Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Ujian Cinta


Ella yang dengar suara ribut dari balik pintu memutuskan untuk melihatnya secara langsung apa yang bikin heboh. Untung aja tu jarum infus udah di lepas sama perawat jadi Ella lebih leluasa bergerak. Badannya yang agak lemah itu ia paksakan untuk berdiri meski harus berpegang pada tembok.


*******


Rega yang kepalang tanggung buat melarikan diri itu akhirnya harus menghadapi sosok perempuan cantik di depannya. Agnes, kerabat jauhnya yang pernah di gadang-gadang bakal jadi nyonya Rega itu tiba-tiba muncul di depannya. Mereka berdua sempat tumbuh bersama dengan selisih umur yang tak jauh berbeda hingga membuat Agnes terbiasa bermanja-manja ria bila bareng sama Rega. Pembawaannya yang riang dan wajahnya cantiknya itu membuat setiap laki-laki menginginkannya, dengan tegas Agnes mengatakan bahwa hanya Rega yang pantas untuk bersamanya.


Agnes selalu mengklaim Rega adalah miliknya dan hanya miliknya. Berbagai macam cara ia lakukan untuk membatalkan perjodohan yang Rega jalani karena Agnes gak rela laki-laki idamannya menjadi milik orang lain.


"Ya ampun.... Udah lama gak ketemu tambah ganteng aja," memeluk Rega dari belakang dan menempelkan kepalanya manja.


"Ngapain lo disini?" Bingung aja tiba-tiba Agnes nongol di rumah sakit.


"Gue liburan lah, pas pulang dari bandara gak sengaja gue liat mobil lo. Langsung aja gue ikutin. Gak tau nya bukan lo tapi sekertaris lo yang nyebelin itu, gue ikut aja masuk gak tau nya beneran ketemu lo disini."


Rega lupa kalau tadi ia menyuruh Yun untuk mengambil dan mengantarkan pakaian ganti untuknya ke rumah sakit.


"Emang siapa yang sakit? Bukan lo kan Ga?"


Katanya khawatir membolak balik tubuh Rega memastikan sendiri bahwa pujuan hatinya dalam keadaan sehat. "Tapi, bukannya lantai ini buat keluarga?" Agnes mengingatnya saat kedua orang tua mereka mengunjungi salah satu kerabat yang di rawat dan menempati salah satu ruangan di lantai yang sama dengannya saat ini.


"Iya."


"Nenek? Apa Nenek yang sakit?" Tanyanya heboh.


"Bukan, Nenek lagi di rumah. Lo pulang aja dulu sana buat temui Nenek."


"Gak mau, gue kan kangen sama lo. Tega ya lo ngusir Gue?" Mulai deh virus manja-manjanya.


"Gue sibuk, lagian lo gak ada kerjaan apa?" Rega melepaskan tangannya yang dari tadi di peluk Agnes, kalo Ella liat bakal beneran jadi perang dunia ke empat ini.


"Aish... Gue kesini mau ketemu elo, lo gak kangen sama gue gitu?"


Rega menggeleng mantap.


"Tapi gue yang kangen." Katanya malu.


Rega lupa kalo cewek yang satu ini paling susah di hadapin, lengket banget kayak permen karet. Yang lebih parahnya selain lengket juga bermuka tebal. Gimana pun Rega marah dia tetap santai, gak berpengaruh sedikitpun.


"Gue liburan satu bulan, jadi selama satu bulan ini lo harus nemenin gue sebelum gue balik ke New Zealand."


Beneran mampus, yang satu aja urusan belum kelar di tambah satu lagi ni masalah muncul.


"Gue sibuk banget, jadi gak bisa nemenin lo jalan. Lo bisa pakai sopir gue buat kemana aja."


"Agnes, gue beneran sibuk. Lo main aja sepuasnya sendiri." Rega merogoh dompet kartunya dan mengeluarkan kartu kredit dari sana. "Pakai ini, lo bisa beli apa pun yang lo mau."


Agnes cuma melototin kartu kredit berwarna emas di tangan Rega, "Lo kira gue bisa di beli sama yang kayak ginian?"


"Gue bukan beli cuma ngasih ide buat lo."


"Gue juga punya kali Ga yang kayak gitu, jadi gue gak perlu. Yang gue perlu itu lo temenin gue...." Rengeknya dengan intonasi manja mendayu-dayu.


Rega yang merasa kewalahan ngelepasin tangan Agnes yang udah kayak tentakel gurita


itu akhirnya menghela nafas panjang. Bukannya lepas malah nempelnya makin erat, sampek kancing bajunya mau lepas di tarik-tarik.


Ella yang ngerasa tenaganya hampir habis terkuras cuma buat jalan sampai pintu itu perlahan membuka pintu, yang pertama kali ia lihat adalah punggung Rega. Yang membuatnya terusik, ada tangan halus yang ia yakini itu adalah tangan seorang wanita. Kalo di liat dari posisi saat ini mereka lagi pelukan. "Om...." Katanya lirih.


Rega yang samar-samar denger namanya di panggil akhirnya menoleh kebelakang diikuti Agnes yang masih erat memeluk Rega.


"Sorry...." Ella membalikkan badannya melihat pemandangan itu.


Rega yang melihat badan Ella terhuyung dengan sigap menangkapnya sebelum tersungkur ke lantai, memeluknya erat.


Gini banget cobaan gue cuma mau sama lo La?


"Ella!"


Ella membuka matanya malas.


"Ella capek, mau tidur." Katanya pelan dan menutup kedua matanya, tak terasa air matanya mengalir dari sudut.


Rega yang menyadari kesalahan yang tak pernah ia perbuat memeluk dan membenamkan wajahnya di leher Gadis itu. "Lo udah tidur lama banget, mau tidur sampek kapan?" Katanya lembut, sesekali mencium rambut Ella yang tergerai.


"Kalo bangun cuma buat liat kayak gini mending Ella tidur lebih lama."


"Gue gelisah nungguin lo bangun, jangan tidur lagi."


Ella memejamkan matanya, membiarkan air matanya menetes dengan sendirinya. Ternyata sesakit ini rasanya melihat orang yang selama ini menyanjung, memanjakan dan melakukan apa pun untuk kita bersama wanita lain.


"Jangan mikir yang macam-macam." Rega menyapu air mata Ella dengan jarinya dan menghadiahkan kecupan lembut di bibir Ella untuk meyakinkan bahwa cuma dia cewek yang ada dalam hatinya.


Agnes yang terperangah melihat adegan mesra yang di lakukan Rega di depan matanya itu mengepalkan tangannya marah. Baru kali ini Rega terang-terangan memperlakukan cewek selembut itu, selama ini sosoknya yang dingin dan cuek itu tak pernah menunjukkan perhatian sebesar itu terhadap cewek manapun. Bukan Agnes namanya kalau menyerah gitu aja, selama ini ia selalu berhasil menyingkirkan cewek-cewek yang ada di sekitar Rega dengan mudah. Agnes yakin, kali ini ia akan melakukan hal yang sama.