda." Harun mengulurkan tangannya terlebih dulu untuk menyalami orang yang berpengaruh itu, kalau gak ada kejadian kayak sekarang mana mungkin ia bersalaman dengan pejabat aparat hukum seperti beliau. Ternyata sehebat ini keluarga Mahendra, selain bisnis mereka yang berkembang dengan sangat pesat ternyata mereka juga merangkul orang-orang dengan jabatan tinggi di pemerintahan yang tentu saja akan mendukung keluarga itu kapan pun. Selain dunia bisnis, ternyata mereka merambah dunia politik yang semakin mengokohkan pondasi bisnis kerajaan keluarga tersebut.
"Saya juga senang mengenal anda tuan Harun. Tuan Rega sering menyebut nama anda sebagai seorang pemimpin yang sangat baik, saya selama ini ingin sekali bertemu dengan anda secara pribadi untuk bertukar pendapat dan pengalaman." Kata Bagus dengan sangat antusias, tentu saja Rega tak hanya sekali menyebutkan nama Harun saat mereka berjumpa sebagai seorang laki-laki ulet dalam bekerja da totalitasnya patut di acungi jempol dalam mengelola dan membesarkan mall yang saat ini ia pegang.
"Saya jadi malu, tuan Rega sangat berlebihan. Saya hanya seorang laki-laki biasa dan bekerja dengan apa yang saya yakini." Gak nyangka kalau Tuan Rega mengatakan hal yang bisa membuat kepala dan kerah bajunya menjadi besar, sanjungan itu tentu saja membuat Harun merasa bangga. Ternyata selama ini kerja kerasnya tidak sia-sia, walau ia tak pernah bekerja untuk mendapatkan pujian sebelumnya tapi karena pujian itu membuatnya merasa terharu.
Plok! Plok! Plok!
Arum bertepuk tangan dengan sangat nyaring melihat semua drama yang berlangsung di depan matanya, drama cinderella dari buruk rupa menjadi seorang ratu hanya dalam hitungan detik dan itu membuatnya merasa geli. Akting yang mereka suguhkan sungguh sangat luar biasa, kalau orang lain liat bakal terkecoh dan mempercayainya sepenuhnya. Tapi gak buat Arum yang dari awal gak percaya tipus muslihat yang ada di depan matanya. "Hebat ya kalian semua..., seharusnya kalian main film dan masuk box office di bandingkan main drama-dramaan di sini gak ada yang nonton."
Heh???
Pada melongo tu yang denger omongan Arum, kalo tadi Anisa bilang otaknya yang geser kali ini semua orang bakal setuju kalo Arum otaknya emang bener-bener geser.
"Arum, maksud kamu apaan?" Anisa ngerasa heran sama Arum yang gak pernah sadar-sadar malah makin kesini makin menjadi-jadi.
"Enggak, gue kagum aja sama bakat akting kalian yang sangat luar biasa. Malah datangin orang buat jadi polisi sampek Pak Harun ketipu mentah-mentah."
Anggun tertawa kecil, dasar bocah kebanyakan makan garem... Salut gue sama percaya dirinya yang salah.
"Biarin aja Nis dia mau mikir apa, gue udah gak perduli lagian bentar lagi gak bakal bisa ketawa kok." Kata Ella yang udah mulai enek liat kelakuan Arum.
"Lo yang gak bisa tertawa, gue bakal telpon polisi beneran buat bikin lo nangis darah di penjara bareng temen-temen penipu lo." Mengambil Hp-nya dan menelpon seorang kenalan yang menjadi anggota polisi, bukan cuma orang tapi lebih tepatnya abannya sendiri. "Bang, bisa datag ke tempat kerja aku gak? Di sini ada penipu yang sekongkol buat jatuhin nama aku. Mereka memanipulasi dan nuker barang butik sama yang kw." Kata Arum dengan sangat luar biasa percaya dirinya, Kalian bisa apa sekarang? "Kebetulan banget, aku tunggu."
"Huh....," Bukan cuma tepok jidad malah pengen tepok dinding Harun dengernya, habis minum apaan coba Arim sampek bisa ngomong kayak gitu. Udah mau KO aja masih sombongnya gak ketulungan.
"Pak Harun, kali ini saya bisa buktikan kalau dalang dari semua ini adalah Anisa dan komplotannya. Kebenaran bakal terungkap bentar lagi." Katanya yakin se yakin-yakinnya.
"Udah lah Nis, tungguin aja kebenaran yang Arum maksud tadi. Gue mau liat polisi yang si panggil siapa, orang atasannya aja di sini. Gue mau liat lebih hebat polisi yang dia bawa atau Bapak-bapak yang ada disini." Kata Ella santai sambil duduk, pegel juga berdiri dari tadi.
"Maaf mbak Anis, ini pesanan anda." Kata seorang laki-laki yang tepat banget datangnya bawa minuman.
"Iya mas Alfin, makasih ya. Taru aja di atas meja." Kata Arum menunjuk meja kosong di ujung ruangan.
"Mas, dua kopi susu lagi ya?" Kata Ella dengan memberikan kartu sakti berwarna hitam dari dalam kantong dasternya yang langsung bikin mata Arum melek 1000 watt. Sorry Yun kartu sakti lo bakal gue pakek.
Dari mana gembel itu bisa dapat kartu kayak gitu??? Jangan-jangan cuma kartu kosong doang dan mau bikin gue percaya, iya bener paati itu kartu bodong. Secara bagaimana bisa orang miskin punya kartu yang hanya di pegang orang-orang berduit.
Alfin menerima kartu hitam atau black card itu dengan ragu-ragu, selama kerja bertahun-tahun cuma bisa dengar kartu yang katanya lumayan langka itu tapi hari ini ia bisa lihat dan pegang tu kartu. "Gak ada kartu lainnya lagi mbak?"
"Maaf mas, aku cuma bawa satu. Atau kamu mau gesek yang ini?" Ella mengulurkan yang berwarna gold.
"Akh! Enggak mbak yang ini aja." Tolak Alfin yang langsung lemes, dua kartu ajaib dari negeri dongeng hari ini bermunculan di depan matanya. Lalu siapa wanita yang ada di depannya itu? Wanita hamil yang sangat cantik dan ramah, kalo di liat dari penampilannya persis banget kayak kakaknya yang lagi masak di dapur.
"Sekalian pesan makanan paling enak dari tempat kamu kerja sebanyak orang yang ada di sini, karyawan yang ada di tempat kamu kerja dan karyawan yang butik sebelah kerja sama minumnya ya?" Kata Ella sambil tersenyum manis bikin diabetes akut, "Aku minta tolong buat tarik tunai sebesar lima juta rupiah. Oke?" Kata Ella lagi.
"Bisa mbak, nanti saya tarikkan."
"Kodenya ada di belakang kartu."
Mimpi apa gue tadi malam bisa ketemu malaikat secantik dan sebaik ini? Batin Alfin sambil jalan keluar butik dengan wajah sedikit bingung
*******
Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu Up dan tetep baca novel yang author tulis ini, lope lope lope deh buat kalian semua....
Jangan lupa buat kasih like, komen dan vote-nya yach....
Biar author tambah semangat lagi nih nulisnya. Buat yang udah ninggalin jejak berupa like, vote serta komentarnya author ucapin banyak-banyak terimakasih.
Dukungan dari kalian itu luar biasa berarti buat author dan bikin author tambah semangat lagi buat nulis.
Makasih....