
Devi yang merasakan hatinya hancur berkeping-keping itu memilih untuk beristirahat di kamar di temani Sonia. Matanya yang bengkak karena nangis melulu dari tadi gak berhenti-henti itu bikin wanita cantik itu merasa ngantuk dan lelah.
"Gimana Mommy lo?" Tanya Ella saat Sonia keluar dari kamar, wajahnya tampak sedih dan lelah.
"Udah tidur, tadi banjir melulu." Tersenyum masam.
Ella mengeluarkan kartu Atm dari dompetnya, meletakkannya di tangan Sonia.
Sonia yang bingung bergantian memandangi Atm itu dan Ella bergantian. "Ini, buat apaan La?"
"Itu isinya gak seberapa banyak, tapi cukuplah buat liburan kalian berdua. Ajak Mommy lo buat liburan, bikin dia seneng ngelupain kejadian kemarin."
"Tapi, ini kan tabungan lo La. Gue gak bisa, lo pernah bilang kalo bakal lo gunain untuk pembebasan lahan rumah anak yatim piatu lo." Menyodorkan nya lagi untuk mengembalikannya lagi hingga terjadi aksi sosor menyosor dan dorong mendorong.
"Awalnya sih gitu niat gue, cuma Mommy lo lebih penting saat ini. Entar gue minta bantuan sama papa atau kak Willy, gak mungkin mereka gak bantu gue buat ngelakuinnya. Gue yakin bagi mereka itu hal yang mudah." Balik lagi tu kartu di tangan Sonia.
"La, kenapa lo ngelakuin ini? Padahal lo tau kalo Mommy itu gak suka sama lo, bahkan Mommy ngelakuin hal yang memurut gue gak pantas sama lo." Merasa terharu dengan apa yang Ella lakukan. Sonia tahu Ella menabung sekian lama untuk membebaskan lahan rumah anak yatim piatu yang ia kelola selama ini dari hasil jerih payahnya sendiri, mengumpulkan pundi-pundi rupiah saat ia bekerja dengan Rega dan menyisihkan pemberian Papa dari uang sakunya.
Alasan Ella hidup sehemat mungkin karena uang itu ia gunakan untuk donasi anak yatim piatu. "Karena kalian keluarga gue, lo saudara gue, dan Mommy lo mama gue. Gue tau Mommy lo gak pernah nganggap gue anak tapi gue berharap dia bisa memberikan kasih sayang yang sama buat gue kayak yang dia kasih sama kalian berdua, gue sayang Son sama Mommy lo." Katanya dengan mata berkaca-kaca.
Bagaimana pun sikap Devi terhadapnya namun ia bersikap sangat baik terhadap papanya, memberikan perhatian dan merawat papanya seperti seorang istri pada umumnya.
Ella dapat melihat Devi berusaha keras selama ini menjadi istri yang baik untuk Papanya.
Devi yang merasa tenggorokannya kering itu bangun untuk mengambil air minum di dapur, saat membuka pintu ia melihat Sonia dan Ella berbicara. Devi mengurungkan niatnya dan mengintip dari balik pintu untk mendengar apa yang mereka bicarakan. Tanpa terasa air mata yang tadinya kering kini mengalir lagi mendengar apa yang di katakan anak tirinya yang selama ini ia perlakukan sebagai musuh tersebut. Devi tak pernah menyangka Ella akan mengorbankan keinginannya demi dirinya. Selama ini Devi mengira sikap Ella yang hemat itu tindakan yang sengaja ia lakulan untuk mempersulitnya di rumah ini, ternyata ia salah. Niatnya sangat mulia bahkan tak pernah Devi pikirkan sebelumnya.
Devi tak bisa membendung perasaannya lagi dengan ada di balik pintu, ia keluar dan ingin memeluk mereka berdua. Dua orang putrinya yang sangat luar biasa.
Sonya, anak yang ia sangat ia sayangi dan ia manjakan dengan mudahnya menyakiti dan meninggalkannya begitu aja. Devi menyadari, perbedaan kasih sayang ia berikan terhadap Sonya dan Sonia. Kasih sayang itu di balas dengan sakit hati yang luar biasa.
"Mommy? bukannya Mommy masih belum sehat? Mommy mau kemana?" Sonia yang menyadari Mommy nya berdiri di depannya dengan air mata berlinang melepaskan pelukannya.
"Sudah lah Mommy, gak ada gunanya Mommy nangis. Cuma buang-buang tenaga karena Sonya gak bakal kembali." Menghampiri Mommy itu dan merangkulnya.
Hanya Mommy keluarga yang Sonia punya di dunia ini, ia bertekad akan membahagiakannya bagaimana pun caranya untuk melupakan Sonya.
Devi melepaskan pelukan Sonia, berjalan pelan ke arah Ella yang masih berdiri mematung. Perasaan canggung di antara mereka berdua sangat terlihat, selama ini hubungan mereka berdua terjalin tak baik semua karena Devi yang tak menyukai anak dari suaminya itu dari awal. "Sayang, maafkan semua yang Mommy lakukan selama ini." Katanya dengan bersimpuh di kaki Ella.
Ella yang kaget dengan apa yang di lakukan Devi seketika berjongkok, mengangkatnya untuk berdiri. "Tante, apa yang tante lakukan. Cepat berdiri tante." Katanya kikuk.
"Enggak sayang, kesalahan yang Mommy lakukan terlalu banyak. Mommy gak minta kamu memafkan, tapi setidaknya Mommy meminta maaf."
Ella terduduk, menatap wajahnya dan melihat ketulusan disana. Apa pun itu, Ella tak pernah dendam sama sekali. "Tante, Ella udah maafin tante dari dulu. Ella gak pernah dendam. Bahkan Ella sangat berterimakasih karena tante udah ngerawat Papa dengan sangat baik, jadi istri yang baik buat Papa Ella. itu udah lebih dari cukup."
Devi mengangkat wajahnya, selama ini ia telah salah menilai. Matanya buta untuk melihat berlian di depan matanya yang telah ia sia-siakan. "Terimakasih, terimakasih..." Memeluk Ella dan menciuminya.