
Willy yang merasa frustasi dengan kenyataan bahwa Ella telah memilih untuk menerima dan bersama dengan Rega membuatnya tak bisa berpikir jernih, menjadi pukulan yamg luar biasa untuknya. Hari-hari yang ia lalui terasa sangat berat dan ia menghabiskan setiap malamnya dengan minum-minuman di bar ditemani wanita cantik yang setiap malam silih berganti untuk mengisi kekosongan hatinya saat ini. Sejak pertama kali ia di bawa ke rumah keluarga itu, Willy memiliki perasan khusus dengan anak kecil yang sangat menggemaskan itu. Mungkin saat itu Willy belum menyadari perasaan apa yang ia rasakan dan hanya mengira adalah cinta monyet dari anak kecil yang akan hilang dengan seiring berjalannya waktu. Namun, kenyataan berkata lain. Seiring berjalannya waktu ia banyak menghabiskan waktu berdua dan melihat Ella tumbuh menjadi gadis manis yang luar biasa, perasaan Willy tak pernah berkurang sedikitpun bahkan semakin hari semakin bertambah. Banyak wanita cantik yang ada di sekelilingnya bahkan Willy terkenal dengan ke playboyannya selama ini, wanita-wanita yang mengisi harinya itu tak ada satu pun yang mampu menggeser tempat Ella di hatinya. Mereka hanya wanita yang singgah sementara untuk menenmaninya, tak ada sedikitpun niat untuk membuat salah satunya sebagai pendamping hidupnya.
Ella yang terkesan cuek itu telah mencuri hati dan perasaannya sepenuhnya, hingga Willy bertekad menjadi sesorang yang dapat Ella banggakan. Willy memilih untuk mandiri dan membuktikan pada semua orang bahwa ia mampu menjadi luar biasa agar suatu hari dapat menyeimbangi dan pantas bersama dengan pujaan hatinya. Willy sangat bahagia karena Ella bersikap manja hanya padanya, dan menutup diri dari pergaulan lawan jenis yang membuat Willy semakin banyak kesempatan untuk memenangkan hati gadis kecilnya itu. Selama ini Ella tak pernah sekalipun menjalin hubungan dengan lawan jenis dan hanya memiliki satu sahabat yang tak lain adalah Vino yang Willy mengenalnya secara langsung. Willy tak pernah menganggap Vino sebagai saingannya karena hubungan mereka lebih cenderung seperti saudara di bandingkan teman biasa. Willy tak pernah memprediksikan kemunculan sosok lain yang kedepannya mampu merebut dan meluluhkan Ella, ia lengah karena kesibukannya hingga tak pernah memantau perkembangan Ella dan tak pernah menghubunginya. Kemunculan Rega mampu dan telak menggusur posisinya.
Willy menggoyangkan cangkir yang berisi minuman alkohol berkadar tinggi dengan pandangan buram, ia merasa sekitarnya bergerak da berputar dengan sendirinya yang menandakan kini ia telah dikuasai oleh minuman tersebut. Dengan melakukan hal ini Willy dapat melupakan Ella walau hanya sebentar dan keesokan harinya terbangun dengan keadaan yang menyedihkan, kembali pada kenyataan bahwa ia telah kalah untuk memenangkan hatinya.
***************
Setelah membeli beberapa keperluan pribadinya, Sonia tak serta cepat pulang ke rumah. Ia mampir ke beberapa toko membeli perlengkapan dapur yang Mommy suruh. Hari semakin larut, untung aja tadi berangkat di atar sama sopir jadi gak bakalan takut buat pulang. Tanpa sengaja, Ella melihat sosok yang tak asing baginya walau sebenarnya Sonia kurang yakin dengan apa yang ia lihat, sosok yang tengah duduk bersandar di tiang halte dengan keadaan yang menyedihkan (rambut acak-acakan dan baju yang udah kucel). "Pak, tolong berhenti sebentar." Katanya untuk memastikan kebenarannya. Sonia mengambil payung dan membukanya untuk menghindari tubuhnya yang basah oleh gerimis yang turun malam ini. "Kak Willy?" Matanya mengamati laki-laki di depannya dengan alis mata berkerut, penampilannya sangat berbeda seperti biasanya bahkan tergolong lusuh. Tatapan matanya tampak sangat menyedihkan, menyimpan kesedihan yang sangat mendalam membuat siapa pun yang melihatnya akan merasakan hal yang sama. Bau alkohol yang sangat menyengat tercium jelas dari tubuhnya.
