
Sudah hampir satu jam Raka beserta anggota medis lainnya berada di dalam kamar untuk menangani Rega dan tak ada satu pun yang keluar dari sana, rasanya kaki Ella udah gatel-gatel pengen langsung masuk ke sana buat liat secara langsung apa yang di lakuin segerombolan orang berpakaian putih yang tiba-tiba datang tersebut. Satu jam bukan waktu yang lama atau bisa di bilang sangat singkat saat di gunakan untuk melakukan sesuatu pekerjaan, tapi untuk menunggu seperti ini rasanya udah kayak berbulan-bulan. Bahkan Ella beberapa kali mengulangi hitungan detiknya secara berkala untuk mengusir kebosanan dan kekhawatiran. Sungguh menunggu itu adalah sesuatu hal yang sangat membosankan....
Yun menjalin tangannya dengan perasaan was-was, di dalam sana Rega berjuang untuk bertahan hidup bersama Raka. Dua laki-laki yang telah ia anggap sebagai saudara itu bersama-sama berjuang, dan ia di sini juga berjuang menenangkan serta menahan Ella. Kalau ia turuti keinginan hati, tentu saja Yun akan berada di dalam sana. Melihat dan membantu Raka serta memberikan dukungan untuk Rega, tapi ada Ella yang memerlukan teman untuk menunggu. Posisi Ella sebagai istri di rasa Yun adalah posisi terberat menerima semua ini karena selama ini Ella tidak mengetahui kebenaran dari riwayat penyakit yang Rega derita. Tak ada satu patah kata pun yang mereka ucapan, baik Ella mau pun Yun terdiam dalam keheningan dan pikiran mereka masing-masing. Wajah Yun yang tak kalah dari Rega selalu dingin dan datar itu kini berubah menjadi sedih dan putus asa.
"Yun, terimakasih karena udah jaga Rega selama ini." Kata Ella memecah keheningan. Setelah di pikir-pikir Ella dapat mengerti bahwa apa yang di lakukan Yun dan Raka hanya untuk melindunginya atas permintaan Rega, Ella dapat menarik benang merah yang awalnya kusut dan menyalahlan mereka atas apa yang terjadi. Menyembunyikan kebenaran dan membuat dalih lain untuk mengelabuhinya yang membuat Ella sangat marah, namun kini ia dapat memahami dan mengerti bahwa apa yang mereka lakukan semat-mata hanya untuk melindungi perasaannya semata. Tak ada niat lain yang terkandung di dalamnya.
"Huh...," Yun menghembuskan nafas panjang dan berat, mengusir semua beban yang ia rasakan saat ini. Perasaan bersalah langsung menyusupi hatinya, membohongi dan bersekongkol dengan Rega dalam mengarang cerita membuat tidurnya tak nyenyak selama ini. Bukan hal yang mudah untuknya berbohong kepada saudara iparnya tersebut saat mengingat bagaimana Ella yang telah merubah Rega dari manusia yang seperti robot tanpa perasaan menjadi seseorang yang memiliki hati nurani. Bagi Yun, Ella sama seperti Ibunya. Wanita kedua yang akan ia lindungi dan jaga, bukan karena posisinya sebagai nyonya besar dalam keluarga ini karena Ella adalah penyelamatnya di masa lalu. Ya, Yun baru mengetahui semua itu setelah Rega memintanya mencari tau informasi wanita tersebut dan Yun mendapatkan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
#Flas back
Tubuh kecil dan ringkih itu terbaring di atas tumpukan jerami dengan tangan terikat sempurna, ia mengalihkan pandangan untuk menyusuri dan memindai sekitarnya yang terlihat sangat asing. Tembok dengan cat kusam dan pudar serta retakan di mana-mana itu adalah hal yang asing untuk matanya tangkap saat ini setelah tersadar karena di tidur paksakan dengan obat bius. Seseorang yang tiba-tiba menyergap Yun saat pulang dari sekolah itu membawanya ke tempat yang tak ia kenal, bau apek dan debu langsung memenuhi rongga hidungnya membuat anak kecil itu terbatuk-batuk. Semuanya tampak remang-remang, hanya ada satu lubang kecil pada fentilasi udara yang menjadi satu-satunya sumber pencahayaan di ruangan tersebut yang membantuny dapat melihat sekitar. Yun tak pernah takut pada apa pun dan saat ini i tak juga takut, namun ia bertanya-tanya untuk apa mereka melakukan semua ini karea ia bukan tuan muda dari keluarga terpandang atau semacamnya. Ia hanya anak seorang pengasuh di sebuah rumah megah yang kini mereka tinggali. Tak berapa lama, Yun mendengar suara kaki melangkah mendekat ke arahnya dan dengan cepat ia menjatuhkan tubuhnya pada lanta dingin dan menutup. matanya. Kembali dalam keadaan semula saat ia di bawa kemari, Yun di bawa dalam keadaan tak sadarkan diri dan kini ia akan berpura-pura tak sadarkan diri pula.
