
Johan yang udah gak sabar nunggu anak kesayangannya pulang dari tadi hilir mudik di teras, sesekali melihat ke arah jalan kali aja ada mobil yang belok ke arah rumahnya. Beberapa minggu ini ia sangat sibuk dan membiarkan Ella di rumah sendiri, beruntung Sonia selalu melaporkan apa yang terjadi di rumah, bahkan tentang masalah Rega.
Sejak awal Johan ingin mengatakan bahwa Rega adalah anak dari sahabatnya yang ingin ia ambil sebagai menantu. Takdir sepertinya berpihak padanya, tanpa ada campur tangan mereka saling kenal dan dekat secara alami. Tentu aja Johan merasa sangat senang, semua berjalan seperti yang ia inginkan.
Papa ganteng itu tersenyum sumringah saat mobil mewah hitam memasuki pekarangan rumahnya, langkah kakinya begitu ringan melihat putri kecilnya itu membuka pintu.
"Papa..."
Ella menghambur kedalam pelukan papanya yang rasanya udah kangen banget.
"Papa ninggalin Ella terus?" Katanya merajuk.
"Papa kerja sayang...." Membelai dan mencium kepala Ella penuh kasih sayang.
"Itu?" Johan pura-pura gak tau alias gak kenal, biar aja hubungan mereka berjalan dengan sendirinya.
"Dia...."
"Calon mantu Om." Kata Rega yang nyambung ucapan Ella, tentu aja tu anak gak bakalan ngenalin sama papanya calon suaminya jadi mending ngenalin sendiri aja dengan mengulurkan tangan.
Johan menyambutnya dengan tersenyum hangat, "Wah anak Papa udah gede, udah punya calon." Godanya.
"Enggak kok Pa, Om Rega aja yang bohong. Kapan Ella bilang mau jadi istrinya?" Kata Ella sewot yang tiba-tiba aja Rega ngenalin sebagai calon suaminya.
"Hah? Lo gak ngakui juga? Padahal kita udah ti...."
Ella buru-buru membekap mulut Rega yang kalo keceplosan bakal gawat darurat siaga satu, tinggi tubuhnya yang jauh beda sama Rega bikin Ella harus berjinjit dan menginjak kaki Rega biar tu mulut diem.
"Ella, gak sopan kayak gitu." Tegur Johan yang melihat tingkah laku anaknya.
"Gak apa-apa Om, bahkan yang lebih parah dari ini udah biasa asalkan anak Om senang."
Rega melotot ke arah Ella yang udah sewot sendiri buat ngasih kode gak ngomong apa-apa.
"Ya udah, ayo masuk dulu. Kita ngomong di dalam." Johan mendahului masuk ke dalam rumah yang di susul Ella dan Rega di belakangnya.
"Om ini, cowok tapi mulutnya udah kayak cewek." Bisik Ella.
"Gue ngomong apa adanya, kan belajar dari elo."
Ella menyikut perut Rega yang bikin cowok jangkung itu meringis menahan rasa nyeri dan berlari kecil menyusul Papanya, menggelayut manja di tangan lelaki yang menjadi cinta pertama dan selamanya itu.
Sonia yang melihat kedatangan Ella buru-buru melepas celemek dan membasuh tanggannya.
"Gue kangen banget sama elo." Memeluk saudara tirinya itu dengan suka cita. "Gak ada lo gak seru." Katanya lagi melepaskan pelukannya.
"Emang kenapa?"
"Gak ada yang bikin Mommy darah tinggi." Bisiknya di barengi dengan tawa mereka yang meledak.
"Gue udah pinter masak, gue minta sama papa buat kursus." Katanya bangga dengan apa yang ia lakukan.
"Wah hebat dong." Bertepuk tangan buat keberhasilan Sonia.
"Akhirnya ada yang gantiin gue masak."
"Enak aja, koki nya masih tetap elo. Gue asistennya doang." Sonia yang ngeliat Rega lagi tegang banget di ruang tamu menyenggol Ella buat liat juga. "Muka nya udah kayak terdakwa utama."
Ella menikmati wajah Rega yang tegang itu, duduknya tegak banget. Keliatan kalo lagi gugup banget.
"Calon suami lo tuh lagi di sidang sama Papa. lulus apa enggaknya lagi."
Ella menepuk bahu Sonia, "Nikmatin aja mukanya yang kayak gitu. Peristiwa langka."
Sonia mengangguk setuju, "Anggap aja nonton bioskop gratis."
************
Ella menghampiri Rega yang dari tadi bengong, entah apa yang mereka bicarakan sampai bikin Rega kayak gitu. Bahkan sampai Ella duduk di sampingnya aja Rega gak sadar, masih sama pikirannya sendiri.
"Om?"
Rega menghembuskan nafas, melihat Ella yang membawakan minuman. Langsung aja di samber sampek gak bersisa. "Rasanya gue kena serangan jantung."
"Emang kalian ngomong apaan?"
"Omongan antar lelaki."
"Kayak nya kok serem banget."
"Iya, gue galau gara-gara lo."
"Malah Ella yang di salahin." Protesnya yang gak tau duduk perkara jadi korban.
"Kalo gue gak cinta gak kayak gini. Papa lo ngasih gue pilihan yang bikin gue pusing."
"Emang Papa ngomong apa?" Ella merasa penasaran juga.
"Papa lo minta gue buat...."
Ella mengerjapkan matanya cepat gak sabar, "Gak lucu ah, bikin penasaran."
Rega menatap mata Ella yang udah gak sabaran. "Kalo kita gak bisa jalan bareng gimana?"
"Maksudnya apaan? Bikin tegang aja."
"Kalo Papa lo gak nyetujui hubungan kita gimana?"
Ella terlihat sangat lega, "Ella dukung keputusan Papa."
"Kok gitu La?"
"Kan Ella anak yang berbakti."
Rega cuma nyengir dengernya, ternyata perasaan Ella itu masih kayak angin yang gak bisa di pegang. Kalo gak gerak cepat bakal ilang beneran di bawa yang lain. "Tapi sayangnya Papa lo kasih lampu ijo." Menaikkan sebelah alisnya cepat, menantang Ella.
"Terus?"
"Siap-siap aja lo gue lamar." Tersungging penuh kemenangan yang bertolak belakang dengan wajah Ella yang gak terima. Balas dendam sama yang tadi di lakuin, emang cuma Ella yang bisa akting buat ngerjain?
Sekarang kan satu sama