Willy mengamati seseorang yang ada di depannya itu dengan menyipitkan matanya, membatasi ruang lingkup matanya untuk melihat lebih jelas siapa orang yang ada di dekatnya itu.
"Kak Willy ngapain disini?" Sonia melingkup payungnya, duduk berjongkok di depan Willy yang beberapa mengucek matanya dengan telapak tangan.
"Elo...."
"Ini Sonia Kak...."
"A.... Sonia.... Saudara tiri Ella...." Mengangguk-ngangguk gak jelas sambil menunjuk ke udara. "Ella mana?"
"Dia ada di rumah, Kakak ngapain disini? Sonia antar pulang ya?"
Willy mengibaskan tangannya dengan serampangan yang bikin dia hampir jatuh terjerembab yang untung masih bisa di tahan oleh Sonia.
Sonia yang merasa kewalahan dengan berat badan Willy itu mundur beberapa langkah untuk menyeimbangkan berat badannya yang menopang badan Willy yang sempoyongan. Lagi-lagi bau alkohol tercium sangat pekat dari mulut Willy, ternyata laki-laki yang biasanya ceria itu kini terlihat sangat menyedihkan. Sonia bertanya-tanya apa yang membuatnya menjadi terlihat seperti ini dan memilih untuk melampiaskan pada minuman yang memabukkan itu? Apakah masalah dan bebannya sangat berat hingga tak dapat ia selesaikan sendiri tanpa batuan alkohol? Atau memang seperti ini kepribadian Willy yang Sonia tak ketahui?
Entah lah....
Pertanyaan itu berkeliaran di dalam pikirannya saat ini tanpa bisa mendapatkan jawaban yang sesungguhnya.
"Gue gak mau pulang, temeni gue buat minum. Ok...." Willy berjalan sempoyangan yang udah persis banget sama jurus mabuknya wiro sableng, baleho yang udah dari awal disitu hampir aja ketabrak. "Lo gak liat apa gue jalan hah? Gue yang segede gini mau lo tabrak?" Namanya aja orang mabuk, baleho yang gak bernyawa aja di ajak ngomong sambil di omelin.
Sonia tertawa miris, antara lucu sama kasihan. Mau di antar pulang tapi gak tau rumahnya, mau di biarin malah udah kayak gelandangan yang gak punya tujuan. Kalo ketemu sama orang jahat gimana? Atau preman yang lewat terus Willy bikin keributan sama mereka, yang ada malah di gebukin. Jalan satu-satunya di bawa pulang ke rumah aja, lagian kan Willy masih kerabat dari Papa Johan jadi gak masalah kalo pulang kesana. Sonia menghampiri Pak Iwan yang masih stand by di dalam mobil menunggu. "Pak, tolong Kak Willy. Sonia gak sanggup buat mapah, badannya berat banget."
Pak Iwan menatap Nona mudanya itu ragu, bagaimana bisa gelandangan yang dari tadi bicara sama Nona itu adalah Tuan Willy yang artinya adik dari majikannya. "Tuan Willy? Maksud Nona adik dari Tuan Johan? Om nya Nona Ella?" Lengkap banget tu nyebutin jadi gak sampek salah orang lagi.
"Iya Pak, masak Kak Willy yang lainnya?"
Sekali lagi Pak Iwan melihat ke arah halte, tampak laki-laki yang sedang duduk itu memang adik dari Tuannya. Penampilannya yang sangat berbeda itu membuatnya pangling dan hampir tak mengenalinya.
"Ayo Pak buruan, pakek acara ngelamun segala lagi." Sonia mengetuk pintu mobil untuk menyadarkan Pak Iwan yang lagi ngelamun.
"I-Iya Non," Membuka pintu dan turun dari mobil dengan tergesa-gesa. "Ya ampun Den Willy.... Aden ngapain sampek kayak gini?" Memapah badan Willy dengan bersusah payah karena badannya yang lebih besar di tambah lagi mabuk jadi gerakannya gak terkontrol.
