Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Dokter Ember VS Dokter Palyboy


Johan yang baru saja turun dari pesawat langsung mengaktifkan hpnya yang ia non aktifkan selama berada di atas pesawat, perasaannya sudah gak enak dan ia langsung membatalkan semua pertemuan yang di lakukan malam itu dan memesan tiket dengan pesawat tercepat yang dapat ia naiki karena jet pribadinya sedang di pakai asistennya untuk menghadiri meeting lainnya di bagian bumi yang berlawanan dengan keberadaannya saat ini. Apa lagi istrinya tengah hamil tua dan hanya menunggu waktu sampai melahirkan, bukan hanya itu ia merasa bahwa Ella selalu memanggilnya bahkan saar Johan tertidur di dalam pesawat. Sebenarnya ada apa dengan dua wanita yang ia sayangi itu? Berpuluh pesan suara masuk dan berpuluh-puluh chat dari sonia dan Ella. Johan mengabaikan pesan suara dengan melihat chat yang kedua putrinya kirim itu.


Pa, cepat pulang


Mama udah mau melahirkan


Johan membacanya dengan perasaan campur aduk.


Pa, anak Papa udah lahir


Dia ganteng banget kayak Papa


Tapi sayangnya warna rambutnya kayak jagung


Lagi-lagi Johan merasa kakinya lemas hanya dengan membacanya, bayangan bayi mungil itu segera ia lihat. Ia punya anak laki-laki dan itu masih bayi yang jelas sangat menggemaskan.


Pa, Ella membutuhkan Papa saat ini


Ella dalam keadaan gak sadarkan diri dan memerlukan transfusi darah secepatnya


Johan merasa bukan lagi menginjakkan kakinya di tanah saat membaca pesan dari Rega, bagaimana bisa putrinya menjadi seperti ini dan apa yang sebenarnya terjadi?


*********


Rega tampak memandangi wajah Ella yang sangat pucat, Raka sudah mengusahakan yang terbaik namun hingga detik ini satu kantong darah pun belum ia dapatkan. Hanya suntikan dan beberapa obat yang bisa mereka lakukan saat ini untuk memberikan pertolongan kepada Ella. Wajahnya tampak pucat seperti kertas dan itu membuat Rega merasakan hatinya remuk, pemandangan yang sama dengan apa yang ia alami dalam mimpi yang mengerikan. "Sayang, Abi mohon..., jangan tinggalin Abi...," Menciumi pipi Ella dengan perasaan sakit yang luar biasa.


Dokter Azhar yang hari ini memiliki jadwal operasi dadakan di rumah sakit terbesar di kota ini. Ia melihat Raka yang udah kayak ayam mau bertelor dan juga kayak setrikaan yang muka kusut banget saat bersiap pulang. Sesama dokter dan apa lagi ia adalah direktur di rumah sakit ini tentu saja Azhar mengenal Raka. "Malam dokter Raka?" Sapanya ramah dengan senyum hangat seperti biasanya. Teman satu angkatannya itu udah berantakan banget saat ini, bahkan Azhar sampai mengerutkan alis melihat penampilan Raka yang biasanya selalu rapi itu jadi kayak gini.


Raka yang lagi bingung itu jadi kaget karena ada yang ngajak ngomong. "Malam," Meletakkan tangannya di dada dan mengelusnya perlahan karena kaget. "Lo, ngagetin gue aja."


"Lo ngapain? Gue liat udah kayak setrikaan hilir mudik gak karuan?"


"Gue lagi bingung, pasien memerlukan kantong darah secepatnya tapi dimana pun gue gak dapat. Kalo gak cepat di tangani bakal terjadi hal yang..." Raka gak sangggup buat ngelanjutin kata-katanya.


"Emang lo perlu golongan darah apa? Mungkin gue bisa bantu? Atau di kampus ada yang sama golongan darah yang lo perluin."


Mendengar kata kampus Raka teringat kalau Ella kuliah di tempat yang sama dengan Azhar mengajar, "Lo kenal Ella? Dia kuliah di kampus lo ngajar. Ella sekarang dalam keadaan gak sadarkan diri dan memerlukan transfusi darah secepatnya."


