
Rega menatap Sebal ke arah Yun yang datang gak sesuai dengan situasi dan kondisi serta keinginannya, dalam keadaan kayak gini malah nyuruh meeting sama klien. Gak tau apa kalau gue lagi sibuk berat yang gak bisa di ganggu gugat?
"Gak usah liat gue kayak gitu, lagian ini juga bukan kemauan gue." Katanya dengan menghadap ke luar jendela kaca transparan yang memiliki kaca anti peluru untuk menjamin keselamatan yang menempati kamar istimewa ini. "Cuma hari ini, lagian klien yang ada mereka semua orang penting yang gak mungkin bisa di wakilin. Mereka mau langsung ketemu sama lo." Kata Yun menjelaskan karena mendapatkan tatapan mata tajam yang menurut orang lain bakal mengerikan tapi buat Yun biasa-biasa aja karena Yun udah kebal sama apa pun yang Rega lakuin, mereka udah besar dan tumbuh bersama jadi Yun udah terbiasa dengan apa pun yang ada dalam diri Rega.
"Lama-lama liat muka lo itu bikin gue kesel." Rega menghempaskan dirinya di atas sofa empuk, menatap Ella yang masih tertidur. "Kalo gue pergi siapa yang bakal jagain Ella disini?"
Kata-kata itu yang dari tadi Yun tunggu-tunggu, semalam Raka menceritakan semuanya dan meminta Yun mengatur sedemikian rupa agar Rega bisa keluar dari kamar rumah sakit tempat Ella di rawat demi melancarkan aksi mereka. Satu-satunya alasan yang bisa Yun lakukan adalah dengan mengatur klien dan meeting yang harus Rega hadiri, itu alasan yang paling tepat dan akurat tanoa bisa ia bantah. Waktu yang di perlukan pun cukup lama dan itu lebih dari cukup hanya sekedar mengobrol dan bahkan mereka bisa membuat rencana tersendiri. "Ehem!" Yun sengaja berdehem sedikit kencang untuk menarik perhatian Rega, "Demi lo gue akan jaga Ella di sini sambil memeriksa beberapa laporan yabg kebetulan baru gue terima tadi pagi." Katanya tenang agar semua berjalan lancar tanpa ada kecurigaan apa pun dari Rega.
"Lo?"
"Iya, gue. Lo tau kan kalau gue juga punya banyak kerjaan selama lo gak ada, gak mungkin gue disini cuma nonton tv atau tidur-tiduran selama lo pergi. Gue bakal nyelesai-in kerjaan gue sekaligus nunggu Ella."
Apa yang Yun tawarkan itu memang sangat menggiurkan dimana semua terdengar baik, karena Yun memanh orang yang tepat dalam hal seperti ini. Yun memiliki banyak kebisaan yang tak di miliki orang awam pada umumnya, menyerahkan Ella padanya memang pilihan terbaik di bandingkan hanya membiarkan para penjaga di luar sana karena Rega tak mau orang lain menunggu istrinya dan melihat secara langsung. Berbeda dengan Yun yang sudah seperti saudara sendiri baginya yang tak mungkin menghianatinya untuk mencelakakan Ella dan calon anak mereka.
"Lo gak perlu pulang buat ganti baju, lagian semua keperluan lo masih ada di kantor. Gue juga udah nyuruh Rhanty mempersiapkan semua bahan dan data yang bakal lo perluin dan Rhanty td bilang semua udah siap dan file itu udah dia kirim ke Email lo, berkas tertulisnya sedang Rhanty persiapkan dan semua bakal selesai kalau lo sampek di kantor." Yun berjalan menjauh dari jendela yang menyuguhkan pemandangan kota dari lantai teratas gedung tersebut, duduk di samping Rega dengan mengendorkan dasinya dan menyandarkan kepalanya untuk melemaskan urat-urat kepalanya yang menegang karena semalaman mencari celah dan alasan untuk membuat Rega meninggalkan Ella sendiri. Beruntung Tuhan berpihak kepadanya dan meeting yang tak terduga ini sebagai alasan kuat yang tak bisa Rega bantah lagi.
