Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Wedding


Raka yang udah rapi dengan setelah senada dengan Anggun berwarna putih bersih itu berdiri menghadap jendela keluar dengan perasaan campur aduk bak nasi campur yang udah di aduk di dalam satu piring (sambil nulis authornya halu sama nasi campur yang bikin ngiler) yang gak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata dan cuma dengan perasaan yang Raka sendiri memahami dan mengerti sepenuhnya, hari ini akhirnya datang juga setelah sekian lama ia menunggu. Hari dimana ia akan melepaskan masa lajangnya dan mengganti dengan masa di mana ia menjadi kepala rumah tangga yang akan bertanggung jawab penuh atas istri dan anak-anaknya kelak, masa di mana ia tak lagi memikirkan diri sendiri dan berbuat semaunya karena ada orang dan hati yang akan ia lindungi dengan segenap hati.


"Lo ngapain?" Tanya Rega saat liat Raka yang berdiri mematung di depan jendela sambil ngelamun, padahal dulu dia kayak gitu juga sebelum acara ijab kabulnya. Malah lebih parah jalan kesana-kemari gak beraturan kayak setrikaan.


"Lagi nunggu, rasanya gue gugup banget." Berpaling dan menyambut kedatangan Rega sahabat tengilnya yang nyebelin banget itu tapi biar gimana pun ada ikatan yang Raka gak bisa ngerti buat misahin mereka berdua.


"Lo udah makan belum? Takutnya entar lo pingsan, malu-maluin kan kalo belum apa-apa pingsan?" Kata Rega yang belajar dari pengalaman.


"Hahahahaha..., bisa aja lo ngomong kek gitu." Kata Raka ngeremehin.


"Gue serius, lo kira becanda apa?" Mengambil bungkusan yang ia bawa dari rumah yang sengaja di persiapin dan minta Ella buat bungkusin. "Makan, nasi goreng buatan bini gue. Jarang-jarang gue mau berbagi sama orang lain kalo gak inget lo malu-maluin gue sampek pingsan duluan gara-gara kelaparan." Menyerahkan kotak bekal makanan ke arah Raka yang Rega yakin banget belum makan apa pun dari tadi malam, soalnya tadi malam masih ada di rumah sakit buat ngelakuin beberapa kerjaan yang gak bisa di tunda dan di wakilkan sama siapa pun dan Rega yakin kalo Raka gak sempat buat makan.


Raka menerima kotak itu dengan mata berbinar-binar, walau biasanya nyebelin sampek bikin enek ternyata hari ini Rega menjadi sosok lembut dan perhatian. Beda sama biasanya yang luar biasa menindas. Ya... Walau yang keluar dari mulutnya itu gak ada lembut-lembutnya sama sekali malah kayak duri landak. "Makasih bro, lo emang sahabat gue yang baik." Langsung membuka dan melahapnya tanpa permisi sama yang ngasih.


"Siapa yang lakuin demi lo, lagian gue ngelakuinnya buat rumah sakit gue. Kalo direktur dan dokternya pingsan karena kelaparan mau di taruh di mana muka gue." Jawab Rega.


Tuh kan, emang mulutnya Rega gak ada manis-manisnya kalo ngomong. Tapi gak pa-pa, lagian perhatian dan tindakannya udah mencerminkan sesuatu yang bikin Raka terharu biru. "Iya gue tau..., makanya gue makan sampek habis biar lo gak malu entar." Katanya males buat berdebat yang gak bakalan menang dan gak berfaedah itu jadi mending ngalah aja buat kelangsungan hidup dan kariernya.


Rega meletakkan amplop putih di dekat Raka tanpa bicara.


"Apa itu? Jangan bilang surat pemecatan gue karena kemaren gue minta cuti satu minggu sama lo." Katanya melirik dengan perasaan was-was ke arah amplop gak berdosa tersebut, kemarin Raka mengajukan cuti secara langsung dan di tolak mentah-mentah oleh Rega dengan alasan janji Raka yang ia ucapkan tempo hari bahwa pekerjaan dan nyawa manusia di atas segala-galanya di atas kepentingam pribadi. Rasanya Raka nyesel pernah ngomong kek gitu sama orang macam Rega yang gak punya perasaan dan kalo ngomong gak sekedar ancaman doang tapi dengan tindakan.


