
Rega memandangi kedua putri kembarnya yang ada di dalam box bayi yang terhalang dari kaca dengan perasaan bahagia yang meluap luar biasa, dua malaikat kecilnya itu kini sedang tidur dengan sangat tenang dan damai. Wajah lucu dan polos mereka mampu menyihir siapa pun yang melihat, betapa sangat menggemaskan dan membuat hati merasa damai. "Huh...," Ada rasa kesal saat Rega menyadari bahwa ia hanya bisa memandangnya dari tempat di mana ia berdiri tanpa bisa menggendong salah satu dari mereka dan mendaratkan ciuman di swluruh wajah putrinya tersebut, ternyata hanya memandang saja sudah membuatnya mendapatkan luapan kebahagian yang luar biasa seperti ini. Bagaimana bila nanti ia akan mendapatkan pelukan-pelukan dan rengekan manja dari kedua putrinya tersebut saat pukang dari kantor atau saat ia pulang dari mana pun. Membayangkan semua itu membuat Rega mengulaskan senyum di bibirnya tanpa sadar dan membuat dadanya terasa hangat karena luapan bahagia yang hanya bisa ia rasakan tanpa bisa ia ungkapkan.
"Sampai kapan lo mau berdiri di sini?" Sapa Yun dengan membawakan kursi roda untuk saudara lelakinya tersebut. "Lo harus ingat jangan terlalu capek."
Rega menoleh sesaat dan kembali melabuhkan pandangan matanya ke arah dua bidadarinya. "Iya gue tau, lama-lama lo makin bawel." Ujarnya sengan raut wajah bahagia, beda sama mulutnya yang ngomong kasar.
Yun berdiri di samping Rega, mengikuti arah matanya. "Mereka cantik ya?" Katanya dengan pandangan mata tak bisa lepas dari dua keponakan lucu dan menggemaskan tersebut.
"Tentu saja, mereka adalah harta berharga yang bakal gue jaga seumur hidup."
"Gak nyangka gue kalo lo sekarang udah jadi seorang Ayah, dan yang gak bikin gue nyangka lagi kalo lo sekarang udah berubah sangat drastis."
"Iya, semua berkat Ella." Masih menatap lekat dua malaikatnya tanpa menoleh, mereka bicara tanpa melihat satu dengan lainnya. "Kapan lo bakal nyusul gue?"
"Gue gak tau."
"Yun?" Kali ini Rega memalingkan wajahnya dan melihat kesedihan di wajah Yun, "Itu cukup lama dan gue harap lo gak berlarut-larut dalam masalah ini."
"Lo ngomong sih enak Ga, yang ngejalanin ini yang gak bisa." Ujarnya sambil tersenyum masam, berkubang di dalam masa lalu memang membuat Yun menutup hati dan matanya untuk wanita lain. Selama ini banyak wanita yang berusaha mendekatinya dalam berbagai macam bentuk dan rupa tapi Yun sama sekali tidak ada rasa tertarik pada mereka karena ia takut kecewa dan takut akan menyakiti serta membuat kesalahan untuk yang kedua kalinya, kesalahan yang membuatnya menyesal seumur hidup tanpa bisa ia lupakan.
"Yun, itu bukan kesalahan lo tapi itu murni kecelakaan." Rega menepuk bahu Yun lelan, berusaha meyakinkan apa yang ia katakan adalah kebenaran. Masa lalu percintaan Yun memang dramatis dan menguras air mata namun semua itu bukan kehendak siapa pun dan murni sebuah kecelakaan, tapi lelaki itu selalu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi dan membekukan hatinya selama ini untuk menghukum dirinya sendiri.
"Sudah lah, jangan bahas masalah ini. Lagian gue belum siap untuk semua ini." Kata Yun mengakhiri pembicaraan yang selalu ia hindari tersebut. "Kita balik ke kamar, lagian kasian Ella kelamaan nunggu lo. Dia perlu lo saat ini lebih dari siapa pun."
