
Jangan lupa mampir ke novel autor yang liannya yach...
Ada beberapa novel yang author tulis, ada yang udah tamat, yang gantung, dan yang masih jalan.
kalian buka aja profil author buat nemuin novel-novel yang author tulis. Tapi sempat juga biat mampir ke Labirin Cinta, novel yang khusus ceritain percintaan Yun, jadi yang fans sama abanng Yun sang sekertaris tampan cus aja kepoin ke sana yach....
Labirin Cinta juga ganti cover depan ya say... Covernya abang Yun yang gantengnya bikin diabetes akut loh.
*****
Rania yang kepalanya udah puyeng dan rasanya udah kayak di luar angkasa dengan benda-benda di sekitarnya beterbangan gak karuan yang gaya grafitasi gak berfungsi kali ini langsung membuka pintu mobil saat mobil yang ia kendarai berhenti. Lebih parah di bandingkan naik kapal atau roller coaster sekali pun yang langsung menguras tenaga dan isi perutnya hingga gak bersisa karena nya. "Huek..." Langsung tu meluncur deras tanpa kendali yang bikin badan lemes.
Raka yang menunggu kedatangan Anggun dengan harap-harap cemas itu langsung meloncat saat melihat sebuah mobil berwarna putih berjalan pelan ke arah tempatnya menunggu bersama beberapa orang yang telah bersiap, laki-laki itu bersiap menyambut istri tercintanya yang katanya udah sakit perut dan mau melahirkan anak pertama dari buah cinta mereka. Tapi pas pintu terbuka, bukannya Anggun yang keluar melainkan Rania yang langsung lari dan tumbang, dengan berjalan terseok-seok perawat pribadi Rega itu menuju samping dan langsung muntah-muntah yang bikin bingung semua orang terheran-heran. Yang hamil siapa malah yang muntah-muntah siapa makanya bikin orang heran yang liat. "Sayang?" Raka mengulurkan tangan saat melihat Anggun mau keluar dari mobil, wajahnya segar bugar gak keliatan sama sekali kalo dalam keadaan mau melahirkan yang di kabarkan Ella via telpon. Malah keliatan terlalu gembira di bandingkan kesakitan.
"Abang kenapa bawa pasukan sebanyak ini?" Menunjuk ke arah orang-orang yang berpakaian putih bersama suaminya tersebut yang udah kayak jemput orang dari bandara, untung aja kan gak bawa spanduk yang di kasih nama.
"Tadi Ella nelpon katanya kamu udah mau melahirkan jadi Abang bawa pasukan buat jemput istri Abang."
Anggun berjalan pelan menuju kursi roda dengan di gendong oleh Raka, "Kan Abang bisa jemput aku sendirian. Lagian sekarang itu yang harus di tolong Ella sama Rania."
"Emang kenapa mereka?" Heran kan jadinya, yang sakit siapa tapi yang di tolong malah siapa? Kalo Rania tadi Raka sempat liat turun langsung ngacir dan muntah-muntah, terus Ella???
"Mbak, ambilin kursi roda satu lagi ya?" Pinta Anggun pada seorang perawat yang langsung masuk dan mengambilkan kursi roda lainnya. "Mereka mabuk darat sayang." Jawab Anggun dengan tersenyum, ngerasa lucu aja kalo inget gimana mereka berdua yang gak berkutik sama sekali selama perjalanan. Berbanding terbalik dengannya yang full tenaga dan ekspresi selam perjalanan.
"Hah??? Mabuk???" Raka mengerjapkan matanya, Kok bisa mabuk? Gak mungkin ini pengalaman pertama mereka naik mobil...
"Iya," Anggun membenarkan posisi duduknya senyaman mungkin, rasa sakit yang tadi ia alami kini mulai sedikit terasa. Tadi sih pas senam jantung gak ngerasa apa-apa alias sakitnya berhenti dengan sendirinya tapi pas udah nyampek malah mulai terasa. Emang luar biasa ya anak yang ada di dalam perutnya itu belum lahir udah suka yang ekstrim-ekstrim, gimana entar kalo udah keluar dan gedenya???
