
Lagi-lagi....
Mata Rega tertuju pada gadis mungil yang kini berada dalam butik brand ternama, yang membuatnya tercengang kini ia berganti pasangan yang lebih muda dari yang ia lihat terakhir kali. Bagaimana mungkin gadis yang terlihat begitu polos mampu menjadi gadis gurita yang menempel pada siapa pun dan dimana pun. Walau tak semesra tadi malam, namun tatapan mata laki-laki disampingnya memancarkan cinta yang membuat orang lain silau di buatnya.
"Tuan?" Tegur sekertaris Yun saat mendapati bos nya melamun dan menghentikan langkahnya cukup lama.
Rega tersadar saat menghentikan rombongannya tersebut di tengah jalan. Tanpa bicara ia melangkahkan kaki dan kembali menuju hotel pada lantai atas pusat perbelanjaan itu untuk mengadakan meeting.
"Nih." Vino menyodorkan kantong plastik berisi sepatu yang ia beli pada Ella saat penjaga butik itu selesai mengemas dan membungkusnya.
"Tega banget sih Vin nyuruh gue bawa barang belanjaan lo, biasa nya laki yang bawa punya cewek." Mendorong plastik itu.
"Kan muka lo cocok buat jadi kuli panggul." Godanya.
"Secantik gue jadi kuli panggul?" Gak terima dengan apa yang di katakan Vino.
"Gue ngomong apa adanya." Jawabnya santai tak melihat Ella yang udah ngeluarin tanduk siap menerkamnya dan mencabik-cabiknya.
"Gue pecat lo jadi temen gue." Katanya ketus dan membuang muka.
"Sabar inces.... Kalo marah lo kayak gozilla." Tertawa lepas melihat Ella yang melotot siap melahapnya hidup-hidup tanpa ampun.
"Selamat ulang tahun." Bisiknya tepat di telinga Ella dan melayangkan ciuman kecil di pipi kanannya.
"Hah? " Katanya tak percaya dan segera tersadar dengan apa yang Vino lakukan, bogem mentah mendarat di perut Vino tanpa ampun membuatnya meringis, mengaduh menahan rasa sakit.
"Makanya jangan cari kesempatan." Katanya nyolot dan melotot tajam ke arah Vino yang memegangi perutnya.
"Enak aja main nyosor, rasain tu balesan buat lo." Katanya gak ngerasa bersalah bahkan merasa belum puas. Pipinya udah gak virgin lagi, cuma Papa yang melakukannya dan Vino dengan beraninya nyelonong boy cium pipinya.
"Kan gue liat di tv kayak gitu. Lagian cuma keserempet gak sampek nyunsep." Masih memegangi perutnya yang nyeri.
"Beneran mau nambah lagi ya?" Mengepalkan tangan dan bersiap mendaratkannya.
"Ampun, gue gak berani lagi. Bisa berakhir di rumah sakit kalo kayak gini melulu." Berusaha berdiri dan berjalan.
"Tapi gue serius itu buat lo, walau telat ngasih nya. Lagian lo gak ngundang gue buat makan-makan."
"Gue rugi ngundang lo, makannya banyak. Tadi malam ngerayain sama Papa. Teng's ya Hadiahnya, gue suka."
"Ia sama-sama, gue tau lah selera lo itu kayak giman secara dari orok kita barengan mulu." Merapikan bajunya yang berantakan. "Papa lo masih betah duda gitu?"
Ella mengangguk, padahal sdh belasan tahun sejak ibunya meninggal dan Papanya belum juga menikah lagi.
"Gue paham kok Papa lo jadi gak nikah lagi."
"Kenapa?" Tanya Ella serius melihat ke arah Vino meminta jawaban, mukanya Vino juga gak kalah seriusnya.
"Kasian Mama tiri lo bakal babak belur." Tawanya pecah saat mengatakannya dan refleks berlari karena Ella mengepalkan tangannya untuk bikin tu cowok babak belur lagi.