"Pak Iwan.... Makin hari Bapak makin tua aja...." Katanya ngawur sambil menepuk-nepuk pipinya.
"Gak usah di bilangin Bapak udah tau Den."
"Kali aja Bapak gak nyadar...."
Sonia membukakan pintu biar Pak Iwan lebih gampang memasukkan Willy yang udah kayak kelayangan putus, hampir aja tu kepalanya kepentok pinti mobil kalo gak Pak Iwan sigap. Udah benjol tu kepala.... Ia menggeser badan Willy kesudut lainnya untuk berbagi tempat duduk.
"Eh, lo ngapain geser-geser gue?"
Sonia yang lagi males ngeladenin orang setengah sadar itu cuma diem, "Jalan Pak, entar kalo ada apotik mampir bentar ya Pak. Tolong Bapak belikan obat buat Kak Willy."
"Baik Non."
Willy yang dalam pengaruh alkohol itu meracau, ngomong ngelantur kemana-mana gak jelas. Bahas masalah proyeknya lah, masalah kantor, masalah politik, sampek masalah sembako yang lagi naik daun di bahas juga padahal ya gak ada yang ngeladenin tu orang berkicau ria dari tadi.
"Gimana mau sejahtera rakyatnya kalo semakin lama harga sembako semakin mahal, gula sama minyak goreng aja mahal banget kayak gini gimana nasib para wirausaha yang cari makan dari sana gula sama minyak goreng? Modalnya udah gede hasilnya gak seberapa, mau di kasih makan apa anak sama istri mereka. Kalo punya istri satu itu masih mending, ini istrinya ada dua atau tiga? Hahahaha...."
Sonia menatap Willy sambil nyengir kuda, entar lama-lama bisa nyengir unta kalo kayak gini terus.
"Tapi menurut gue itu bagus juga, dengan mahalnya gula dan minyak goreng secara gak langsung pemerintah membantu pihak medis untuk menekan angka diabetes sama kolestrol tinggi yang sekarang lagi marak di masyarakat kita dan ujung-ujungnya mereka kena penyakit stroke. Seharusnya para istri merasa tertolong dan berterima kasih karena para suami mereka yang awalnya pengen poligami jadi gak jadi gara-gara gula sama minyak goreng harganya naik semua."
Kali ini Pak Iwan yang senyum-senyum geli denger ocehan Willy yang gak ngalor ngidol itu menghubungkan satu sama lain yang sebenernya gak nyambung sama sekali dan terkesan di paksakan.
"Noh dengerin Pak katanya Kak Willy...," Sonia yang maunya masa b*doh itu gak bisa juga buat gak ketawa denger ocehan Willy yang berasa aneh tapi lucu. "Gantinya gula itu garem Pak."
"Jangankan gula mahal Den, yang murah aja Bapak gak sanggup buat poligami apa lagi nyampel poliandri. Bisa-bisa Bapak di sunat sama istri yang di rumah sampek gak bersisa."
"Bener itu, saya sangat setuju sama istri Bapak buat nyunat Bapak kalo beli gula di luaran. Haahaha..., seharusnya istri Bapak itu di beri pengharagaan tertinggi atau kalau gak jadi Presiden."
Ya elah..., makin gak bener aja ini ngomongnya. Udah deh... Gak ada yang bisa di dengerin sama sekali omongannya.
"Gue kasih tau ya Son, lain kali jangan cari calon suami yang kayak Rega." Malah bawa nama Rega lagi dalam ceramah edisi ngawurnya itu.
"Kenapa Kak?"
"Jadinya gue kalah ganteng, lo cari aja calon yang kayak mang Udin atau Pak Iwan jadinya kan menang banyakan di saya..."
"Pfffff...." Pak Iwan menyumpal mulutnya pakai satu tangannya biar gak ngakak ketawanya, ada-ada aja orang yang lagi mabok. Yang keluar dari mulutnya itu lucu-lucu.
"Bapak ngetawain ane? Gak percaya kalo eke lebih ganteng dan bohai di bandingkan Bapak hah?"
"Iya Den... Bapak kalah Den Willy lebih ganteng dan bohai di bandingkan sama Bapak yang udah tua, keriput dan cuma sisa tulang berbungkus kulit dimana-mana."
