Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Perasaan Orang Tua


Jangan lupa mampir ke novel autor yang lainnya yach...


Ada beberapa novel yang author tulis, ada yang udah tamat, yang gantung, dan yang masih jalan.


kalian buka aja profil author buat nemuin novel-novel yang author tulis. Tapi sempat juga biat mampir ke Labirin Cinta, novel yang khusus ceritain percintaan Yun, jadi yang fans sama abang Yun sang sekertaris tampan cus aja kepoin ke sana yach....


Labirin Cinta juga ganti cover depan ya say... Covernya abang Yun yang gantengnya bikin diabetes akut loh.


****


Azhari merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya, dua putra yang sangat ia sayangi itu kali ini membuatnya gak tenang. Gimana mau tenang kalo udah lama banget gak ketemu mereka berdua yang kalo di suruh buat ke rumah alasannya ada aja, yang ini lah, yang itu lah pokoknya tuh ada aja alasan mereka padahal dulunya gak kayak gitu tapi akhir-akhir ini kebanyakan alasan dan kebanyakan drama. Kalo Yun emang setiap hari masih sempat kasih kabar walau cuma lewat video call atau lewat telpon tapi Rega sama sekali gak ada kabar beritanya. Bahkan saat ia nanya sama Yun jawaban yang di kasih sama Yun itu gak memuaskan dan ngerasa ada yang janggal dari cara dia ngomong. Bagaimana pun Azhari adalah orang yang melahirkan dan membesarkan Yun, jadi ia tau dengan pasti saat di mana Yun berkata jujur dan saat Yun berbohong dan ia merasa bahwa ada sesuatu yang sedang putranya itu tutupi darinya.


"Nyonya?"


Nenek duduk di samping wanita yang telah ia anggap sebagai putrinya sendiri tersebut, walau mereka tak ada hubungan darah sama sekali pun namun melalui sosok keibuan yang Azhari berikan mampu membesarkan dan membuat cucu kesayangannya menjadi orang hebat seperti sekarang ini. Putranya sangat beruntung telah menemukan seorang wanita yang mampu memberikan kasih sayang serta mendidik Rega dengan sangat baik tanpa pilih kasih dengan anak kandungnya sendiri. "Bukannya aku selalu bilang jangan panggil nyonya, panggil Ibu. Kamu ini gak mau nurut sama orang tua." Kata Nenek dengan tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang masih kuat walau pun telah berusia cukup tua.


"Maaf nyonya, saya belum terbiasa dan lagi pula saya merasa tidak cocok memanggil anda dengan sebutan Ibu mengingat dari mana saya berasal." Jawab Azhari yang selalu merasa rendah dan malu terhadap keluarga ini, keluarga yang memberikan kehidupan layak kepada dirinya serta anak semata wayangnya. Bahkan Yun mendapatkan nama serta kedudukan yang membuat Azhari tak habis-habisnya mengucapkan rasa syukur dan terimakasih selama hidupnya.


"Azhari, kamu kira nenek tua ini mempermasalahkan dari mana kamu berasal? Tidak..., Bahkan Aku selalu merasa beruntung Mahendra menemukan dan membawamu pulang ke rumah, bersedia memberikan cinta, kasih sayang kepada cucuku. Itu adalah sesuatu yang sangat aku syukuri sebagai seorang nenek." Nenek memberikan jeda, meraih tangan wanita yang telah membesarkan cucu semata wayangnya itu dengan mengusapnya lembut. "Jadi, jangan pikirkan dari mana dirimu berasal karena bagi kami semua kamu adalah Ibu Rega dan juga anak perempuanku. Rega sangat beruntung mempunyai seorang Ibu seperti dirimu dan saudara seperti Yun."


"Nyonya...," Azhari kehilangan kata-katanya, keluarga ini memang sangat luar biasa. Keluarga yang tak pernah mempermasalahkan dari mana dia berasal bahkan dengan tangan terbuka merangkul dan membawa masuk ke dalam rumah yang hangat dengan memberikan perlindungan penuh serta menjamin kehidupannya beserta Yun tanpa meminta balasan apa pun, seumur hidup Azhari tak mampu membalas kebaikan yang telah ia terima.


