
"Jadi? Perawan tua itu nyuruh kamu buat bersihin semua ini." Kata Rega dengan menggendong Ella.
"Iya semuanya, dari ujung sampai ujung Bi. Tapi ujungnya doang, ha ha ha ha...," Tertawa jahat penuh kemenangan, seperti perintah Ella membersih kan lantai tiga sendiri. Tapi jangan salah yang di bersihkan cuma ujung-ujung ruangan, lagian gak di sapu semuanya cuma ala kadarnya. Emangnya Ella mau di perintah seenaknya gitu sama orang yang nganggap dirinya ratu sejagad?
"Terus? Perut kamu gak pa-pa? Muka kamu juga pucat."
"Ella kelaparan, tadi gak sempat makan siang. Rasanya perut Ella kaku Bi, dedeknya unjuk rasa karena belum di kasih makan. Ella mau makan masakan Abi...," Melingkarkan tangannya di leher Rega dan menciumi pipinya, rasanya selama hamil ini maunya manja-manja terus sama suaminya tersebut. "Ella kadalin tadi mak lampir, pura-pura aja Ella mau pingsan karena capek tapi aslinya Ella mau pingsan karena lapar." Tersenyum sambil membenamkan wajahnya ke dada Rega, "Kaki Ella lemes karena gak punya kelaparan. Makanya Ella kuat-kuatin biar gak pingsan, kan gak keren kalo pingsan gara-gara kelaparan."
Rega menghembuskan nafas puanjang banget, susah punya istri yang otaknya lebihan satu ons itu yang di gunain buat ngerjain orang. "Bikin Abi takut setengah mati, gimana kalo bener-bener ada apa-apa sama kalian?"
"Baru setengah mati, belum bener-bener mati kan?"
"Hemmmm," Rega melotot ke arah Ella dan di sambut dengan tawa jahilnya yang bikin Rega gemes. "Besok kita USG ya sayang? Kita tengokin dedek bayinya. Abi mau liat sebesar apa anak Abi."
"Masih kecil lah Bi, masih sebelas minggu tu...,"
"Iya juga sih, tapi Abi tetep penasaran."
"Iya..., malam ini pakek lingerine ungu ya sayang?" Ella memeluk dan menggesekkan hidungnya di dada Rega yang bikin tu cowok bereaksi karena geli. "Ella tambah cinta sama Abi...."
"Tambah cinta ada maunya, kalo enggak di turuti pasti ngambek."
"Kan lucu kan Bi, kita tiap malam couple-an..."
"Lucu kalo kamu yang liat tapi kalo yang lain liat Abi di kira belang catur." Jawab Rega pasang muka cemberut, emang kelakuan Ella makin lama makin aneh. Tiap malam maunya pakek lingerine couple, kalo gak diturutin malah ngambeknya gak ketulungan yang bikin kuping Rega memerah karena ngoceh sampek apa yang di inginkan keturutan. Kalo gak keturutan alamat semalam suntuk beo-nya itu bakal berdendang ria.
