
Ella menepuk kasur empuk sampingnya, memberikan kode untuk perawat Rania duduk di sampingnya, menemani makan dan sekedar mengobrol bersama sesama wanita dan teman.
Mendapat kode untuk mendekat membuat Rania melangkahkan kakinya dan berhenti saat ia berada tepat di samping tempat tidur, "Apa Nyonya menginginkan sesuatu?" Tanya-nya basa-basi, rasanya sedi ku canggung buat Rania saat menyadari kesenjangangan sosial antar mereka berdua. Walau hanya sekilas orang akan langsung tau bahwa wanita di depannya itu bukan orang sembarangan, apa pun yang melekat pada tubuhnya semua adalah keluaran terbaru dari brand ternama. Wajar aja lah karena selain dari keluarga terpandang dan kaya raya juga punya suami super tajir.
"Kalau boleh tau berapa usiamu?" Tanya Ella.
"23 tahun nyonya."
"Tuh kan bener tebakan aku kalau umur kita itu gak jauh beda, sini duduk temeni aku makan sambil kita ngobrol-ngobrol cantik." Kata Ella bersemangat dengan menepuk tempat duduknya, "Tolong bawakan makanan serta air putih." Pintanya lagi, walau gak ada na*su makan sama sekali bukan berarti Ella dapat melewatkannya gitu aja. Ada dua bayi yang ada di dalam rahimnya yang seutuhnya bergantung dan mengharapkan apa yang ibu mereka lakukan demi kelangsungan hidup mereka dan itu membuat Ella gak boleh egois karena hal kecil, bisa-bisa bayi itu lahir dalam keadaan kurang gizi nantinya karena keegoisannya.
Rania mengambil apa yang wanita hamil itu katakan dan membawakannya, meletakkan di atas meja dan ia kini duduk bersampingan. Dalam jarak sedekat ini ia dapat melihat dengan jelas ternyata kulitnya sangat putih bersih tanpa terlihat pori-pori dan noda di sana, wajah cantiknya itu di anugerahi bulu mata tebal dan lentik serta bibir merah alami yang pastinya membuat semua iri karenanya. Bahkan di luar sana para wanita rela mengeluarkan banyak yang untuk memiliki kulit wajah layaknya kukit bayi serta semua yang ada pada wanita di depannya tersebut membuat Rania langsung merasa minder karenanya dan tanpa sadar menyentuh kulit wajahnya yang berminyak dan kasar, bukan saatnya mempermasalahkan kulit kasar dan berminyak tapi saat ini ia harus fokus kerja dan mendapatkan uang untuk kelangsungan hidupnya.
"Karena kita cuma seumuran jadi jangan bersikap formal," Ella mengulurkan tangannya, "Hai, gue Ella. Bisa kan kita jadi teman." Katanya dengan tersenyum manis.
Langsung meleleh hati Rania liat senyum manis itu, dia yang cewek aja kayak gitu gimana para lelaki yang liatnya??? Pasti luar biasa meleleh karenanya, tu tangan cuma si liatin doang karena bingung mau di apain. Buka cuma cantik dan kaya raya ternyata nyonya Rega itu luar biasa baik dan ramah sampek-sampek Rania ngerasa kecil banget di depannya.
Ella masih nunggu tapi tu tangan tetep di anggurin gitu aja yang bikin Ella greget jadinya, langsung aja Ella narik tangan Rania yang dari tadi diem. "Gini kan lebih enak, lebih santai." Ucapnya lagi.
"Tapi Nyonya, saya...,"
"Sekarang panggil Ella, jangan nyonya. Oke?" Perintahnya gak mau di bantah, "Lagian nyonya itu sebutan buat mereka yang udah tua, gue masih muda walau punya suami tua. Ha ha ha ha...," Jadi inget gimana dulu awalnya Ella manggil Rega sama sebutan Om yang langsung bikin tu cowok darting alias darah tinggi, gak taunya sekarang malah jadi suami sendiri. Emang jodoh itu rahasia Tuhan dan gak ada yang tau gimana endingnya.