"Ibu, bukan nyonya." Kata Nenek dengan menghapus air mata wanita cantik di depannya itu, bukan hanya cantik parasnya namun juga cantik hatinya. Bukan hanya sekali atau dua kali Nenek meminta Mahendra menikahi Azhari, melihat bahwa ia adalah wanita yang sangat baik. Membesarkan Rega layaknya seperti putra sendiri, memberikan kasih sayang dengan sepenuh hati namun sekalipun tak pernah memanjakannya. Azhari mendidik Rega dengan disiplin yang kuat namun ia tak melupakan kasih sayang di dalamnya. Nenek tersentuh dengan apa yang ia lakukan dan menginginkan wanita rendah hati itu untuk menjadi menantunya sebagai pengganti Ibu Rega, namun baik Mahendra mau pun Azhari sama-sama menolak dengan alasan bahwa mereka adalah saudara, seorang saudara tak akan bisa menikahi saudara lainnya yang akhirnya membuat Nenek mengalah dan menghormati keputusan mereka.


"Tapi Nyonya...,"


"Tidak, mulai saat dan untuk seterusnya panggil dengan Ibu." Nenek menggenggam tangan Azhari dengan lembut, sudah sangat lama ia menginginkan kebersamaan seperti ini. Menua seorang diri rasanya itu sangat tidak nyaman, merasa kesepian san hanya tinggal sendiri di rumah sebesar ini.


"Baik ibu...,"


"Itu kan lebih enak di dengar anakku...,"


"Nyonya, ini teh dan cemilannya." Meletakkan minuman dan beberapa cemilan di atas meja. "Bagaimana kabar anda nyonya Azhari?" Sapa Muti ramah saat ia telah selesai meletakkan semua yang ia bawa, walau bukan masuk dalam keluarga besar tuannya namun kedudukan Nyonya Azhari sangatlah penting dalam keluarga ini. Meski pun tidak mengantongi status sebagai nyonya utama dalam rumah ini namun semua orang tau bahwa posisinya cukup kuat dan berpengaruh. Dua orang pangeran di rumah ini sangat menghormati wanita cantik yang lemah lembut tersebut hingga semua orang juga melakukan hal yang sama.


"Alhamdulillah..., Bagaimana kabar kamu Muti? Lama tak jumpa dan saya lihat kamu semakin cantik."


Mendapat pujian dari orang yang ia idolakan membuat wajahnya bersemu merah. "Baik nyonya, terimakasih atas pujian anda dan anda juga terlihat lebih segar dan cantik." Ucapnya dengan menundukkan wajah, beginilah sosok nyonya yang ramah kepada siapa pun hingga semua orang menyukai dan menghormatinya.


"Ha ha ha ha ha...," Nenek gak bisa buat menahan tawanya, "Azhari, lihatlah wajah merahnya yanf mendapatkan pujianmu dan orang tua ini juga merasa iri karena kamu pilih-pilih dalam memuji."


"Ibu...," Merasa gak enak dengernya, "Ibu adalah wanita cantik dan kuat, saya sangat iri melihat anda bisa sesegar ini dalam rentan usia yang sudah cukup tua dan saya berharap bisa seperti anda kelak."


"Sudah lah, orang tua ini hanya mendapatkan pujian saat menanyakannya."


Muti yang merasa ikut bersalah itu tanpa sadar duduk di atas rumput yang terhampar di atas atas. "Nyonya, bukan begitu..., Bagaimana pun yang di katakan nyonya Azhari memang benar. Nyonya masih bisa melihat cucu dan sekarang anda akan mendapatkan cicit, itu adalah sesuati hal yang akan membuat iri semua orang."


"Aish... Kalian berdua, ternyata kalian bersekongkol untuk memuji nenek tua ini hingga membuatnya diabetes?"


"Ibu, bukan begitu...."


"Sudah lah, apa pun yang kalian katakan anggap saya iti adalah sebuah doa. Muti, tolong siapkan makan siang untuk kami. Bilang sama mereka siapkan makan siang yang enak di halaman belakang untuk kita semua."


"Kita semua?" Tanya Muti yang sedikit bingung dengan perintah nyonya utama rumah ini, kata semua yang ia tangkap itu apakah yang du maksud adalah semua orang yang berada di rumah atau hanya untuk mereka berdua.


"Iya kita semua, semua orang yang ada di rumah. Sudah lama kita tidak makan bersama dan rasanya nenek kangen dengan suasana seperti itu." Katanya bersemangat, biasanya makan sendiri di meja makan yang besar dan kali ini nenek menginginkan makan besar bersama orang-orang yang selalu bersamanya.


