Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Perawat Centil (Part 1)


Pengumuman


Buat kalian kemaren yang nanya gimana nih cerita cinta sama kehidupan abang Yun yang cakepnya gak ketulungan itu buat dapetin dan nemuin tulang rusuknya dan nyusul dua sahabatnya yang udah pada nikah dan mau jadi Ayah itu?


Author udah lounching (Bener gak sih nulisnya lounching kek gitu?) πŸ€”πŸ€”πŸ€”


Novel baru spesialis dan khususan buat Yun. Judulnya itu Labirin Cinta. Ada nama Ο€ora di bawahnya yang itu nama asli Author Baru dua capt aja sih Up nya soalnya baru awal bulan juga author nulisnya.


Jangan lupa mampir ya buat kalian berdua, Author pisahin dari sini biar gak campur aduk layakny gado-gado dan bisa menjiwai.


Jangan lupa juga kasih like, vote dan dukungannya di sana.


Terimakasih udah baca pengumuman dari


Autor.


Happy reading guys....


**********


Setelah melalukan konsultasi dan bertemu dengan dokter Aru yang akan menjadi penanggung jawab atas transplantasi yang akan Rega lakukan kini ia berpindah ke ruangan perawatan yang lebih steril di bandingkan ruang sebelumnya dan tentu saja di sebelahnya ruang perawatan yang sudah di sulap menjadi ruang istirahat yang sangat nyaman untuk Ella dan hanya kaca menjadi pembatasnya. Kaca itu bukan kaca tembus pandang pada umumnya, kaca yang di desain khusus bahwa Ella dapat melihat dengan leluasa ruang perawatan Rega tapi sebaliknya orang yang ada di ruang perawatan itu tak bisa melihat ke dalam ruang istirahat Ella dan di sana Ella dapat mengawasi dan melihat dengan leluasa suaminya tersebut. Ruangan itu di buat agar Ella tidak merasa was-was dan dapat memantau setiap saat walau ia tak berada di dalam sana. Benar apa yang di katakan Yun, semua keperluannya telah tersusun rapi di sana dengan sangat lengkap tanpa ada yang tertinggal satu pun. Bahkan Ella mengakui kesempurnaan Yun dalam melakukan hal tersebut yang kadang bikin merinding karena tu cowok tau secara detail tentang sesuatu.


"Ada yang kurang?" Tanya Yun saat melihat Ella membereskan perlengkapan pribadi miliknya.


Ella menoleh mendengar seseorang mengajaknya bicara dan mendapti Yun yang berdiri di ambang pintu dengan menggunakan pakaian santai dengan rambut yang ia biarkan acak-acakan. Baru kali ini Ella liat tampang Yun yang kayak gitu, karena biasanya tu cowok selalu berpenampilan rapi dengan sangat sempurna di setiap kali mereka bertemu. "Enggak, semuanya idah cukup kok."


Laki-laki itu mengangguk, "Gue balik dulu, mau istirahat bentar soalnya dari kemaren gue belum ada tidur." Membalikkan badannya untuk keluar.


"Yun?" Ella memanggil dan menghentikan langkahnya, saat Yun terdiam kembali ia meneruskan ucapannya. "Gue mau ngomong bentar sama lo, bisa?"


Yun yang udah mau keluar itu menahan langkahnya, berbalik ke arah Ella dan duduk di sofa dekat jendela. Ia melihat Rega yang tengah menjalani kemoteraphy pertamanya, dari dalam kamar tersebut memang terlihat sempurna semua yang ada di dalam sana. Kaca pembatas itu benar-benar menjalankan fungsinya dengan sangat baik.


"Mau ngomong apaan?" Tanya Yun yang liat Ella dari tadi cuma diem doang.


"Kenapa lo gak pernah deket sama cewek?" Ya, itu yang ingin Ella tanyakan. Bagaimana pun Ella tau usia Yun dan Rega tak terpaut jauh namun hingga detik ini Ella tak pernah melihat Yun bersama dengan wanita atau dekat dengan wanita mana pun, Ella tau kesibukannya dalam mengurus perusahaan sebesar ini hanya berdua bersama Rega menjadi penghalang utama untuknya. Apa lagi saat ini Rega tengah sakit dan secara otomatis semua tanggung jawab itu terbebankan kepada Yun. Yun mengambil semua tanggung jawab itu seorang diri, bahkan masih sempat mengurus semua keperluannya dan Rega sekaligus. Ella merasa bersalah karena sebagai seorang istri ia harus membebankan tugas tersebut kepada Yun dan bicara seperti ini mungkin akan bisa mengurangi rasa bersalahnya dan bernegosiasi dengan laki-laki keras kepala itu.


