
Sonya berdiri mematung di dalam mobil dengan pintu terbuka tanpa bergerak sedikitpun, tentu saja ia sangat mengenal. rumah yang ada di depan matanya tersebut dengan baik. Bagaimana mungkin Mas Andika bisa tau? Apa dia sudah mengetahui semuanya??? Sonya yang merasa bingung dengan begitu banyak pertanyaan tentang suaminya itu hanya bisa menatap halaman di mana dulu ia memilih lelaki si*lan dan meninggalkan rumah serta semua keuarganya dengan tangisan pilu Mommy-nya. Walau itu telah terjadi lama namun terlihat jelas dalam ingatannya, bagaimana bayangan demi bayangan terlintas jelas dalam ingatannya tentang pertengkaran yang terjadi sebelum ia meninggalkan rumah ini dan sekarang ia kembali lagi kesini.
Andika yang sejak tadi melihat perubahaj wajah istrinya itu menjadi yakin bahwa apa yang di katakan laki-laki bernama Rega adalah kebenaran, selama ini Andika diam karena tak ingin menyakiti perasaan istrinya. Cintanya yang begitu besar membuat Andika tak pernah menanyakan perihal masa lalu dan keluarga Sonya, tapi kini ia tau bahwa istrinya tersebut dari keluarga terpandang dan bukan dari kalangan biasa sepertinya. Semua pertanyaan yang ada saat ini akan terjawab saat ia memasuki rumah tersebut.
Sonya yang masih terpaku itu tak menyadari seseorang mendekatinya, walau jarak mereka sangat dekat Sonya masih tak sadar karena tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Halo Sonya?"
Sonya mendongakkan kepalanya, laki-laki tampan dengan senyum menawan berdiri di depannya dengan mengulurkan tangannya. Walau tak mampu mengingat dengan jelas tapi Sonya masih bisa mengingat bahwa laki-laki itu salah satu anggota keluarga Papa tirinya, "Kamu???" Berusaha mengingat nama.
"Saya Willy Aditya, adik dari Johan Aditya yaitu suami Mama kamu." Katanya tersenyum ramah, "Saya rasa nona Sonya akan mengingat nama saya dengan sangat baik."
Benar, laki-laki yang sempat ia fitnah bersama saudara tirinya dan ternyata ia adalah adik dari Papanya. "Apa yang kamu mau? Apa ini semua rencanamu untuk membalas dendam kepadaku?" Katanya dengan suara bergetar, menyadari apa yang ia lakukan di masa lalu sebuah kesalahan yang tak dapat di maafkan begitu saja dan wajar kalau Willy membalas apa yang ia lakukan.
"Tidak nona, saya bukan orang jahat seperti yang anda pikirkan." Tersenyum manis dan menundukkan badannya sedikit, "Rega menyuruh saya untuk menjemput tamu istimewa malam ini."
"Rega?Jadi semua ini Rega yang merencanakannya?" Bukan hal yang mengejutkan bagi Sonya bila Rega dalang di balik semua ini.
"Mungkin...," Willy masih menunggu dengan sabar, memberikan waktu untuk Sonya mencerna segalanya.
"Mas, kenapa dari awal Mas gak bilang sama aku?" Tanya Sonya sedikit kesal karena suaminya telah berbohong dan ikut berkomplot dengan mereka untuk menjebaknya pulang. "Mas sengaja kan menjebakku kesini dan bersekongkol dengab mereka?"
"Maaf sayang, Mas bukan menjebak. Mas hanya berpikir alangkah baiknya kalau kamu kembali ke dalam keluargamu, mereka berhak tau tentang keadaan kalian." Jelas Andika dengan suara lembut karena tak ingin memancing emosi Sonya, kalau semua itu terjadi maka gagal semuanya.
"Apa teman yang mas maksud itu adalah Rega? yang memberikan semua hadiah ini juga dia?"
Andika mengangguk pelan tanpa bisa menjawab karena yang semua katakan adalah kebenaran, ada sedikit penyesalan karena telah membohongi Sonya. Namun semua itu ia lakukan demi kebaikan Sonya sendiri.
*******
"Sayang, jemput hadiah mu di depan sana." Bisik Rega.
"Hadiah apa Bi?" Tanya Ella bingung.
"Dua hadiah spesial yang Abi berikan buatmu, ajak Mama dan Sonia bersama." Katanya lagi tanpa menjawab pertanyaan Ella.
Sebenarnya apa yang Rega maksud? Apa hubungannya semua itu dengan Mama dan Sonia? Tanpa sempat bertanya, Rega menarik tangannya dan menghampiri Sonia serta Mama yang tengah asik berbincang dengan Ayah mertuanya.
