Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Sahabat Sejati dan Saudara


Pernikahan adalah kata sakral yang setiap wanita ingin tampil cantik dan sempurna pada acara penting tersebut, siapa sih yang gak mau nikah? Karena gak ada satu pun orang di dunia ini yang mau hidup sendiri sampai ajal menjemput mereka, yang berbeda dari setiap orang adalah waktu dan kesempatan yang tak pernah sama satu dan lainnya. Karena bisa di bilang peristiwa yang sangat penting maka pernikahan tersebut menjadi acara yang sangat dinanti dan di agungkan. Dengan pernikahan ini, Ella melepaskan masa lajangnya dan memulai babak baru dalam hidupnya bersama seseorang yang ingin menghabiskan waktu hingga menua bersama, melalui suka dan duka hingga maut memisahkan. Pernikahan ini dirancang dengan matang walaupun hanya di hadiri oleh segelintir orang terdekatnya, Ella ingin tampil sesempurna mungkin dalam acara yang hanya seumur hidup sekali itu terjadi dalam hidupnya. Nikah cuma sekali masak iya gak mau tampil cantik?


Ella mengenakan kebaya berwarna putih dengan sedikit kombinasi kain brokat dan kristal swarovski yang di tempelkan pada seluruh permukaan kain namun lebih di fokuskan pada area dada hingga kesan mewah terlihat disana (Hasil karya Sonia yang merombak dikit dari aslinya yang cuma bordir dan manik-manik). Kebaya dengan model sabrina yang hampir menutupi seluruh bagian dada ini sangat cocok untuk tubuh Ella, memberikan kesan lebih berisi pada cewek dengan ukuran dada kecil dan mampu menampilkan keanggunan hingga tampil cantik di acara spesial tersebut. Kebaya cantik pemberian mertuanya itu di kombinasikan dengan rok lilit dari bahan batik yang mampu menghadirkan keselarasan yang sangat sempurna di sana.


Mommy Devi selaku MUA serba bisa itu memberikan warna pink untuk riasan Ella yang akan menjadi ratu sehari karena pada dasarnya wajah Ella yang udah putih merona, kesan mata yang tebal dan pipi yang merona serta bibir pink gossy membuat Ella tampil menawan layaknya barbie hidup dengan highlighter dengan aksen rosy yang memberikan efek glitter dan glowing pink pada area pipi dan area wajah lainnya. Rambut Ella yang panjang wanita cantik itu bentuk menjadi sanggul modern yang sangat cantik dibuat menyerupai bentuk bunga yang di buat dari gulungan rambut panjang Ella, menampilankan kesan elegan nan sederhana di sana dengan menambahkan Baby breath yang chic dan simple juga bunga mawar berwarna pink sebagai hiasan dan bunga pada sanggul modern tersebut.


Sonia dan Ririn yang yang menjadi pengiring pengantin wanita itu menatap Ella dengan ekspresi kagum luar biasa, cewek yang biasa polos tanpa make up dalam kesehariannya itu tampak sangat cantik bak berbie hidup yang ada di depan mata. Bahkan Ririn sampai menangis haru melihat sahabatnya yang akan melepas lajang secepat ini. Gak pernah nyangka kalo Ella bakal duluan untuk menikah di bandingkan dengan teman-teman satu sekolahnya. Bisa jadi ini yang dinamakan keturunan, soalnya dulu kedua orang tuanya juga menikah pada usia muda juga.


"Wah..., Tante tu jago banget bikin Ella cantik. Gak kalah sama putri negeri dongeng." katanya kagum dengan kecantikan Ella yang luar biasa, kan biasanya gak pernah pake make up buat keseharian jadi pas di dandani kayak gini jadinya luar biasa banget. Apa lagi di tangan yang luar biasa juga jadilah Ella saat ini yang bakal mencuri perhatian semua orang yang melihatnya.


"Makasih sayang..., dulu Mommy kerjaannya sebagai make up artis sebelum nikah sama Dady Sonia. Pas udah jadi istri Dady Sonia Mommy berhenti. Baru kemarin saat Ella lamaran Mommy ngelakuin lagi, rasanya menyenangkan sekali liat orang cantik karena polesan tangan Mommy." Katanya dengan merapikan sanggul Ella, ada perasaan hangat dan bahagia mengalir di tubuhnya saat melakukan semua ini.