"Baik nyonya, saya akan menyiapkannya. Apa anda ingin yang lainnya???"


"Tidak, terimakasih."


"Bagaimana kabar Yun dan Rega?" Tanya Nenek yang penasaran mengenai dua cucu lelaki yang sama sekali gak ada muncul buat berkunjung dan nengok nenek mereka beberapa minggu ini, biasanya mereka secara bergantian datang ke rumah walau hanya sebentar.


Jadi mereka bener-bener gak ada pulang ke rumah? Kemana sebenarnya mereka berdua pergi? Bahkan Ella gak ada kabarnya juga.


"Nak, apa ada yang kamu tutupi?" Tanya Nenek cemas melihat Azhari yang hanya diam sesaat tanpa menjawab pertanyaannya.


"Tidak Bu, saya juga belum bertemu dengan mereka berdua akhir-akhir ini." Jawabnya jujur. "Yun sesekali ada menghubungi dengan melakukan video call atau telpon, tapi Rega juga istrinya....," Kalau Nenek gak tau kabar mereka sebenarnya apa yang terjadi?


"Kamu serius? Selama beberapa waktu Rega dan istrinya itu gak pernah pulang ke rumah, tapi pas kemarin aku telpon Rega ternyata Ella yang nerima dan katanya mereka ada di luar negeri untuk perjalanan bisnis." Kata Nenek yang juga heran cucu beserta cucu menantunya itu hilang tanpa kabar yang jelas, "Kamu udah nanya sama Yun?"


"Sudah, dan jawaban Yun sama kalau Rega serta istrinya melakukan perjalanan bisnis." Walau Yun ngomong kayak gitu tapi Azhari gak yakin, saat mengatakannya Yun terdengar ragu dan seperti ada yang di sembunyikan. Yang menjadi permasalahan kali ini adalah usia kehamilan menantunya yang kini memasuki usia yang perlu perhatian lebih, apa lagi dalam keadaan hamil anak kembar yang harus extra perhatian dan itu yang membuat Azhari merasa khawatir. Seandainya bisa ia akan tinggal bersama anak dan menantunya itu dalam satu rumah agar bisa memantau dan menemani menantunya saat Rega tidak ada di rumah.


"Apa?? Bagaimana bisa Rega membawa istrinya untuk bisnis dalam keadaam hamil besar." Nenek menggelengkan kepala, gak ngerti sama pikiran mereka berdua yang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan istri hamil. Kalo ada apa-apa di jalan bakal nyesel, apa lagi ini adalah kehamilan pertama Ella dan tentu saja resiko lebih besar karena saat ini ia mengandung anak kembar di dalam rahimnya yang kelak akan menjadi penerus keluarga menggantikan Rega. "Nanti aku yang bakal ngomong sama Rega untuk cepat pulang, kalau perlu nanti kita jemput Ella menggunakan jet pribadi. Kalau ada apa-apa dengan cicitku bagaimana bisa ini..." Langsung panik Nenek pas bayangin kalau sampek terjadi hal-hal yang gak di inginkan, anak yang ada di dalam kandungan Ella adalah anak yang selama ini di nantikan keluarga besar Mahendra.


"Ibu....," Azhari menyentuh tangan Nenek untuk menenangkannya, apa yang Nenek khawatirkan sebenarnya ia merasakan. Takut kenapa-kenapa dengan cucunya yang belum lahir itu, apa lagi semua orang sangat menantikan kehadirannya. "Nanti saya akan bicarakan dengan Yun, jadi Ibu tenang saja" Walau ngomong kayal gitu padahal kepikiran juga.


"Baik, nanti aku yang bakal nemuin di kantor buat nanya langsung. Kalo gak ke kantor anak nakal itu nanti kabur lagi." Kata Nenek yang geram, soal kabur-laburan Rega dan Yun emang paling jago. "Punya dua cucu aja nakalnya bikin kepala pusing, untung Rega punya istri yang manis dan penurut kalo gak bisa-bisa darah tinggi." Sambil memijit tengkuknya yang terasa kaku.