Rena mengemasi semua barang-barangnya dan memandangi ruangan yang telah ia tempati bertahun-tahun tersebut dengan perasaan sedih karena ia akan meninggalkan ruangan tersebut setelah banyak hal dan kenangan yang terjadi di sana. Potongan kenangan demi kenangan kini silih berganti hadir di kepalanya menyisakan kesedihan yang yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata, kenangan bagaimana dulu ia dengan bermodalkan tekad yang kuat menjadi seorang dokter karena Rena bukan berasal dari keluarga ekonomi atas. Ibunya hanya seorang janda buruh pabrik yang berjuang keras demi sesuap nasi untuk dirinya dan anak semata wayangnya. Bahkan Rena ingat dengan jelas saat mengatakan ingin menjadi seorang dokter kepada ibunya dan di balas dengan senyuman lembut serta doa tulus sang ibu, hanya tekad yang kuat yang Rena milikk hingga ia mendapatkan gelar dengan untaian doa yang setiap saat ibunya panjatkan. Rena menitikkan air mata saat memandangi foto ibu yang tersenyum dengan wajah keriputnya, ibu selalu membanggakan anak kesayangannya itu pada semua orang sebagai anak yang pintar karena dapat meraih mimpinya dengan mulus di tengah perekonomian yang mencekik. Ibu yang selalu mencium dan membelai rambutnya saat berkeluh kesah tentang betapa susahnya menjalani hari-hari yang melelahkan saat kuliah dan kerja secara bersamaan, memberikan nasehat-nasehat yang membuat Rena menjadi tegar kembali saat berada pada titik bawah sekali pun. Apa yang telah ia lakukan kini menghancurkan segalanya, karir yang ia banggakan dengan susah payah ia raih demi membahagiakan ibunya. Rena memberikan segalanya agar sang ibu menjadi orang pertama yang tersenyum melihatnya bahkan ia mengorbankan masa remajanya demi apa yang ia capai saat ini, semua itu kini telah kandas karena kesombongan yang entah sejak kapan ada dalam dirinya. Rena sangat menyadari kalau apa yang ia lakukan memang sangat keterlaluan dan salah jadi disini bukan salah siapa-siapa hingga Rena menjadi seperti ini. Sebuah penyesalan datangnya pada akhir, kalau itu di awal namanya, pendaftaran 🤣🤣🤣🤣
****
Ella yang tengah asik menikmati es kelapa muda saat istirahat di ruangan Raka di kagetkan dengan kedatangan seorang wanita paruh baya, seketika Ella meletakkan minumannya dan menghampiri dengan senyum manis dan lembut. "Ada yang bisa saya bantu bu?"
"Maaf, apakah ini ruangan direktur rumah sakit?" Memandangi ruangan dengan tatapan mata takjub karena merasa ruangan ini sangat bagus namun segera ia sembunyikan saat melihat wanita muda yang membukakan pintu untuknya.
"Iya Bu, dokter Rakanya sedang keluar. Ibu bisa kembali nanti setelah dua jam atau kalau Ibu tidak keberatan bisa menitipkan pesan untuk beliau kepada saya." Kata Ella menawarkan karena Raka saat ini sedag rapat bersama direktur rumah sakit lainnya, makanya Ella bisa dengan santai menggunakan ruangan Raka untuk istirahat siang.
"Terimakasih, mungkin saya akan bicara langsung dengannya dan menunggu sampai datang." Katanya menolak dengan sopan.
Ella mengantarkan Ibu tersebut hingga di depan pintu dan kembali duduk dengan menikmati es kelapa muda yang sempat tertunda, baru aja mau menyuap Ella teringat ibu yang tadi. Di luar panas sangat terik dan kemungkinan beliau tadi kepanasan pas jalan kesini apa lagi liat muka Ibu tadi yang kayak orang kecapek-an. Akhirnya Ella meletakkan gelas berisi es kelapa mudanya dan keluar untuk melihat apa kah ibu itu masih ada di luar untuk menunggu atai sudah pergi. "Bu, di luar sini panas. Kalau Ibu mau nunggu dokter Raka lebih baik Ibu menunggu di dalam bersama saya." Kata Ella duduk di samping Ibu tersebut, tampak kerutan-kerutan di wajah tuanya.
"Terimakasih, saya bisa menunggu disini."
"Ibu..., saya punya sesuatu yang akan membosankan kalau menghabiskannya sendiri." Ella menggandeng dan setengah memaksa, "Mari, kita sama-sama menunggu di dalam?"
Wanita paruh abad itu akhirnya luluh dan hanya menurut saat tangan tuanya di tarik dan di gandeng untuk masuk, entah kenapa ia merasa nyaman dengan wanita muda yang baru pertama kali ia temui tersebut.
"Ibu, saya punya es degan yang enak sekali buat di minum saat panas seperti ini." Ella mengambil gelas kaca berukuran lumayan besar itu san mengisinya hingga penuh, meletakkan di meja depan wanita separuh baya itu. "Ibu bisa panggil saya Ella dan kalau boleh tau siapa nama Ibu?"
