Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Akhirnya


Raka yang udah nyelesain semua kerjaannya hari ini berkemas buat siap-siap pulang, dari dulu Raka gak pernah menunda kepulangannya karena ada Anggun yang selalu nunggud dia di rumha tapi sekarang udah ada satu jagoan kecilnyan yang ikutan nunggu dia pulang juga. Siapa lagi kalau bukan Noan, anak pertamanya yang sangat menggemaskan. Rasanya gak bosen-bosen buat nemenin Noan tiap hari, bahkan menururt Raka berpisah dengan jagoannya itu lebih susah di bandingkan harus berpisah dengan Anggun. Walau gitu, bukan berarti cinta Raka itu udah luntur sama Anggun, tapi gak tau kenapa gitu Raka ngerasainnya. "Ya ampun sayang, kamu itu selalu bikin Dady pengen cepet pulang buat nemenin kamu." Katanya sambil ngeliatin walpaper layar hpnya yang memperlihatkan seorang bayi laki-laki yang sangat lucu dan menggemaskan. Udah ke geser tuh walpaper yang selama ini di isi sama foto istrinya dan kini ke ganti sama foto anaknya yang setiap ada kesempatan bakal di liatin sama Raka, udah kayak orang yang kasmaran aja gitu jadinya.


Baru aja buka pintu ruang kerja, Raka di kagetkan sama orang yang lewat di depannya yang hampir aja nabrak dia. Masih sempat buat Raka menghindar dengan mengurunkan niatnya buat ngelangkahin kaki alias masih sempat ngerem, kalo gak gitu bakalan ada tragedi tabrak lari tadi karena yang nabrak Raka dalam keadaan setengah berlari. "Eh Yun!" Teriaknya pas liat siap orang yang kurang kerjaan itu, "Lo ngapain?"


Yun menoleh, ternyata Raka yang berdiri di depan pintu yang hampir aja di tabrak. "Gue mau bawa Ella keruang bersalin." Sambil nerusin jalannya.


"Hah? Ella mau beranak?" Cepat-cepat nutup ruang kerjanya itu buat nyusul Yun yang udah selangkah lebih dahulu.


"Yun, pelan dikit jalannya." Ujar Ella yang setengah takut, gimana gak takut kalo ni orang jalannya udah kayak bus antar provinsi yang tikung sana tikung sini dan balap sana-sini.


"Permisi, bisa kalian tunjukin di mana ruang bersalin?" Tanya Yun pada dua orang wanita yang ada di meja pelayanan.


Bukannya malah jawab pertanyaan dari pasien yang baru datang dan perlu bantuan, dua orang itu malah terpana dengan aura yang terpancar dari seorang Yun yang sangat-sangat ganteng itu. Sampek bikin mereka melongo melihat pemandangan di depan mata yang terasa adem dan menyenangkan itu (Namanya aja manusia normal, kalo liat yang bening aja langsung bening juga otaknya).


Gak ada tanggapan dari dua perawat tersebut yang malah bengong dqn kagok liatin dia bikin Yun sebel, apa sih yang mereka lakuin?


"Nona, saya membawa seseorang yang ingin mendapatkan perawatan secepatnya, bisa kalian tunjukkan di mana tempatnya?" Ujar Yun lagi buat ngilangin gagal fokus dua perawat itu.


"Akh, maaf tuan." Kata seorang perawat yang akhirnya sadar sama hipnotis yang mempengaruhinya beberapa saat lalu, Ni cowok ganteng banget, tapi... Liat lagi gendong cewek yang dalam keadaan hamil besar itu langsung bikin sadar kalau dari tadi dia ngeliatin suami orang.


"Apa istri anda akan melahirkan, kalau begitu ikuti saya." Kata satu perawat lainnya yang langsung menyadari keadaan saat ini, dengan cepat berdiri dan menunjukkan ruang bersalin untuk pasien.


Udah lah, mau di bilang suami istri atau apaan dari orang lain gak ada masalah buat Yun. Lagian dari tadi udah di anggap kayak gitu sama orang-orang yang di temui jadi udah kebal dan gak ambil pusing karenanya, ambil langkah cepat buat ngikutin perawat yang udah jalam duluan buat nunjukin ruang bersalin yang menjadi tujuannya.


