
Dengan mata sembab dan perasaan kacau Rena pulang membawa semua barang-barang yang ia masukkan ke dalam kerdus, kali ini penyesalan bukam karena ia di pecat tapi bagaimana caranya menjelaskan kepada Ibunya perihal pemecatannya tersebut. Dari dulu, Rena tak pernah bisa bohong kepada Ibunya tentang apa pun. ia membayangkan ekspresi Ibu yang pasti sangat kecewa dengan apa yang di lakukannya, bukan karena pemecatannya tapi bagaimana perilaku sombong yang telah membuatnya menjadi orang lain dan mengesampingkan semu nasehat-nasehat Ibu yang setiap hari beliau katakan. Menjadi orang yang sederhana dan rendah hati selalu memberikan pertolongan pada siapa pun yang memerlukannya, dan semua itu telah Rena langgar dengan sikap sombong dan congkaknya. Tak terasa mobil yang naiki telah sampai di depan rumah bernuansa putih dengan halaman penuh tanaman, rumah yang ia bangun dan persembahkan untuk Ibunya, rumah yang ia bangun dari hasil jerih payahnya sendiri dan rumah kebanggaan karena bukti dari kerja keras selama ini. Wanita setengah abad dengan senyum hangat serta merta menyambutnya dari samping rumah dengan tangan penuh tanah, padahal ini sudah malam dan Ibu yang tak pernah mau diam itu masih belum masul ke dalam rumah dengan memilih membersihkan bunga-bunga yang menghiasi rumah tersebut.
"Anak Ibu sudah pulang? Tumben pulangnya malam ndok?" Meletakkan skop kecil di tangannya, mencuci dengan air keran mengalir serta menggosok-gosoknya hingga tanah yang menempel hilang dengan sempurna dari tangannya yang keriput. Menyambut anak kesayangannya dengan wajah sumringah dan senyum hangat, sehangat kasih sayang yang ia miliki.
"Kenapa Ibu masih di luar rumah? Cuaca mukai dingin dan Ibu seharusnya di dalam rumah." Mencium punggung tangan yang telah membesarkan dan berjuang sekuat tenaga untuknya itu.
"Ibu gak bisa tidur ndok, kepikiran kamu terus jadi Ibu putuskan buat nunggu kamu sambil mengganti tanah di pot bunga." Menjelaskan apa yang ia lakukan di luar rumah, "Kamu bawa apa ndok?" Melihat ke arah kardus yang putrinya bawa, "Banyak banget barangnya?"
Rena mengalihkan pandangannya, teringat kejadian tadi di rumah sakit yang membuat hatinya teriris kembali. Apa yang harus gue bilang sama Ibu? Apa Ibu akan memaafkan semua yang ydah gue lakuin? Batinnya dengan melihat wajah Ibunya yang telah memperlihatkan kerutan-kerutan di mana-mana, wajar saja karena Ibu telah berumur dan bukan lagi muda. Dulu, Ibu bekerja keras demi kelangsungan hidup mereka. Membanting tulang tanpa mengenal lelah dan waktu hingga fisiknya tak lagi mampu bertahan.
"Ndok? Semua baik-baik saja kan?" Raut wakah khawatir tampak jelas terukir di wajahnya, bagaimana pun ia sangat mengenal dan tau siapa putrinya di bandingkan siapa pun. Ia dapat mengetahui isi hati putrinya tanpa harus mengatakan semuanya, dan kali ini Ibu merasakan ke khawatiran yang luar biasa dan ia yakin Rena dalam kondisi bukan baik-baik saja.
Terlepas dari rasa keterkejutannya, Rena mengangkat wajahnya. Butiran bening telah berhasil keluar dari ujung matanya dan membuat dadanya terasa sesak, Rena tak mampu membendungnya lebih lama lagi hingga akhirnya ia menjatuhkan kerdus yang ia bawa begitu saja membuat semua barang di dalamnya berjatuhan dan berserakan di atas lantai keramik yang dingin. Rena terduduk dan memegangi kaki Ibunya dengan tangis meledak, menumpahkan segala beban yang ada di dalam hatinya. Tak ada tempat senyaman Ibunya untuk berbagi keluh kesah dan suka yang ia alami.