"Terimakasih banyak, terimakasih karena telah memberikan tempat dan minuman yang menyegarkan ini. Nak Ella bisa panggil Ibu dengan Bu Ani"
"Oh ya Bu Ani, di minum dulu. Maaf kalau ruangannya agak berantakan, soalnya tadi saya baru selesai makan siang." Ella membereskan piring kotor di atas meja dan ingat kalau dia masih punya satu bungkus nasi campur lagi di dalam plastik. Segera Ella memindahkannya ke dalam piring dan meletakkannya bersebelahan dengan minuman. "Ini sudah waktunya makan siang, Ibu makan dulu. Jangan sungkan Bu, anggap saja saya tembus pandang dan Ibu tidak melihat saya." Tersenyun ke arah Bu Ani untuk mengusir kecanggungan di antara mereka.
"Terimakasih nak Ella...,"
Ella sengaja masuk ke dalam kamar mandi untuk memberikan waktu agar Bu Ani bisa makan tanpa rasa terganggu, sekalian Ella membersihkan diri karena ini sudah lewat tengah hari. Badannya sudah berasa gatal-gatal dan minta di gosok serta di bersihkan dari kotoran-kotoran yang menyumbat pori-pori dan menempel di kulitnya. Setelah di rasa cukup, Ella mengambil handuk dan mengganti bajunya. Beruntung Rega mempersiapkan segalanya agar ia tak harus pulang ke apartemen untuk sekedar istirahat atau mengganti keperluannya. Ella mengeringkan rambutnya yang basah dengan anduk, menyisirnya dan memoleskan sedikit bedak dan lipstik agar wajahnya sedikit bercahaya setelah itu ia keluar untuk melihat apakah Bu Ani telah selesai menyantap makan siang yang Ella berikan. Tampak wanita separuh abad itu telah selesai, buktinya meja tampak rapi dan tak ada satu piring kotor pun disana. Piring-piring kotor itu telah berpindah menjadi piring bersih siap pakai yang tersusun rapi. "Maaf Bu, saya tinggal kelamaan. Habis lupa kalau udah kena air, rasanya seger banget."
"Gak pa-pa nak Ella, Ibu yang harusnya minta maaf karena udah ganggu istirahat nak Ella dan bahkan menyusahkan."
"Menyusahkan apa sih Bu...,"
Ella tersentak mendengarnya, "Dari mana Ibu tau kalau saya hamil?" Tanya-nya bingung, apa lagi dalam keadaan perut yang bekum membesar Ibu Ani dapat menebaknya dengan benar.
"Nak..., umur Ibu sudah tidak muda lagi dan Ibu tentu saja punya banyak pengalaman. Mungkin perut nak belum besar, tapi Ibu tau kalau nak Ella sekarang sedang hamil." Jelasnya karena isting seorang Ibu yang bisa mengetahui semuanya.
"Ibu hebat banget...," Ujarnya takjub.
"Biasa aja nak...,"
"Enggak kok Bu, Ibu luar biasa." Tersenyum senang, "Terimakasih atas doanya, semoga Ibu juga sehat selalu."
"La, lo udah makan siang belum? Tadi Rega nelpon gue katanya lo ada disini bareng dia, mana Rega?" Kata Raka nyerocos gitu aja sambil buka pintu. Saat matanya menangkap ada orang lain selain Ella di ruangannya membuat Raka langsung menghentikannya, memberikan senyuman hangat seperti biasanya. Siapa Ibu-Ibu yang bareng Ella???
Ella memberikan kode pada Raka dengan matanya untuk diam dan mengesampingkan masalah mereka, "Bu, beliau adalah dokter Raka yang Ibu cari."
Hah?
Ternyata gue yang di cari?
Tapi siapa ya?
Soalnya gue gak kenal sama sekali sama beliau?
"Apakah anda dokter Raka? Direktur rumah sakit ini?"
"Iya, ada apa Ibu mencari saya?" Kata Raka heran dan meletakkan kunci mobilnya di atas meja karena dapat tamu ibu-ibu yang tumben-tumbenan langsung nyamperin ke ruangannya.