"Kenapa Mama gak jadi make up artis lagi kalau itu bikin Mama senang." Ujar Ella.


"Mommy takut Papa kamu marah, soalnya dulu Dady Sonia marah banget Mommy diam-diam ngelakuin. Katanya malu-maluin, gak menghargai suami karena udah mencukupi keperluan Mommy." Wanita cantik itu terlihat sedih saat mengenang bagaimana hobby nya itu harus berakhir gitu aja dan malah menjadi pertengkaran di antara ia dan suaminya.


"Papa gak bakal gitu kok Ma, Ella yakin banget. Soalnya Ella juga kerja sampingan, padahal uang dari Papa itu udah cukup bahkan lebih." Kata Ella, Papanya gak pernah marah saat Ella kerja sambilan padahal uang jajan yang Papa berikan lebih dari cukup tapi Papa menghargai sekecil apa pun usaha Ella untuk mandiri. "Coba aja Mama ngomong sama Papa, Ella yakin kalo Papa bakal kasih ijin. Lagian yang Mama lakuin itu kerjaan halal, biar gak bosen juga di rumah terus."


Devi menimbang-nimbang apa yang Ella katakan, kejadian dulu masih sangat membekas. Karena kerjaannya itu keluarga mantan suaminya itu selalu meremehkannya, karena keteledorannya membuat keluarga mantan suaminya itu menjadikan alasan yang kuat untuk mencoba memisahnya.


"Iya Tante, Om bukan orang yang berpikiran sempit kok. Lagian bakat Tante yang luar biasa ini sayang kalo gak di salurkan." Kata Ririn memberikan semangat.


"Mom, Dady dan Papa itu orang yang berbeda. Papa bukan orang yang mementingkan imej, tapi orang yang menghargai perjuangan orang lain sekecil apa pun seperti yang Ella katakan. Gak ada salahnya Mommy coba ngomong sama Papa." Kata Sonia memberi dukungan dan semangat untuk Mommy nya itu, karena dulu saat menikah dengan Dady nya Mommy tak bisa menikmati kebebasan sama sekali.


"Baiklah, nanti Mommy coba bicara sama Papa kalian. Semoga Papa bisa mengerti." Ada pancaran harapan dari matanya dan mendapat dukungan dari putrinya. "Oke sayang, semuanya udah selesai dan kini tinggal nunggu calon suami kamu datang."


Mommy Devi mengambil kotak perhiasan yang ada di dalam laci meja yang keluarga Rega kirimkan kemarin sore, memakaikan kalung yang penuh dengan taburan batu mulia di leher Ella dengan hati-hati karena ia tahu berapa harga kalung mewah tersebut dengan kilau yang sangat cantik hingga memukau siapa pun yang melihatnya. Memasangkan anting jenis tindik atau tusuk yang tentu saja terbuat dari batu mulai pula, dan cincin mewah dengan aksen bunga mawar yang di pesan khusus karena Ella sangat menyukai bunga tersebut. Devi tersenyum dan mengelus pipi Ella, rasanya bahagia banget melepas masa lajang putrinya itu dengan tangannya sendiri.


"Selamat ya sayang, Mommy hanya bisa mendoakan kalian berdua menjadi suami istri yang saling melengkapi satu sama lain, selalu mendukung dalam suka mau pun duka, saling mencintai sehidup dan semati."


"Terimakasih doa Mama, semoga Mama juga bahagia hidup bersama Papa hingga akhir hayat." Balasnya yang mendapatkan doa dari Mamanya, hadiah yang tak bisa di nilai dengan uang tersebut.


"Mommy keluar dulu, mau nyambut tamu kita yang mungkin bentar lagi datang. Kamu nanti aja keluarnya saat di ijab kabulnya udah selesai, menghindari pengantin pria biar gak gugup liat putri Mommy yang cantik sekali. Kalian jangan bikin kehebohan apa pun, oke?"


Sonia dan Ririn mengangguk mengiyakan apa yang Mommy Devi katakan.