Rega mengangguk mengerti, ia merasa beruntung bekerja bersama orang-orang yang cekatan dalam bertindak dan berpikir kritis dalam setiap keadaan. Yun yang tanpa ia minta bisa melakukan dan menyelesaikan semua pekerjaan dengan sangat baik bersama sekertarisnya yang luar biasa itu. Mereka menjadi satu tim luar biasa yang Rega miliki dengan persentase nol dalam kegagalan pada setiap pekerjaan mereka dan membuat orang iri karena kinerja dan kesetiaan yang mereka miliki.
"Gue titip Ella, kalau ada apa-apa lo harus segera hubungi gue."
"Iya, gue tau. Lagian lo gak usah khawatir, ada penerus Mahendra dan Aditya di dalam perutnya Ella. Lo kan tau kalau hidup gue udah gue serahin buat melindungi kalian apa pun yang terjadi, tanpa lo minta gue bakal ngelindungi Ella dengan nyawa gue." Ujar Yun dengan menutup matanya dengan ke dua tangannya.
Sebelum pergi Rega mengecup kening Ella dan mengelus pipinya lembut.
******
Yun yang tertidur itu gak nyadar kapan Raka masuk ke dalam kamar Ella dan kini duduk di sampingnya dengan wajah serius menatap layar laptopnya, kalo serius kayak gini gak keliatan Raka yang cengengesan kayak biasa.
"Lo udah bangun?" Tanya-nya tanpa menoleh ke arah Yun.
"Gue kayak gini karena mikirin cara buat nyingkirin Rega, lebih susah di bandingin nyingkirin lo dari hidup gue." Katanya dengan menggeliat pelan, meluruskan otot-ototnya yang terasa kaku.
Ella yang mendengar ribut-ribut itu terpaksa membuka matanya melihat sumber objek hidup yang bikin polusi suara di telinganya, menarik paksa dirinya dari mimpi indah yang ia alami dan membuatnya kembali pada dunia kejam. Ternyata dua orang lelaki kepercayaan suami nya itu kini duduk berdampingan dengan kegiatan mereka masing-masing tanpa saling menatap satu dengan lainnya.
"Berisik banget sih kalian berdua." Kata Ella dengan suara khas orang yang baru bangun tidur.
Raka menoleh ke arah Ella yang masih mengerjapkan matanya mencari ruang untuk memulihkan pikirannya secara keseluruhan.
"Lo udah bangun La?" Kali ini Yun yang bertanya, "Gimana keadaan lo saat ini?"
"Masih sedikit mual, tapi obat yang dokter Raka kasih efektif ngurangi rasa mual dan muntah gue."
"Syukurlah kalo gitu, lagian kalo gue gak bisa bikin lo enakan bakal tamat riwayat gue." Kata Raka mengingat ancaman Rega.
"Rega mana?" Dari membuka mata Ella gak liat batang hidung suaminya itu, cuma ada mereka berdua di sini.
"Ke kantor, gue suruh meeting sama klien sementara kita meeting disini." Kata Yun lagi.
"Oh iya, gue hampir lupa kalau kita harus ngelakuin meeting dadakan selama Rega gak ada." Ella berusaha menyandarkan kepalanya.
"Udah lo tiduran aja," Kata Raka yang melihat Elle mencoba berdiri dan mengambik kursi untuk duduk di dekat Ella yang di ikuti oleh Yun.
"Di antara kalian siapa yang mau jelasin duluan apa yang kalian sembunyi-in dari gue?" Kata Ella langsung ke topik permasalahan tanpa mengulur waktu, kalau Rega datang semua bakalan kelar.
Yun dan Raka saling melempar pandang, mereka seolah ingin melemparkan beban menjawab pertanyaan Ella yang terlalu susah untuk mereka jabarkan secara rinci.
"Kok malah bengong?" Kata Ella tak sabar, "Mau bikin pengakuan doaa gak?"
"Ya elah La, pakek acara pengakuan dosa segala kayak kita ngelakuin apaan gitu." Kata Yun yang sedikit keberatan dengan istilah yang Ella berikan untuk mereka.
"Emang apa lagi julukan yang harus gue kasih hah buat kalian? Kalian kan sekongkol bohongin gue sampek gue berasa stres kayak gini."
"Gue tau kalo lo stres makanya kemarin gue suruh lo pura-pura pingsan biar lo denger sendiri." Kata Yun dengan memainkan hp-nya mengecek email masuk yang berhubungan dengan pekerjaan, di mana pun dan apa pun kondisinya Yun emang gak bisa lepas dari yang namanya pekerjaan. "Lo aja Ka yang jelasin sama Ella karena lo lebih tau di bandingkan gue, sesama dokter tu lebih enak ngomongnya."