Bu Ani langsung bersimpuh di hadapan dokter Raka dengan berlinang air mata. "Dokter, saya mohon..., maafkan anak saya yang telah melakukan kesalahan. Saya tahu bahwa apa yang telah ia lakukan tak lepas dari kegagalan saya saat mendidiknya."
Raka yang baru pukang rapat itu kaget bukan kepalang mendapatkan tamu yang bikin jantungnya dag dig dug der, tiba-tiba aja nangis di kakinya dan ngomong hal-hal yang Raka sendiri gak tau maksudnya. Raka langsung berjongkok dan mengangkat bahu wanita tersebut dengan seribu pertanyaan yang tentu saja hanya Ibu itu yang bisa menjawabnya. "Maaf Bu, saya tidak mengerti apa yang ibu maksudkan dan tolong Ibu jangan seperti ini." Membimbing untuk duduk di sofa, setelah semuanya terkendali Raka mengambilkan air putih dan memberikan di tangan beliau, "Ibu tenang dulu... Ceritakan satu persatu dengan tenang dan saya tidak akan sebingung ini."
Bu Ani menerima air yang dokter Raka berikan, menuruti dengan meminum dan mengatur emosinya untuk bersiap memulai cerita. "Maaf dok kalau kedatangan saya mengejutkan dokter." Kata Bu Ani setelah tenang dan menguasai emosinya. "Saya adalah Ibu dari Rena, maksud saya dokter Rena."
Raka dan Ella saling tukar tatapan mata tanpa suara, namun tatapan mereka cukup menjadi komunikasi jenis lain tanpa melibatkan suara di sana.
"Kemarin anak Ibu pulang dengan wajah syok dan sembab, awalnya ia tak mau menceritakan apa pun. Setelah Ibu desak akhirnya ia bercerita telah di pecat dari rumah sakit karena kesalahan yang ia lakukan. Ibu tau kalau apa yanh anak Ibu lakukan adalah suatu kesalahan yang tak bisa di maafkan, namun Ibu mohon..., beri satu kesempatan satu kali lagi untuk menebusnya. Ibu janji Rena akan berubah dan tak akan mengulangi semua kesalahannya." Bu Ani memainkan ujung bajunya dengan air mata yang terus menetes tanpa henti.
"Maaf Bu, ini bukan kebijakan dan bukan keputusan saya. Saya memang direktur disini tapi saya juga bawahan, pemilik dari rumah sakit ini yang langsung menurunkan oerintah atas apa yang terjadi dan itu di luar kuasa saya." Raka mengambil tangan Bu Ani dan mengelusnya lembut agar sedikit tenang. "Saya benar-benar minta maaf karena ini bukan wewenang saya dan say tidak bisa membantu Ibu."
Ella merasakan sesak di dadanya melihat apa yang terjadi di deoan matanya, seorang Ibu yang bersimpuh demi membela anaknya tanpa memikirkan harga diri Mereka sendiri membuat Ella merasakan perasaan haru. Andai saja gue punya Ibu sebaik Ibu dokter Rena, alangkah baiknya...
*******
Hi readers...
Yang di betah-betahin di rumah sambil ngabisin sisa kue lebaran kemarin.. ☺☺☺
Kalo bisa jangan keluar rumah dulu ya soalnya masih dalam keadaan belum stabil di luar sana, mending kita di rumah dan ngelakuin hal-hal. yang bersifat positif dan mengusir rasa jenuh yang kita rasa-in, banyak kok yang bisa lakuin di rumah asalkan kita bisa memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekitar kita.
Jangan lupa "like" dan "Vote" nya serta "komentarnya" buat kalian yang suka sama novel yang author tulis. Terimakasih atas dukungan dan partisipasi dari kalian semua yang selama ini udah setia dan jadi penyemangat tersendiri buat author.
Terimakasih banyak...
😘😘😘😘😘😘
Jangan lupa buat hidup sehat, cuci tangan sesering mungkin, hindari keramaian, pertemuan yang gak penting dan cuma