"A-apa?" Azhar mencengkram bahu Raka mendengarnya, "Maksud lo Ella itu mahasiswi semester tujuh?"


Raka mengangguk, dan melepaskan tangan Azhar di pundaknya. Menatap heran kenapa Azhar bereaksi sangat berlebihan seperti ini saat mendengar nama Ella. "Dia memerlukan tiga kantong darah B negatif dan Mamanya memerlukan dua kantong darah B negatif."


Mata Azhar berbinar, "Ambil darah gue, kebetulan gue B negatif dan gue kenal tiga orang yang mempunyai golongan darah B negatif."


Bagaikan hujan di tengah gurun Raka mendengarnya dapat bernafas lega, setidaknya satu kantong untuk Ella saat ini sangat membantu. "Terimakasih...," Katanya lemas.


Azhar siap melakukan donor darah yang di lakukan langsung oleh Raka, gak lupa ia menghubungi tiga orang yang ia maksud untuk datang mendonorkan darah mereka ke rumah sakit secepatnya.


Di sela menunggu satu kantong darah terisi itu Raka duduk di samping Azhar dengan meminum kopi yang mampu membuatnya tetap terjaga, "Apa lo kenal Ella?"


"Tentu aja gue kenal, dia mahasiswi gue." Jawab Azhar dengan mata terpejam, capek juga rasanya baru pulang dari kampus langsung ngelakuin operasi.


"Maksud gue bukan itu, apa lo kenal Ella secara pribadi." Ujar Raka memberikan batas atas apa yang ia katakan biar lebih jelas.


Azhar tersenyum saat Raka menanyakannya, "Kenapa lo tanya gitu?"


"Soalnya playboy kayak lo itu gak pernah bereaksi cepat saat mendengar nama cewek lain dan gue baru pertama kali liat muka lo se khawatir itu pas tau kalo Ella dalam keadaan sekarang. Jadi kesimpulan gue kalian punya hubungan yang spesial atau lo sendiri yang punya perasaan khusus untuknya." Kata Raka langsung ke intinya karena Azhar memperlihatkan sesuatu yang selama ini gak pernah Raka lihat.


"Oke...., mungkin gue gak bisa nutupin dari elo yang dari dulu selalu sensitif sama reaksi gue." Azhar membuka matanya, ingatannya kembali di mana ia pertama ketemu wanita mungil yang mampu mencuri perhatiannya itu. "Gue gak tau dari mana harus cerita sama lo, tapi yang gue tau kalau gue punya perasaan suka yang lebih kuat di bandingkan sama cewek-cewek yang pernah gue kenal selama ini. Gue ngerasa ada yang berbeda dan spesial dari cewek itu, gue berusaha mendekatinya dengan berbagai macam cara tapi satu pun gak ada yang mempan. Dia cewek pertama yang nolak gue secara terang-terangan dan gak tertarik sama gue, sama sekali." Katanya tersenyum pahit.


"Jadi, cinta lo bertepuk sebelah tangan?"


"Mungkin untuk saat ini, tapi gue gak akan mundur sampai gue dapetin hatinya. Gue kali ini serius bukan main-main, gue sadar kalo selama ini cuma main-main sama cewek, tapi perasaan gue sama Ella adalah tulus dan murni cinta. Semakin lama gue liat sisi lainnya yang bikin gue takjub, dia cewek luar biasa yang langka banget bisa di temuin saat ini." Azhar tersenyum saat membayangkan senyum Ella yang sangat manis dan mampu menyihirnya. "Lo tau, dia cewek pertama yang bikin gue gugup, bingung saat berhadapan dengannya dan bikin jantung gue gak karuan." Kenangnya tentang berbagai macam perasaan yang ia rasakan satat bersama cewek mungil itu.


Raka menghela nafas panjang, bukan salah Azhar kalau ia terjatuh dalam pesona Ella yang luar biasa itu. Karena Raka sendiri sempat mengagumi sosok Ella yang sederhana, baik hati dan seperti yang Azhar katakan kalau ia memiliki sisi luar biasa yang gak di temuin sama cewek mana pun saat ini. "Lo tau alasan dia nolak dan nyuekin lo?"