Raka memanjangkan lehernya buat bisa liat ke dalam mobil, dan benar saat seorang perawat membawakan kurai roda tampak Ella yang udah lemes dan pucat keluar dari dalam mobil dengan di papah supir wanita yang membawa mereka hingga duduk dengan kepala lunglai tak bertenaga.
"Abang tau gak, aku seneng banget hari ini." Kata Anggun saat kursi yang ia naiki mulai berjalan, "Tapi aku juga kasian sama Ella yang kayak gitu."
"Emang kalian tadi ngapain aja sih?" Masih penasaran Raka sama yang mereka lakuin, yang dua orang bentuknya kayak orang yang habis terombang-ambing di laut selama berhari-hari tapi yang dua lagi malah seneng banget.
"Abang mau tau aja," Anggun merasakan perutnya mulai mengencang kembali. "Bang, agak sakit...."
"Iya sayang, tahan dulu ya." Sambil dorong kursi lebih cepat lagi, biar lebih cepat sampek ke ruangan bersalinnya. "Tolong bawa nyonya Ella ke kamarnya, kasih obat dan pasangkan infus. Jangan lupa pantau dan terus jaga, beri tahu saya kalau ada perkembangan atau apa pun yang terjadi nanti." Kata Raka kepada sopir yang tadi mengantar dua ibu hamil tersebut, Icha sebenarnya bukan supir biasa tetapi dia adalah pengawal yang cukup handal dan berbakat dalam berbagai bidang yang di rekomndasikan oleh Yun. Tugasnya mengawal dan menemani Ella kemana pun ia pergi selama ada di sini.
"Baik tuan." Icha menuju liff untuk membawa nyonya muda yang teler banget kembali ke kamarnya, tak lupa ia minta bawakan infus dan beberapa obat kepada perawat sebelum masuk ke dalam liff. Kalau hanya ilmu kedokteran Icha menguasainya dengan sangat baik, otaknya yang cerdas mampu menyerap apa pun yang ia baca dan mengingatnya dalam waktu singkat, bukan hanya itu tetapi Icha dapat mengingat dengan sangat baik apa yang ia lihat. Kemampuan inilah yang membuatnya menjadi pengawal wanita dengan bayaran termahal di negaranya, namun Icha tak serta menerima semua pekerjaan yang datang padanya. Wanita itu memilih siapa yang akan menjadi majikannya dengan penilaian khusus, yang jelas ia tak ingin berurusan dengan dunia hitam walau pun mereka sering kali menawarkan bayaran yang cukup menggiurkan namun resikk yang di hadapi sangatlah besar dengan mempertaruhkan keluarganya. "Nyonya Ella, apa anda bisa mendengar saya?"
Ella mengangguk pelan.
"Tuan Raka menyuruh saya untuk membawa anda istirahat ke dalam kamar, apa anda membutuhkan sesuatu?"
Ella menggeleng, kali ini emang gak perlu apa-apa selain istirahat sebentar dan kembali ke ruangan bersalin untuk menemani Anggun.
Raka menyeka keringat yang keluar dari wajah Anggun yang sejak tadi memegangi tangannya, melihat perjuangan Anggun yang seperti ini Raka merasa tidak tega bahkan kalau bisa ia bersedia dengan suka rela menggantikannya.
"Abang..." Menoleh ke arah Raka yang sejak tadi menemani dan berada di sampingnya tanpa meninggalkannya sedetik pun.
"Iya sayang?"
"Mau minum."
Anggun meneguknya hingga hampir habis separoh dan memberikannya lagi kepada Raka, walau rasa yang saat ini ia rasakan sangat sakit namun Anggun berusaha untuk tidak mengeluh dan mengatakannya walau rasanya udah gak sanggup lagi. Perjuangan seorang wanita untuk menjadi Ibu itu memang sangat berat namun sebanding dengan kebahagiaan yang akan menantinya. Sepasang tangan mungil menanti untuk ia pegang dan gendong, rasa sakit yang Anggun rasakan saat ini bukan apa-apa dan tidak akan menjadi penghalang untuknya berjuang melahirkan secara normal walau sejak tadi Raka telah membujuknya untuk menjalani perasi sesar.