Azhari hanya tersenyum menanggapinya, selama ini Nenek tidak pernah membedakan kasih sayang dan perhatian yang beliau berikan baik pada Rega mau pun Yun. Memperlakukan Yun seperti cucu kandungnya sendiri dan tak ada bedanya, kalau pun menyebut dengan anak nakal itu adalah wajar karena Yun mau pun Rega selalu melarikan diri saat Nenek mengatur perjodohan untuk mereka berdua atua kalau pun menyetujuinya maka mereka mempunyai rencana yang akan menggagalkannya.


"Sudah lah Bu, jangan terlalu di pikirkan. Sebentar lagi kita akan mendapatkan dua malaikat kecil yang akan kita besarkan bersama."


"Tentu, aku akan memaksa Rega untuk tinggal di rumah ini apa pun alasannya dan bagaimana pun caranya mereka harus tinggal di rumah ini dan kamu juga harus berkemas dan tinggal di rumah ini untuk bersama-sama membesarkan anak Rega. Rasanya sudah gak sabar menunggu, dan lebih lagi suruh Yun untuk mendapatkan istri dan memiliki anak."


"Seandainya bisa sudah dari dulu, Yun selalu menolak dengan alasan akan mengurus perusahaan terlebih dahulu."


"Anak bandel itu, sampai kapan mau menunda? Kalau perusahaan di jadikan alasan itu gak akan ada habis-habisnya. Lagi pula perusahaan bukannya di pegang Rega dan Yun? Mereka bisa melakukannya bersama-sama untuk mengurus segala macam urusan dan bukannya membebankan pada diri sendiri." Susah punya dua cucu yang sama-sama maniak kerja dan untungnya satu cucu lelaki nenek sudah sadar dan menikah, kalau mereka berdua sama kayak gitu sampai mati gak bakal bisa punya cicit. Kali ini Nenek harus bisa membuat Yun menikah dalam waktu dekat menyusul Rega dan tentu saja segudang ide untuk menjodohkan dan mencari jodoh untuk Yun telah terlintas di kepala beliau, kali ini Nenek akan memastikan bahwa Yun gak akan kabur lagi seperti yang sudah-sudah dan Nenek akan memastikannya sendiri mengenai keberhasilan rencananya secara akurat.


"Ibu kenapa?" Tanya Azhari yang melihat Nenek tersenyum sendiri.


"Ibu akan mencarikan dan membawakan jodoh untuk Yun biar anak nakal itu segera menyusul Rega dan punya anak, senangnya membayangkan kita akan tinggal bersama di rumah ini dengan tangisan juga canda tawa anak cucuku." Ujar Nenek dengan raut wajah bahagia membayangkan rumah yang sepi kayak kuburan bakal rame kayak pasar malam yang gak bakal merasa kesepian dan merasa sendiri di dunia ini. Lagi pula buat apa mempunyai rumah sebesar ini kalau hanya untuk tinggal. seorang diri di sana.


"Tentu saja dan untuk itu Ibu harus menjaga kesehatan karena pr kita akan semakin banyak." Azhari tersenyum ke arah Nenek, "Ibu, saya janji nanti kalau Ella telah melahirkan akan pindah dan membesarkan anak-anak mereka di rumah ini bersama-sama."


"Kenapa menunggu sampai nanti? Sekarang kemasi barang-barangmu dan bawa ke sini. Kita akan berkebun bersama dan menghabiskan waktu bersama. Orang tua sepertiku merasa sangat kesepian harus tinggal sendiri."


******


Hi Readers yang budiman...


Gimana nih kabar kalian semua?


Semoga baik-baik aja ya...


Amin...


Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu Up dan tetep setia baca novel yang author tulis dan episodenya itu udah banyak banget. Jujur aja author sendiri sampek lupa apa yang author tulis di awal-awal Bab kalo gak balik buat baca satu persatu bahkan kadang harus bolak-balik buat cari nama-nama pemeran viguran di sini yang authornya lupa pakek nama siapa 😅 Belum tua udah pikun kek gini yach...


Makin ke sini cari dan ngumpulin dan cari poinnya makin susah yang hasilnya gak bisa bua vote 😥😥😥


Makasih buat kalian yang udah setia ninggalin jejak berupa like, komentar serta votenya di novel author.


Lope lope deh buat kalian semua...


Dukungan kalian itu bagaikan es kelapa muda di tengah hari yang terik, bayangin aja gimana rasanya yah....


Makasih....