Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Dinner (part 3)


Johan menggandeng tangan Ella saat memasuki restoran dengan senyum sumringah, putrinya kini tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik hingga membuatnya bekerja ekstra menjaganya dari laki-laki hidung belang dan tak akan segan-segan melakukan apa pun demi melindunginya.


Jauh-jauh hari ia memesan tempat ini untuk memberikan kejutan ulang tahun yang ke tujuh belas untuk Ella karena mereka hanya menerima sepuluh tamu setiap malamnya tak lebih. Untuk menikmati makanan premium dan pelayanan yang luar biasa tersebut harus sabar menunggu dan memesannya lebih dahulu. Dalam angannya ingin merayakan ulang tahun yang mewah dan meriah dan tentu saja dengan senang hati Ella menolaknya dengan alasan pemborosan. Semua kolega bisnis Johan merayakan ulang tahun anak mereka dengan spektakuler dan memperkenalkannya secara resmi, namun tak berlaku pada putrinya. Ella menolak setiap kali ingin mengenalkannya dan ia mengaku hanya magang sebagai asisten Papanya saat menghadiri rapat penting. Karena tak hayal banyal yang salah paham hingga mereka berpikir ia adalah calon istri bahkan istri dari Johan Aditya yang baru.


Nuansa klasik Yunani sangat terasa kental bahkan di pintu depan dengan ornamen patung yang menghiasi pilar dan dinding, tak lupa lukisan-lukisan berjejer rapi di dalam ruangan.


"Pa, ngapain kesini?" Bisiknya dengan berjinjit menyeimbangi tubuh Papa yang tinggi.


"Kan udah Papa bilang malam ini kita dinner sayang, gak usah mikir macem-macem." Memencet hidung Ella dan seolah tau apa yang sedang ia pikirkan.


"Kan mahal makan disini, pemborosan namanya, Ella kan bisa masak di rumah."


"Cuma makan gak bakal bikin papa bangkrut sayang, bahkan buat beli seisi restoran ini Papa masih sanggup. Kamu mau? "


Dengan cepat Ella menggeleng, "Parah Papa, makin tua makin sombong." Katanya terkekeh.


"Eits ...." Ella menepis tangan Papanya dan menggandengnya sebelum mengacak-acak rambutnya. "Kebiasaan ya, entar kucel lo Pah.... Kan gak cantik lagi kayak habis di keroyok."


"Sorry sayang, lupa."


"Tuh kan benar kata Ella kalau Papa emang udah tua buktinya nambah tu penyakit pelupanya."


Johan tertawa kecil diikuti oleh Ella.


Ia tak pernah memperlakukan Ella seperti seorang anak yang harus tunduk dan patuh dengan perintahnya. Memperlakukan dan menganggap sebagai seorang teman membuatnya menjadi lebih dekat dan nyaman, membuat hubungan yang unik antara ayah dan anak yang tercipta diantara mereka. Johan tak ingin terpaku dengan kondisi dimana mereka bersikap kaku dan canggung, hingga tak ada keakraban yang terjalin. Ia membebaskan putrinya untuk melakukan apa pun sesuai kehendaknya asalkan itu yang bersifat positif.


Mendidiknya sedemikian mungkin untuk rendah diri dan tak memanjakannya dengan materi hingga Ella tumbuh menjadi gadis yang luar biasa dan dewasa di umurnya yang sangat muda. Saat gadis seumurannya bermain dan menghabiskan uang orang tua mereka untuk membeli barang-barang mewah demi memenuhi kebutuhan dan gengsi, Ella tak demikian. Ia berpenampilan sederhana setiap harinya, barang yang ia miliki pun ia beli dari kaki lima atau dimana pun itu dengan harga yang relatif murah. Padahal dengan kekeayaan yang orang tuanya miliki ia mampu membeli apa pun dan berapa pun, prinsipnya hidup sehemat mungkin.