Raka mengelus kepala Anggun dan mengecupnya sesekali, walau tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut istrinya itu sebagai ungkapan rasa sakit yang saat ini ia rasakan tapi Raka tahu bahwa istrinya tengah berjuang mempertaruhkan nyawanya saat ini. "Sayang, Abang bakal nemeni kamu disini. Terimakasih karena telah menjadi istri yang luar biasa." Raka memeluk wajah Anggun dan menciuminya, rasa haru dan juga bangga memenuhi hatinya namun di sisi lain ia merasa khawatir. Membujuk Anggun tidak semudah yang ia pikirkan, wanita itu cukup teguh untuk melahirkan secara normal walau keadaannya tidak memungkinkan.
"Abang tau, seharusnya aku yang bilang gitu. Aku seneng banget bisa kenal dan jadi istri Abang, kalau umur aku gak bakal panjang Abang janji bakal ngerawat anak kita dengan baik kan?" Bukan tanpa alasan Anggun mengatakannya karena umur manusia satu pun tak ada yang tahu dan tak ada yang bisa menebaknya, apa lagi saat ini Anggun tengah berjuang dengan mempertaruhkan satu-satunya nyawa yang ia miliki. Semua kemungkinan bisa saja terjadi dan tak ada yang tau.
"Jangan ngomong sembarangan, kita akan membesarkan anak kita bersama dan akan menjadi keluarga besar." Sebenarnya Raka merasa sedikit takut mendengar apa yang Anggun katakan, melihat kondisinya yang melemah karena mengalami pendarahan. Bahkan kini dokter telah melakukan transfusi darah dan berjuang menyelamatkan ibu serta bayi.
"Kak Anggun?"
Ella berjalan cepat menuju kamar bersalin saat mendengar keadaan Anggun yang mengkhawatirkan dengan menurunnya kondisi serta pendarahan yang ia alami saat proses persalinan. Ella melupakan rasa mual dan pusing yang ia rasakan, memaksa Icha menuruti kata-katanya dengan mengancam dan berdebat sebelum datang ke sini. Meninggalkan kamarnya untuk melihat secara langsung apa yang terjadi sebelum penyesalan datang.
Anggun menatap Ella dengan tersenyum, bibir dan wajahnya sangat pucat namun ia memaksakan untuk tersenyum melihat adik perempuannya itu datang dengan wajah yang tak kalah pucat dengannya.
"Dokter Raka, lakukan sc sekarang." Kata Ella mengingat apa yang terjadi saat ini, menimbang segala kemungkinan metode ini yang paling memungkinkan.
"Aku..., Aku udah bujuk dari tadi tapi Anggunnya gak mau. Tetep ngotot mau melahirkan secara normal."
"Ka! Aku udah nyiapin ruangan untuk operasi, semua sudah bersiap dan berkumpul." Sebelum datang ke ruangan bersalin Ella telah meminta untuk menyiapkan ruangan operasi darurat dan juga memanggil tim serta dua dokter ahli yang akan menangani, bagi Ella sendiri Anggun bukan orang lain dan merupakan Kakak perempuan yang sangat ia sayangi. "Sayang sama istri tu sayang, tapi kalo kayak gini keadaannya gak usah di turutin." Kata Ella yang sedikit emosi, Ella tau kalau Raka itu sayang banget sama Anggun dan selalu menuruti apa pun yang ia katakan. Namun dalam keadaan seperti ini gak mungkin melakukan tindakan konyol yang malah membahayakan nyawa istri dan anaknya. "Kak Anggun, Ella sayang banget sama kakak dan gak bakal biarin sesuatu terjadi sama Kakak jadi Ella mohon kali ini Kakak nurut kata Ella dan suami Kakak." Ella mencium pipi Anggun, "Kita akan menjadi besan yang luar biasa receh suatu hari nanti kalau anak-anak kita besar nanti. Jadi, kita akan benar-benar menjadi saudara untuk selamanya, mempunyai keluarga besar yabg bahagia dan memiliki cucu bersama anak-anak kita kelak jadi Kakak harus berjuang untuk saat itu." Bisiknya memberikan semangat untuk Anggun yang terlihat sangat lemah.