"Maaf Ayah, saya pinjam dulu Mama mertua dan saudara ipar untuk menemani Ella" Kata Rega sopan.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang gawat?" Devi tampak panik karena saat seperti ini menantunya itu meminta untuk menemani putrinya.
"Lo gak pa-pa kan La? Apa sesuatu terjadi?" Kali ini Sonia ikut khawatir.
"Enggak, semua baik-baik aja. Lagian kata Rega ada kejutan di luar sana." Jawab Ella dengan menggoyangkan tangannya cepat.
"Syukurlah, Mommy takut ada apa-apa dengan kandunganmu sayang...," Menyerahkan Jo kepada pengasuhnya yang tak berada jauh. "Tidurkan Jo ya mbak, kasian kalau terlalu lama di sini." Kata Devi menciumi pipi anaknya dengan gemas. "Jo ikut Mbak Ratna dulu ya, bobo dulu nanti Mommy susul."
"Jo lum nantuk..., Jo mau ikut Mami...," Rengeknya.
"Mata Jo udah merah, bentar lagi Mommy ikut Jo bobo."
Anak laki-laki kecil itu mengangguk pelan, tak selang berapa lama ia menguap dan mengucek matanya. "Bye Mami...," Melambaikan tangannya saat pengasuh menggendong dan membawanya masuk ke dalam rumah yang hangat, angin malam tidak baik untuk anak kecil sepertinya walau pun itu berada di halaman rumah sendiri.
Devi mengikuti pengeran kecilnya itu dengan ekor matanya hingga hilang di balik pintu utama, "Ayo, Mommy dan Sonia akan menemanimu." Menggandeng tangan sonia dan Ella bersamaan. Dua putri hebat yang selalu ada di sampingnya, walau begitu Devi tak bisa melupakan sosok Sonya. Seorang Ibu yang telah mengandung selama sembilan bulan lebih dan membawa kemana pun ia pergi, membesarkan dengan penuh kasih sayang dan melihat tumbuh kembang anak-anaknya tak akan bisa menghapus dan melupakan anak mereka begitu saja. Walau yang Sonya lakukan membuat hatinya sakit dan meninggalkan luka yang begitu dalam hingga kini masih terasa, namun Devi tak bisa membenci Sonya dan melupakannya begitu saja dalam hidupnya. Ada masa dimana ia merindukan putrinya tersebut, hanya bisa melihat dan menangisi kepergian Sonya yang membuatnya syok. Bukan salah Sonya sepenuhnya tumbuh menjadi sosok seperti itu, andilnya cukup besar dalam membentuk karakter Sonya. Rasa cinta yang terlalu besar membuat Devi memberikan apa pun yang putrinya minta, cinta yang membuatnya melupakan bagaimana mendidik anaknya menjadi pribadi yang baik dan malah membentuk pribadi yang buruk dan membuat hatinya terasa sakit. Memikirkan semua itu membuat Devi merasa menjadi seorang Ibu yang gagal, Ibu yang tidak berguna yang telah menjerumuskan anaknya sendiri. Selama ini diam-diam Devi menyuruh orang untuk melacak dan mengetahui dimana Sonya berada, bertahun-tahun tanpa kabar membuatnya khawatir akan terjadi hal-hal yang tak di inginkan. Apakah anaknya dapat hidup dengan layak atau sebaliknya. Devi menjadi sangat frustasi karena tak ada satu pun informasi yang ia dapatkan, sepertinya Sonya hilang di telan bumi tanpa sisa hingga tak dapat di ketahui keberadaannya.
"Mom?" Tanya Sonia melihat wajah Mommy-nya berubah sedih, walau tak mengatakannya secara langsung Sonia yakin bahwa saat ini Mommy memikirkan saudara kembarnya tersebut. Beberapa kali Sonia memergoki Mommy menangis dengan memeluk baju Sonya sendiri di dalam kamar, selama ini Mommy tak pernah menyinggung atau membicarakan apa pun yang berhubungan dengan Sonya di rumah tapi Sonia tahu dengan pasti bagaimana perasaan Mommy-nya tersebut.
Devi tersenyum dan mengelus tangan Sonia, secara tak langsung ia mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan apa yang di pikirkan putrinya tersebut tak akan berlaku padanya. "Sayang, hadiah apa yang kau siapkan hingga melibatkan kamu berdua? Apa kau ingin memberitahukan jenis kelamin anak kalian ke pada kami terlebih dahulu sebelum kau umumkan untuk yang lainnya?" Kata Devi berusaha menebak apa yang sebenarnya menantu laki-lakinya itu persiapkan.
