
"Ella...!!!!"
Hampir aja Ella keselek biji kelengkeng denger suara nyaring yang bikin jantungan plus kaget luar biasa, untung aja tu biji masih belum meluncur gaya bebas di tenggorokannya kalo gak bakalan berakhir tragis dengan nyangkutnya biji kelengkeng di tenggorokannya. Bukan cuma teriakan tapi malah pelukan erat yang Ella terima sebelum memutar kepalanya buat liat siapa dalang dari kegaduhan yang terjadi siang itu, lagian di sini itu gak bakalan ada yang berani teriak-teriak kek gini yang bakal kena semprot langsung para bodyguard berjaga di luar sana kecuali....
"Kakak kangen banget sama kamu."
Ella melotot melihat sosok yang lagi meluk dia dari belakang saat memutar kepalanya, "Kak Anggun???" Ngucek matanya biar terang benderang dan gak salah liat, kali aja kan rabun siang gara-gara kebanyakan makan jadi matanya tu salah tangkap objek yang akhirnya salah orang. Berapa kali ngucek tetep aja yang di liat Anggun dan gak berubah yang berarti sosok cantik di belakangnya itu nyata dan asli alias no kw. "Ngapain kakak kesini?" Tanya-nya bingung liat Anggun yang tiba-tiba nongol gitu aja tanpa pemberitahuan dulu, biasanya kalo bakal datang ke apartemen atau mau ngajak main Anggun itu kasih kabar duluan gak tiba-tiba nongol kayak gini yanh bikin jantung mau jatuh saking kagetnya.
"Ngapain ya? Kakak juga gak tau. He he he he...," Anggun melepaskan pelukannya dan duduk di samping Ella yang lagi makan buah, liat biji kelengkeng di tangannya itu langsung menyita perhatian Anggun. "Kenapa La tu biji?" Rasanya ada yang janggal dan enak, jangan-jangan tadi...
"Oh..., tadi tu hampir ketelen gara-gara kaget." Jawabnya jujur sambil liat ke arah biji kelengkeng yang lagi naik daun, "Kakak mau coba gimana rasanya hampir nelen biji kelengkeng?" Tawar Ella sambil nyodorin ke arah Anggun yang langsung di sambut dengan gelengan kepala cepat beserta gerakan tangan yang gak kalah cepat menandakan gak setuju dan menolak tawarannya secara langsung tanpa basa-basi, lagian siapa coba yang mau cobain hal konyol kayak gitu.
"Makasih La, Kakak udah kenyang." Jawabnya sambil nyengir bayangin gimana rasanya tadi Ella yang hampir ketelen tu biji, agak-agak ngilu gitu Anggun bayanginnya. "Tapi kalo daging buahnya sih Kakak mau."
"Ha ha ha ha ha ha...," Ella tertawa nyaring mendengarnya, giliran daging buahnya aja mau tapi bijinya nolak. Emang kasian nasib sebutir biji yang bakalan terbuang sia-sia ke tempat sampah bentar lagi. "Kakak bisa aja, dalam kulkas masih banyak kok Kak." Ella berdiri menghampiri dan membukakulkas, mengambil kelengkeng serta beberapa buah lainnya dari dalam sana buat di makan bareng sesama ibu hamil yang biasanya suka hawa-hawa rujakan gitu, meletakkan ke dalam mangkok besar buat di cuci sebelum di makan. Ngemil buah itu emang enak banget apa lagi dalam keadaan dingin tambah nikmat lagi. "Kakak ngapain kesini? Ella serius lo kak nanya-nya." Kata Ella nanya yang ke dua kali, karena yang pertama gak ada jawaban yang memuaskan dan malah bikin tambah penasaran.
"Iya gak tau, Kakak emang gak tau ngapain ke sini." Jawabnya jujur, "Tiba-tiba aja tadi Yun nelpon kalo entar Asistennya bakal datang ke apartemen buat jemput Kakak, dia nyuruh buat gak bawa apa-apa jadi ya Kakak gak bawa apa-apa kayak yang dia bilang. Gak lama asistennya yang namanya...," Anggun lupa siapa nama cewek manis yang tadi jemput itu makanya ngomongnya gak di terusin takut salah nyebutin nama malah malu-maluin jadinya.
"Rhanty...," Kata Ella nge-bantu buat ngingetin nama asisten Yun tersebut, gimana gak hapal soalnya Ella kenal udah lama sama tu cewek yang suka dan cinta sama Yun tapi sayangnya Yun jual mahal gitu. Padahal kan Rhanty cewek manis dan baik, gak tau cewek yang gimana lagi tu cowok cari sampek bikin Ibu pusing nasehatin anak laki-lakinya itu buat cepet-cepet nikah dan bawa menantu pulang. Sampek Ella di suruh buat cari tau kali aja ada cewek yang Yun suka dan hasilnya nihil, selain kerja dan Rega gak ada hal lain yang Yun lakuin. (Kok malah bahas masalah Yun ya?? 😂😂😂, Authornya halu jadinya nyasar kemana-mana.)