"Gue maunya kalian berpasangan entar buat ngiringi gue. Ririn bareng Vino terus Sonia bareng Kak Willy, bawa sini hp gue buat kasih tau mereka berdua." Kata Ella menunjuk hp yang ada di atas tempat tidur, Ririn yang posisinya lebih dekat dengan benda kecil serba guna itu mengulurkan tangannya untuk meraih dan memberikan kepada Ella yang tengah duduk di kursi sehabis di rias.


"La, ada yang gue omongin nih sama lo," Kata Ririn sedikit ragu, mau gimana lagi cepat atau lambat juga bakal ketahuan jadi lebih baik ngomong sekarang aja yang momen nya pas banget.


"Ngomong apa?" Tanyanya dengan tangan lincah mengetik pesan di hpnya tanpa melihat ke arah Ririn yang mukanya udah berubah menjadi merah.


Sonia yang duduk di samping Ririn mengernyitkan alisnya, tu anak mau ngomong apaan coba mukanya sampek merah gitu? Belum lagi tangannya yang saling menjalin menandakan dalam keadaan gugup.


"Gue...," Katanya mengambil jeda buat memastikan dan memantapkan hatinya sekali lagi.


"Ngomong aja kali Rin," Kata Sonia yang greget liat tingkah Ririn.


"Iya ini mau ngomong Son, cuma rasanya gimana gue."


Ella yang udah selesai mengirimkan chat sama dua lelaki yang ada di luar itu meletakkan hpnya setelah memastikan mereka telah menerima dan membacanya. "Iya, ngomong aja. Disini cuma ada kita bertiga lagian ngomong apaa sih sampek kayak orang mau ngakuin dosa gitu? Lo ngelakuin salah ya sama gue? Atau lo nusuk dari belakang gue?" Tebaknya asal.


"Kapan gue bikin dosa sama, tapi mungkin benar juga sih gue nusuk lo dari belakang." Katanya pelan.


Pengakuan Ririn menjadi tanda tanya besar buat Ella, emang apa yang Ririn lakuin sampek nusuk dari belakang segala? "Udah cepetan ngomong, kelamaan mikir lo." Desaknya, habis dari tadi cuma mainin tangan mulu.


"Itu..., gue..., sama Vino...," Ririn yang gugup sambil mainin tangan itu rasanya susah banget buat ngomong.


"Lo gak mau ngomong gue langsung tanya sama Vinonya." Ancam Ella yang gak sabar.


"Bener La, langsung aja telpon Vino. Nunggui Ririn ngomong sampek lo beranak pinak gue kira gak bakalan deh." Kata Sonia nambah-nambahin, ikut jengkel juga soalnya.


"Iya gue yang ngomong gak usah tanya sama Vino, gue sama Vino sebenarnya pacaran. Puas kalian berdua?" Ririn yang ngaku gitu aja udah ngos-ngosan kayak lari berpuluh-puluh kilometer, gak ada tanggapan dari dua orang itu bikin Ririn sedikit jengkel. Udah usaha mati-matian tapi mereka malah santai banget nanggapinnya, bukannya nanggapin malah gak ada tanggapan sama sekali. "Kok kalian gitu sih sama gue? kasih komen apa gitu kek...,"


Ella yang sebenernya udah tau itu pura-pura pasang wajah marah, apa lagi tadi ada kata nusuk dari belakang. Apaan coba tu maksud nusuk dari belakang? Mending sekalian aja tu anak di kerjain. "Jadi kalian jadian di belakang gue tanpa sepengetahuan gue gitu?" Menaikkan nada bicaranya sedikit biar di liat kayak marah beneran.


"Bukan gitu La..., gue bingung mau ngomongnya gimana sama elo."


"Rin, gue nganggap lo itu udah kayak sodara sendiri sama Vino. Kok kalian tega sih main belakang sama gue?" Ella mengedipkan matanya ke arah Sonia biar tu anak ngerti ada sedikit drama yang lagi di mainin.


Sonia tertawa geli melihat tingkah Ella yang pura-pura marah itu, gak mungkin juga Ella marah karena hal sepele kayak gini. Ririnnya aja yang terlalu banyak mikir disini.


"Jangan gitu dong La, beneran gue gak ada maksud apa-apa sama elo." Katanya memelas, gak ada sedikit pun niat buat bohongin sahabatnya itu. Cuma belum ada waktu yang pas buat ngomong aja.


