
Ella melirik ke arah Vino yang tengah asik memainkan game on line nya di hp dengan serius.
"Gue tau kok kalo gue itu ganteng, tapi gak usah diliatin terus gitu juga kali." Katanya tak bergeming menatap hp nya.
Ella menendang kaki Vino yang membuat empunya meringis kesakitan dan memalingkan wajahnya.
"Parah banget lo La, kenapa gue bisa kenal sama cewek bar-bar macem lo?" Memusut kakinya yang sakit akibat tendangan Ella yang lumayan keras.
"Habisnya lo asal nyablak aja jadi kaki gue ya asal nendang juga." Katanya santai tak merasa bersalah.
"Udah salah bukannya minta maaf." Gumamnya, "Untungnya ni badan gue ciptaanya Tuhan bukan ciptaan mesin, kalo mesin yang ciptain udah penyok sana-sini lo gebukin seenak udel" Pura-pura memasang wajah marah.
"Hahahahahaha...." Ella gak bisa buat nahan tawanya melihat Vino yang pura-pura marah.
"Gue marah beneran nih." Katanya meyakinkan menahan tawa.
"Iya.... Gue percaya kalo lo marah." Menghentikan tawanya, "Jalan kemana kita? Gak asik kalo cuma berdua kayak gini."
"Terserah lo, gue makmum ngikut aja." Katanya pasrah, "Ada yang mau lo beli gak?" Katanya lagi berdiri di ikuti Ella menyusuri Mall tanpa tujuan.
Ella menggeleng, "Gak ada."
Emang gak ada yang pengen dia beli, niatnya dari rumah cuma mau jalan sama temen-temennya karena udah lama mereka berempat gak jalan bareng karena kesibukan mereka masing-masing yang bentar lagi mau ujian. Gak taunya Davina sama Rangga dah ngacir duluan. Tinggal mereka berdua yang tersisa.
Davina cepet-cepet pulang saat Mamanya nelpon buat nganterin jenguk temennya yang lagi lahiran di rumah sakit.
Kalo Rangga langsung melarikan diri saat melihat sosok Luna tanpa sengaja yang lagi jalan-jalan sama temennya di Mall yang sama. Alasannya tu simpel banget, gak enak jalan kalo ada ceweknya. Bilang aja gak bisa tebar pesona dengan bebas, pas ketangkep basah sama Luna bakal rame ceritanya dan memilih untuk melarikan diri. Kasian banget, gitu deh kalo playbo.....
Hidupnya gak tenang.
Tanpa komando Vino menarik tangan Ella memasuki sebuah butik dan hampir membuatnya terjatuh.
"Apaan sih Vin?" katanya sewot nyaris jatuh.
"Selamat datang." Kata penjaga saat Vino dan Ella masuk.
"Lo mau ngapain kesini?" Menyadari butik yang ia pijak bukan butik sembarangan, salah satu butik terkenal seantero jagad raya yang punya cabang di mana-mana dan menjual barang-barang branded dengan harga selangitnya itu.
"Loo diem aja." Katanya menuju deretan sepatu.
Ella mengangkat bahunya dan mengikuti Vino. "Bukanya ini sepatu cewek?"
"Lo kan bisa liat, masih nanya." Sibuk memilih sepatu.
" Beliin buat siapa Vin?" Tanya nya heran, secara tu cowok gak punya cewek, adik cewek tapi malah beli sepatu cewek.
"Bungkus yang ini, size 37." Katanya menyerahkan sneaker dan kartu kredit ke penjaga toko.
Wanita cantik itu tersenyum menerimanya
"Tunggu sebentar, silahkan menunggu." Katanya lagi dan berlalu.
"Bagus kan?" Tanya Vino.
Ella mengangguk dan mengakui kali ini pilihan Vino benar-benar bagus.
"Lo gak beli apaapa nih?" Katanya lagi meyakinkan. "Entar dah keluar minta balik."
"Gue yakin kok."