Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Skill Pembalap


Tubuh tua itu kini terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit dengan dominasi warna putih bersih, mulai dari cat dinding, funiture dan benda lainnya yang berada disana. Matanya yang sayu tertutup rapat seolah merasa lelah dan ingin membuatnya merasa nyaman dalam keadaan yang tenang. Tampak beberapa asisten rumah tangga dan Pak Wendi, orang kepercayaan sekaligus kepala pelayan di rumah utama yang kini ada di dalam ruangan untuk menemani Nyonya besar mereka yang terbaring tak berdaya. Wajah mereka tampak sangat khawatir melihat keadaan Nyonya yang di sana sini terpasang berbagai macam alat medis membalut tubuh tuanya.


Rega yang merasa sangat khawatir dengan keadaan Neneknya saat ini mengendarai motornya dengan kecepatan penuh yang kayak dikatain Ella tempo hari, udah kayak arena balap buat Rega yang selip sana, selip sini buat cepet sampek. Untung aja Ella gak dari salon, kalo gak bakalan gak bersisa tu make up yang udah di poles sama rambut yang di sanggul berkibar kemana-mana (Silahkan kalian bayangin sendiri gimana keadaannya). Sampek di omeli sama pengguna jalan lainnya kalo tu jalan kayak milik Rega doang. Apalgi emak-emak yang teriak sambil ngomel pas di salip Rega. Skill Valentino Rossi sama Dani Pedrosa kepakek banget kalo dalam keadaan gawat darurat kayak sekarang ini yang menomor satukan kecepatan buat nyampek.


Saking ngerinya Ella sampek gak berani melek sepanjang jalan, matanya merem sambil berdoa di dalam hati semoga mereka sampai di tempat tujuan dalam keadaan selamat tanpa kurang satu pun. Tangannya memeluk Rega yang udah kayak orang kesetanan memulas gas motornya sampek habis alias gas pol, udah kayak tong edan yang lagi beraksi. Saking kencengnya sampek memberikan bekas di jaket berbahan jins itu, untung aja tu jaket gak sampek robek akibat cengkraman Ella yang udah kayak berlindung dari badai topan yang siap memporak porandakan apa pun yang ada dan menjadi penghalangnya.


Rega memarkirkan motornya tepat di depan pintu utama mengabaikan teriakan satpam yang lagi jaga palang pintu utama sambil lari ngejar dengan ciri khas suara peluit yang gak beraturan.


Nafasnya memburu saat menghampiri pengendara motor yang ugal-ugalan memasuki kawasan rumah sakit yang seharusnya damai, tentram dan sentosa. Perutnya yang lumayan besar itu naik turun untuk mengatur nafasnya yang cuma sampek leher, kerjaannya cuma jaga palang pintu alias duduk doang dan hari ini bisa berolah raga kejar-kejaran sampek ngos-ngosan kehabisan nafas. "Selamat sore tuan," Berusaha berdiri tegap biar keren sedikit. "Tolong anda bisa lebih berhati-hati berkendara di wilayah rumah sakit karena banyak pejalan kaki." Rumah sakit elit ini memprioritaskan kenyamanan dan keamanan pasien dan keluarga yang menjenguk dalam keadaan apa pun.


Rega yang baru aja nurunin standart motornya itu di samperin sama satpam yang lari bawa perutnya yang kayak orang hamil 7 bulan. "Maaf pak, kita lagi dalam keadaan darurat." Katanya melepas helm dan meletakkannya di spion motornya.


"Semua juga dalam keadaan darurat pak kalau datang ke rumah sakit, jangan kira motor bapak keren jadi bapak seenaknya naikin yang udah kayak balap liar, kayak bapak aja yang rumah sakit ini."


Rega yang sebenernya males banget buat cari perkara itu memilih buat membiarkan tu satpam yang berkoar-koar sendiri di tinggalin gitu aja sambil narik tangan Ella yang mukanya udah pucet. Masalah Nenek belum kelar ni nambah muka Ella yang udah kayak mayat hidup.


"Lo gak pa-pa kan? Muka lo pucet banget." Katanya khawatir sambil mengelus pipi Ella lembut.


"Gimana gak pucet, udah berasa keluar dari lubang cacing luar angkasa. Om ngeri banget udah kayak malaikat maut yang bawa Ella ke akhirat." Mendengus jengkel kalo ingat gimana di jalan tadi yang udah bersebelahan sama kematian.


"Sorry, lagi darurat. Lagian kemaren gue jalannya pelan lo ngomong pakek kecepatam penuh sama gas pol, giliran gue lakuin lo malah takut. Yang bener yang mana?"


"Yang bener kepala Om perlu di ketok biar bisa berpikir jernih."


Belum sampai pintu lobi, Rega di cegat satpam yang udah kode-kodean sama satpam yang tadi ngejar dia.