Raka melotot ke arah Yun yang dengan santainya ngomong kayak gitu, melemparkan beban ke arahnya tanpa merasa berdosa sedikit pun.
"Parah lo..., gak ada hubungannya sama profesi."
Lama kelamaan Ella ngerasa jengkel sendiri, dua orang itu dari tadi lempar-lemparan tanggung jawab. "Kalo lo berdua masih belibet aja kayak gini gue bakal hidup kalian berdua kayak di neraka." Ancamnya, jengkel banget rasanya muter-muter gak jelas ngomongnya bikin Ella yang udah emosi nambah kagi kadar emosinya.
Kesehatan?
Dunia bawah?
Apa yang mereka maksud sih sebenarnya?
Ada apa sama Rega selama ini?
Begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepala Ella, ternyata banyak hal yang Ella sendiri gak tau. Selama ini Ella terlalu sibuk dengan kuliah dan segala macam urusan yang bersangkutan dengan studinya tersebut hingga melewatkan hal-hal yang ia sendiri gak terlalu mengerti. "Kesehatan? Dunia bawah?" Gumam Ella seperti memberikan pertanyaan pada dirinya sendiri.
"Sorry La, bukannya kita mau nutupi ini dari lo tapi kita sepakat demi kenyamanan hidup lo makanya kita gak cerita." Ujar Yun yang akhirnya lebih dulu membuka suara. "Dunia gue sama Rega itu gak sesederhana yang lo bayangin La, lo tau kan gimana persaingan di dunia bisnis yang bisa gue bilang cukup kejam buat orang awam. Buat jatuhin lawan gak segan-segan ngelakuin berbagai macam cara meskipun cara kotor sekalipun, dan itu yang terjadi dengan Rega." Yun menarik nafas panjang, berbagai macam cara-cara licik telah mereka hadapi dari orang-orang yang ingin menjatuhkannya.
"Maksud lo?"
"Ayah mengambil anak yatim dari pinggir jalan dan membesarkannya persis seperti apa yang ia berikan kepada anak kandungnya, anak itu adalah gue. Gue besar dan tumbuh bersama dengan Rega, Ayah menginginkan gue sebagai bayangan Rega dan melindunginya saat Ayah tak ada di sampingnya. Sebagai pewaris tunggal bukan berarti semua berjalan mulus, menempati posisi sekarang ini penuh perjuangan. Semasa kecil kami harus belajar sepuluh kali lebih giat di bandingkan anak pada umumnya, kami harus menguasai ilmu bisnis di saat anak-anak lain main perang-perangan, menguasai berbagai macam bahasa sebagai landasan dasar, ilmu pengobatan, bela diri dan berbagai macam ilmu yang gue sendiri gak tau seberapa banyak yang udah kami pelajari. Semua itu semata-mata hanya untuk membuat pertahanan melindungi diri. Ayah yang menyadari posisi Rega itu akhirnya memutuskan mencari seorang pendamping dan ini lah posisi gue sebagai bayangan dan tangan kanan Rega. Gue udah bertahun-tahun berdiri di samping Rega dan udah banyak banget orang yang pengen jatuhin dia. Dunia Rega dan dunia hitam itu beda-beda tipis, kalo menurut gue bukan cuma beda tipis malah mereka bersandingan."
Ella mengerjapkan matanya, mencoba memahami apa yang Yun jelaskan. "Jadi...,"
"Jadi gue dan Rega bukan hanya berkecimpung dalam dunia bisnis semata tapi kami juga ikut andil dalam dunia bawah."
"Dunia bawah itu???"
"Ribet banget sih lo ngomongnya Yun," Kata Raka gak sabar dengan penjelasan Yun yang menurutnya bertele-tele. "Gini La, lebih praktisnya itu sebenarnya si Rega bisa di bilang bos mafia." Kata Raka langsung to the poin yang di sambut tendangan dari kaki Yun mendarat di kakinya. "Apaan sih Yun main tendang aja?!" Protes Raka yang gak terima sama perlakuan Yun main tendang seenaknya.
"Eh curut, mulut lo itu dari dulu ember cap baskom. Heran gue...," Kata Yun yang kesel soalnya Raka paling gak bisa nyimpan rahasia dan seenaknya berkoar-koar gak jelas.
