Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Go on


"Pf pf pf pf pf...," Renata yang gak tahan buat gak ketawa itu harus nutup mulutnya dengan kedua tangannya biar gak kedengeran, dua orang lelaki di depan yang sama-sama konyol itu cukuo menguras air matanya cuma gara-gara ketawa. Ternyata uji nyali Papa Anggun gagal total, yang di ganti sama uji emosi.


"Ma, katanya mau masak bareng? Ini namanya Anggun doang yang masak kalo Mama cuma berdiri ngintip disana." Celetuk Anggun yang nyindir kelakuan Mamanya, emang luar biasa punya orang tua kayak mereka. Kalo udah jodoh ada aja jalannya buat bersama.


"Kamu aja yang lanjutin, Mama mau liat Papa kamu yang mukanya udah kayak kepiting asam manis." Ujarnya yang gak mau ngelewatin kesempatan langka di depan matanya, rencananya mau ngerjain gak taunya malah di kerjain balik.


"Emang kenapa sih Ma?" Mulai penasaran soalnya dari tadi kerjaan Mama cuma ngintip sambil ngempet ketawa.


"Papa kamu kehabisan kata-kata ngeladenin calon mantunya, tu liat mukanya udah merah merona."


"Raka di lawan, kalo udah ngomong mulut dia itu asal mangap. Lagian gak ada kerjaan apa Papa gitu?" Geleng-geleng kepala liat kelakuan orang tua yang ngelebihin anak muda. "Kapan kelarnya kalo Mama gak bantuin Anggun? Ma, Mama?!"


"Iya..., Mama datang...," Gak rela buat ninggalin tontonan gratis yang bisa di bikin senam wajah, mengendorkan urat saraf di seluruh wajahnya.


Udah berapa mantra yang Raka baca biar calon mertua di depannya itu gak meledakkan amarahnya gara-gara mulutnya yang suka ceplas-ceplos itu. Rasanya semua ototnya melemah, belum apa-apa udah kalah telak.


"Kamu, selain nyali kamu yang banyak ternyata nyawa kamu juga banyak." Kata Alex.


"Maaf Om, bukan maksud saya seperti itu. Saya benar-benar mencintai anak Om, saya akan melakukan apa pun yang Om inginkan asal Om merestui kami." Kata Raka pasrah, pasrah apa pun yang bakal ia terima dari calon mertuanya itu karena ulahnya sendiri.


Alex menatap tajam laki-laki pilihan putrinya itu, ia memindai dari segala penjuru dan mendapatkan kesimpulan sendiri. "Apa pekerjaanmu?"


"Dokter dan juga direktur utama di sebuah rumah sakit di kota ini."


"Saat tugas memanggilmu dan saat Anggun memerlukanmu apa yang akan kamu pilih? Putriku atau pekerjaanmu?"


Raka terdiam, pilihan yang baginya sangat sulit karena dua hal itu sama-sama penting. "Itu...," Ragu, itu yang Raka rasakan saat ini. Mana mungkin ia mengabaikan tugasnya dan apa lagi itu yang bersangkutan dengan nyawa manusia namun di sisi lain Anggun adalah orang yang sangat penting baginya. Ini adalah pertanyaan jebakan yang bisa membuatnya terkecoh karena semua pilihan ada konsekuensinya masing-masing.


"Lihat, lihat dirimu yang menjawab soal semudah ini aja masih ragu." Kata Alex meremehkan, "Bagimana kami bisa menyerahkan anak kami yang begitu berharga kepada seorang laki-laki yang bahkan mengambil keputusan saja gak becus. Urungkan niatmu buat menikahi Anggun." Mengibaskan tangannya.


"Maaf Om, mungkin saya akan memilih untuk tetap menjalankan pekerjaan saya karena menyelamatkan nyawa orang lain lebih penting di bandingkan yang lainnya. Mungkin jawaban saya akan mengecewakan Om sebagai Papa Anggun yang merasa bahwa saya mengesampingkan anak Om dalam hal ini. Namun itu adalah jawaban dan keputusan saya, kalau Om merasa saya tidak pantas untuk anak Om maka saya akan terus berusaha menjadi pantas dan mendapatkan restu dari kalian berdua. Saya tidak akan menikahi Anggun selama orang tuanya tidak memberikan restu." Jawab Raka mantap, ia harus bisa mengambil keputusan walau pun itu sulit baginya.