"Kalo lo mau tau apaan isi nya kenapa lo gak buka aja, lagian itu hak gue buat mecat lo setiap saat sesuai perjanjian kita." Jawabnya santai tanpa dosa yang bikin Raka gak bisa nelan nasi goreng di mulutnya dengan baik dan benar.


"Iya gue tau, tapi tega banget sih lo mecat gue pas gue mau nikah? Gue kasih makan apa entar istri gue kalo jadi pengangguran?"


"Kan lo bisa numpang istri lo."


"Enak aja lo ngomong, mana ada yang kayak gituan? Lagian gimana tanggung jawab sama harga diri gue sebagai suami kalo numpang sama istri?"


"Di bungkus pakek plastik masukin tong sampah tanggung jawab sama harga diri lo." Jawab Rega tanpa melihat ke arah Raka dan asik buat main hp-nya.


"Omongan lo dari dulu emang gak ada yang enaknya di dengar." Meletakkan kotak bekal yang isinya udah habis itu di atas meja dan minum air putih biar tenggorokannya yang tadi seret jadi mulus. Akhirnya Raka memberanikan diri buat mengambil dan membuka amplop yang ada di depannya dengan perasaan yang gak enak. Mau gimana lagi kalo tu amplop isinya emang surat pemecatannya selain menerima dengan lapang dada walay sebenarnya gak rela.


"Lo mau buka amplop aja udah kayak mau buka surat kematian." Kata Rega greget liat kelakuan Raka dari tadi yang maju mundur.


"Ini hidup dan mati gue tau makanya gue harus hati-hati. Lagian lo itu gak punya hati nurani."


"Kalo gue ngandelin hati nurani gak bakalan bisa gue megang perusahaan sampek sekarang." Katanya jujur, soalnya kalo ngandelin hati gak bakalan bisa sampek di tingkat sekarang ini.


Raka yang tau maksud ucapan Rega itu hanya menganggukkan kepalanya pelan mengiyakan apa yang ia katakan tanpa bantahan. Udah lah, di bandingkan mati penasaran mening di buka aja tu amplop yang gak berdosa. Raka menyobek ujung amplop itu perlahan dengan melirik ke arah Rega yang lagi asik mainin hp nya sambil ketawa-ketiwi gak jelas, apa lagi kalo bukan lagi asik chat sama istrinya yang lagi nemenin mempelai wanita di bagian kamar lain bangunan ini. Deg-degan pas narik isi tu amplop sambil merem dikit alias ngintip. "Maksud lo apaan nih?" Tanya Raka curiga mendapati tiket di dalam sana, tiket yang sangat mencurigakan dan bisa ngirim kemana aja asalkan itu perintah dari Rega.


"Lo udah jadi direktur masih gak bisa baca, lo kan bisa baca masak gue harus yang bacain?" Jawab Rega acuh yang matanya gak berpaling dari layar hp-nya.


"Kalo cuma baca gue bisa, bisa banget malah tapi yang gak bisa gue baca itu isi otak dan kepala lo."


Raka yang kayak dapat durian runtuh itu gak nyangka banget kalo Rega ngelakuinnya, "Serius lo Ga? gak lagi ngerjain gue kan?" Masih gak percaya dan milih buat menjaga jarak atas perasaannya.


"Gue udah tua ngapain ngerjain lo? Lo bisa jalan ke eropa selama dua minggu dan lo bisa nginep di hotel gue yang ada disana. Gue juga udah kasih kartu buat lo nginep, mereka bakal ngerti kalo lo tunjukin sama pegawai disana." Jawab Rega dengan duduk menyilangkan kakinya, perjalan bulan madu selama dua minggu itu bukan hal yang sulit dan itu sepadan dengan apa yang Raka lakukan saat selama ini dan bahkan bagi Rega itu tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan adanya Raka yang selama ini menemaninya dari nol hingga menjadi seperti sekarang ini.