"Si*lan! Ternyata yang kita culik bukan tuan muda tapi anak pembantu di rumah itu." Umpat seorang bertubuh tinggi dengan tato naga di tangan kirinya, dengan geram ia melempar putung rokok ke lantai dan menginjaknya hingga padam. Rencana matang yang telah ia lakukan ternyata meleset, karena keperluan ekonomi ia merencanakan penculikan terhadap anak-anak orang kaya dan meminta tebusan untuk anak mereka.
"Lalu, kita apakan anak kecil tersebut?"Kata seorang temannya yang bertubuh agak gendut.
"Apa ank itu melihat wajah kita?"
"Sepertinya tidak, karena dia belum sadarkan diri sejak kita bawa kesini."
Pria bertato itu memegang dagunya, sejenak ia berpikir apa yang akan ia lakukan pada anak kecil malang yang kink mereka kurung di gudang kecil pinggir kota tersebut.
"Apa kita habisi nyawanya?"
"B*doh! Lo tau kalau gue di rumah juga punya anak lagi pula rencana awal kita hanya menculik dan meminta tebusan tanpa menyakiti mereka apa lagi sampai melakukan tindakan mengerikan seperti itu."
"Kalo gitu mau kita apain? Kita lepaskan gitu aja? Gimana kalau dia ngadu dan melaporkan kita ke pihak berwajib?"
"Gue tau... kalau gak kepaksa mana mungkin gue ngelakuin ini? Lo tau kan anak gue perlu biaya yang besar buat operasi jantungnya dan kerjaan gue sebagai kuli bangunan mana bisa ngumpulin uang sebanyak gitu. Gue gak mau nyakitin anak yang gak berdosa itu, gue juga kepaksa ngelakuin ini."
Yun yang pura-pura pingsan itu bisa mendengarkan dengan jelas apa yang mereka katakan, walau dalam posisi sebagai orang yang di rugikan namun Yun yang masih ke il itu dapat memahami dengan pasti bahwa mereka melakukannya karena terpaksa demi uang untuk biaya pengobatan salah anak salah satu dari mereka. Yun yang hidup tanpa seorang Ayah itu merasa terharu dan juga iri karena anak yang beruntung itu mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya dan rela melakukab tindakan berbahaya demi keselamatannya.
"Atau kita paksa aja orang tuanya buat nebus anak ini."
"Ngomong apa, dari mana dapar uang segitu banyak kalo kerjaan orang tuanya cuma pembantu."
"Habisnya lo asal nyulik aja tadi, asal naik mobil lo kira anak orang kaya?"
"Kan mana gue tau kalo tuan muda atau anak pembantu, soalnya anak gue udah parah banget keadaannya dan perlu uang secepatnya buat operasi."
Yun menghela nafas panjang, mendengar apa yang mereka bicarakan membuat dadanya terasa sesak. Kasih sayang seorang Ayah yang luar biasa demi anaknya namun apa boleh buat, Yun yang baru berusia dua belas tahun itu tak bisa membantu apa pun karena i atak memiliki uang. Semua keperluannya telah tersedia di rumah dan ia tak memerlukan uang untuk membeli yang lainnya. Langkah kaki itu kini semakin dekat dengan di iringi suara kunci dan pintu terbuka.
"Nak, apa kamu sudah sadar?" katanya lembut, meletakkan piring berisi makanan dan air minum. Laki-laki itu duduk di lantai dan membuka penutup mulut anak laki-laki yang ada di depannya, mengelus pipinya yang terasa dingin saat menyentuh tangan kasarnya.
Yun yang mendapatkan perlakuan lembut itu perlahan membuka kelopak matanya dengan sedikit rasa takut, takut bahwa itu hanya pencitraan dan pengalihan. Apa yang ia lihat, laki-laki yang telah menculiknya itu tersenyum saat mata mereka beradu, senyuman hangat yang sama persis Ayah angkatnya perlihatkan selama ini kepadanya dan tangan kasar itu memberikan kehangatan saat menyentuh pipinya yang terasa dingin.
"Paman bawakan makanan dan minuman, maaf kalau yang paman bawakan kamu gak suka."
Yun mengerjapkan matanya, selama ini ia mendengar berita atau cerita orang, melihat di tv bahwa penculik akan bersikap jahat dan kejam tapi ini beda... Penculiknya baik banget, ngasih makan sama minum plus minta maaf kalau apa yang di kasih gak sesuai sama yang di sukai. "Tidak, ini lebih dari cukup. Terimakasih." Kata Yun memberanikan diri melihat orang yang telah menculiknya itu.
"Makanlah perlahan, paman akan mengembalikanmu ke rumah setelah kamu menghabiskan semuanya."
"Paman?" Katanya menghentikan langkah kaki sang penculik, "Maafkan saya, maaf karena saya tidak bisa memberikan uang yang paman perlukan."
"Tidak pa-pa, seharusnya paman yang meminya maaf karena melibatkanmu atas masalah paman. Makan lah, nanti paman atar pulang."
"Tidak usah, saya bisa pulang sendiri. Kalau paman mengantarkan pulang mungkin akan membahayakan paman." Cepat-cepat Yun melarangnya, kalau sampai itu terjadi maka penjaga rumah mungkin akan melakukan tindakan yang tak ia inginkan.
