
Rasa kagum Rega semakin bertambah, di jaman seperti ini jarang sekali menemui orang yang memilik rasa perduli yang tinggi terhadap sesama seperti Ella.
"Kalo liat atm mampir bentar, uang cash nya udah habis." Mengais sisa uang receh di dalam dompet, kali aja ada yang nyelip gitu.
Rega mengemudikan mobilnya tanpa bicara, dan sesekali melihat pinggiran jalan kali aja ada atm disana.
"Om, minta uangnya dong?" Mengulurkan tangan.
Rega mengambil dompetnya dan menyerahkan gitu aja, gak tau kenapa gak ada perasaan curiga sama sekalk terhadap Ella. "Gak ada recehnya?" Mengobrak-abrik dompet orang seenaknya kayak punya sendiri.
"Gue jarang pakai uang cash, lo minta uang buat apaan?"
"Kasih anak kecil yang ngamen di depan." Menunjuk anak kecil yang berpakaian lusuh.
"Kasih aja seratus ribu."
"Jangan Om, kalo di kasih banyak entar di palak sama preman." Menarik uang Dua puluh ribu dan mengembalikan dompet itu lagi, Ella membuka bungkusan plastik dan mengeluarkan beberapa buah serta nasi.
"Selain duit yang mereka perlu itu makanan."
Memasukkan selembar uang pecah dua puluh ribu kedalam plastik itu.
Tangannya melambai ke arah anak kecil yang lagi ngamen. Pakaiannya yang lusuh dan dekil membuat beberapa orang merasa jijik harus berdekatan dengannya.
"Kak Ella?" Katanya sumringah saat melihat siapa yang memanggilnya, ternyata malaikat penolong.
"Nih, bagi sama adik kamu." Memberikan bungkusan dan mengelus rambut lusuh itu.
"Makasih banyak ya kak?" Mencium tangan penolongnya dan berlari menjauh dari hingar bingar lalu lintas.
Ella mengangguk, bukannya kenal lagi bahkan ia sering mengunjungi rumah Kirana, gadis pengamen itu. "Namanya Kirana, kalo gak salah umurnya baru 10 tahun. Dia hebat lo Om, kerja sendiri buat hidupin adiknya juga. Padahal kalo pagi harus berangkat sekolah." Ceritanya antusias. "Ketemu gak sengaja, dia bantuin Ella yang ban motornya lagi kempes kena paku. Mau aja bantu ngantar Ella sampai tukang tambal ban. Karena gak enak Ella kasih upah karena udah nemenin sampek selesai, tapi dianya nolak."
"Kenapa?"
"Katanya uang itu gak bisa di terima, alasannya bikin Ella terharu. Dia gak mau di kasihani atau di anggap pengemis. Jadi Ella antar sampai ke rumah. Ternyata dia cuma tinggal berdua sama adiknya yang umurnya 6 tahun."
"Orang tua mereka?"
Ella menggeleng, raut wajahnya berubah sedih saat mengingat bagaimana kondisi rumah Kirana yang tak layak huni itu. "Katanya kerja di luar kota, mereka tega banget ninggalin anak mereka yang masih kecil buat hidup sendirian." Matanya berkaca-kaca mengingat betapa beruntungnya hidup yang jalani saat ini tanpa kekurangan apa pun.
"Pernah Ella tawarin buat tinggal di rumah Ella, tapi Kirana menolak. Kalau suatu hari orang tuanya pulang dan mereka gak ada di rumah pasti mereka bakal bingung." menarik nafas panjang. "Mereka anak yang baik, kenapa orang tua mereka sampai setega itu."
Berusaha menahan air mata.
Rega melirik ke samping karena suara Ella berubah sesenggukan dan bergetar.
Ada tetes bening di sudut matanya yang merah.
"Kita kadang gak menyadari sesuatu sebelum kehilangan."
"Om benar." Menyeka air matanya.
"Pernah Ella kasih duit yang agak banyakan, buat jaga-jaga kalau mereka lagi perlu mendesak. Gak tau nya duit yang Ella kasih di rampas sama preman, sejak saat itu Ella gak pernah lagi ngasih, cuma seperlunya buat mereka jajan. Tiap hari Ella kirim makanan dan biaya sekolah Ella tanggung." Katanya sedih mengingat betapa kejam kehidupan yang meraka jalani.