Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Harimau Kehilangan Taring


Sorry kalo author gak bisa buat crazy Up...


Soalnya kerjaan author berlapis-lapis yang harus membagi waktu buat ini dan itu, apa lagi ini udah normal ngelakuin belajar lewat rumah yang mau gak mau Author jadi tutor dadakan buat anak Author. Dampingi belajar di rumah buat nyelesaikan tugas-tugas sekolah anak Author dan sekaligus jadi guru ngaji soalnya sekolah sorenya juga libur yang hasilnua bikin Author double-double kerjaannya.


Author harap maklum buat beberapa hari yang Up-nya berantakan karena harus menyesuaikan dan mementingkan beberapa kerjaan yang gak bisa di tunda-tunda lagi.


Ini pun Author punya waktu buat nulis pas malam, pas anak dan suami author udah pada ngorok ane masih melek.


********


"Heh, kalian berdua kenapa mendadak jadi Harimau yang kehilangan taringnya gitu? Udah selesai mengaumnya hah?!" Kata Anggun setengah berteriak yang kesel liat dua orang yang tadinya punya nyali beripat-lipat ganda berubah menjadi bubur sum-sum lembek yang cuma bisa di sendok, mereka langsung diam dengan raut wajah yang berubah-rubah bentuk layaknya bunglon yang berubah menuruti tempat mereka saat itu. Mungkin lebih tepat jadi bungkon si bandingkan kecoak.


"Mungkin mereka kurang minum jadi suaranya habis atau pita suara mereka udah putus Kak." Jawab Ella yang nahan emosi luar biasa kali ini, untung tadi Rania ngingetin kalo dalam keadaan hamil kalo gak bakal keluar tu jurus-jurus kebun binatang buat bikin mereka gak bisa ngomong lagi. Jiwa Muda Ella bergejolak, apa lagi udah lama gak main tonjok-tonjokan.


"Maaf Nyonya," Kata Manager Harun yang datang dengan tergopoh-gopoh dan nafas memburu, soalnya buat nuju ni tempat dia harus jalan sambil sesekali berlari setelah dapat telpon yang super penting dari atasannya itu. Lantau tempatnya kerja di lantai paling atas dan harus muter lumayan jauh dari liff.


Ella melongok melihat ke arah dua orang beda jenis kelamin yang datang sambil ngos-ngosan itu. Rupanya emang benar Manager Harun yang ada di belakangnya dengan seorang wanita elegan di sampingnya yang saat ini sedang mengatur pernapasannya, udah kayak lari maraton aja mereka berdua itu. Kalo Manager Harun ia udah beberapa kali ketemu, tapi wanita yang di sampingnya itu baru kali ini Ella melihatnya. Walau Ella gak pernah absen buat ngasih bonus dan tunjangan lain di luar anggaran, tapi Ella gak pernah ngasih secara langsung jadi ia gak tau semua pegawai yang ada di mall ini.


"Maaf saya terlambat karena harus melakukan beberapa perkerjaan saat anda menelpon tadi." Sambungnya yang sudah bisa menguasai dirinya saat ini dan berdiri tenang penuh wibawa di depan nyonya muda yang bisa melakukan apa pun padanya tanpa ada yang bisa melawan, sedikit aja kesalahan yang di buat bakal tamat riwayat. Karena Harun tau persis bagaiman keja Tuan Rega yang menuntut semua pegawainya bekerja dengan maksimal tanpa main-main dan tak ada ampun bagi penghianat.


Ella hanya menganggukkan kepalanya sedikit memberi tanda bahwa ia mengerti dengan apa yang Manager itu katakan.


"Kak Anggun, ada apa memanggil saya?" Kali ini giliran Anisa yang bertanya, sekilas ia melihat dua orang pengunjung dengan satu pegawainya yang memperlihatkan ekspresi berbeda. "Apa ada hubungannya dengan mereka berdua?" Tanya-nya lagi seolah membaca situasi yang ada saat ini.


"Oh iya," Anggun akhirnya bersuara, "Sejak kapan butik ini memasarkan produk kualitas KW?" Kata Anggun langsung, ia pernah berada di butik ini beberapa waktu yang lalu dan saat ini berubah dengan apa yang mereka pajang saat dulu.


"Maaf Kak Anggun, saya kurang mengerti." Katanya bingung, Kualitas KW? Kualitas apa yang di maksud? Bukannya barang-barang di butik ini semuanya ori, bahkan di datangkan langsung dari pembuatnya???