"Terimakasih." Meloncat dan memeluk Rega yang ada di sampingnya, "Gue gak ngangka kalo lo bisa jadi malaikat berhati lembut setelah menjadi iblis berhati baja." Katanya blak-blakan yang langsung di balas Rega dengan tatapan mata mematikan. "Sorry ga, gue becanda ngomong gitu." Langsung masukin amplop tersebut ke dalam kantongnya sebelum Rega berubah pikiran dengan cepat, soalnya orang macam Rega isi kepalanya gak bisa di tebak sama sekali.


******


Acara pernikahan itu berlangsung sangat sakral dengan hanya di hadiri orang-orang terdekat kedua mempelai, tampak semua orang berbahagia disana. Ella yang menjadi pendamping mempelai wanita itu sampai menitikkan air mata haru melihat Anggun yang sangat cantik dan elegan itu bersimpuh di depan kedua orang tuanya, ia teringat mama yang tak bisa melihat pernikahannya beberapa tahun silam tersebut dan beruntung Mama Devi menggantikan dan mendampinginya.


"Entar kita lakukan resepsi yang lebih meriah lagi." Bisik Rega yang udah di samping Ella dengan melingkarkan tangannya di pinggang Ella yang ramping. " Sebelum perut kamu membesar." Bisiknya lagi dengan senyum hangat.


"Kapan Abi disini?" Kaget liat suaminya yang tiba-tiba nongol itu dan langsung memeluknya.


"Pas kamu nangis."


"Abi apaan sih...," Malu ketangkep basah sama Rega yang bakal jadi candaan terus.


Rega menarik dan mengencangkan tangannya untuk lebih dekat lagi, " Apa pun bakal Abi kasih buat kamu, bahkan nyawa Abi bakal Abi sedekahin buat istri Abi yang luar biasa ini." Mencium pipi Ella dan mengelusnya lembut.


Ella yang mendapat perlakuan manis tiba-tiba itu langsung merah pipinya karena malu, gimana gak malu kalo berpuluh-puluh pasang mata langsung melihat ke arah mereka. "Abi, diliatin sama orang nih." Bisik Ella yang merasa risih.


"Biarin aja, terserah Abi mau ngelakuin apa sama. istri sendiri." Katanya cuek, menarik tangan Ella untuk menjauh dari kerumunan orang. Setelah di rasa cukup sepi, Rega langsung mencium bibir Ella. Sejak tadi ia menahannya karena istrinya terlalu manis dan menggoda.


"Abi?"


"Iya sayang, Abi gak bakal ngelakuin hal yang lebih lagi kok. Cuma sekedar cium," Katanya yang langsung menyambar bibir Ella dengan ciuman-ciuman lembut yang memabukkan. Bagaimana pun Rega gak mau menyakiti dan membuat trauma istrinya tersebut dan sebisa mungkin membuatnya nyaman dan menginginkan lebih lagi.


Tampak di salah satu sudut ruangan seseorang merekam dan mengambil foto kemesraan yang sepasang suami istri itu lakukan dengan tersenyum puas, puas telah mendapatkan sesuatu yang menjadi senjata andalannya demi kepentingan pribadi untuk. membalas sakit hatinya selama ini. Kartu as yang bisa merubah jalan hidupnya dan menjadi sebuah tambang uang (menurut pandangan dan versinya sendiri, gak tau kalau mulut harimau udah mengintainya).


*****


Hi readers...


Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin yach....


Makasih buat kalian semua yang udah setia dengan nunggu up dan tetap setia baca novel yang author tulis, beberapa hari ini author sibuk banget dalam suasana idul fitri jadi gak bisa nulis naskah dan pending sampek sekarang yang alhamdulillah ada waktu longgar yang sedikit-sedikit bisa buat nyicil dan jadilah satu episode yang terbit ini.


Ini adalah beberapa episode dari bagian episode terakhir dari novel author dan bakal di lanjutin buat season keduanya... (Rencananya sih gak lama lagi cerita Ella dan Rega bakalan tamat, tapi gak tau ya kalo berubah karena suasana hati author juga bisa berubah).


Jangan lupa "like" dan "Vote" nya serta "komentarnya" buat kalian yang suka sama novel yang author tulis. Terimakasih atas dukungan dan partisipasi dari kalian semua yang udah bikin author tambah semangat lagi buat nulis.


Makasih buat kalian semua 😘😘😘😘