"Sof, aku minta data dari pasien ruang inap vip no enam. Dokter Johan memerlukan secepatnya." Kata Rania yang meminta data seorang pasien kepada Sofia yang di liat senyum-senyum gak jelas. Ni anak kenapa sih dari tadi senyum-senyum? Mana gak ngerespon lagi di ajak ngomong? Batin Rania sambil liatin muka Sofia yang dari dia datang tuh udah senyum-senyum gitu. "Hellow.... Sofia...," Gerak-gerakin tangannya di depan muka Sofia biar tu anal sadar kalo lagi di ajak ngomong.


"Oh, Eh." Baru siuman dari halu yang panjang, liat muka Rania yang terheran-heran itu bikin Sofia malu sendiri. "He he he he..., Sorry Ran. Tadi kamu ngomong apaan?" Katanya yang gak sadar di ajak ngomong dan juga gak denger tadi tuh Rania ngomong apaan.


"Kamu ngapain sih Sof senyum-senyum gak jelas kayak orang kesambet? Aku perlu data pasien dari kamar VIP no enam di suruh sama dokter Johan." Ujarnya mengulangi pertanyaan yang tadi udah di ucapin tapi gak di denger sama Sofia.


"Gue tadi liat cowok yang udah kayak malaikat," Sambil cariin berkas yang di minta.


"Mana ada cowok kayak gituan..." Rania menarik kursi buat duduk, mendingan duduk kan buat nunggu di bandingkan berdiri. "Kayak kamu pernah liat malaikat aja Sof..."


"Ada, makanya gue syok dan langsung konslet. He he he he he...," Menarik satu buah map, membuka terlebih dulun untuk memastikan isinya. Kali aja kan salah, jadi si periksa dulu biar gak salah kasih. "Nih data yang kamu minta. kalo ada perlu lagi kasih tau aku ya?" Menyerahkan map yang udah melalui pemeriksaan tersebut kepada Rania.


"Ok, makasih ya Sof." Berdiri buat nyerahin data tersebut.


"Rania?"


"Iya?" Baru aja berdiri udah ada yang manggil dan ternyata orang tersebut adalah dokter Raka. "Ada yang bisa saya lakukan dok?" Tanya-nya lagi, satu kerjaan aja belum kelar udah ada kerjaan lainnya. Padahal tadi itu Rania mau ke kamar Nyonya Ella, tapi tiba-tiba aja dokter Johan nongol dan minta buat ngambilin data yang akhirnya niatnya itu tertunda dan sekarang nongol lagi dokter Raka.


"Kamu pergi ke ruangan tuan Rega, kasih tau sama dia buat cepet-cepet ke ruang bersalin."


Ruang bersalin??? Sambil mengerutkan alisnya buat mikir.


"Bilang aja istrinya mau melahirkan. Saya tunggu di ruangan bersalin, soalnya sekertaris Yun sudah membawanya." Kata Raka yang langsung ngacir setelah meminta Rania buat menyampaikan berita tersebut, liat Yun yang bawa Ella tadi Raka yakin banget kalo Rega belum tau keadaan istrinya saat ini.


"Akh, baik dok." Ujarnya dengan ambil langkah seribu, tapi balik lagi karena ada yang kelupaan. "Sof, tolong kamu kasihkan ini sama dokter Johan di ruangannya. Aku mau menyampaikan pesan dokter Raka dulu." Ngeletakin map yang tadi di bawa di atas meja buat alih tugas sama Sofia.


"Ok, gak masalah."


"Makasih Sof," Sambil melambaikan tangan ke arah Sofia.


Raka yang nyusul Yun ke ruang bersalin itu liat Ella yang duduk di kursi, "Gimana La?" Beberapa perawat melakukan persiapan mereka terlihat sibuk dan berjalan ke sana-sini.


Ella mengangguk pelan, menandakan bahwa semua baik-baik saja.