Rega menurut untuk mengakhiri pembicaraan sensitif tersebut, bagaimana pun ia tak bisa melanjutkannya dan memaksakan pendapatnya karena saat ini hati Yun masih belum sembuh secara penuh dan terdapat luka yang sangat dalam di sana tanpa tau siapa dan kapan luka tersebut akan sembuh.
******
"Selamat ya sayang...,sekarang udah jadi Mama." Ucap Devi dengab perasaan bahagia luar biasa memeluk anaknya tersebut. Setelah mendapatkan kabar dari sekertaris menantunya bahwa putrinya akan melahirkan, ia serta suami dan kedua putri kembarnya langsung terbang menggunakan jet pribadi menuju tempat di mana Ella berada. Di dalam perjalanan Devi merasa sangat gugup bahkan sampai-sampai hampir tak bisa bernafas, membayangkan bagaimana perasaan Ella saat ini dan ia sangat ingin berada di sana untuk mendampingi dalam peristiwa berharga yang terjadi. Bahkan Devi mengomel sepanjang perjalanan karena merasa pesawat yang mereka tumpangi sangatlah lambat dan membuatnya jengkel.
"Terimakasih Mama...," Membalas pelukan Mamanya tersebut.
"Sayang?"
Panggilan lembut itu membuyarkan lamunan Devi dan tersenyum, lupa kalau ada orang lain yang ingin memeluk anaknya. Devi melepaskan pelukannya dan tersenyum kecil, duduk di samping tempat tidur untuk memberikan tempat kepada suaminya tersebut.
"Maaf karena Papa datangnya telat, kami datang secepat mungkin setelah mendapatkan kabar." Katanya dengan menghadiahkan kecupan lembut di kening putrinya tersebut, putri yang sangat ia sayangi sepenih hatinya.
"Pa, gak ada yang perlu di maafkan. Lagian Ella dalam keadaan sehat dan semuanya baik-baik saja." Katanya menenangkan, terlihat sekali bahwa ada raut cemas di wajahnya.
"Lo tau gak La, Mommy ngomel-ngomel sepanjang perjalanan. Katanya pesawatnya pelan banget." Kata Sonya dengan tertawa kecil mengingat apa yang Mommy-nya lakukan dan membuat semua orang menggelangkan kepalanya.
"Iya, sampek telinga kita-kita panas semua denger omelan Mommy." Tambah Sonia.
"Masak sih.., ih Mama..." Ella merentangkan tangannya untuk memberikan pelukan kepada Mama tirinya tersebut yang awalnya jahat banget tapi akhirnya luar biasa baik. Bahkan kini dua saudar tirinya terlihat akur dengan mereka bicara dan bercanda satu dengan lainnya. Sungguh suasana yang sangat mengharukan dan membahagiakan buat Ella, pemandangan yang tak akan ia lupakan seumur hidup dan akan menjadi kenangan berharga yang tak dapat tergantikan oleh apa pun.
"Lihat kan sayang, mereka selalu bahagia dengan mengolok-ngolok Mommy mereka sendiri. Ha ha ha ha...," Ujar Mommy menerima pelukan Ella dan tertawa renyah penuh luapan rasa bahagia, beban yang ia rasakan selama perjalanan terasa hilang seketika saat menyaksikan bahwa semua baik-baik saja.
Kebahagian itu terasa lengkap saat Mahendra dan juga Azhari datang untuk bergabung, mereka kembali ke hotel saat keluarga Johan datang untuk sekedar membersihkan diri dan mengisi perut Mereka yang kosong karena tak memasukkan apa pun ke dalamnya saat mereka datang ke tempat ini.
"Selamat Johan," Kata Mahendra memeluk sahabat yang kini menjadi besannya tersebut, "Kita sudah menjadi seorang kakek dan artinya kita benar-benar sudah tua saat ini. Ha ha ha ha ha ha...,"
"Tentu saja, bahkan aku telah mempunyai empat cucu dan bagaimana mungkin aku masih menyebut diriku muda."
Kedua sahabat lama itu akhirnya tenggelam dalam pembicaraan yang menyenangkan tentang rasa bahagia yang mereka rasakan saat ini, mereka saling melontarkan pujian dengam raut wajah sumringah.