Anggun mengagguk pelan, "Terimakasih sayang." Mengusap tangan Ella lemah.
Ella berusaha membendung air matanya yang sejak tadi mau keluar, saat inu bukan saatnya menitikkan air mata dan bersedih. Ada nyawa yang menunggu dan untuk itu di sini Ella juga akan berjuang. "Baik semuanya, terimakasih atas kerja sama dari kalian semua. Kita akan melakukan operasi darurat secepat mungkin mengingat keadaan pasien yang semakin lama semakin lemah dan mengkhawatirkan. Dokter Anwar, tolong anda pimpin operasi kali ini karena anda sebagai dokter yang berwenang dan dokter terbaik di rumah sakit ini. Saya telah mempersiapkan tim yang akan mendampingi serta membantu anda selama proses operasi berlangsung, ada dua dokter lagi yang telah siap menunggu di ruangan dan saya serta dokter Raka akan menjadi pendamping pasien. Mohon kerjasamanya dan saya mohon...," Ella menundukkan kepalanya serta mencondongkan badannya untuk memohon, "Saya mohon selamatkan Kakak perempuan dan keponakan saya." Katanya lagi dengan menitikkan air mata.
Raka melihat apa yang Ella lakukan dengan serta merta memeluk Ella, bagaimana pun Ella dan Anggun sama sekali tidak memiliki hubungan darah sama sekali namun apa yang Ella lakukan telah menunjukkan bahwa persaudaraan yang terjalin di antara mereka lebih kental di bandingkan darah. "Terimakasih Ella." Bisiknya sebelum ikut membungkukkan badan ke arah dokter Anwar.
Mendapat perlakuan tiba-tiba seperti itu membuat dokter Anwar merasa canggung, walau ia tidak tau secara detaik siapa wanita muda yang ada di depannya itu namun dari sikap yang ia tunjukkan merupakan seseorang yang sangat luar biasa. Sikap tegasnya mencerminkan sikap seorang dokter profesional dan seorang pemimpin yang perintahnya tak bisa di bantah. Anwar menundukkan kepalanya, memberikan penghormatan kepada dua orang yang kini memohon kepadanya. "Nyonya, saya akan melakukan yang terbaik demi menyelamatka nyawa pasien tanpa anda minta sekali pun. Namun saya merasa terhormat mendapatkan kesempatan bisa mengenal anda hari ini." Mengangkat kepalanya dan melepaskan sarung tangannya. "Baik, kita pindahkan pasien ke ruang operasi sekarang juga." Ujarnya memberi perintah kepada perawat, "Dinda, tolong bantu saya untuk bersiap dan lainnya bereskan ruangan ini dan juga bawa pasien." Kata dokter Anwar, "Nyonya dan tuan mari ikut saya untuk bersiap-siap."
Raka menghampiri Anggun, mengecup keningnya dan mengusap pipinya perlahan. "Tunggu Abang ya sayang? Abang cuma bentar kok entar Abang balik lagi sama Ella buat dampingi kamu." Katanya berbisik tepat di telinga Anggun sebelum suster membawanya keluar ruangan bersalin untuk berpindah ke ruangan operasi yang telah di siapkan.
********
Jangan lupa mampir ke novel author lainnya ya...
- Labirin Cinta
- Kontrak Cinta 100 Hari
Di tunggu partisipasi kalian semua, ceritanya mengandung unsur komedi romantis yang gak bakal bosenin. Mampir dulu, baca baru kalian bisa tau emang asik apa enggak baru kasih like, komentar sama Votenya.
Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu Up dan tetep baca novel yang author tulis ini, lope lope lope deh buat kalian semua....
Jangan lupa buat kasih like, komen dan vote-nya yach....
Biar author tambah semangat lagi nih nulisnya. Buat yang udah ninggalin jejak berupa like, vote serta komentarnya author ucapin banyak-banyak terimakasih.
Dukungan dari kalian itu luar biasa berarti buat author dan bikin author tambah semangat lagi buat nulis.
Makasih....