"Lah emang kenyataannya kan? Gue ember tapi laku, lah elo yang baja malah sampek sekarang gak laku-laku."
Alhasil malah mereka berdua yang berdebat gak karuan 🤣🤣 lupa kalo bahas masalah Rega yang bikin Ella terbengong-bengong sendiri, malah bukan cuma bengong tapi justru lebih ngerasa heran. Masak iya mereka sindikat mafia??? Mukanya aja gak ada serem-seremnya..., apa lagi kelakuannya yang lebih condong ke anak kecil di bandingkan orang dewasa. Antar percaya dan gak percaya aja liat mereka yang udah kayak tom and jerry, bukan cuma Raka dan Yun tapi Rega juga sama aja kelakuannya.
"Jadi laki gue bos mafia? Dan kalian sindikat mafia gitu?"
Pertanyaan Ella langsung bikin Raka dan Yun yang tadinya berdebat gak jelas itu langsung diam seribu bahasa, kayak pertanyaan yang bikin pukulan di ulu hati mereka.
"Woui! Jawab malah bengong?!"
"Iya," Jawan Raka.
****** gue... Kalo sampek Rega tau bakalan jadi ayam penyet. Gara-gara mulut Raka nih. Yun menlihat ke arah Raka sebal, seharusnya tu mulut di pakek-in lakban atau kalau mau lebih akurat di las aja sekalian. Orang awam macam Ella pastinya kaget banget tau kebenaran yang satu ini, dalam. kondisi hamil pula.
Raka yang sadar mulutnya ngomong lebih dari apa yang ia harap itu langsung diem, belum lagi mata Yun yang gak lepas darinya sejak tadi bikin rasa bersalahnya menjadi berjuta-juta kali lipat. Gak sadar langsung nyeplos gitu aja dan gak mempertimbangkan kalo Ella dalam keadaan hamilm dan bisa menyebabkan syok dan mempengaruhi kehamilannya. "La?" Kata Raka melihat Ella yang terdiam dengan tatapan mata kosong ke depan tanpa berkedip sedikt pun yang langsung bikin takut. ****** gue... bakal di jadi-in dadar gulung gue bikin bini kayak ayam kesambet, Raka menelan ludahnya yang seketika tenggorokannya terasa kering. Kalau sampai ada apa-apa sama calon penerus bosnya itu bakal jadi daging cincang dan anaknya lahir tanpa ayah, yang jelas Anggun bakalan jadi janda muda yang cantik. Membayangkan aja bikin Raka kejang-kejang seketika.
"Jadi??? Rega itu bos mafia??? dan gue istrinya bos mafia??? Anak dalam kandungan gue anaknya mafia???" Katanya tanpa berkedip bikin ngeri yang liat. "Lalu pakfia-nya kemana???"
Raka dan Yun tepok jidad masing-masing ke tembok sambil guling-guling dengernya, orang lagi tegang-tegangnya ini malah ngelawak???
Apaan coba mafia sama pakfia???
****
Hi Readers...
Makasih ya buat kalian yang masih setia nunggu Up novel author dan tetap setia buat baca.
Jangan lupa like dan vote-nya buat kalian yang suka sama novel author yang jadi penyemangat tersendiri buat author tetap berkarya.
Terimakasih like dan vote dari kalian serta waktunya, yang kalian lakukan itu luar biasa. Author sangat-sangat berterimakasih.
Author juga lagi dalam tahap ngerjain proyek tentang cerita cinta Yun, jadi kalian tunggu aja di novel lainnya ya...
Cerita cinta Yun yang cari belahan hati serta tulang rusuknya gak bakal kalah seru dari cerita Rega dan Ella karena karakter Yun yang 11-12 sama Rega dan tuntutan dari keluarga buat Yun cepet-cepet kawin nyusul Rega.
Tetap di rumah aja ya...Makin lama makin banyak aja korban dari pandemi yang lagi naik daun di seluruh dunia. Author rasanya sedih karena masih banyak orang yang sadar sama bahaya dan masih banyak yang keluyuran gak jelas di luar sana, padahal apa susahnya sih diam di rumah???
Sayangi keluarga dan orang terdekat kita dengan tetap menjaga jarak dari kerumunan orang banyak. Jangan lupa pakek masker kalo harus keluar dari rumah dan jangan lupa sesering mungkin cuci tangan sehabis melaksanakan aktifitas.
#Safefamilly