Ibu terkejut saat putri kebanggaannya itu terduduk dan menangis dengan memeluk kakinya, rasa khawatir yang ia alami itu ternyata kini terbukti. Perasaan Ibu kepada anaknya tak pernah salah, ikatan batin seorang Ibu terlalu kuat untuk memungkiri semuanya. "Ndok, Rena?" Perlahan duduk, memegangi pundak dan mengangkat wajah Rena yang telah basah oleh air mata. Ibu mana yang tega melihat anak mereka menangis seperti ini, tanpa bertanya Ibu merengkuh dan memeluk putri kesayangannya tersebut. Memusut pelan punggung dengan tangannya yang telah keriput untuk memberikan bantuan moril dan memberikan semangat. "Keluarkan semuanya Ndok..., Ibu akan selalu berada di sampingmu apa pun yang terjadi." Katanya pelan namun menenangkan, mencurahkan kasih sayangnya melalui belaian tangannya. Hanya Rena yang ia miliki di dunia ini, hanya Rena harta yang paling berharga yang ia miliki dan harta yang tak bisa di tukar dengan apa pun.
*******
Rena yang menangis semalaman di pangkuan Ibunya terbangun dengan mata bengkak, badannya terasa sakit semua karena posisi tidurnya yang gak nyaman. Rasanya lebih nyaman saat ia mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada di dalam hatinya, menangis dan menyesali apa yang telah terjadi di pangkuan Ibunya hingga merasa lelah dan tertidur. Walau pun Rena kehilangan pekerjaannya, namun ia masih memikiki seorang Ibu yang luar biasa. Ibu yang selalu memeluk dan berada disisinya, demi Ibu Rena berjanji akan memulai semua dari awal dan membahagiakan orang yang paling ia sayangi di dunia ini dengan kerja kerasnya. Walau harus meninggalkan kota yang penuh kenangan ini Rena tak akan menyesali asalkan Ibu tetap berada disisinya. Rena mengulurkan kakinya, menyibak selimut yang ia yakini bahwa Ibu yang telah menyelimutinya. Tenggorokannya terasa kering dan ia berniat untuk mengambil air putih yang akan membasahi tenggorokannya. Saat meyadari, Rena tak menemukan Ibu di mana-mana. Biasanya Ibu berada di dapur sedang memasak, namun sosok itu kini tak tampak disana. Kemana Ibu sepagi ini? Menoleh ke jam yang ada di dinding. Rena melongokkan kepalanya keluar, melihat mobil yang ia sediakan khusus untuk Ibu bila ingin bepergian karena Rena yang hanya memiliki sedikit waktu itu tak akan bisa mengantarkan Ibunya saat ingin bepergian. Mobil itu tak ada terparkir di halaman rumahnya, Bukannya Ibu kemarin udah belanja ke pasar? Meneguk habis air putih di gelas tanpa sisa. Kepalanya masih terasa berat dan tengkuknya masih terasa sakit, Rena menggeliat untuk meluruskan otot-ototnya dan masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan badan serta pikirannya kembali setelah masa-masa berat yang ia lalui semalam dan dengan mudah dapat Rena lalui dengan baik berkat Ibunya. Satu berjam berlalu tanpa terasa tapi Ibu juga tak kunjung datang membuat Rena merasa cemas, ia telah mempersiapkan segalanya untuk pergi dari kota ini. Mencari pekerjaan dan rumah baru yang akan mereka tempati nanti, beruntung ada tabungan yang ia sisihkan dari penghasilannya setiap bulan dan itu lebih dari cukup untuk membeli rumah sederhana serta menunjang hidup berdua dengan Ibu. "Mbak Ratmi, apa Ibu sekarang ada sama mbak?" Tanya Rena via telpon mencari tau tentang Ibunya pada Ratmi yang ia percaya sebagai teman dan supir Ibunya.
"Iya, Ibu lagi sama saya. Tadi pagi beliau minta saya atarkan ke rumah sakit."
Mendengar nama rumah sakit perasaan Rena berubah menjadi kacau. "Apa Ibu sakit? Rumah sakit mana? Sekarang bagaimana kondisi Ibu?" Kata Rena memborbardir pertanyaan kepada Ratmi.
"Enggak kok Mbak, Ibu gak sakit dan keadaan beliau baik-baik saja. Beliau mengatakan ada urusan sedikit di rumah sakit tempat Mbak Rena bekerja, beliau juga berpesan untuk tetap menunggu sampai urusannya selesai."