"Sebentar lagi kalian akan melihatnya, sekarang Willy sedang mengurus segalanya agar lancar." Jawab Rega dengan berjalan di samping Ella dan berpegangan tangan.
Mendengar nama Willy membuat Ella mendongakkan kepala ke arah suaminya, "Benar Kak Willy ada di sini Bi? Kenapa tadi Ella gak liat?" Tanya Ella penasaran karena sejak kedatangannya di rumah ini tak melihat Willy di mana pun.
Bukam hanya Ella yang merasa senang, namun Sonia juga merasakannya. Senyum manis dengan wajah bahagia penuh rona menghiasi wajah cantiknya, seandainya ini siang hari pasti cahaya mentari begitu jelas memperlihatkannya. Walau ingin menanyakannya secara langsung seperti yang Ella lakukan, namun Sonia menahannya dan menunggu jawaban dari pertanyaan Ella yang mewakili pertanyaannya.
"Bagaimana mungkin Abi melupakan sosok Willy yang menjadi super hero dan kakak dari istri Abi yang tengil ini," Memencet hidung Ella karena gemas, "Karena dia salah satu orang terpenting yang ada di hati istri Abi, dengan berat hati Abi memintanya datang malam ini."
"Karena lelaki ini kadang masih gak bisa ikhlas berbagi dengan lelaki lain kecuali Papa, dan itu termasuk Willy." Katanya dengan senyum manis dan lembut.
"Ehem!" Sonia sengaja berdehem nyaring biar dua orang itu sadar kalau ada orang lain selain mereka. "Gue jomblo, bisa kena diabetes gara-gara nonton drama romantis kalian." Katanya lagi.
"Iya nih, Mommy bisa jadi ngenes soalnya sering di tinggal Papa kalian." Tambahnya.
"Mama apaan sih..., Lagian ya suruh aja tu Papa buat pensiun dan di rumah."
"Mana Papa kamu mau sayang...,"
"Kalian enak yang udah punya pasangan, lah diriku yang teraniaya karena jones." Ujar Sonia seakan-akan menjadi satu-satunya jomblo di muka bumi ini.
"Lah lo mau jadi jones, kan gue udah bilang langsung aja tu hajar Kak Willy. Entar lo nyesel kalo udah di samber sama yang lain."
Ternyata Sonia suka sama Willy? Kenapa gue gak sadar ya? Selama ini gue pikir Willy suka sama Ella. Batin Rega sambil ngelirik ke arah Ella.
Ella yang melihat sosok kakak yang ia rindukan itu langsung melepaskan genggaman tangan Rega dan menghambur ke arah Willy yang berdiri di samping mobil, tak ada yang berubah darinya sedikitpun. "Kak Willy...," Setengah berlari ke arah Willy yang menyebabkan orang yang ia panggil menoleh.
Ella??? Willy memalingkan wajahnya saat seseorang memanggil namanya, suara yang sangat familiar dan ia rindukan. Benar saja, Ella berlari ke arahnya.
"Kak, Ella kangen..., kemana aja kakak selama ini?" Katanya dalam pelukan Willy.
Willy membalas pelukan Ella, "Maaf, kakak terlalu sibuk."
"Kakak jahat..." Memukul dada Willy dengan mata berkaca-kaca, rasanya udah lama banget gak ketemu Willy. Jangahkan ketemu, telpon aja yang nerima sekertarisnya.
"Jangan nangis, ingusnya manti keluar. Sayang baju kakak yang mahal kena ingus kamu." Menangkap tangan Ella yang memukulnya, "Selamat ulang tahun adik kakak yang cantik..., seharusnya jadi kejutan gak taunya malah kayak gini." Mengusap air mata Ella dengan ujung jarinya.
Ella memeluk Erat Willy dan menumpahkan segala rasa yang ia pendam selama ini karena merindukannya, Willy yang selama ini ia anggap sebagai seorang kakak dan satu-satunya orang yang memperlakukannya layaknya seoarang ratu dengan memenuhi apa pun yang ia inginkan. "Kak Willy jahat, kakak ninggalin Ella gitu aja."
"Kan udah ada Rega yang gantiin kakak buat jagain kamu. Lagian cewek kayak kamu siapa yang bisa ganggu? He he he he...," Tertawa kecil dengan mengacak rambut Ella.