"Iya bener Rhanty!" Kata Anggun bersemangat buat lanjutin ceritanya. "Dia datang jemput Kakak di apartemen, gak tau nya malah naik jet pribadi. Awalnya sih di tanya dia gak jawab mau kemanan, tapi pas udah dalam pesawat katanya mau kesini nyusul kalian." Katanya lagi yang nyesel kenapa tadi malah gak bawa apa-apa, cuma bawa dompet sama hp doang.
"Berarti lama kan Kakak disini?" Seneng banget kalo ada Anggun jadi gak bakal kesepian ada temen buat ngobrol dan berbagi suka dan duka sesama ibu hamil, biasanya balal lebih gampang ngertinya karena dalam keadaan yang sama.
"Gak tau juga, ini aja Kakak mau ketemu Raka gak bisa. Katanya dia lagi sibuk buat nanya bakalan lama atau bentar di sini."
Ella sampek lupa kalo Anggun itu di sini punya Raka sebagai suaminya, saking semangat dan antusiasnya bakalan punya teman sampek ngelupain Raka. "Iya Kak, soalnya besok itu jadwal transplantasi sum-sum tulang belakangnya Rega makanya yang lain pada sibuk dan Ella di suruh nunggu di sini." Jawabnya sedih kali inget di tinggalin dalam kamar yang penuh makanan, untung aja di kurung dalam kamar mode gini yang banyak makanan, kalo gak bakalan tambah sedih lagi gak ada yang buat pelampiasan.
"Ya ampun, emang Rega sakit apa La?"
Anggun beneran gak tau masalah ini, yang ia tau waktu itu Raka bilang kalo Rega sakit dan harus mendapatkan penanganan secepat mungkin sebelum penyakitnya tambah parah dan Raka bakal dampingi Rega selama pengobatan tersebut. Tapi yang ia dengar dari Ella itu beda sama apa yang Raka ceritain, kalo cerita versi Raka penyakitnya gak parah-parah amat tapi denger Ella ngomong transplantasi sum-sum tulang belakang insting Anggun langsung menuju ke sesuatu yang sangat serius dan gawat bukan lagi se simpel yang Raka ceritain sebelumnya.
Ella menatap kosong telapak tangannya, rasanya sesak saat ingin mengucapkan dan mengatakan kebenaran yang selama ini Ella sengaja menganggapnya sebuah mimpi buruk yang gak pernah terjadi tanpa bisa menceritakan kepada siapa pun. Ella berusaha bersikap sewajar dan senatural mungkin saat bersama Rega dan menganggapnya sebagai seseorang yang sehat secara jasmani karena hanya dengan cara seperti itu ia bisa bersikap seolah-olah penyakit tersebut gak pernah ada, Rega membutuhkannya saat ini dan Ella harus menjadi seorang istri dan teman yang akan menggenggam dan menguatkan Rega setiap saat. "Multiple myeloma, salah satu jenis kanker darah." Katanya pilu.
Anggun menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya secara serentak saat mendengarnya, perasaan sedih langsung masuk ke dalam hatinya. Ia bisa merasakan apa yang Ella rasakan saat ini, berjuang di samping Rega dengan keadaan seperti ini memang sangat susah baginya, dalam keadaan hamil dan menjadi penyemangat dengan mengesampingkan kondisinya. Tangan kurusnya itu meraih bahu Ella untuk mendekat dan mendekapnya, mencoba meringankan beban Ella bersamanya. "Maaf, Kakak gak tau kalau semua kayak gini. Raka gak bilang sama Kakak selama ini, seandainya Kakak tau udah dari dulu bakalan datang ke sini." Memeluk erat Ella dan mengelus bahunya pelan, rasanya sesak banget kalo Anggun harus ada dalam posisi Ella saat ini.
"Terimakasih Kak...," Ella membalas pelukan Anggun, sebenarnya selama ini ia memerlukan seseorang memeluk dan memberikan semangat seperti saat ini yang Anggun lakukan. Bahkan untuk menangis dalam diam pun Ella gak bisa ngelakuinnya karena gak pengen Rega melihatnya bersedih dan menjadikan beban lain untuknya yang juga harus berjuang melawan penyakit yang ia derita saat ini. Sekedar berkeluh kesah saja ia bingung harus melakukan dengan siapa dan memilih menyimpannya sendiri, menangis dalam malam saat semua orang tertidur dan terlelap, mengadukan semua beban yang ia rasakan kepada Tuhan yang telah menciptakannya dan semua alam semesta, meminta kesembuhan serta kebahgiaan dan ketabahan, namun Ella hanya manusia biasa yang terkadang ingin di peluk sesama makhluk hidup untuk membagi rasa yang telah menumpuk dan terkadang membuatnya lelah. Kedatangan Anggun menjadi sesuatu yang patut ia syukuri, bagaikan malaikat yang telah Tuhan utus untuk datang kepadanya di saat perasaanya sangat tipis dan rapuh seperti saat ini.
