
Sebenernya Ella lebih suka belanja di pasar tradisional di bandingkan Mall atau minimarket, menurutnya selain harganya yang jauh banget lebih murah juga barang yang dijual lebih segar karena langsung di petik dan dijual. Beda di Mall yang bertahan berhari-hari bahkan berminggu-minggu, tampilannya yang segar karena terjaga oleh suhu ruangan alias gak layu terpapar sinar matahari.
Dua bungkus nasi putih dan perlengkapan lainnya siap ia eksekusi dan di sulap menjadi nasi goreng seafod yang gak kalah sama restoran bintang lima. Ella memencet bel dan tak lama Rega membukanya dengan tampilan yang lebih fress, pakai kaos biasa sama celana pendek berbeda sama yang biasa ia lihat dengan tampilan formal yang menurutnya kayak bapak-bapak yang gini ni lebih menusiawi.
"Nih." Mengulurkan tangan setelah merogoh kantong celananya.
"Apaan?" Heran melihat uang pecahan puluhan ribu berapa lembar di tangannya.
"Kembalian belanja." Menuju dapur dengan menenteng palstik belanjaan.
Rega menutup pintu dan mengekori Ella dengan matanya kearah dapur. Cewek berisik itu membongkar plastik belanjaan dan mengeluarkan isinya, dengan cekatan ia mengupas bawang dan lainnya. Ia penasaran karena selama in tak pernah melihat orang memasak secara langsung, ART yang ia pekerjakan pun tak pernah melakukannya karena hanya membersihkan apartemen dan mencuci baju serta menyetrika pakaiannya.
Makanan yang ia makan pesanan dari restoran langganannya dan terkadang makan bersama rekan bisnis.
"Jangan bikin dapur gue meledak" Menarik kursi dan duduk tak jauh dari Ella yang sudah sibuk dengan kerjaannya.
"Tenang aja Om, gak bakalan meledak Ella jamin." Tetap berkonsentrasi bikin bumbu nasi goreng.
"Kulkas Om melompong gitu sayangkan kalo di anggurin."
Rega melihat kearah kulkas yang emang gak pernah ada isinya. "Gue jarang makan di rumah."
"Tinggal pesan makanan entar juga sampek."
"Kalo gitu caranya pemborosan Om, suruh aja ART Om buat masak kan lumayan gak buang-buang uang."
"Gue males."
Ella mencuci sayuran dan mulai memotongnya dengan sangat lihai, bahkan gerakannya persis sama koki profesional. Rega memperhatikannya serius, kalo salah-salah tu tangan bisa kepotong. Setelah membersihkan udang ia mulai menumis bumbu yang telah ia haluskan, harum semerbak bau rempah-rempahan memenuhi ruangan.
Kruyukkkk....
Lagi-lagi perut Rega bunyi gak sabar buat minta jatah makan, cium bau harum nambah laper lagi dah....
Ella cekikikan mendengarnya, tu cowok yang dinginnya 11-12 sama kulkas gak bisa jaim di depannya gara-gara perutnya konser melulu. "Sabar Om, bentar lagi juga mateng." Terus mengaduk nasi yang setengah matang, ia memasukkan udang. Yang terakhir kecap asin, saos tiram ia masukkan dan ia aduk lagi hingga tercampur rata. Wanginya luar biasa bikin yang laper tambah laper dan yang gak laper jadi laper. Di taroh di piring dan tinggal nunggu telor ceploknya mateng.
Rega memperhatikan wajah Ella yang sedang memasang, ternyata cewek bar-bar kayak dia lihai di dapur Gak kebayang sebelumnya. Ella meletakkan sepiring nasi goreng udang di depan Rega yang kelaparan.
Rega memperhatikan tampilannya yang menggugah selera, apa lagi baunya itu lo yang harum banget.