"Benar, akh... Paman semakin merasa bersalah."
"Tidak paman, seandainya saya terlahir sebagai anak paman saya akan merasa sangat bahagia dan beruntung karena memiliki ayah luar biasa seperti paman. Semoga anak paman bisa selamat dan semoga paman mendapatkan yang yang paman perlukan. Tapi...," Yun menatap ragu,
"Apa boleh saya meminta no telpon atau alamat paman? Mungkin suatu hari saya bisa membatu kesulitan paman?"
Laki-laki bernam Udin itu tersenyum, bertemu dengan anak laki-laki luar biasa itu membuat perasaannya sedikit lega. Meski umurnya belum dewasa namun pikirannya membuat orang yang lebih tua terkagum-kagum, bagaimana bisa anak sekecil ini memiliki jiwa dan hati yang tak di miliki orang dewasa pada umumnya. "Terimakasih atas niat baik yang kamu miliki, tapi paman akan mendapatkan uang dengan cara halal."
"Tidak paman, saya bersungguh-sungguh. Mungkin Ibu masih mempunyai sedikit tabungan dan itu akan membantu meringankan beban paman walau saya tau tak bisa membantu sepenuhnya."
"Datanglah ketempat ini, di depan ada rumah paman. Makanlah...," Udin memilih meninggalkan anak laki-laki itu dan membiarkannya makan, kalau ia masih ada di sini makanan yang di masak istrinya mungkin akan dingin. Ia akan melepaskan anak tersebut begitu saja, apa yang ia lakukan saat ini atas dasar terpaksa. Mendapatkan uang dengan nominal yang sangat banyak membuatnya kalut dan memilih jalan pintas seperti ini dengan melibatkan anak kecil yang tak berdosa bersamanya.
"Paman, terimakasih." Kata Yun dengan mulai memasukkan suap demi suap nasi dengan lauk kare ayam yang masih hangat, perutnya terasa lapar sejak tadi karena pagi tadi Yun bangun terlambat dan melupakan sarapannya.
*******
Yun mengusap peluh yang mengalir di keningnya, cuaca cukup terik siang beranjak sore apa lagi ia harus berjalan kaki cukup jauh dari rumah orang yang telah menculik menuju rumahnya sekarang. Sepanjang perjalanan ia memperhatikan setiap jalan yang ia lalui dengan sangat detail, jalan yang mungkin akan ia kunjungi lagi saat ia akan membujuk Ayah angkatnya untuk memberikan sejumlah nominal yang akan ia berikan pada paman itu. Beruntung ia diberikan minuman dan makanan apa bila merasa haus dan lapar di jalan, seperti saat ini Yun yang merasa penat duduk di bawah pohon rindang dengan mengambil air putih di dalam botol dan meminumnya.
"Kakak?"
Yun menoleh, anak kecil tenga berdiri di sampingnya dengan menatap matanya. Mata beningnya itu mampu membuat Yun terpana, di mata Yun terlihat sangat berbinar dan indah.
"Kakak?"
Lamunan Yun buyar seketika, "Iya?"
"Boleh Eya minta yang kakak makan? Eya lapar...," Mengulurkan tangannya.
Yun melihat ke arah roti yang ada di pangkuannya, menyobek dan memberikan pada tangan mungil yang masih terulur mengunggu untuk di isi.
"Telimakasih...," Katanya tersenyum dan duduk di samping anak laki-laki yang ia temui.
"Diman ayah dan ibumu?"
"Ibu? Ibu sudah di surga dan ayah???" Jawabnya sedikit bingung.
Melihatnya Yun dapat menyimpulkan bahwa anak kecil ini pasti terpisah dari keluarganya. "Mau kakak antar pulang?"
"Iya...,"
"Rumah kamu di mana?"
Kepala kecil itu menggeleng, membuat rambut indahnya yang terurai kesana kemari mengikuti kepalanya. "Gak tau."
Untuk anak seusia ini memang susah untuk di tanya alamat rumah, jarak rumahnya cukup jauh dan akan cukup menyusahkan apa bila ia harus membawanya pulang bersama. Belum lagi bahaya saat di jalan, walau pun Yun telah di bekali ilmu beladiri namun itu hanya bisa untuk melindungi dirinya sendiri. Akh... Paman itu... Yun ingat bahwa rumah paman itu lebih dekat di bandingkan dengan rumahnya.
********
Hi Readers....
Maaf ya kalo telat Up nya, author lagi ada kesibukan pribadi. Soalnya kemarin penyerahan ijasah anak author yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak.
Makasih buat kalian semua yang masih setia buat nunggu Up dan tetep ngikutin novel author. Makasih banyak buat dukungan kalian melalui like, Vote, komentar yang telah kalian lakukan. Dukungan dari kalian semua menjadi sesuatu yang sangat luar biasa buat author sampai author bisa sampai sejauh ini.
Lope lope deh buat kalian semua...
Jangan lupa like dan Vote-nya ya biar author tambah semangat lagi.
Stay at home yach...
Makasih....