Yun tersenyum mendengar pertanyaan Ella yang terdengar menggelikan, ternyata kesendiriannya ini mengundang banyak pertanyaan dari orang-orang sekitarnya dan mungkin juga sebagai rasa prihatin dari mereka semua. "Lo gak mikir gue g*y kan?" Katanya sambil menahan senyum, tak sedikit orang yang salah mengartikan kesendiriannya. Semua itu bukan tanpa sebab karena rumor yang beredar di luar sana mengatakan bahwa ia dan Rega adalah pasangan g*y yang sempat membuat gempar dan beruntung semua itu dapat segera di redam dengan cepat. Rumor yang di ciptakan Rega untuk menjauhkan wanita-wanita yang menempel dan bahkan menjadi penguntit untuk mereka, dengan rumor tersebut semua wanita yang bikin badan gatal-gatal itu satu persatu mengundurkan diri dan menghilang dari peradaban mereka berdua.


"Tentu aja lah enggak. Kalo lo kayak yang lo sebutin tadi mana mungkin lo ngasih gue film kayak gituan sebagai hadiah pernikahan." Sindir Ella, Awas aja lo kalo nikah gue kasih yang lebih dahsyat dari kado lo.


"Ha ha ha ha ha...," Yun tertawa lepas mendengarnya, tak salah seorang Rega yang udah kayak gunung es di kutub itu bisa langsung cair dan meleleh. Ella yang polos dan menggemaskan itu bagai penghangat ruangan yang membawa kehangatan saat musim dingin, memberikan rasa nyaman untuk tidak meninggalkannya.


"Lo itu, gue ngomong serius malah ketawa." Kata Ella sebal, ternyata Yun itu jiplakan Rega versi hidupnya. Sama banget sama suaminya yang suka bikin kesel.


"Gue ketawa juga salah, udah lah lo gak usah khawatir mikirin gue. Pikirin toh laki lo yang ada di sana sama anak yang masih dalam perut. Habis ini gue gak bisa nemenin kalian lama-lama, gue harus balik buat ngurus perusahanan."


"Gimana gue gak mikir, lo kan saudara Rega yang secara otomatis jadi saudara gue juga."


"Makasih karena udah nganggap gue saudara, tapi lo tau kan kalau gue bukan saudara kandung Rega?"


"Udah lah, ngomong sama lo gak ada habisnya."


"Yun?!"


Yun mengalah, kalo gak gitu bakalan lama ini urusan sama ibu hamil yang gal bakalan nyerah kalo keinginannya gak di turutin. "Iya...., tenang aja gue bakal nikah kok. Lo gak usah khawatir dan yang paling penting lo jangan sampek ketularan sama nenek buat cariin dan nyomblangin gue karena itu buang-buang waktu doang." Kata Yun mempringatkan sekaligus mengingatkan, ngadepin satu nenek aja udah ribet apa lagi kalo tu nenek cari asisten buat ngelancarin aksinya bisa-bisa runyam dan ribet urusannya.


"Siapa juga yang sekongkolan sama Nenek?"


"Iya gue tau kok...,"


"Tapi itu kan...." Mata Ella menangkap gerak-gerik aneh dari seorang perawat yang masuk dalam kamar perawatan Rega, tu cewek kayakany gak bener. Bukan mau nyolong tapi lebih tepatnya mau goda suaminya itu dan itu kontan bikin Ella naik darah.


Ngeliat gelagat Ella yang aneh, buru-buru Yun menoleh ke belakang di mana mata Ella menatap tajam dengan tatapan mata tak sukanya yang kentara banget. Yun menyunggingnya bibirnya tipis saat menyadari apa yang membuat cewek mungil itu berubah menyeramkan. Gue yakin bentar lagi bakalan berubah jadi macan betina kalo kayak gini. Batinnya sambil mengamati ekspresi wajah Ella yang mulai berubah.