"Pede banget ya kamu ngomong gitu?" Jawab Alex dengan tersenyum sinis.


"Bukan masalah pede Om, tapi masalahnya saya gak bisa melalaikan tugas saya demi kepentingan pribadi dan saya gak bisa menikahi Anggun tanpa restu orang tuanya." Jelasnya.


Anggun yang tanpa sengaja menyaksikan dan mendengar itu semua tersenyum, ternyata memilih Raka bukan suatu kesalahan tetapi suatu hal yang ia cari. Laki-laki itu bertanggung jawab dan menghormati sesuatu yang mungkin selama ini di anggap remeh oleh orang lain.


Alex memundurkan kursinya dan mengulurkan tangannya.


Raka yang udah pasrah gak punya harapan itu menundukkan wajahnya, seharusnya ia menjawab akan mementingkan Anggun di atas segalanya demi mendapatkan restu dari orang tua Anggun. Jawaban seperti itu membuatnya terbebani dan itu adalah bohong, ia tak ingin memulai suatu hubungan dengan kebohongan dan untuk itu Raka berusaha jujur walau itu akan menyakitkan. Apa lagi Papa Anggun udah berdiri dengan wajah super galaknya, bikin nyali Raka langsung hilang di telan bumi. "Maaf Om, sekali lagi maaf kalau saya telah mengecewakan Om."


"Papa, sudah main-mainnya. Papa mau anak kita kelamaan jomblonya gara-gara sikap papa yang udah kayak bos mafia?" Renata keluar dengan membawa lauk di tangannya. "Maaf boy, Papa Anggun emang dari sananya mukanya seram. Tapi Tante jamin hatinya lembut kayak permen kapas." Tersenyum ramah dan meletakkan piring berisi lauk itu, mendelik ke arah suaminya. "Papa mau calon menantu kita lari terbirit-birit gara-gara akting Papa?"


What?


Langsung lebar telinga dengarnya, akting? Maksudnya apaan nih?


Melihat wajah calon menantunya itu bikin Renata tergeletik, "Papa cuma mau tes nyali boy, kamu tau buat jadi segalak ini Papa harus rela kursus akting." Katanya menjelaskan pertanyaan yang gal terucapkan, cuma dari wajahnya aja Renata ngerti apa yang ada dalam pikiran calon menantunya itu.


"Ha ha ha ha ha...," Alex tertawa terbahak-bahak, sekarang gak di tahan lagi karena udah di bongkar habis sama istrinya. Percuma kan masih pura-pura kayak tadi, "Gimana? Apa Om cocok buat jadi aktor? Seharusnya Om dapat piala oscar nih...," Duduk kembali dengan tenang dan mengambil gelas yang berisi air putih, "Melihat wajahmu Om yakin kursus Om gak sia-sia."


Ha ha ha ha..., jadi tadi gue di kerjain? Gue di kerjain???? Gue di kerjain sama calon mertua gaes....


Raka terduduk lemas, udah senam jantung dari tadi, senam otot, senam syaraf dan senam lainnya gak taunya cuma di kerjain sama Papanya Anggun. Nyawa udah berasa terbang ke langit ke tujuh yang gak balik-baliklagi, kalo punya mertua kayak gini bakalan bahaya bisa di kerjain season selanjutnya. Tapi kok gak nurun sama Anggun ya sikap konyol orang tuanya ini?


"Selamat datang di keluarga Alexander, Om mohon jaga dan sayangi putri Om karena Om percaya kamu adalah laki-laki baik yang akan bisa membahagiakan anak kami." Mengulurkan tangan ke arah Raka dengan senyum hangat khas seorang Ayah kepada anaknya.


"Om bangga karena Anggun memilih laki-laki yang tepat dan Om merasa tenang melepaskan putri semata wayang Om pada laki-laki bertanggung jawab dan pekerja keras seperti kamu." Melepaskan pelukannya dan mengusap punggung Raka sebagai rasa bangganya.


"Jadi? Om merestui kami?" Tanya-nya masih gak percaya setelah apa yang di lalui atau lebih tepatnya setelah apa yang Papa Anggun lakukan padanya.


"Tentu saja, untuk apa kami menghalangi kalian. Karena Om yakin Anggun memilihmu karena suatu alasan, saat bertemu denganmu Om tau kalau ternyata Anggun melakukan hal yang benar." Jawab Alex lembut.