"Nyonya, bagaimana bisa anda terlihat sangat cantik dalam usia anda saat ini yang membuat saya merasa sangat iri." Ujar Devi saat memeluk hangat besannha tersebut, pujian yang Devi katakan bukan hanya sekedar pemenis dalam bibirnya tapi itu adalah pujian tulus yang ia katakan. Mengingat usia mama mertua putrinya yang tak lagi muda namun terlihat lebih muda jauh dari usianya saat ini.
"Anda terlalu berlebihan, saya merasa bahwa anda jauh lebih cantik dari siapa pun." Katanga sedikit malu mendapatkan pujian tersebut. "Mana pangeran kecil kita?" Katanta lagi yang tidak melihat anak bungsu keluarga Joham saat ini.
"Saya menyuruh pengasuh untuk menidurkannya di kamar hotek, mengingat perjalanan kami yang cukup jauh dan itu membuatnya lelah. Bahkan kedua cucu kami pun ikut tidur untuk beritirahat." Ujarnya lagi.
Azhar mengangguk pelan dengan tersenyum, perjalanan yang mereka tempuh memang cukup jauh dan memakan waktu jadi untuk anak kecil mendapatkan istirahat untuk saat ini adalah hal yang benar. "Terimakasih telah datang."
"Bagaimana mungkin saya melewatkan semua ini, Ella adalah putri saya dan saya sangat menyesal tidak bisa berada di sisinya saat ia memerlukan saya." Ucapnya penuh sesal.
"Nyonya, Rega menemani Ella sepanjang proses persalinan dan itu membuat saya tenang." Katanya menghibur, bagiamana pun seorang ibu gak bakal tenang mengetahui bahwa putri mereka berjuang dalam hidup dan mati.
Baru aja di omongin ternyata tu orang udah nongol, Rega datang dengan menggunakan kursi roda yang di dorong oleh Yun. Melihat kamar begitu ramai dan juga penuh membuat Rega merasa bahwa ia melewatkan sesuatu yang berharga di sana.
"Lihat siapa yang datang." Kata Johan melihat menantunya yang datang, "Dua pengeran dari keluarga Mehendra yang terhormat."
Rega segera turun dan menyalami serta memberikan pelukan kepada ayah mertuanya, "Kapan papa datang?"
"Baik Papa, terimakasih karena sudah bersedia datang jauh-jauh." Melepaskan pelukannya dan bergantian menyalami mertua perempuannya dan memberikan pelukan hangat.
"Selamat sayang, sekarang sudah menjadi orang tua yang sesungguhnya." Ucap Devi dengan menepuk pundak Rega.
"Terimakasih Mommy..."
"Wah, sampai saat ini gue masih kesulitan mengenali siapa Sonia dan Sonya di antara kalian berdua." Katanya lagi melihat dua saudara ipar kembarnya tersebut.
"Ha ha ha ha...,"
Suasana memang sangat meriah dan penuh suka cita, tapi Ella masih merasa kurang lengkap karena Willy tak hadir di sini. Willy... Paman yang juga ia anggap kakaknya tersebut tak tampak di antar keluarganya. "Pa, mana kak Willy?"
Johan tersenyum, "Willy dalam perjalanan sayang, karena saking gugupnya mendengar kabar darimu jadi Papa lupa memberikan kabarnya untuknya. Papa baru mengabari saat sudah sampai di sini."
Ella mengangguk pelan, alasan yang masuk akal dan jujur ia sangat rindu dengan sosok seorang Willy yang selama ini menjadi sosok sempurna sebagai seorang Kakak baginya.
"Baiklah, karena semua berkumpul di sini maka saya akan memberikan pengumuman penting untuk kalian semua." Kata Mahendra cukup lantang dan langsung menyita perhatian semua orang. "Saya akan mengumumkan bahwa saya akan berheti dari segala aktifitas pekerjaan yang selama ini saya lakukan, saya akan pulang ke rumah utama untuk menghabiskan masa tua saya bersama anak dan juga cucu dengan menyerahkan segala macam pekerjaan kepada kedua anak lelaki saya yaitu Rega dan juga Yun."