"Urusan?" Gumam Rena, matanya terbelalak saat menyadari maksud urusan yang Ibu katakan. Ibu..., Apa yang sedang Ibu lakukan saat ini... Rena menggigit bibir bawahnya, melempar anduk yang melilit di kepalanya dan menyambar hair drayer yang tak jauh dari tangannya. "Mbak, jangan kemana-mana sampai saya datang disana. Pastikan Ibu tetap disana."
"Baik, saya akan menunggu."
Rena memutuskan panggilan telponnya, menyambar cardigan dan kunci mobilnya bahkan Rena melupakan bedak dan teman-temannya saat keluar. Pikirannya hanya terfokus pada Ibu dan semoga apa yang ia khawatirkan tak akan terjadi, karena Rena tau benar siapa Ibu dan apa yang akan Ibu lakukan untuknya. Benar saja, saat Rena tiba di ruangan direktur ia melihat Ibunya telah bersimpuh dengan air mata yang terurai, meminta maaf dengan bersimpuh dan membuang harga diri demi anaknya. Rena yang melihat semua dari balik pintu yang tak tertutup sempurna itu menutup mulut dengan kedua tangannya agar tangisnya tak meledak.
"Apa yang Ibu lakukan?" Ella duduk di samping Bu Ani. Bagaimana pun hatinya terasa sakit saat melihat semua ini.
"Nak Ella, Rena telah menceritakan semua kepada Ibu. Ibu tau anak Ibu melalukan kesalahan yang sulit untuk di maafkan, namun bagaimana pun seorang Ibu akan berjuang demi anaknya dengan berbagai macam cara." Bu Ani menggenggam tangan Ella, "Dokter adalah kehidupan Rena, kota ini adalah kota penuh kenangan yang Rena miliki bersama mendiang ayahnya. Ibu Mohon..., jangan pecat anak Ibu dan biarkan kami tetap di kota ini."
Ella menitikkan air mata, "Beruntung sekali dokter Rena mempunyai Ibu yang luar biasa, bisakah saya mencium tangan Ibu?" Katanya membalas genggaman tangan Bu Ani, mencium tangan seorang Ibu yang luar biasa tersebut. "Bu, berdirilah..., jangan meminta dengan cara seperti ini. Dokter Rena pasti akan sangat sedih melihat Ibu yang ia sayangi melakukan hal semacam ini."
"Nak Ella, Ibu melakukan apa yang seharusnya anak Ibu lakukan..., Ibu minta maaf atas segala kesalahan yang telah ia lakukan. Maafkan kesalahan anak Ibu, Ibu akan melakukan apa pun untuk menebusnya." Bersimpuh di pangkuan wanita yang ia yakini orang yang telah anaknya hina dan perlakukan secara tidak adil. "Maafkan anak Ibu...,"
Ella memeluk Bu Ani yang bersimpuh di pangkuannya, "Apa yang Ibu lakukan..., saya telah memaafkan apa yang dokter Rena lakukan. Jadi saya mohon, Ibu jangan seperti ini memperlakukan saya."
Rena yang sejak tadi diam di balik pintu dengan mendengarkan semua itu langsung menghambur ke dalam. Memeluk Ella dan Ibunya bersamaan tanpa menghiraukan dokter Raka yang berdiri mematung melihat kejadian penuh haru di depan matanya tanpa bisa berkutik. "Ibu..., apa yang Ibu lakukan?" Melepaskan pelukannya dan menggenggam tangn Ibu serta Ella bersamaan. "Maafkan saya nyonya, maafkan saya...,"
Ella yang terkejut dengan kedatangan dokter Rena itu hanya bisa berdiam saat di peluk, "Dokter, saya sama sekali tidak pernah merasa dendam dengan anda."
"Saya tahu, nyonya adalah orang yang baik dan semua adalah kesalaham saya. Saya akan meninggalkan kota ini bersama Ibu, jadi Rena mohon Ibu jangan melakukan ini." Menciumi kaki Ibunya dan mencium tangan serta wajahnya. "Ibu..., hanya Ibu yang Rena punya."
"Ndok, Ibu gak mau kita pergi meninggalkan kota ino dengan perasaan bersalah. Ibu ingin memperbaiki semuanya sebelum semuanya terlambat, Ibu tau kota ini dan profesi yang sekarang adalah hidupmu ndok..., Ibu gak mau putri Ibu hidup dalam penyesalan seumur hidupnya."