"Pa, udah puas main-mainnya?" Kata Anggun dengan tatapan mata tajam.


"Hei..., Papa hanya melakukan sesuatu yang menurut Papa itu penting." Bela Alex mendapatkan tatapan mata mematikan dari putrinya.


"Terimakasih Om, karena Om udah kasih restu." Kata Raka lega.


"Boy, karena kami adalah orang tua Anggun yang akan jadi orang tua mu juga jadi panggil kami Mama dan Papa." Kata Renata meletakkan tangannya di bahu suaminya, "Betulkan sayang?" Sambil tersenyum ke arah suaminya. "Wajah Papa udah dari dulu kayak gini. Ha ha ha ha ha...," Melihat wajah suaminya yang super galak itu dan mencubitnya gemas.


"Ma, jangan menodai mata kami dengan kelakuan kalian." Kata Anggun yang duduk di samping Raka, "Kamu harus terbiasa sama tingkah konyol dan menyebalkan mereka mulai saat ini." Kata Anggun memperingatkan Raka.


"Sayang..., jangan ngomong macam-macam yang bikin menantu kami berpikiran jelek tentang kami." Protes Renata.


"Anggun ngomong sesuai fakta kan Ma?"


"Wah, ternyata Raka lebih cocok jadi anak kami karena memiliki darah konyol dan lawak di bandingkan anak Papa yang jutek ini." Melirik ke arah Anggun yang gak di tanggepin. "Dan ternyata selera kamu kayak Papa juga, yang artinya darah kita mengalir. Hua ha ha ha ha...," Katanya bangga karena Anggun memilih calon suami yang menurut Alex 11-12 dengannya itu.


Ya Tuhan..., Papa ini udah tua gak sadar umur..., Anggun nyengir kuda dengernya, mau ngebantah yang di bilang Papanya emang benar. Karena sikap Raka yang humoris, dewasa, pengertian, jahil dan yang terpenting ia adalah orang yang bertanggung jawab. Untuk itu Anggun memilihnya dan menetapkan hatinya dalam waktu singkat.


"Kalau semua udah setuju Mama akan kasih pengumuman penting buat kalian semua. Satu minggu setelah ini kalian semua harus mengosongkan jadwal kalian apa pun alasannya." Kata Renata dengan mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk, menyodorkan ke arah suaminya yang duduk di sampingnya.


Tiga orang itu saling lempar tatapan mata, kali ini rencana apa lagi yang bakal di buat Mama Anggun.


"Ma, Papa harus pergi buat cari lokasi syuting untuk film terbaru Papa. Gak bisa di batalin apa Ma rencana Mama?"


"Iya Ma, Anggun juga ada pemotretan buat brand ambasador..."


"Tan, eh Mama. Raka juga ad rapat sama dewan direksi."


"Pokoknya Mama gak mau tau, minggu depan dengan alasan apa pun kalian harus membatalkan semua jadwal kalian. Karena minggu depan adalah hari pernikahan Anggun dan Raka." Kata Renata dengan wajah bahagia, sumringah, berseri-seri.


"Oh...," Kata Papa, Anggun dan Raka ber Oh ria bersamaan. "Apa?!" Kata mereka kompakan kaget.


"Iya, Mama yang akan urus semuanya dan Mama harap kalian semua gak ada yang bantah. Khususnya Raka dan Anggun, kalian persiapkan dokumen-dokumen pernikahan dan Mama yang akan mengurus segalanya."


Anggun menatap Raka bingung dan menggelengkan kepalanya, memberitahukan lewat isyarat kalau ia gak tau rencana Mamanya yang satu ini. Orang tuanya itu selalu punya kejutan yang luar biasa, kayak saat ini memutuskan sesuatu tanpa persetujuan dari yang bersangkutan terlebih dulu.


*******


Hai readers sekalian...


Makasih ya buat kaliam yang masih setia nungguin Up dan masih setia buat baca novel yang author tulis ini.


Jangan lupa tinggalin jejak kalian dengan like, vote dan komennya.


Makasih yang udah luangin waktu buat like dan ngasih komennya dan relain votenya buat author, semua itu bikin author jadi semangat lagi dalam berkarya dan karena kalian semua author jadi seperti ini dan sampai saat ini.


😘😘😘😘😘😘😘