"Nyonya ngomong apaan sih, tuan Rega masih keliatan muda kok." Jawab Rania yang kagum banget liat pasa ketawa jadi tambah manis banget karenanya.
"Aish, kan udah gue bilang panggil Ella bukan nyonya." Kata Ella sambil mendelik kesal, "Apa gue keliatan setua itu di mata lo?"
"Akh, enggak nyo..." Langsung berhenti soalnya sadar kalo bakal salah ngomong, Maksudnya Ella." Sambungnya lagi.
"Nah gitu, kan lebih enak di dengar." Ella mengambil piing yang berisi makanan di atas meja, melihat sekilas kali aja ada si merah yang bakal bikin mual-mual lagi. Di liat dengan teliti gak ada apa-apa di sana langsung aja Ella memasukkan sendok berisi makanan itu ke dalam mulutnya, mengunyahnya perlahan mencari rasa di sana dan hingga akhirnya menemukan cita rasa yang cocok buat di mulutnya. "Em, ini enak, lo coba deh." Kata Ella menawarkan pada Rania yang dari tadi melihatnya dengan tatapan mata yang menurut Ella bikin malu, kayak ngeliatin apa gitu sampek wajahnya antusias banget.
"Saya masih kenyang," Tolaknya halus dengan menggerakkan tangannya di depan dada.
"Ya ampun Rania, jangan sungkan gitu. Sesama teman gak usah jaim atau apa lah itu, bukannya kita sekarang temenan???" Ella mengambil satu suapan besar dan mengarahkan ke mulut Rania, "Ayo buka." Katanya lagi setengah memaksa atau lebih tepatnya sepenuhnya memaksa.
"Beneran masih kenyang."
"Gue gak bakal mau makan kalau lo gak ikut makan," Ancam Ella yang masih mengarahkan sendoknya, gak bakal nyerah sampek isi tu sendok masuk ke dalam mulut Rania.
Rania yang ngerasa terdesak dan gak punya pilihan akhirnya membuka mulutnya dengan pasrah dan menerima suapan tersebut, rasanya emang canggung dan gak enak tapi mau gimana lagi dari tadi di paksa tapi emang bener rasanya enak banget pas masuk ke dalam mulutnya dan menyetuh indera perasa. Emang beda rasa yang di hasilkan dari koki pro di bandingkan dengan makanan kaki lima yang sering ia beli, ternyata jadi orang kaya itu enak. Bisa makan seenak gini kapan aja, beda sama Rania yang bersusah patah buat bertahan hidup.Rania merogoh kantongnya, mengeluarkan hp dan kartu yang tuan Rega berikan padanya tadi, ia berencana mengembalikan semua itu karena menurutnya terlalu berlebihan. Lagian di sini Rania kerja di bayar bukannya grartis, "Maaf, kayaknya aku gak bisa nerima ini. Jadi tolong kamu kasih sama tuan Rega." Meletakkan hp dan kartu sakti itu di samping.
"Tapi, ini terlalu berlebihan."
"Gak ada yang berlebihan, dia ngasih lo hp biar gampang aja buat nelpon kalo ada sesuatu yang penting dan kartu itu." Ella melihat ke arah kartu berwarna gold yang Rania letakkan di atas hp, "Pakai sesuai keperluan lo sehari-hari. Lagian tagihannya bakalam masuk ke dalam kantongnya." Katanya dengan mengedipkan mata, "Lo gak penasaran apa sama sekertaris Yun?" Kata Ella santai sambil masukin sayur ke dalam mulutnya, tu piring isinya sayur sama protein aja malah karbo nya dikit banget yang keliatan kayak makanan embek soalnya numpuk sayuran hijau.
"Apa?"
Sumpah kaget banget Rania dapat pertanyaan kayak gitu yang gak nyangka bakal keluar dari mulut orang lain, Apa keliatan banget ya tadi gue liatin dia???
