Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Lesehan di pinggir jalan


Ella mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Rega, meikmati deru angin yang menerpa wajah cantiknya itu yang ngalahin enaknya AC atau pendingin apa pun buatan manusia karena ini made in alam.


Hari ini gak ada matahari terik kayak biasanya, cahaya tampak samar mengintip dari balik awan diatas sana yang berwarna kelabu menandakan mendung dan mungkin hampir hujan. Cuaca yang sangat mendukung ini bikin Ella menguap lebar beberapa kali, merasakan kantuk yang luar biasa karena perpaduan sempurna dari alam bikin matanya lama kelamaan terasa berat dan akhirnya susah buat di buka.


"La?" Rega yang ngerasa badan Ella lebih condong ke arahnya itu dan semakin lama semakin berat. Tak ada jawaban, bahkan tangannya yang melingkar di pinggang Rega semakin mengendor. Rega menepikan motornya sebelum terjadi hal yang tak diinginkan, tiba-tiba pegangan Ella lepas trus tu anak jatuh apa gak bahaya yang bikin mereka berdua jatuh di aspal jalanan.


Rega meraih tangan Ella yang sebelahnya udah lepas, memegang kedua tangannya dengan satu satu tangan untuk menopang badan cewek berisik itu biar gak jatuh. Pantesan aja gak ada bunyinya dari tadi ternyata udah ngorok dan nyawanya terbang entah kemana. "La, cepet bangun. Bahaya baget tidur kayak gini." Mengusap punggung tangan Ella yang hanya di jawab dengan gerakan kepala asal menandakan kalo tidurnya terusik saat ini.


Mau apa lagi, kalo di terusin malah gak ada jaminan selamat sampai tujuan akhirnya Rega memutuskan menepi dan menggendong Ella ke pingir jalan yang kebetulan banget ada pohon rindang. "Yun, bawa mobil ke titik kordinat yang gue kirim. Sekalian bawakan setelan jas lengkap dan dokumen yang diperlukan untuk nanti sore." Rega mengakhiri sambungan telpon, Yun adalah sekertaris siap siaga yang ngalahin UGD rumah sakit. 24 jam selalu siap siaga di manapun dan kapan pun, pokoknya the best deh....


Rega meletakkan kepala Ella di kakinya dengan beralaskan jaket, rupanya ngantuk banget sampai gak ngerasa di pindahin dari motor sampek tiduran di rumput cuma beralaskan jaket. Gak ada tanda-tanda bangun dari tu cewel yang ada cuma menggeliat buat cari posisi yang enak selebihnya tidur lagi. Cuma karena cewek berbadan rata ini Rega bisa melakukan apa pun, bahkan nyawanya sendiri bila itu perlu. Tak ada yang spesial dari diri Ella bila di lihat dari fisiknya, tubuhnya yang mungil dan tentu aja gak bervolume itu bila di bandingkan dengan wanita lainnya yang berseliweran di dekatnya. Tingkah lakunya yang bar-bar dan terkesan pembangkang itu jauh dari kata manis yang ada malah ganas, Apa lagi mulutnya kalo udah ngomong seenaknya gak liat sikon yang paling parah kalo makan udah ngalahin kuli panggul pasar atau bangunan tapi badannya gak gede-gede.


Tapi, hati dan kepribadian Ella yang bikin Rega bertekuk lutut dan menutup mata serta hatinya untuk wanita manapun.


Sementara menunggu Yun datang, Rega mengecek pekerjaannya melalui ponsel dengan membuka email yang masuk. Akhir-akhir ini perkerjaannya semakin banyak dengan adanya cabang-cabang baru dan pengembangan bisnis dalam beberapa bidang yang bikin waktunya tersita, cuma mau ketemu Ella aja harus lembur dulu baru bisa. Kalo gak, gak bakalan ada waktu buat berleha-leha kayak gini bahkan kadang gak bisa pulang alias makan dan tidur dikantor.


"Iya?"


Rega menerima telpon dengan ekspresi wajah yang sangat serius dan kini berubah menjadi khawatir.


"La bangun?" Mengguncang tubuh Ella untuk membangunkannya. "Gak mau bangun gue cium," Katanya mengancam.


Bruk


Ella yang ngerasa kepalanya agak puyeng itu mengamati sekitarnya dari balik bahu Rega, posisinya yang jatuh tadi tepat di tubuh Rega dan bikin mereka berdua berpelukan karena tangan Rega yang menahan tubuh Ella biar gak jatuh terguling dengan cara memeluknya.


"Lo bangun-bangun mau lari kemana?" Tanya Rega bingung liat kelakuan Ella yang udah kayak di kejar anjing.


"Perasaan Ella tadi tanah sama semuanya pada gerak sendiri, tapi kok gak ada yang berubah ya?" Masih bingung dan belum sadar sepenuhnya, belum nyadar kalo saat ini di peluk sama Rega. Buktinya masih adem ayem belum ngelakuin perlawanan.


"Dari tadi lo tidur di pangkuan gue, gue yang gerakin badan lo biar bangun malah pakek acara kayak orang di kejar anjing." Rega mengelus rambut Ella dan menciumnya, rasanya gak rela kalo harus pisah sama tu cewek. Maunya kayak gini terus tiap hari tapi apa boleh di kata belum muhrim.


"Jadi Ella mimpi..." Menganggukkan kepalanya pelan yamg artinya mulai paham situasi dan kondisi saat ini. "Om ngapain peluk Ella segala?" Mendorong dada Rega dengan kedua tangannya buat bikin jarak di antara mereka. Gak nyadar kalo dari tadi mereka pelukan, apa lagi di pinggir jalan lagi yang udah tentu diliatin sama orang-orang yang lewat.


"Yang meluk itu lo bukan gue. Gak usah banyak omong kita ke rumah sakit sekarang, Nenek lagi di rawat. Kata pengurus rumah Nenek tadi pingsan dan gak sadar sampai sekarang." Rega mengambil jaketnya yang buat alas tidur Ella tadi. Liat Ella yang cuma bengong bikin Rega tambah gemes, ia mencium bibir Ella kilat buat nyadarin tu cewek.


"A-apaan sih Om cium Ella cepet banget gitu?" Mengusap bibirnya pakek tangan.


"Kalo mau yang lama entar, sekarang kita ke rumah sakit dulu. Entar kalo urusan Nenek udah kelar selama apa pun yang lo mau bakal gue ladenin. Diri gue udah jadi milik lo, jadi mau lo apain gue pasrah aja asal jangan bikin gue babak belur." Tersenyum menggoda ke arah Ella yang langsung bikin tu anak merah merona karena malu. Rega paling suka kalo liat Ella yang kayak gitu, rasanya pengen di bungkus trus di taruh di rumah biar gak ada yang liat.