"Bagus kalo Bapak akhirnya menyadarinya." Mengacungkan jempolnya sambil satu tangannya memukul sandaran jok mobil yang di duduki Pak Iwan.
Kalo gak dalam mobil, Sonia bakal guling-guling ketawa denger sama liat tingkah konyol Willy yang jadi hiburan tersendiri buatnya hari ini. Apa lagi kalo Ella sampek liat pasti tu anak bisa sampek pipis di celana liat kekonyolan Willy. "Gue serius lo..." Katanya lagi yang ternyata belum puas ngomong.
Pak Iwan menepikan mobilnya saat liat apotik yang lumayan jauh darinya sekarang, mau balik puterannya lumayan jauh jadi mending parkir disini aja biar jalan jauhan dikit gak pa-pa kan itung-itung olahraga malam buang keringat. "Tunggu bentar ya Neng, Bapak mau beli obat dulu biar Den Willy gak kayak gini. Lama-lama Bapak ngeri denger omongnya."
Sonia memberikan beberapa lembar uang seratus ribu buat Pak Iwan. "Sekalian belikan larutan penyegar ya Pak sepuluh botol, pesenan Ella."
"Sip Non...."
Sepeninggalan Pak Iwan menuju rumah sakit Willy gak ngoceh lagi, tu cowok lagi tidur dengan damai dan tentram serta sentosa.
"La.... Jangan tinggalin gue...." Katanya dengan isak tangis yang bikin pilu.
Sonia yang awalnya asik dengan Hpnya itu menghentikannya saat mendengar rintihan Willy, meski matanya tertutup dengan sempurna namun air matanya mengalir dengan deras. Apa gue tadi salah denger ya Kak Willy manggil nama Ella? Batin Sonia sambil memperhatikan wajah Willy.
"La.... "
Sonia menghapus air mata Willy dengan ujung jarinya perlahan, menarik nafas panjang buat nerima kenyataan bahwa Willy menjadi seperti sekarang ini karena Ella. Lalu apa hubungannya?
Bukannya hubungan mereka adalah keponakan dan Om?
Lalu, air mata apa yang Willy keluarkan saat ini dengan menyebut nama Ella disana?
******
Hi Readers yang cantik dan genteng plus masih anteng di rumah masing-masing....
Hari ini kegiatan apa yang kalian lakukan di rumah buat ngisi acara biar gak bosen? Kalau author ya entah kenapa hari ini rajin banget sampek semua di cuci padahal belum jadwalnya nyuci (Selimut, Seprai, Horde, dll..." dan bolak-balik mesin cuci sehari sampek 3 kali saking rajinnya. Kalo udah males tu cucian sampek numpuk berhari-hari pun gak di kerjain, cuma di lirik doang sambil ngomong dalam hati gini "entar aja deh kalo udah banyak). Giliran udah banyak ngalahin bukitnya teletubbies tu tingginya tumpukan baju malah males buat nyuci yang akhirnya masukin kresek ambil jalan pintas buat anter ke loundry....
Kan udah wangi tuh nyampek rumah....
🤣🤣🤣🤣🤣
Entah apa yang merasukiku sampek punya kekuatan buat gerakin seluruh otot d badan. Asalkan itu positif gak masalah ya.... Apa lagi kalo sampek satu rumah di bersihin bakal top markotop! 😁
Jangan lupa buat jaga kebersihan dan tetep di rumah buat mutus wabah yang lagi melanda di berbagai negara di seluruh dunia. Kalo gak kita yang mencintai diri kita sendiri lalu siapa lagi?
Selain usaha jangan lupa berdoa semoga semua cepat berlalu dan kita bisa beraktifitas seperti biasanya. (Author gak lupa berdoa semoga viewnya makin hari makin tambah banyak, sama yang ngevote juga banyak ☺).
Makasih buat kalian semua yang masih nunggu Up dan setia baca novel dari author buat ngisi waktu kalian semua yang sekarang lagi guling-guling manja di seluruh sudut rumah(soalnya author juga kayak gitu).
Makasih banyak buat kalian 😘, jangan bosen ya sama novel author. ☺☺☺