Anggun berjalan dan mengambil salah satu tas yang ada di sana, melemparkan asal ke lantai tanpa melihatnya sebagai bentuk protesnya. "Sebagai manager apa yang lo lakuin hah selama ini? Lo tau tas itu bukan Ori, itu tas KW yang kalian jual dengan harga selangit. Kalian mau merusak nama mall ini karena ulah kalian hah?!" Teriaknya lantang yang langsung bikin semua orang menciut nyali-nya.


Anisa mengambil tas itu, memeriksa bagian dalamnya dan langsung menemukan kebenaran yang Anggun maksudkan. "Arum, panggil Desi kemari." Kata Anisa dengan wajah garang memerintah pegawainya yang bernama Arum tersebut, ternyata kemarahan Anggun bukan tanpa alasan dan yang ia katakan adalah kebenaran. Beruntung Anggun datang dan menyadari kesalahan yang terjadi, kalau ini di biarkan lama akan merusak nama baik dan hasil pemasaran.


"I-iya Bu Anisa...," Katanya gugup karena managernya kini telah hadir di dalam butik bersama manager mall, sekilas ia melirik dua orang emak-emak berdaster. Siapa mereka jadi bisa kenal dan manggil atasan kesini?


"Maaf Kak, saya cuti selama empat hari karena sakit dan harus di rawat di rumah sakit dan selama itu saya mempercayakan butik ini kepada Desi sebagai penanggung jawab saat saya tidak ada." Ujarnya, "Hari ini saya baru masuk setelah beberapa hari cuti dan langsung mengecek laporan-laporan penjualan saat saya tinggalkan, belum sempat mengecek barang yang ada dan saya benar-benar tidak tau kalau semuanya seperti ini." Anisa memang tidak tau menau tentang apa yang terjadi di butik karena ia sakit dan harus menjalani rawat inap karenanya. Mengejutkan sekali bahwa barang-barang yang ada di butik kini berubah menjadi KW yang sama persis dengan Ori, saat orang awam melihatnya mereka pasti akan mengira bahwa barang yang mereka beli adalah asli bukan palsu. Anisa yakin bahwa semua ini di lakukan saat ia tak ada dan ia akan menangkap orang yang telah berani melakukan manipulasi yang sangat merugikan, bukan hanya kerugian finansial namun yang lebih penting adalah nama baik dan kepercayaan pelanggan yang telah tercemar.


"Nyonya, kenapa Nyonya datang tanpa memberi tau saya terlebih dahulu. Saya bisa menyambut dan menemani nyonya berkeliling." Kata Harun yang merasa bahwa Nyonya muda itu saat ini dalam keadaan tidak baik, terlihat dari wajahnya yang merah padam menahan amarah dan menebak-nebak apa yang membuat pemilik mall ini datang malam-malam seperti ini.


"Tuan Harun, kalau saya datang dengan mengatakannya terlebih dulu saya tidak mungkin mendapatkam sambutan luar biasa dari dua orang pengunjung dan pegawai di sini. Itu lebih dari cukup bagi saya sebagai perwakilan dari sambutan yang akan anda berikan, bukan begitu Kak Anggun?"


Anggun mengangguk, mengiyakan apa yang di katakan Ella dan menatap tajam dua orang yang sok di depannya itu. "Saya mungkin bisa memaklumi tingkah dua orang tersebut tapi saya tidak bisa menerima perlakuan dari pegawai butik ini yang ikut-ikutan sok, Mereka hanya menilai seseorang dari tampilan luarnya saja."


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Harun bingung, walau tak secara langsung mengenal tapi ia tau bahwa wanita yang tengah berbicara itu adalah Anggun. Top model yang wajahnya sudah wara-wiri di berbagai majalah dan pemotretan bergengsi lainnya.


"Anisa, standar butik ini sangat mengecawakan. Bagaimana mungkin kalian bisa menerima karyawan yang menghina dan menganggap remeh pelanggan hanya karena penampilannya saja?"


"Maaf Kak, saya akan menyeleksinya sendiri dan saya pastikan bahwa tidak akan terulang kejadian seperti ini.." Kini Anisa mengerti kenapa Anggun memanggilnya, karena selama ia cuti sakit banyak yang telah berubah dan itu membuat perubahan yang sangat memalukan. "Saya akan memecat pegawai yang seenaknya sendiri seperti yang Kakak katakan tadi, sekali lagi saya minta maaf atas kejadian yang tak mengenakkan di sini."


"Tuan Harun, tolong anda lihat baik-baik wajah dua orang wanita yang ada di depan anda."


Harun memperhatikan dua orang wanita yang ada di depannya itu, "Jenifer?" Katanya kaget saat mengetahui bahwa yang sejak tadi menunduk tak berkutik adalah Jenifer, keponakannya sendiri. Ia mengerutkan keningnya, mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi hingga melibat anak dari adiknya itu.


"Ternyata anda mengenalnya?"


