
Hari yang benar-benar melelahkan sekaligus bikin leleh. Kejadian yang bikin Ella nguras tenaga dan emosi, pengen cepet mandi terus rebahan di kasurnya yang menurutnya tempat paling enak seluruh alam semesta apa lagi kalau bukan kamarnya. Di garasi hanya ada satu mobil (Mobil yang Lainnya di unsikan) dan motornya yang artinya Papa belum pulang. Emang Papa sekarang lagi sibuk banget ngurus perusahaan yang udah melebarkan sayapnya ke seluruh kota bahkan sampai luar negeri.
Ella melepaskan sepatu sekolah dan mengganti dengan sandal rumah, menyeret tas ranselnya menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Ceklek
Tanpa memperhatikan sekitar ia merebahkan dirinya di dalam kamar ku surga ku yang gak bisa di gantikan kenyamanannya dengan hotel manapun. Rasanya tu ya enak..., banget.... Bikin perasaan yang campur aduk kayak gado-gado jadi lebih santai dan lupa gitu aja yang ia alami hari ini. Hari berat penuh dengan perjuangan.
Badannya udah segar, ganti baju santai dan menikmati tidur yang tertunda karena tingkah konyol dua manusia dewasa yang gak sadar usia. Baru aja mau merem, Ella dengar suara ribut dari lantai bawah. Sebenarnya malas banget turun buat liat siapa yang bikin ribut sore-sore gini tapi apa boleh buat soal nya gak ada orang lain.
Bisa jadi maling?
Rampok atau penjahat sejenisnya.
Ella mengendap-endap melihat kebawah, dua saudara baru yang ia dapat dari pernikahan papanya yang ternyata bikin rumah udah kayak bioskop. Ella turun dengan wajah yang ngantuk, bahkan rambutnya ia ikat sembarangan. Penampilan khas orang baru bangun tidur.
"Apaan sih berisik banget?" Menggaruk kepalanya.
Sonya memandang Ella dengan tatapan mata jijik dan keliatan banget kalo gak suka. "Masalah buat lo?" Membanting kopernya di lantai. "Cepat ambil dan bawa ke kamar!" Perintahnya.
Ella cuek bebek melihatnya, cuma ngebanting gitu di kira bakalan takut gitu? Cuma gertakan kecil gak ngaruh buat dia.
"Kamar lo berdua ada di lantai dua belok kiri."
Cuma ngelirik koper gak berdosa yang jadi korban keganasan pemiliknya.
Sonia tersenyum dan menganguk "Makasih." Katanya ramah.
"Ngapain lo pakek acara terimakasih sama gembel macam dia?"
Mata Ella yang setengah mengantuk kini udah fress kayak lampu petromax mendengar ucapan Sonya yang selalu merendahkannya. "Kalo gue gembel, lo apa?"
Sonya membuang wajahnya, rasanya gak level banget harus sodaraan sama orang udik itu. "Gue ratu, dan elo harus ingat lo mulai detik ini jadi pelayan gue. Apa pun yang gue perintah lo harus turutin." Katanya sok ngebos.
Sonia yang tau sifat sodara kembarnya itu main perintah seenaknya memegang tangan Sonya untuk menyadarkannya. Bukannya di tanggapi malah di cueki gitu aja.
Satu lagi gangguan yang menghambat istirahat berkualitasnya, mau tidur cantik aja kok susah banget ya hari ini? "Maaf Nona, ini rumah gue dan lo baru aja jadi penghuni disini. Jadi..., yang lo katain tadi seharusnya gue yang ngomong. Lo ratu gak punya malu apa tinggal di rumah gembel kayak gue?" Memberikan penekanan pada setiap katanya untuk menyadarkan siapa bos di rumah ini.
"Gue gak mimpi, lo aja yang mimpi sambil jalan." Ella gak bakalan kalah sama orang kayak gitu. "Yang harus lo ingat, di rumah ini gak ada yang namanya pembantu atau sisten rumah tangga. Semua di kerjakan sendiri, bawa noh koper lo ke kamar. Kalo gak mau tidur aja disini."
Wajah Sonya berubah menjadi sangat murka, mana mungkin ia bisa hidu tanpa seorang asisten rumah tangga. Sejak kecil dia terbiasa untuk di layani tanpa melakukan apa pun. "Yang pantas jadi Pembantu itu elo!"
Kali ini kesabaran Ella benar-benar habis, baru aja datang udah sok nge bos. "Lo, jangan macam-macam di rumah gue. Gue bisa setiap saat ngusir elo buat jadi gembel jalanan." Menatap tajam ke arah Sonya. Makin lama makin ngelunjak aja, sok ngebos di rumah orang. Benar-benar prilaku yang buruk.
Sonia yang melihat keadaan semakin tegang mengambil inisiatif untuk melerai mereka.
Bukan salah Ella, tapi sikap Sonya yang bikin siapa aja bakal muak. "Anterin ke kamar, gue udah capek dari perjalan." Menarik tangan Ella dan kopernya meninggalkan Sonya dengan wajahnya berapi-api.
Ella menaiki anak tangga mengantar Sonia kekamar yang terletak tak jauh dari kamarnya.
Sonya masih berada di bawah dengan wajah merah menahan marah. Kalau gak kepaksa mana mau ia saudaraan sama cewek gak modis itu. Jangankan mengakui sebagai saudaranya, melihatnya aja udah gak banget.
"Ni kamar lo." Memberikan kunci pada Sonia.
"Samping kamar kakak lo."
"Maaf ya, baru pertama datang Sonya udah bikin ribut."
"Ngapain lo minta maaf sama kesalahan yang gak lo bikin?"
"Gimana pun juga dia sodara gue."
Ella menarik ujung bibirnya, Sonia begitu baik dan lemah lembut beda sama ular kobra yang ada di bawah.
"Gue mau istirahat dulu, lo juga." Menepuk bahu Sonia.
"Ella?" Ella mengurungkan niatnya membuka pintu kamarnya dan menoleh ke arah Sonia.
"Beneran disini gak ada ART?"
Ella mengangguk, "Iya, tapi tenang aja. Kerjaan rumah gue yang bakal kerjain. Kalian cuma bersihin kamar kalian sendiri sama keperluan kalian. Kalo masalah makan kalian bikin sendiri. Semua bahan ada di dapur lengkap." Katanya sebelum menghilang di balik pintu.