Bukan hanya Devi, tapi Sonia dan Sonya pun ikut mengerutkan alis mereka. Yang selama ini mereka tau Yun adalah sekertaris serta asisten Rega tapi kini Ayah mertua Ella itu menyebutkan bahwa Yun adalah anaknya yang otomatis membuat mereka semua bingung.
"Saya akan memberikan 30% dari semua saham dan aset yang saya miliki kepada Yun selaku putra kedua saya dan 30% kepada Rega selaku putra pertama saya, 20% untuk manantu kesayangan saya dan masing-masing 10% untuk kedua cucu kembar saya."
Semua orang tampak kaget mendengar apa yang Mahendra katakan, jumlah yang sangat fantastik mengingat nilai kekayaan keluarga Mahendara yang bukan main-main lagi mengingat kesuksesannya selama ini dan kini ia membagikan seluruhnya tanpa sisa kepada garis keturunannya.
"Ayah, maaf Aku gak bisa terima." Tolak Yun yang merasa tidak berhak mendapatkan warisan yang sangat luar biasa tersebut, ia sadar bahwa bukanx siapa-siapa di bandingkan Rega sebagai ahli waris sah dari keluarga yang selama ini telah memberikan nama, rumah untuk pulang dan semua yang bagi Yun hanyalah mimpi belaka.
"Yun," Rega menepuk bahu Yun pelang, "semua udah gue urus dan udah atas nama lo jadi lo gak bisa nolak."
"Tapi gue gak minta apa pun Ga, cukup di akui sebagai anggota keluarga dan bisa sama kalian semua itu sudah lebih cukup buat gue."
"Ayah memberikannya secara adil untuk kalian berdua karena kalian adalah anak Ayah." Kata Mahendra meyakinkan, ia tau bahwa Yun akan mengatakan hal ini dan untuk itu Rega telah memindahkan segala macam saham dan aset atas nama Yun sebelum memberitahukannya. "Ini belum apa-apa di bandingkan apa yang telah lamu lakukan untuk keluarga Ayah, kau menjadi seorang saudara yang bahkan di luar dugaan Ayah swbelumnya. Ayah bangga dan senang memiliki anak sepertimu, jadi terima apa yang sudah menjadi hak dan itu adalah milikmu."
Yun memamtung dan tak bisa mengatakan apa pun selain air mata yang tak terasa menetes dengan sendirinya, selama ini ia melakukan semuanya tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Hanya di anggap sebagai salah satu anggota keluarga saja sudah lebih dari cukup untuknya yang hanya anak pungut, tapi yang ia dapatkan adalah hak yang sama dengan apa yang Rega dapatkan selaku pewaris utama dan sah.
"Gak usah mewek, gak keren lo kalo mewek kayak gini. Ha ha ha ha ha ha...," Kata Rega mencoba mencairkan suasana yang haru biru tersebut.
"Ayah, Ella gak bisa nerima semua ini." Kata Ella yang ngerasa berlebihan, bagaimana mungkin ia yang hanya anak menantu mendapatkan sebagian pembagian harta dari ayah mertuanya dan kedua anak kembarnya juga mendapatkan hal yang sama.
"Itu Ayah berikan sebagai hadiah, karena kehadiranmu sangay luar biasa sayang." Mahendra duduk di samping menantu kesayangannya tersebut, "Kamu tau, merubah Rega menjadi manusia seutuhnya itu Ayah pikir adalah sesuatu hal yang sangat mustahil. Tapi kini, Rega telah menjadi seseorang yang berbeda dan itu berkat kamu sayang. Bahkan Yun terlihat lebih santai si bandingkan dulu saat mereka bersama, apa yang Ayah berikan bukan apa-apa di bandingkan dengan kebahagiaan dan kedamaian yang telah ayah dapatkan darimu." Mahendra mencium kening Ella dengan lembut, "Terimakasih sayang karena telah memberikan kebahagiaan ini buat ayah."