Akh... Malu banget kalo udah kayak gini.... Hiks-hiks-hiks...
Mau gue taruh di mana ni muka, nyonya Ella aja nyadar pasti yang lainnya nyadar juga kan?
"Iya, di dalam hp itu ada no sekertaris Yun tentu aja. Soalnya semua yang berkaitan sama gue juga berkaitan sama dia." Ella melihat ke arah wajah Rania yang bersemu merah, kalau matanya gak salah liat Ella sempat memergoki Rania melihat ke arah Yun dengan tatapan mata kagum. Bukan kagum seorang fans kepada idolanya tapi lebih cenderung rasa kagum seorang wanita kepada laki-laki dan Ella pun melihat Yun yang mencuri pandang ke arah Rania walau hanya sesaat. Tatapan matanya terasa sangat sedih saat melihat ke arah cewek cantik tersebut dan Ella berencana mendekatkan mereka senatural mungkin mengingat sifat keras Yun yang sama sekali gak tertarik sama yang namanya cewek, waktunya lebih banyak di habiskan bekerja dan bekerja. "Yun itu jomblo lo." Bisiknya menggoda yang bikin Rania tambah malu dan menundukkan wajahnya, Ha ha ha ha... Tu kan tebakan gue gak salah kalo ni cewek punya rasa yang lebih buat Yun, Lagian kalo di liat dari fisik Rania cantik, polos tanpa make atau asesoris berlebihan dan yag terpenting dia adalah gadis baik-baik yang bakalan cocok buat di jadikan saudara ipar dan menantu buat Ibu.
"Kamu terlalu berlebihan menanggapinya, lagian mana mungkin aku yang hanya orang biasa ini mengharapkan orang seperti sekertaris Yun?" Jawab Rania yang sadar diri sama keadaan mereka yang sangat bertolak belakang, dari mana aja mereka gak bakalan bisa di sandingkan. Ibaratnya bumi dan langit yabg jaih banget, cewek mana yang gak tergoda dan berpaling plus tertarik dari pesona laki-laki yang luar biasa tersebut. Bukan hanya tampan kanan kiri dan atas bawah juga punya masa depan dan penghasilan yang menjanjikan, sedangkan dia sendiri hanya hidup sebatang kara tanpa keluarga dengan wajah pas-pasan tanpa status sosial dan keadaan ekonomi yang memadai untuk bisa berjalan berdampingan dengan laki-laki super tersebut.
Sadar Ran...
Sadar gak usah ngarep yang berlebihan....
"Gak ada yang berlebihan kalau gak di coba." Ella mengambil tangan Rania dan meletakkan Hp itu di tanganya, "Lo tau, sekertaris Yun udah kayak saudara buat gue dan gue tau banget siapa dia. Selama gue kenal, Yun gak pernah sekalipun melirik dan melihat wanita. Tapi pas gue liat dia itu respect sama lo," Ella mengangguk untuk meyakinkan bahwa apa yang ia katakan adalah kebenaran, "Tapi, untuk mendapatkannya lo harus bersiap buat hadapin beberapa cewek yang juga suka sama dia."
*******
Hi Readers....
Gimana ni keadaan dan kabar kalian semua? Kalo authir sendiri lagi agak sedikit moody, simpel sih karena ujan terus jadi cucian numpuk dan gak kering-kering yang berakibat tu cuciam kayak bacem 🤣🤣🤣
Gimana tempat kalian, ujan juga gak?
Makasih buat kalian yang udah siap nunggu Up dan tetap stay di sini, seneng banget deh kalian tetap kayak gitu.
Jangan lupa buat ninggalin like, vote dan Komentarnya kalo kalian suka (Author harap sih kalian suka) dan terimaksih atas dukungan dari kalian semua yang sangat-sangat berharga untuk author.
Jangan lupa mampir ke Labirin Cinta yang di covernya itu ada tulisan πora.
Makasih buat kalian semua.