"Nonya, kita pasang infus dan tes alergi obat dulu."


"Gue udah nyuruh Rania buat ngadih tau Rega." Ujar Raka yang mengambil air mineral dari dalam tasnya, membukakan tutupnya terlebih dahulu sebelum memberikan pada Ella yang mungkin menginginkannya.


"Makasih." Menerimanya dan langsung meminumnya hingga separuh botol, rasanya tuh seger banget pas tu air meluncur dan membasahi tenggorokannya.


"Lo gak usah jalan dulu, hamik anak kembar itu lebih rentan di bandingkan kehamilan biasa." Ujar Raka mengambila air yang telah habis separo itu dan meletakkan di atas meja. "Kalau memungkinkan lo mau lahir normal atau sc?"


Ella meringis saat kulitnya di tembus jarum suntik, bukan karena sakitnya itu yang bikin meringia tapi kaget aja. Biasanya masangin infus dan nyuntik orang tapi kali ini gantian. "Gue mau lahiran normal aja, lagian kalo bisa kenapa enggak." Ella tersenyum saat perawat itu telah memasangkan infus kepadanya.


"Tapi jangan maksain, kalo gak memungkinkan."


"Iya gue tau, lagian gue juga gak mau ambil resiko kok jadi lo tenang aja." Rasanya lebih enakan pas cairan infus udah mulai jalan.


"Nyonya, kita periksa pembukaan dulu. Jadi silahkan anda berbaring."


"Gue bisa sendiri." Ujarnya saat Raka ingin mengangkat badannya.


"Udah lah, lo gak usah nolak dengan alasan malu. Kita sudah kayak saudara." Katanya cepat mendengar penolakan Ella dan tanpa menunggu Raka langsung mengangkat badan Ella yang telah ia anggap sebagai adiknya. Lagi pula Anggun sangat menyayangi Ella layaknya seorang adik dan Raka yakin kalau Anggun gak bakal marah ia melakukan ini kepada Ella. Setelah ia membantu Ella untuk berbaring, Raka memilih keluar ruangan menemui Yun yang terlihat sibuk dengan Hp-nya dan membiarkan Ella di dalam bersama para perawat yang akan menjalankan tugas mereka.


"Gimana?" Tanya Yun yang melihat Raka keluar.


"Baik, gue udah nyuruh Rania buat ngasih tau Rega tentang istrinya yang mau melahirkan."


Yun mengangguk.


******


"Apa semua baik-baik saja?" Tanya Ibu dengan wajah yang sangat khawatir, mendengar putranya memiliki penyakit langsung membuatnya merasa sangat sakit.


"Tentu, Ibu tidak usah khawatir semua baik-baik saja." Rega duduk di samping Ibu.


"Bagaimana mungkin Ibu tidak merasa khawatir mengenai putranya, kalian berdua menyembunyikan hal yang penting dari Ibu selama ini."


"Maaf, bukan maksud kami melakukan semua ini. Aku dan Yun hanya tidak ingin membuat Ibu merasa khawatir."


"Lain kali jangan lakukan lagi, kau tau saat mengetahuinya Ibu merasakan bahwa seluruh dunia Ibu hancur."


Rega menggenggam tangan Ibu, "Terimakasih, gak akan ada lain kali karena ini yang pertama dan terakhir."


Mahendra masuk ke dalam kamar dan mendapati Rega yang sedang berbicara dengan Ibu Yun. "Bagaimana keadaanmu?"


"Ayah?" Rega berdiri untuk menyambut Ayahnya namun laki-laki itu memberikan kode padanya untuk tetap di tempat dengan tangannya. Rega mengurungkan niatnya dan duduk kembali, "Baik, semua berjalan dengan baik." Jawabnya yang ia yakini bahwa pertanyaan Ayah mengenai kabar kesehatannya.


"Baguslah." Katanya dengan duduk. "Bagaimana semua ini bisa terjadi?"


"Rega menggeleng pelan, aku juga tidak tau. semua terjadi begitu cepat Ayah." Sebenarnya Rega bingung mau jelasin apa sama ayahnya mengenai penyakit yang ia derita tersebut.