"Kak... Ella capek... Rasanya Ella capek banget harus pura-pura gak terjadi apa-apa." Ella memejamkan matanya, rasa yang selama ini ia pendam akhirnya akan keluar juga. "Rasanya itu sesak banget Kak... Ella takut kalau semua berjalan gak sesuai kemauan Ella, Ella harus ngapain kak? Apa yang harus Ella lakuin???" Pertanyaan itu yang selalu ada saat Ella sadar bahwa resiko terburuk yang harus ia hadapi dan terima saat gagalnya transplantasi yang Rega lakukan, karena sebagai manusia tak ada satu pun yang bisa menjamin sesuatu yang belum di lakukan. "Gimana bisa Ella jelasin ke anak-anak Ella saat mereka nanya di mana Ayah mereka?" Dada Ella langsung sesak saat mengucapkannya, mimpi buruk yang setiap malam ia hadapi adalah saat Rega meninggalkannya seorang diri dan membesarkan kedua anak kembar mereka tanpa seorang Ayah.
"Kamu ngomong apa sih La?" Anggun melepaskan pelukannya secara paksa dan menatap Ella lekat dengan menggelengkan kepalanya, menyalahkan apa yang Ella katakan dan pikirkan saat ini. "Kamu percaya kan sama kekuatan doa?" Saat melihat Ella mengangguk walau pun pelan, Anggun melanjutkan ucapannya. "Tuhan ada buat mereka yang percaya, dan Kakak percaya Rega bisa melewati ini semua. Jangan mikir yang gak penting dan belum kita lalui. Anak kalian akan lahir dengan orang tua lengkap, Kakak yakin Raka dan Yun bakal ngelakuin yang terbaik buat Rega saat ini." Jawab Anggun yakin, "Jadi...," Mengusap air mata Ella yang menetes di sudut matanya dengan lembut, "Kita bisa habisin semua ini cuma berdua?" Nunjuk tumpukan buah yang tadi Ella ambil udah kayak gunung menjulang tinggi.
Yang tadinya mewek liat apa yang Anggun tunjuk bikin Ella awalnya senyum sampai akhirnya tertawa kecil, "Ha ha ha ha..., gak sadar Kak tadi ngambil sampek sebanyak itu. Lagian kita makannya bukan berdua tapi berlima bareng mereka bertiga." Mengelus lsmbyt perutnya, Maaf ya sayang Mama udah sedih, seharusnya Mama kuat buat kalian dan Abi kalian yang merluin Mama. Mulai saat ini kita sama-sama berjuang ya sayang... Jangan rewel. Ella mengusap lembut perutnya dan tersenyum.
*******
Yun menatap telapak kakinya yang menginjak di atas lantai, bayangan masa lalu yang telah ia kubur sedalam mungkin hingga sampai ke kerak bumi itu kini timbul dengan sendirinya. Lebih cepat di bandingkan saat ia melupakan dan menguburnya, hanya dalam hitungan jam perasaan itu datang lagi dan kini lebih terasa menyakitkan saat menyadari bahwa semua itu adalah bagai oase di padang pasir yang terasan menyegarkan sesaar namun menyisakan sakit yang terlalu lama.
Mereka bukan orang yang sama.
Iya, mereka orang yang berbeda.
Yun meyakinkan hatinya bahwa apa yang ia lihat saat ini berbeda dengan apa yang ia lihat dulu, kenapa takdir bisa mempermainkannya hingga demikian?
Entah lah, saat ini Yun hanya ingin fokus untuk menghadapi Rega demi kesembuhannya tapi malah di hadapkan dengan kenyataan bahwa ada sosok lain yang hadir dan merusak konsentrasinya, membagi perhatiannya saat ini.
******
Hi Readerd...
Makasih ya buat kalian yang masih setia nunggu Up novel author dan tetap setia buat baca.
Jangan lupa like dan vote-nya buat kalian yang suka sama novel author yang jadi penyemangat tersendiri buat author tetap berkarya.
Terimakasih like dan vote dari kalian serta waktunya, yang kalian lakukan itu luar biasa. Author sangat-sangat berterimakasih.
Tetap di rumah aja ya...Makin lama makin banyak aja korban dari pandemi yang lagi naik daun di seluruh dunia. Author rasanya sedih karena masih banyak orang yang sadar sama bahaya dan masih banyak yang keluyuran gak jelas di luar sana, padahal apa susahnya sih diam di rumah???
Sayangi keluarga dan orang terdekat kita dengan tetap menjaga jarak dari kerumunan orang banyak. Jangan lupa pakek masker kalo harus keluar dari rumah dan jangan lupa sesering mungkin cuci tangan sehabis melaksanakan kegiatan apa pun.
Mampir juga ke Labirin Cinta buat nengokin abang Yun tang ganteng buanget di sana. Bakal bertaburan tu visual abang Yun yanh bikin keju mozarella meleleh.....