"Duh, gimana sih gue harus jelasin sama lo biar lo ngerti." Katanya hampir menangis, Ella adalah sahabat terbaiknya yang selama ini menemaninya dalam suka dan duka. Bukan perkara mudah mendapatkan sahabat seperti Ella di jaman sekarang ini yang ibaratnya kalo ada perlu dan bisa di manfaatin aja jadi temannya, kalo gak udah di buang ke tong sampah. Ella dan Vino dua orang sosok yang penting buat Ririn, yang satu sahabat baiknya dalam suka dan duka yang satunya lagi adalah orang yang ia cintai untuk pertama kalinya.


"Lo gak usah jelasin apa-apa sama gue Rin."


"Jangan marah gitu dong La, gue tau kalo apa yang gue lakuin salah tapi gue juga gak bermaksud buat nikam lo dari belakang. Kalian berdua itu penting buat gue dan gue gak mau kehilangan salah satu dari kalian berdua." Katanya lemah.


Sebenarnya Ella kasian liat Ririn yang matanya udah merah berair gitu, "Lo pilih siapa di antara gue sama Vino?"


Itu adalah pertanyaan yang paling gak pengen Ririn dengar dari tadi, pertanyaan tabu yang hampir gak bisa dia jawab, pertanyaan yang sejak tadi Ririn harap gak keluar dari mulut Ella. "Itu...," Katanya bingung, bingung mau milih yang mana karena mereka berdua sama-sama penting.


"Udah lah, kalo lo gak mau jawab gak pa-pa." Kata Ella mengalah, kasian liat muka Ririn yang udah lecek mau mewek.


Bukannya gak mau jawab, tapi gak bisa jawab.


Ririn kembali teringat bagaimana awal pertemuannya dengan Ella yang menolongnya saat pertama kali masuk ke sekolah dan di bully dengan kakak kelasnya, dengan tegas dan berani Ella melawan mereka untuk membelanya. Bukan hanya sekali itu, beberapa kali Ella menolongnya dari kelompok anak manja yang suka banget ngelontarin kata-kata buat jatuhin mental orang lain dan sok berkuasa di sekolah, bahkan Ella yang hanya bersamanya dan mengulurkan tangan saat keluarganya terpuruk dan semua orang menjauhinya. Iya, bisa di bilang kalau Ella adalah malaikat penyelamatnya berkali-kali. Apakah persahabatan itu akan tersingkir gitu aja dengan datangnya seorang pria di antara mereka? Ririn bingung, Vino adalah cinta pertamanya tapi Ella adalah sahabat dan penolongnya. Ririn mengenal Vino karena mereka adalah sahabat yang tak terpisahkan, di mana ada Ella di situ ada Vino yang setiap hari nempeli Ella. Bisa di bilang Ella memiliki peran penting dalam pertemuan mereka, tanpa Ella ia tak akan mengenal Vino.


"Rin?" Ella memanggil pelan Ririn yang tengah melamun. "Sebenarnya gue...,"


"Gue pilih elo La, karena gue lebih kenal lama lo di bandingkan Vino. Karena lo sahabat sejati gue, karena lo penyelamat gue, karena lo juga gue kenal Vino, dan karena lo gue bisa bertahan sampai hari ini." Katanya mantap dan yakin dengan keputusannya.


Ella mengerjapkan matanya, terharu banget denger jawaban Ririn itu. Gak salah kalo selama ini ia menganggapnya bukan hanya sahabat melainkan sudah seperti saudara. "Lo ngomong apaan sih Rin? Gue belum selesai ngomong aja udah lo samber kayak ikan kakap." Katanya tertawa geli.


"emang lo mau ngomong apaan?"


"Gue cuma mau ngomong kalo gue itu udah tau sama hubungan kalian. Vino udah cerita kali sama gue." Sebenernya sih kasian liat muka Ririn yang udah kayak gitu, tapi berasa gimana buat nahan gak ketawa. Ternyata Ririn dengan polosnya nganggep kalo dia nusuk Ella dari belakang cuma masalah ginian.


"Ma-maksud lo?" Masih gak ngerti maksud Ella apaan, gara-gara terlalu banyak mikir jadinya lemot.