"Gak Bu, Rena gak akan menyesal. Kemana pun Rena berada asalkan itu ada Ibu Rena akan ikhlas menjalaninya."
"Bagaimana dengan Rega?"
"Itu tanggung jawab saya, bukannya saya mempunyai hak suara di rumah sakit ini?"
Raka menghembuskan nafas panjang, memang sulit memutuskannya. Saat Ella meminta Rega pasti akan mengabulkannya.
"Asalkan dokter Rena berjanji akan memperbaiki semua dan tidak akan mengulanginya, dokter juga harus meminta maaf kepada orang-orang yang telah anda susahkan tempo hari."
Rena mengangkat wajahnya, tangisnya seketika berhenti saat mendengarnya. "A-apakah itu benar???"
Ella mengangguk, "Saya melakukan demi Bu Ani, anda sangat beruntung memiliki Ibu yang sangat luar biasa seperti beliau. Ibu yang melakukan berbagai macam cara demi kebahagiaan anaknya, tolong jangan kecewakan Ibu anda dokter."
Bu Ani memeluk wanita muda dengan pemikiran bijak dan hati seputih kapas itu, "Terimakasih nak Ella..., bagaimana Ibu harus membalas semua kebaikan yang nak Ella lakukan kepada kami?"
"Ibu, bolehkan saya meminta untuk Ibu menganggap saya sebagai anak Ibu sendiri? Bolehkan saya menganggap Ibu sebagai Ibu saya sendiri?"
Bu Ani memeluk erat dan mencium pipi Ella, bagaimana mungkin di jaman seperti ini masih ada orang yang begitu baik hati seperti wanita muda yang ada dalam pelukannya. "Apakah hanya itu? Ibu akan sangat berterimakasih karena Ibu mendapatkan satu orang putri yang luar biasa seperti nak Ella. Semoga nak Ella di kelilingi orang-orang yang selalu menyayangi dan mencintai."
"Maaf dokter Rena, apakah permintaan saya terlalu tamak untuk meminta dan membagi kasih sayang Ibu anda?"
Rena menggeleng cepat, menghapus air matanya dan mengganti dengan senyuman bahagia. "Tidak, tidak sama sekali. Bahkan saya merasa beruntung karena Ibu mempunyai satu orang putri lagi, mungkin ini akan menggantikan kekecewaan Ibu terhadap putrinya ini."
"Ndok..., seorang Ibu tidak akan pernah kecewa dengan anak-anaknya. Ibu sangat bersyukur karena bisa melahirkan dan membesarkanmu." Membelai rambut Rena dengan lembut, "Terimakasih karena Nak Ella mau menjadi anak Ibu, dan Ibu harap kalian bisa menjadi saudara yang saling membantu satu sama lain."
Rena melepaskan pelukan kepada Ibu dan berpaling memeluk Ella, "Maafkan saya, saya harap bisa melakukan yang terbaik."
"Terimakasih...."
"Bahagia sekali Ibu, memiliki dua putri yang luar biasa dan Ibu akan mendapatkan cucu."
Raka tersenyum lega, seorang Ella yang sederhana dan karena kebaikan hatinya mampu mengubah orang-orang sekitarnya hingga menyayangi dan memberikan kepercayaan penuh kepadanya.
******
Hi readers...
Yang di betah-betahin di rumah sambil ngabisin sisa kue lebaran kemarin.. ☺☺☺
Kalo bisa jangan keluar rumah dulu ya soalnya masih dalam keadaan belum stabil di luar sana, mending kita di rumah dan ngelakuin hal-hal. yang bersifat positif dan mengusir rasa jenuh yang kita rasa-in, banyak kok yang bisa lakuin di rumah asalkan kita bisa memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekitar kita.
Jangan lupa "like" dan "Vote" nya serta "komentarnya" buat kalian yang suka sama novel yang author tulis. Terimakasih atas dukungan dan partisipasi dari kalian semua yang selama ini udah setia dan jadi penyemangat tersendiri buat author.
Terimakasih banyak...
😘😘😘😘😘😘
Jangan lupa buat hidup sehat, cuci tangan sesering mungkin, hindari keramaian, pertemuan yang gak penting dan cuma