Ella menggelengkan kepalanya pelan dengan mata berkaca-kaca, ayah mertuanya memang orang yang memiliki hati sebaik malaikat dan lebih lembut di bandingkan kapas. "Berjanjilah kalau Ayah akan selalu bersama kami?"
"Tentu, Ayah akan pulang dan bersama kalian."
Suasana tampak sangat haru, masing-masing orang tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing dan hanyut mengikuti arus yang mampu membuat siapa pun menitikkan air mata haru.
"Ella, Papa juga akan memberitahukan sesuatu padamu." Johan duduk di samping Mahendra, "Semua saham dan aset yang Papa punya menjadi milikmu sepenuhnya."
"Hah???"
"Iya, Papa telah memindahkan semua atas namamu saat Papa menikahi Mama." Katanya lagi.
"Tidak Papa, Ella tidak bisa menerimanya. Bagaiman mungkin Papa melakukannya? Bukankah masih ada anak Papa lainnya selain Ella?" Tampik Ella dengan mengingat Sonia dan Sonya serta si kecil Alex.
"Sayang, Mommy sudah tau semuanya dan sangat setuju dengan apa yang Papamu lakukan. Kami adalah bagian dari keluarga ini tapi kami tidak berhak memiliki apa pun karena semua yang Papa miliki murni hasil kerja kerasnya sendiri dengan Mama kamu di masa lalu." Ujar Devi dengan berdiri di samping suaminya, kalau Devi yang dulu pasti akan sangat marah dan gak bakal rela membagi apa yang seharusnya jadi miliknya tersebut tapi ia yang sekarang telah berubah secara keseluruhan. Ia tak lagi mementingkan harta atau apa pun, hidup secara damai dan lebih dari berkecukupan membuatnya merasa sangat nyaman tanpa merasakan beban apa pun. "Alex tentu saja masih tanggungan Papa, tapi Sonya dan Sonia bisa menanggung diri mereka sendiri."
Johan menatap bangga istrinya yang sangat luar biasa tersebut, dulu Devi mengincar dan menginginkan harta yang ia miliki dan membuat rencana kotor untuk dapat menikah dengannya tapi Devi yang sekarang adalah sosok yang sangat luar biasa berbeda. Johan bahkan sangat bersyukur dapat memiliki istri yang sangat luar biasa tersebut walau dulu pernikahn mereka adalah suatu ke salahan namun sekarang menjadi pernikahan yang menjadi sebuah berkah untuknya. "Terimakasih."Katanya lembut dengan tatapan penuh cinta.
Devi yang mendapatkan perlakuan manis tersebut tersipu malu, ia menundukkan wajahnya yang bersemu merah. Bagaimana mungkin di usianya yang tidak lagi muda itu ia bisa menjadi seperti ini, bahkan Johan dengan mudah membuatnya tersipu.
"Papa, Ella berjanji saat Alex sudah menjadi dewasa dan bisa di andalkan Ella akan memberikan apa yang seharusnya milik Alex. Lagi pula Ella gak ada niat buat terjun di dunia bisnis, Ella mau melanjutkan profesi Ella yang dari dulu udah jadi cita-cita Ella." Kata Ella yang emang dari awal gak ada niat buat menggantikan posisi ayahnya, beruntung ada si kecil Alex yang bakal bisa di andalkan dalam hal ini dan itu berarti Ella bisa melakukan apa yang ia inginkan.
"Tapi sayang?"
"Gak Papa, Rega udah ngasih Ella rumah sakit yang saat ini dokter Raka urus dan Ella bakal sama-sama dokter Raka buat mengurus dan membesarkan rumah sakit tersebut." Ella manatap ganti Mama, "Apa Mama setuju untuk menjadikan Alex sebagai pengganti Papa? Tapi dengan itu semua sebagai gantinya Alex harus belajar lebih di bandingkan anak seumurannya dan Mama harus mendidiknya menjadi anak yang kuat."
Devi menatap ragu suaminya, saat mendapat anggukan tipis lalu ia tersenyum. "Mama akan berusaha menjadikan Alex anak yang luar biasa sepertimu."
*******