"Apaan sih Kak... " Merapikan rambutnya kembali dan tersenyum, "Kebiasaan deh...." Katanya memeluk Willy lagi dan saat itu matanya menangkap bayangan seseorang dari dalam mobil, Ella memanjangkan lehernya buat liat yang ada di sana. Soalnya semua teman dan saudara udah ada di halaman belakang, Siapa yang di dalam? Kayaknya tadi Kak Willy sempat ngomong deh...
Willy yang sadar apa yang Ella lakukan itu menoleh ke arah belakang, "Leher kamu udah kayak jerapah, dari pada nengok kayak gitu langsung aja samperin." Ujarnya.
"Siapa Kak di dalam? Kayaknya cewek deh...," Kata Ella, kaca mobilnya warna item jadi menghalangi. "Calon istri Kak Willy ya???"
Willy mundur beberapa langkah, membuka pintu mobil. "Keluarlah, sudah saatnya bertemu dengan mereka semua." Katanya lagi.
Sepasang kaki jenjang dengan sepatu teplek turun dari dalam mobil, bukan hanya Ella tapi Mommy dan Sonia terkejut melihatnya. Wanita cantik dengan perut lumayan besar berdiri di depan mereka, tak ada yang berubah kecuali kini badannya lebih berisi di bandingkan dulu saat terakhir kali mereka bertemu. Tak ada kilat mata penuh kebencian lagi, kini tatapan matanya tampak nanar dan menunduk ke arah ujung sepatu yang ia pakai sebagai salah satu cara untuk menutupi perasaannya. Ya..., Sonya tak kuasa menahan gejolak hatinya saat melihat Ella, perasaan bersalah langsung masuk ke dalam hati dan perasaannya. Terlalu banyak kejadian masa lalu yang melibatkannya untuk menjadi pemeran antagonis di sana dan entah itu bisa mendapatkan maaf dari sang korban atau tidak. Bukan hanya Ella, tetapi saudara kembarnya yang ia perlakukan semena-mena dan tak adil selama mereka bersama. Sonya yang dulu tak menyukai Sonia karena ia merasa saudara kembarnya itu kurang asik dan berpenampilan gak modis namun lebih populer di bandingkannya. Sonya tak ingin berbagi perhatian dengan Sonia dan melakukan berbagai macam cara untuk menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada. Di samping Sonya berdiri sosok yang sangat ia rindukan saat ini, sosok yang selalau ia sebut dalam tidur dan mimpi buruknya, sosok yang selalu membela walau ia melakukan kesalahan, sosok yang melakukan apa pun untuknya tanpa bisa meminta balasan. Siapa lagi kalau bukan sosok Mommy yang sangat Sonya ingin temui namun tak ada keberanian untuk melakukannya secara langsung. Sonya ingin bersimpuh di kakinya, meminta maaf semua kesalahan yang telah ia lakukan walau Sonya tau terlalu banyak rasa sakit yang ia sebabkan dan tinggalkan. Bagaimana pun Sonya sadar semua kesalahan yang telah ia lakukan dan untuk di maafkan menjadi hal yang mustahil terjadi.
"Sonya!" Pekik Ella dengan menatap tak percaya.....
******
Hi mbak-mbak dan mas-mas yang cantik-cantik....
Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu dan baca novel author, secara pribadi author sangat berterimakasih buat kalian semua...
🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗
Rasanya seneng banget kalian masih nungguin Up dari author dan itu jadi semangat buat author mainin jari bikin rangkaian kata.
Jangan lupa Like sama Votenya yach.....
Di rumah aja, jangan lupa menerapkan gaya hidup bersih di manapun dan kapan pun karena kalo bukan kita sendiri siapa lagi yang bisa membatasi dan memutus rantai wabah yang lagi melanda di seluruh negara di dunia.
Buat emak-emak yang nemenin anak nya belajar di rumah semoga kalian di bekali kantong kesabaran yang tebal dan lebar, karena agak susah ngajarin anak sendiri itu yang kebanyakan alasan cuma buat ngerjain tugas sekolah 😂 dan itu yang author rasain sendiri, beberapa hari ini author sibuk nemenin anak author buat ngerjain tugas-tugas dari sekolah makanya author konsentrasinya terpecah kesana-kemari dan itu pun belum kelar tugasnya 😅 karena mood anaknya lagi naik turun jadi agak susah.
Semangat ya buat kalian semua yang punya anak dalam rentan waktu ini tinggal di rumah dengan berbagai macam tugas, semoga wabah ini cepat berlalu dan kita bisa beraktifitas normal seperti dulu (Soalnya emak udah agak greget jadi guru dadakan di rumah,)
Fighting....!!!!