"Gue tau karena dia udah punya gandengan." Azhar tertawa getir mengingatnya. "Tapi gue gak bakalan nyerah gitu aja, selama gue berusaha mungkin gue bisa dapetin hati Ella dan menjadikan dia istri gue." Azhar menarik nafas panjang, "Baru kali ini gue terobsesi sama cewek kayak gini, bahkan gue udah terang-terangan nunjukin perasaan gue. Hal yang gak pernah gue tunjukin sama cewek lainnya."


Raka tertawa kecil mendengarnya, ternyata temannya itu lebih parah dan lama sadarnya dari dia. "Bro, gue saranin lo buat buang jauh-jauh pikiran lo. Gak usah lo terusin buat ngejar hati dan cinta Ella karena dia emang udah punya gandengan yang bisa bikin lo mati kena serangan jantung kalo tau siapa pasangan dia."


"Rega, Rega Adiyaksa Mahendra. Pemilik rumah sakit ini sekaligus putra mahkota dari keluarga Mahendra."


Azhar terkejut mendengar apa yang Raka katakan, pantas ia merasa familiar dengan wajah Rega. Ternyata dia adalah Rega yang terkenal dingin saat melakukan bisnis hingga membuatnya menjadi seperti saat ini, bukan karena nama besar kedua orang tuanya tapi karena kerja keras dan kemampuannya yang gak dapat di remehkan. Kerajaan bisnis yang ia bangun sangat berpengaruh apa lagi di tambah dengan nama besar orang tuanya mampu membuatnya menjadi orang yang gak dapat di pandang sebelah mata. "Oh..., Selama mereka bukan suami istri gue masih punya kesempatan."


"Otak lo tu udah rusak? mending lo konsultasi sama ahli jiwa, mereka udah nikah dan sekarang jadi suami istri. Lo mau jadi pebinor? Parah ya lo..., merusak reputasi dokter aja gara-gara sifat alamiah lo yang mendarah daging seorang playboy." Dan akhirnya mulut Raka yang paling gak bisa nyimpen rahasisa itu keceplosan ngomong, padahal udah di ingetin ratusan dan bahkan ribuan kali kalo jangan sampek keceplosan. Emang susah mulut gak punya rem, jadi asal nyeplos aja.


"Hah? Lo ngomong apaan?" Masih tetep gak percaya sama omongan Raka, soalnya tu orang dari dulu terkenal kalo ngomong sembarangan dan gak bisa di percaya dan di pegang sama sekali. "Walau jadi dokter lo tu masih tukang ngibul."


"Terserah lo lah mau nganggep omongan gue ni cuma ngibul apa enggak. Lo cek sendiri aja, sekalian lo bayar detektif buat cari tau sebenarnya." Raka geleng-geleng kepala dengernya, udah di kasih tau malah gak percaya, "Heran gue sama lo, bukanya lo punya cadangan cewek banyak. Dari sekian banyak cewek lo malah naksir bini orang, hilang pamor ke-playboy-an lo?" Ujarnya dengan memberikan tekanan pada kata-kata playboy biar tu cowok melek dan sadar diri dikit.


"Enak aja...., mana gue tau kalo Ella bini orang. Diliat dari mana pun dia itu cewek manis dan polos, gue aja sampek ketipu yang udah playboy kelas kakap dan gue yakin masih banyak di luar sana yang ketipu juga." Walau kecewa, Azhar bukan tipe orang yang bakal ngerebut bini orang, itu udah menyalahi prinsipnya. Walau pun playboy, ia masih punya prinsip yang ia pegang teguh. Gak bakalan main-main sama cewek mana pun yang berstatus istri orang, tapi kalo udah janda baru dia maju. "Mungkin Ella gak bakalan bisa gue raih, tapi gue masih punya satu orang yang bakal gue uber gantiin Ella."


"Emang bener-bener..., gue kira lo bakal nangis guling-guling gak keluar rumah beberapa hari gara-gara sakit hati. Gak taunya udah punya cadangan, kalo masih ketipu bukan kelas kakap tapi masih kelas teri."


