Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Kejutan Ulang Tahun


"Selamat ulang tahun.... Selamat ulang tahun.... Selamat ulang tahun.... Selamat ulang tahun...." Beberapa pelayan datang menyanyikan lagu ulang tahun dengan membawa kue ulang tahun. Semua tamu yang hadir malam ini ikut menyanyikannya bersama.


Ella menutup mulutnya dengan kedua tanggannya, tak percaya mendapatkan kejutan yang sangat manis dari Papanya malam ini. Pantas Papa menyuruhnya dandan cantik dan mengajaknya makan malam bersama. Sebenarnya, dia sendiri lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.


"Selamat ulang tahun sayang, tujuh belas tahun udah bersama Papa. Terimakasih buat tujuh belas tahun yang luar biasa ini." Mengecup kening Ella dengan lembut dan penuh kasih sayang serta memeluknya.


"Makasih Papa, Ella senang bisa jadi anak Papa dan bukan orang lain." Membalas pelukan Papa dengan mata berkaca-kaca haru.


"Maunya Papa bikin pesta yang meriah karena Papa tau kamu pasti menolak jadi Papa bikin yang sederhana."


"Bagi Ella ini luar biasa, Ella cuma mau ngerayainnya sama Papa. Gak perlu pesta yang mewah atau apa lah itu."



Kue tart berdekor bunga mawar itu sangat cantik, jadi gak tega buat motong atau makannya. Maunya diliati aja tapi gak mungkin makanan kalo gak di makan. Gak keliatan kayak kue, malah persis banget sama bunga mawar aslinya yang di kasih pot.


"Papa tau aja kesukaan Ella."


"Yang besarin kamu itu Papa, masak Papa gak tau kesukaan anaknya?" Johan meminta koki profesional untuk membuatkan kue tart berbentuk bunga mawar karena Ella sangat menyukainya. Ia telah menyiapkan kejutan lainnya untuk anak semata wayangnya tersebut yang akan membuatnya tersenyum sepanjang malam ini, seandainya istrinya masih hidup akan lebih bahagia lagi hadir bersama merayakan ulang tahun buah hati mereka.


Pelayan muda yang tak jauh terpaut umurnya dari Ella datang menghampiri dengan membawa buket bunga mawar besar.


Ia memberikannya pada Ella dengan tersenyum semanis mungkin. "Selamat ulang tahun Nona Ella." Katanya menyerahkan buket mawar tersebut.



"Buat aku?" Serasa mimpi menerimanya, tak percaya.


"Seratus tangkai bunga mawar merah dari Tuan yang duduk di depan anda." Katanya sopan menunjuk ke arah Johan yang duduk dengan santai dan tersenyum.


"Papa...." Ella tak dapat membendung air matanya yang kini keluar dan menghambur kepelukannya.


"Jangan nangis, riasan kamu luntur loh." melepaskan pelukannya dan menyapu air mata Ella yang mengalir di pipinya. "Kalo luntur nanti jadi zombie." Godanya lagi.


"Apaan sih Papa, gak lucu!" Tertawa kesal mendengar omongan Papanya itu.


"Cuma mawar gini aja masak kamu nangis?"


"Ella nangisin uang Papa yang mubazir buat belinya."


Johan menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya. "Nanti Papa belikan sepuluh buket yang lebih besar lagi."


"Jangan Pa, sayang uangnya.... " Katanya tersenyum dan menghapus air matanya.


"Papa masih punya hadiah lagi buat kamu." Merogoh saku jas mencari sesuatu disana dan tak menemukannya. "Papa yakin tadi sudah papa bawa...." Masih mencari dari satu saku ke saku yang lain.


"Emang Papa lagi cari apa?" Bingung melihat Papanya yang kalang kabut. "Jangan-jangan cuma perasaan papa aja?"


Johan merasa ada sesuatu yang menyentuh jarinya, ia menggenggam dan meminta Ella memberikan satu tangannya "Ulurkan tangan."


Ella mengulurkan tangannya bingung, apa yang akan papa berikan padanya. Saat membuka Ella melihat sebuah kalung berliontin berlian yang sangat cantik. Kilau berlian pada liontin itu terlihat saat cahaya lampu menerpanya.



"Cantik banget...." Katanya berbinar-binar.


"Papa bener-bener tau selera Ella." Katanya lagi dengan mendaratkan ciuman di pipi Papanya.


"Jadilah berlian Papa." Mencium kening Ella dan memakaikan kalung tersebut.