
Raka meinggalkan semua pekerjaannya saat mendengar Rega sakit, kalau sekertarisnya yang nelpon gak mungkin penipuan kayak kemarin. Lalu lintas lagi macet kalo jam segini, Raka memilih naik motor buat sampai secepat mungkin ketempat yang Yun kirimkan.
*******************
Selama bertahun-tahun ia bekerja, baru kali ini melihat tuannya seperti ini.
Gejala tiga L:
Lemah
Lesu
Lunglai
Padahal pas datang tadi semangat banget gak kayak gini.
Ella yang merasa khawatir mengambilkan teh hangat, menaruh dalam genggaman Rega.
"Di minum biar enakan. "
Rega menerima dan menurutinya.
Dari dulu yang namanya teh itu pasti biasanya manis, tapi buat Rega kali ini hambar tak berasa.
"Lo sakit apaan?!"
Semua orang menatap dari datangnya suara yang bikin gaduh, datang aja pakek acara lari gak permisi langsung teriak.
Rega yang minum teh hangat itu kontan tersedak saking kagetnya.
"Uhuk-uhuk-uhuk!!!"
Ella mengambil tisu dan menepuk punggung Rega pelan.
"Lo mau bikin gue mati mendadak?!" Katanya setengah berteriak karena kesel. Kemeja yang tadinya bersih dan rapi sekarang kucel ketumpahan teh akibat ulah Raka yang nyelonong boy.
"Karna tindakan gue lo gak mati kan? Buktinya masih bisa ngomel." Raka mengeluarkan alat P3K yang dibawa, memeriksa dengan stetoskop untuk memeriksa detak jantumg dan pernafasan rega. Merasa tak yakin Raka memeriksa urat nadinya lagi bahkan memeriksa tekanan darah.
*S*emuanya normal tapi kok kayak gini?
Batinnya sambil memijit dagunya buat mikir. Tapi kok bisa kayak gitu? Karena asik mikir sambil lirik sana sini akhirnya mata Raka menatap sosok yang duduk di samping Rega.
"Loh? Lo ngapain disini La?" Katanya kaget.
"Ella tadi makan siang disini, gak sengaja ketemu sama om Rega."
"Om?" Willy tambah bingung, orang-orang Rega mengenal Ella bahkan Ella sendiri memberikan perhatian saat Rega tersedak tadi.
"Ceritanya panjang, nanti Ella ceritain kalo udah sampek rumah."
Willy cuma manggut-manggut. Tuh kan mereka pasti saling kenal, awal ketemu aja gelagatnya udah aneh, batin Willy.
"Jadi lo gak datang sama Rega atau janjian gitu?"
"Lo mau ngobatin gue apa mau jadi detektif?" Potong Rega.
"Demi kelangsungan hidup lo juga ini. Diem aja napa?" Raka menatap Ella meminta jawaban, jawaban yang buat mendiagnosa penyakit yang Rega alami sekaligus obatnya.
Ternyata, pokok dari penyakit yang di derita Rega sudah mulai terkuak sedikit demi sedikit. Tinggal menarik benang merahnya aja jadi gak simpang siur, Raka yakin pasti ada hubungannya sama cewek itu.
"Kalian saling kenal?" tanya Raka lagi.
"Mata lo sudah empat masak lo gak ingat siapa dia?"
Willy dan Raka saling tatap, mencari memori dalam otak mereka masing-masing tentang siapa mereka.
"Lo...." Menunjuk dengan keyakinan yang rendah, antara ingat sama enggak alias samar-samar.
"Raka?"
"Willy?"
Refleks Willy berdiri menyambut Raka, yang dilakukan Raka juga sama. Mereka berpelukan udah kayak telutubis yang bikin siapa aja ngeliatnya geleng-geleng kepala. Parah banget kelakuan orang dewasa berjiwa anak-anak.
"Apa kabar? Lama banget gak liat lo." Raka menepuk bahu Willy bersemangat, menemukan temannya yang super jahil itu lagi, lupa kalo kesini di suruh buat ngobatin Rega.
Yang sakit malah di telantarin gitu aja.
"Gue baik, lo liat sendiri gue tumbuh sehat banget."
Ella dan sekertaris Yun cuma plonga-plongo, kenapa malah jadi reunian para telutubis kayak gini? Parah banget kalakuan mereka.
"Hebat lo udah jadi dokter beneran, gue kira pas lo bilang mau jadi dokter cuma mulut lo aja."
"Asem, gini-gini otak gue encer bro...." Mengangkat kerah bajunya bangga.
"Lo kesini bareng siapa?"
"Noh, adik gue Ella."
Satu, dua, tiga pasang mata menatap Ella bersamaan.
"Kenapa?" Tanya nya bingung.
"Jadi dia adik lo Wil?" Tanya Rega hampir gak nyangka dengan detak jantung yang udah kayak genderang perang.
"Iya."Katanya polos yang gak tau situasi sebenarnya. "Lah emang siapa? Cewek gue?"
"Hah...." Rega bernafas lega, membuang beban yang ia alami karena salah persepsi. Ternyata cuma pikirannya doang, apa yang dilihat belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin yang lebih tepat mata menipu perasaan.
Raka yang melihat perubahan wajah Rega dari layu jadi seger, mendung ke cerah itu ngerti banget apa yang bikin tu orang kayak gitu. "Lo tadi sakit apa? Jangan-jangan gara-gara...,"
"Cuma lapar, belum makan." Katanya cepat sebelum Raka yang ember itu ngomong yang gak karuan, biar cowok kan tu mulut ember kayak cewek.
Rega mengambil apa pun yang di dekatnya.
"Om itu sam....," Belum selesai ngomong Rega udah memasukkannya ke dalam mulut, "bel..." Ella melanjutkan kata-katanya yang tanggung.
Rega yang hatinya berbunga-bunga gak ngerasa kalo yang namanya sambal itu pedas. Makannya lahap banget bikin semua tergidik ngeri, bayangin aja yang doi embat cuma sambal gak pakek lainnya. Mana yang di pakek cabe rawit lagi, paling-paling entar diare akut.
"Yun, ayo pulang?" Mengambil mangkok kobokan di dekatnya, langsung habis diminum. Gak pakek ba bi bu langsung keluar diikuti sekertarisnya.
Tinggal Ella, Willy dan Raka yang jadi kayak kesambet gara-gara ngeliat tingkah laku aneh bin ajaib Rega. Ada orang yang gak bisa bedain air minum sama kobokan?