"Maksud gue, gue udah tau kalo kalian berdua itu pacaran. Vino udah cerita sama gue." Katanya lambat-lambat, sengaja biar Ririn bisa denger dan mencerna. "Tentu aja gue orang pertama yang bakalan seneng banget kalo kalian berdua jadian, dua sahabat gue yang sekarang udah jadi satu. Gue sih maunya kalian gak lama lagi nyusul gue."


Ririn memeluk Ella dengan suka cita, ternyata cuma pikirannya sendiri kalo Ella bakalan marah. "Gue takut banget kalo lo marah sama gue La, gue tu sayang banget tau sama lo. Hik-hik-hik...," Katanya mulai nangis, nangis bahagia sekaligus lega.


"Eh, lo jangan nangis gitu. Entar ingus lo kena di baju gue tau...," Katanya melepas pelukan Ririn yang udah mewek. "Lagian make up lo yang udah cantik jadi jelek, lo mau apa di liatin orang entar kayak zombie?" katanya sambil tertawa kecil.


"Habis lo bikin gue takut, ini gara-gara lo tau La!"


"Iya, sorry sayang..., cup-cup-cup...."


Ririn menghapus air matanya dengan tissu yang Sonia berikan, "Makasih La udah jadi sahabat gue."


"Yang harusnya bilang kayak gitu gue Rin, gue makasih banget bisa ketemu dan ngenal lo. Kalo kita gak ketemu gue gak bakal ngenal dan punya sahabat kayak lo."


"Hua....," Ririn yang haru banget gak bisa lagi nahan air matanya, menghambur pengen peluk Ella tapi langsung di tahan sama tangan Ella.


"Eh, stop! Gue gak mau dandanan gue berantakan gara-gara lo nangis bombay sambil meluk gue."


"Lo gak ada romantis-romantisnya sih La?"


"Noh mau romantisan sama Vino jangan sama gue."


Mendengar nama Vino bikin pipi Ririn bersemu merah.


Sonia yang melihat semua ini tanpa sadar tersenyum, merasa terharu melihat persahabatan mereka berdua yang sangat luar biasa. Bahkan Ririn rela mengorbankan perasaannya demi sahabatnya, sesuatu yang sangat langka untuk di dapatkan di jaman sekarang ini. Dulu, Sonia tak pernah mengerti dan mendapatkan apa yang di namakan sahabat karena Sonya selalu menghalangi orang-orang di sekitarnya dan membatasinya untuk mengenal orang lain. Sonya tak ingin ia berteman dengan siapa pun dan ingin melakukan apa pun yang Sonya inginkan. Cukup miris, tapi apa mau di kata karena ia tak berani untuk melawan Sonya saat itu. Tak ada keberanian untuk berkata tidak dengan apa pun yang ia katakan, hingga sonya semena-mena memperlakukannya yang lebih cenderung seperti pembantu di bandingkan saudara. Sejak mengenal dan serumah dengan Ella, ia merasakan apa yang dinamakan saudara dan sahabat. Ia mendapatkannya dari sosok Ella yang hangat dan perduli itu, bahkan Ella yang hanya saudara tirinya lebih perhatian di bandingkan Sonya yang saudara kembarnya sendiri. Ternyata benar apa yang di katakan orang bila kita berada dalam lingkungam orang yang berpikir dan berbuat positif maka kita sendiri akan melakukan semua itu.


*******


Hai-hai mbak-mbak yang cantik dan mas-mas yang ganteng, makasih ya udah nungguin Up dan tetap setia nongkrongin novel yang author tulis ini.


Yang nungguin Rega dan Ella nikah, ni udah mau nikahan mereka. Ella aja udah dandan cantik lo buat acara itu, tapi cuma nikahan gak pakek resepsi.


Jangan lupa like dan votenya buat dukung author biar tambah semangat lagi. Dukungan dari kalian itu luar biasa bikin author bertahan sampai hari ini.


Author gak bosen buat ngingetin kalian semua untuk menerapkan hidup sehat di mana pun dan kapan pun, stay at home dan lakukan hal-hal yang positif biar gak bosen di rumah. Ciptakan hal-hal yang menyenangkan dan jadikan rumahku adalah istanaku.


Buat ibu-ibu cantik, semangat buat kalian semua yang hadepin dan ikut jadi guru dadakan dengan tugas anak yang numpuk karena home schooling anak-anaknya.


Makasih....


😘😘😘😘😘😘😘