"Sudah lah, Yun menceritakan semuanya."


Rania berjalan dengan cukup cepat menuju ruangan tempat tuan Rega, memberi tahu bahwa istrinya akan segera melahirkan. Bagaimana pun ia adalah perawat yang di bayar secara khusus untuk menemani nyonya muda tersebut, dan itu akan ia lakukan selama mereka berada di sini. Nyonya akan melahirkan dan itu artinya gue bakal jadi pengasuh. Sambil bayangin kalo ada bayi lucu membuatnya mengulaskan senyum karena Rania sangat menyukai anak kecil.


Tok-tok-tok!!!


Rania sengaja mengetuk terlebih dahulu padahal para bodyguard yang berjaga di luar telah mempersilahkannya masuk, tapi ia harus tetap menghargai orang yang ada di dalam sana mengenai kedatangannya. Etika yang Rania jaga saat ini dan itu akan menjadi sesuatu yang sangat penting.


Azhari yang mendengar seseorang mengetuk pintu segera berjalan untuk membukakannya.


Ceklek...


Seorang wanita manis tengah berdiri di depan pintu yang langsung menyambutnya dengan senyuman yang sangat ramah.


"Maaf nyonya kalau saya mengganggu waktu anda, bolehkan saya masuk dan menyampai sesuatu kepada tuan Rega?" Tanyanya sopan.


"Tentu saja, silahkan." Azhari membalas senyumnya dan mempersilahkan masuk.


"Terimakasih." Rania menundukkan kepalanya dan segera masuk ke dalam untuk menemui tuan Rega.


Melihat wanita manis itu membuat Azhari tergelitik, Seandainya saja Yun bisa memiliki istri semanis dan sebaik wanita ini... Bahkan dia sangat sopan. Batinnya mengikuti masuk dan menutup pintu terlebih dahulu.


"Maaf tuan," Kata Rania yang sedikit kaget ternyata tuan Rega mendapatkan banyak tamu hari ini, pantas saja kalau banyak penjaga yang di tempatkan di luar sana. apakah beliau ayahnya? Batin Rania saat melihat seorang laki-laki yang cukup berumur namun masih terlihat sangat menawan yang tak termakan usia.


"Ada apa?" Rega memalingkan wajahnya saat melihat Rania, perawat yang ia tugaskan untul menjaga dan menemani Ella. Bahkan Ella menginginkannya untuk bekerja saat mereka kembali dari sini. "Apa terjadi sesuatu dengan istriku?" Ujarnya lagi yang melihat Rania datang dengan nafas memburu dan wajah sedikit panik.


"Itu, nyonya Ella saat ini berada di lantai bawah bersama sekertaris anda dan juga dokter Raka. Nyonya akan segera melahirkan dan saya harap tuan segera menemui serta menemani nyonya." Jawabnya.


"Apa??" Barengan tu Rega, ayah dan juga Ibu kagetnya.


"Ella mau melahirkan?" Kata Rega seakan gak percaya dengan apa yang ia dengar. Bagaimana mungkin ini terjadi, padahal tadi kan pas Ella keluar pamit buat beli sesuatu dia keliatan baik-baik saja.


"Ella akan melahirkan?" Bayangan bayi mungil dan menggemaskan langsung ada di pikiran Mahendra yang sejak dulu telah mengharapkan cucu untuk mengisi rumah mereka. Mahendra akan menetap saat ia memiliki cucu dengan menghabiskan masa tuanya di sana bersama anak dan cucunya.


"Ella?" Ibu menutup mulutnya dengan suka cita, akhirnya yang selama ia nantikan akan segera datang. Dua orang bayi menggemaskan yang akan memenggilnya nenek, membayangkannya saja membuat Azhari di lingkupi rasa bahagia yang sangat luar biasa.


Tanpa menunggu Rega segera berlari keluar kamar dengan kaki tanpa alas, mana sempat mikir yang nama sendal lagi buat keluar. Yang ada dalam pikirannya saat ini pengen cepat-cepat sampai dan melihat istrinya. Gue bakal jadi ayah???


/******