"Kalo gak gitu mana mungkin predikat playboy jadi milik gue." Kata Azhar yang udah menetapkan hatinya melupakan Ella sedikit demi sedikit walau ia tau itu bakalan sulit, karena Ella orang pertama yang mengisi seluruh hatinya. Dulu ia sempat dekat dengan satu cewek yang mengisi separo hatinya, dan cewek yang jadi mantannya itu kebetulan kuliah di kampus tempatnya mengajar walau bukan jurusan kesehatan dan akhir-akhir ini mereka bertemu yang membuat Azhar memutuskan untuk menjalin hubungan mereka yang sempat kandas karena kesalahannya. Ketangkep basah selingkuh jadi di putusin secara sepihak, kayaknya bakalan susah buat ngejar cewek galak itu buat balik lagi sama dia.


"Lo kenapa senyum-senyum sendiri?" Kata Raka heran liat raut wajah Azhar yang berubah-rubah. "Saraf lo gak ada yang putuskan?"


"Bukan saraf gue yang putus, tapi hati gue. Lagian pantang buat gue patah hati, kalo gue gak bisa dapetin cewek yang gue mau dengan cepat gue bakal cari gantinya."


"Ck ck ck ck...," Raka menggelengkan kepalanya, susah berhadapan sama playboy kelas kakap. "Gue doain semoga lo gak dapat karma dan jadi bujang lapuk."


"Dengan pesona gue mana mungkin gue jadi bujang lapuk?" Katanya pede, "Lo sendiri gimana? Dari dulu kan lo jomblo abadi...," Ujarnya meremehkan.


"Telan tu jomblo abadi buat lo, gue udah dapet cewek yang bakal gue nikahin. Gue udah ngelamar dia dan tinggal nunggu hari yang tepat buat ngelangsungin pernikahan."


"Hahahahaha...," Azhar memegangi perutnya, udah kayak lelucon aja di telinganya. "Manusia?"


"Sialan lo?! Tentu aja manusia lo kira gue kawin sama kucing hah?!"


"Kali aja...,"


"Dia wanita galak, tapi kalo marah imut dan gemesin. Sebenernya gue jatuh cinta pada pandangan pertama, dan langsung gue lamar." Katanya bangga dapet mengalahkan Azhar yang jomblo dan dia sendiri punya gandengan.


"Wah, hebat lo langsung lamar..., Dia mau?"


"Tentu aja, dan minggu depan gue bakal ngelamar langsung ke orang tuanya dan kita langsung nikah. Gimana? Hebatkan gue?"


"Alah..., palingan tu cewek matanya buta..., atau kalo enggak pasti katarak akut. Mana ada cewek baru kenal langsung mau di ajak nikah. Gue gak percaya kalo dia cewek normal secara fisik dan psikis."


Raka menendang ranjang tempat Azhar tidur, "Cewek gue sehat lahir batin dan cantik luar dalam gak kayak lo busuk luar dalam." Katanya geram seenaknya aja ngomong.


"Terserah lo lah, gue gak percaya."


"Oke, bakal gue buktiin. Entar lo gue undang ke pernikahan gue dan gue buktiin kalo calon bini gue itu cantik kayak bidadari."


"Oke-oke..., dengan senang hati gue bakal nunggu saat itu. Gue tunggu undangan lo, kalo calon bini lo bisa ngalahin target gue cantiknya dengan lapang dada gue ngiklasin mobil yang gue pakek. Tapi kalo gak kalah cantik mobil lo buat gue, gimana? Lo berani?" Tantang Azhar yang yakin banget.


"Oke, biar mata lo melek entar kalo liat betapa cantiknya calon bini lo. Dan lo buktiin kalo calon target bisa lo dapetin seminggu ini, gimana?"


"Oke itu kecil, satu minggu lagi kita ketemu dan bawa cewek kita masing-masing. Cewek lo apa cewek gue yang paling cantik." Udah yakin banget kalo seminggu bakal dapet gebetan.


"Deal?!"


*****


Hai readers sekalian...


Makasih ya buat kaliam yang masih setia nungguin Up dan masih setia buat baca novel yang author tulis ini.


Jangan lupa tinggalin jejak kalian dengan like, vote dan komennya.


Makasih yang udah luangin waktu buat like dan ngasih komennya dan relain votenya buat author, semua itu bikin author jadi semangat lagi dalam berkarya dan karena kalian semua author jadi seperti ini dan sampai saat ini.


😘😘😘😘😘😘😘