"Maaf Mas, demi kenyamanan pasien dan pengunjung harap Masnya ke pos security." Menunjuk pos satpam yang ada di samping dengan tangan kanannya.


"Gue lagi buru-buru." Masih nahan emosinya.


"Semua juga buru-buru Mas, tapi tolong patuhi peraturan yang berlaku disini. Mas datang bikin keributan mana Mas markir motornya sembarangan kayak gitu loh Mas ganggu yang lainnya."


Rega yang mau menerobos malah di halangin sambil senyum tapi sumpah jengkelin banget ngeliatnya. "Gue mau masuk,"


"Kami hanya menjalankan peraturan yang ada di rukah sakit ini. Jadi tolong kerja samanya." Masih memakai tangannya buat nunjuk pos satpam yang gak bakal lari kemana-mana itu.


"Sekarang gue mau masuk, Nenek gue di rawat di dalam dan lo masih ngalangin gue buat masuk?"


"Mas, kami cuma menjalankan tugas. Tolong kerja samanya."


Ella yang udah tau Rega dalam keadaan horor itu menarik tangannya buat bisa berpikir jernih dan gak bikin keributan. "Udahlah Om, gak ada untungnya bikin keributan disini." Jelas Ella.


"Betul, yang mbak bilang itu betul banget."


"Dibandingkan ribut langsung aja tu Om pecat satpam yang nyebelin ini." Bukannya nenangin ini namanya malah yang ada kayak kompor meleduk, malah tambah bikin panas bukannya bikin kepala dingin.


Satpam yang masih muda itu cuma bisa melongo denger kata cewek di depannya, awalnya aja ngomongnya manis gak taunya lebih pedes di bandingin merica tumbuk.


"Ada apa ini?" Melihat asal sumber keributan.


"Maaf dokter, Mas ini datang naik motor ugal-ugalan yang bikin terganggunya kenyamanan pengunjung lainnya. Apa lagi Masnya juga parkir sembarangan, jadi saya sarankan buat ke pos dulu buat nyelesaikan masalah yang telah dilakukan." Menjelaskan duduk perkara yang terjadi pada atasannya.


Dokter Handoko melihat siapa yang berani bikin keributan di rukah sakit yang terkenal dengan keamanan dan kenyamanannya itu, pas liat biang kerok yang dimaksud dokter senior itu terkejut dan langsung membungkukkan separuh badannya. "Maaf Tuan atas kelancangan mereka, sekali lagi saya minta maaf." Membungkuk beberapa kali sambil meminta maaf.


"Dokter, kenapa anda yang minta maaf? Bukannya Mas dan Mbak ini yang bikin masalah?" Katanya yang belum tau siapa orang yang ada di depannya itu.


"Berapa lama lo kerja disini?" Rega mengamati lelaki muda itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Melihat kearah papan nama yang tersemat di dadanya itu, Tegar Hariyanto...


"3 tahun 5 bulan Mas."


"Jadi kayak gini yang lo lakuin tiap hari Mas Tegar?"


"Iya Mas, saya menjaga dan bertanggung jawab ketertiban di rumah sakit ini."


Dokter Handoko menyikut tangan Satpam muda yang taat peraturan itu. "Kamu juga harus minta maaf, beliau adalah pemilik rumah sakit ini."


Tidak....


Selama bekerja Tegar gak pernah sekalipun melihat pemilik dari rumah sakit tempatnys bekerja sekarang ini, kalau pun mereka datang untuk mengecek kesehatan atau rawat inap pihak rumah sakit menyediakan lift khusus yang langsung menuju lantai yang hanya di gunakan untuk pemilik rumah sakit ini dan keluarganya hingga menjaga kenyamanan mereka.


"Tu-tuan, maafkan saya..." Menunduk dalam tanpa berani mengangkat kepalanya lagi, menyadari kesalahan besar yang telah ia lakukan dan kemungkinan konsekuensi atas tindakan lancangnya itu akan Tegar terima dengan lapang dada karena itu mutlak kesalahannya.


"Sudahlah, gimana kabar Nenek dok?" Rega memilih tak memperpanjang masalah ini karena kesehatan Nenek lebih penting di bandingkan masalah yang ada saat ini dengan meninggalkan pintu lobi menuju lift di temani dokter Handoko yang memimpin jalan.


"Itu... Anda bisa melihatnya sendiri dan lebih nyaman kita membicarakan secara pribadi."


*******


Alhamdulillah.....


Terimakasih buat kalian semua yang udah mampir dan baca coretan Author hingga saat ini dan tetap mendukung Author.


Dukungan kalian semua menjadi semangat yang luar biasa buat Author pribadi.


Silahkan tinggal kan komen, Like dan Votenya buat kalian yang suka sama novel Author.


Sekali lagi secara pribadi Author mengucapkan banyak-banyak terimakasih buat kalian semua...


Apalah artinya tanpa kalian yang selalu jadi penyemangat yang luar biasa.


😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