Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
impian Ella dan syarat papa


Mata Ella terbelalak melihat Dessert yang kini ada di depannya, bentuknya yang lucu dan sedikit unik itu membuat rasa ingin tahunya muncul, ia mengambil sendok dan measukkan suapan pertama.


"Apa ini benar-benar es krim?" Katanya tak percaya dengan visual yang ada di depannya. Jelas-jelas seperti mie namun saat ia masukkan kedalam mulut lumer seperti es krim.


"Betul Nona, ini adalah es krim." Kata pelayan membenarkannya.


"Namanya ice cream spaghetti, apakah Nona menyukainya? "



Ella mengangguk dengan memasukkan suapan keduanya, sekilas nampak seperti mie ayam pada umumnya. Es krim yang berbentuk mie itu mempunyai rasa vanila dan saos strobery yang sangat pas di padukan dengan taburan coklat putih. Sejak dulu Ella penggemar berat es krim dan ia tak akan menolak apa pun yang berjenis es krim. "Papa emang the best." Mengacungkan dua jempol ke arah Papanya yang tengah menikmati dessert.


"Padahal Papa gak tau kalau mereka bakalan menyuguhkan yang kayak gini."


"Serius Pa? Kira Ella Papa yang minta sama mereka." Katanya sedikit kecewa.


"Papa cuma minta sekertaris buat mesan tempat ini. kau kan tau sayang kalo Papa sibuk banget gak sempat buat cari tempat."


"Emang Papa gak kasian nyuruh orang yang kerjaannya sudah layak gunung Jaya Wijaya itu?"


Johan tertawa kecil, "Papa gajih dia buat bantuin kerjaan papa sayang."


"Tapi ini urusan pribadi lo pa?"


"Kamu itu bawel banget, jangan rusak suasana malam ini."


Ella memonyongkan bibirnya lima centi yang membuat Johan meledakkan tawanya. Ada saja kelakuan Ella yang mampu membuatnya tertawa dan menghilangkan beban pekerjaan.


"Habis ini kamu ngelanjutin kuliah ke luar, buat nerusin bisnis Papa."


Ella hampir tersedak mendengarnya, karena tak ada sedikitpun ia ingin meneruskan bisnis yang telah turun temurun itu.


"Ella boleh nolak kan pa?" Katanya sedikit ragu.


"Ella mau kuliah kedokteran, Ella punya cita-cita punya rumah sakit sendiri buat bantu mereka yang kurang mampu. Papa tau, banyak banget orang di luar sana yang gak mampu bayar buat berobat. Ella yakin sama uang Papa yang gak bakal habis tujuh turunan itu sanggup buat wujudkan impian Ella." Katanya mengutarakan apa yang selama ini ia inginkan.


"Terus yang ngelola perusahaan papa siapa?" Katanya heran, karena ia hanya punya satu anak perempuan.


"Papa bisa ngadopsi anak lagi." Terkekeh saat mengatakannya.


"Kalau itu Papa gak setuju, kamu kira enak ngadopsi anak?"


" Terus gimana dong Pa? Masak Papa tega sih sama anak Papa yang cantik ini? Ella gak pernah minta apa pun dari Papa selama ini" Katanya membujuk Papanya yang tengah gundah gulana memikirkan nasib bisnis raksasanya itu yang bakal gak punya penerus.


"Papa pikir-pikir dulu, kasih waktu Papa satu tahun."


"Kelamaan mikirnya Pa, Ella bentar lagi udah mau ujian. Kalo papa mikir sampek satu tahun udah tutup pendaftarannya."


"Tapi kan sayang, masak perusahaan Kakek kamu di anggurin gitu aja kalau Papa udah gak ada? Papa cuma punya kamu buat jadi penerus lo?"


"Tapi Ella gak suka bisnis, ribet sama bikin pusing." Elaknya gak mau kalah dari Papa.


Johan tampak berpikir, alisnya berkerut dan jari jemari tangannya mengetuk meja.


"Kecuali kamu mau menuhi syarat dari Papa, Papa bakal kabulin keinginan kamu buat jadi dokter sama bikin rumah sakit yang seperti kamu bilang."


"Sama anak sendiri perhitungan banget."


"Itu harus, kalu gak gini gak mungkin bisa sesukses ini Papa. "


"Emang apa syaratnya?"


"Suami kamu yang jadi penerus Papa selanjutnya buat gantiin kamu dan semua aset yang Papa punya bakal Papa alihkan atas nama kamu. Keputusan Papa mutlak, gak bisa di ganggu gugat kalo kamu mau nerusin cita-cita kamu."