*****


Rania memilih menjadi seorang perawat dan mengabdikan dirinya di sebuah rumah sakit ternama dan bisa di bilang elit, sepanjang kariernya Rania tak pernah sekali pun mendapatkan teguran atau melakukan kesalahan dalam menjalankan pekerjaan. Dia termasuk menjadi seorang perawat yang cukup berpengalaman dalam bidangnya, mendapatkan banyak penghargaan dan tenty saja pujiam setiap harinya karena kinerjanya yang perfect. Memiliki darah campuran Thailand-Bandung membuat Rania di karuniani wajah yang sangat cantik dan menawan, bentuk tubuhnya pun sangat lah forposional dengan memiliki kulit berwarna putih cerah dan nampak sangat sempurna bila di gabungkan dengan keindahan-keindahan yang ia miliki. Tak jarang banyak laki-laki yang mendekatinya, baik kawan satu pekerjaan, dokter atau laki-laki yang tentu saja mereka mempunyai karier yang menunjang dan semua itu tak ada satu pun yang dapat menarik perhatian Rania. Kriterianya cukup sederhana, laki-laki itu tak harus mempunyai rumah mewah, mobil mewah, penghasilan yang banyak, kedudukan yang di segani orang namun yang terpenting bagi Rania laki-laki itu dapat membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama dan selama ini Rania tak menemukannya.


Hari ini, rumah sakit tampak sedikit heboh hanya untuk menyambut seorang pasien yang tak mereka sebutkan identitasnya. Mengosongkan satu lantai penuh dengan penjagaan yang ketat dan semua itu membuat seluruh staff rumah sakit bertanya-tanya siapa orang yang mereka sambut hingga melakukan seluruh persiapan dan mampu membayar satu lantai penuh hanya untuk satu orang dan tentu saja selain orang penting juga orang berduit. Rania bukan orang baru disini, ia tahu betul bahwa rata-rata mereka yang berani memilih berobat adalah orang-orang sekelas pengusaha, pejabat pemerintah, artis, politisi atau orang-orang yang ingin privasi mereka terjaga dengan sempurna dan beristurahat pasca penyembuhan tanpa ada gangguan dari dunia luar karena rumah sakit ini memiliki tingkat keamanan yang tak bisa di tembus dengan mudah dan menjadikan rumah sakit ini salah satu rumah sakit dengan bayaran yang cukup mahal. Bukan hanya privasi dan keamanan, rumah sakit ini di lengkapi dengan fasilitas mewah layaknya hotel bintang lima. Bukannya serasa di rumah sakit tapi kayak liburan di hotel karena di manjakan dengan semua fasilitas terbaik, staff dan tenaga medis yang memiliki kemampuan yang tak di ragukan dan terbaik di bidangnya masing-masing sehingga rumah sakit ini menjadikan rujukan bagi orang-orang berkantong tebal untuk menginap.


"Riana, rawat pasien VVIP di lantai empat."


Lantai empat? Bukannya itu lantai yang bikin heboh kemarin? "Baik bu."


"Tolong kamu tutup mata dan telinga saat berada di sana, tugas kamu hanya merawat pasien hingga pasien itu sembuh dan jangan sampai melakukan kesalahan sedikit pun selama merawat."


"Baik Bu," Kata Rania sopan, "Maaf, kalau boleh tau siapa yang ada di kamar tersebut?"


"Seorang pengusaha sukses yang saya sendiri kurang tau. Mereka meminta untuk memberikan perawat terbaik di rumah sakit ini sebagai perawat yang mereka inginkan dan kami sepakat untuk merekomendasikan kamu mengingat kinerja yang kamu tunjukkan selama ini menjadi pertimbangan kami dan saya harap kali ini kamu melakukannya dengan baik."


"Baik Bu."


*********


Alhamdulillah.....


Terimakasih buat kalian semua yang udah mampir dan baca coretan Author hingga saat ini dan tetap mendukung Author dan sumpah semua itu bikin Author terharu.


Dukungan kalian semua menjadi semangat yang luar biasa buat Author secara pribadi dan jangan lupa buat tinggal kan komen, Like dan Votenya buat kalian yang suka sama novel Author.


Sekali lagi secara pribadi Author mengucapkan banyak-banyak terimakasih buat kalian semua...


Apalah artinya tanpa kalian yang selalu jadi penyemangat yang luar biasa.


Lope lope buat kalian semua.


😘😘😘😘😘😘😘