"Dia anak dari kakak saya Nyonya." Katanya lagi, "Ada apa dengan keponakan saya?" Tanya-nya lagi, selama ini Harun tidak terlalu dekat dengan Jenifer, terakhir kali bertemu itu beberapa tahun yang lalu karena kesibukannya hingga ia jarang bertemu.


"Tanyakan padanya apa yang sebenarnya terjadi." Ella membalikkan pertanyaan, ia ingin melihat dan mendengar apa yang bisa ia katakan saat ini.


"Jen, ada apa ini?"


"Paman, itu... Ada sedikit kesalah pahaman disini." Katanya dengan tubuh bergetar, bahkan kali ini pamannya selaku manager mall memanggil wanita itu dengan sebutan nyonya dan langsung datang untuk menyambut.


"Kesalah pahaman?" Harun seolah-olah bertanya pada dirinya sendiri.


"Maaf nyonya Ella, saya sudah sangat lama tidak bertemu dengan keponakan saya. Kalau boleh saya tau apa yang keponakan saya lakukan hingga membuat marah anda?"


"Hanya kesalah pahaman sedikit Tuan Harun, kalau anda ingin melihat dan mendengarnya secara langsung tanpa ada yang di kurangi dan di lebihkan anda bisa cek cctv yang terpasang dalam butik ini. Bukannya setiap tempat di mall ini memiliki cctv?"


Harun memerintahkan salah satu staff untuk memeriksa dan membawakan rekaman cctv beberapa jam sebelumnya untuk mengetahui kebenaran yang terjadi, ia tau persis bahwa Nyonya Ella bukan tipe orang yag berkata dengan asal-asalan. Bahkan semua orang tau betapa baik dan dermawannya wanita tersebut dengan memberikan tunjangan-tunjangan khusus kepada setiap pegawainya sebagai bentuk perhatian dan peduli darinya.


"Paman... Jen mohon bantu Jen paman..., Jen tidak melakukan apa pun." Katanya dengan wajah memelas kepada pamannya.


"Jen, paman akan membantumu kalau memang kamu terbukti tidak bersalah."


"Paman Jen memang tidak bersalah, Jen hanya mengatakan apa yang Jen lihat dan apa kah itu salah?"


"Jen, sudah lupakan." Bisik Aliya.


"Maafkan kami, kami benar-benar minta maaf." Kata Aliya dengan menundukkan badannya dalam-dalam menyadari bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan besar di sini.


"Nona, apa yang anda maksud? Kenapa anda meminta maaf? Apa anda melakukan kesalahan?" Ella mencerca wanita itu dengan pertanyaan yang mengintimidasi, setidaknya ia tak akan menyebutkan kesalahan orang lain selain orang tersebut yang mengakuinya.


Aliya terduduk lemas di lantai, menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Lo apaan sih Al? Bangun?!" Jenifer melihat apa yang di lakukannya itu merasa membuat harga dirinya di injak-injak, bagaimana mungkin Aliya bisa bersimpuh di hadapan wanita-wanita yang hanya memakai daster itu dengan merendahkan dirinya sendiri.


"Gue gak mau ikut-ikuta lo Jen." Katanya tanpa menoleh.


"Emang salah apa yang gue bilang? Lo kan liat sendiri kalo apa yang gue bilang itu bener."


"Jen?!"


"Sekarang lo udah berani bentak gue? Lo belain mereka hah?! Lo lupa kalo bukan karena gue mana mungkin lo bisa kayak sekarang? Lo gak nyadar apa selama ini ikut numpang popularitas gue doang?!"


Aliya memilih diam, ngeladenin Jenifer gak ada habisnya dan malah memperkeruh keadaan yang saat ini udah keruhl. Lagian terserah mau dia ngomong apaan yang jelas saat ini Aliya lebih memilih melindungi dirinya sendiri.


"Lo liat kan, paman gue manager di mall ini. Kenapa gue harus minta maaf dan takut sama mereka berdua? Gue Jenifer, ratu sosial media, ratu endors dan sosialita, kenapa harus minta maaf sama dua orang wanita hamil yang keliatan banget kalo mereka gak ada apa-apanya sama gue." Kalo udah punya jiwa sombong itu emang susah buat tobatnya, di tambah angkuh dan ngerasa dirinya yang paling wow. Udah lah paket komplit buat ngancurin diri sendiri.


"Oke, terserah lo mau ngatain gue ikut numpang popularitas lo atau apaan yang jelas gue gak bakal ikut kesombongan lo." Aliya mencoba menahan diri biar gak kepancing dengan Jenifer yang saat ini menjadi-jadi itu. "Maaf nyonya Anggun dan Ella, saya benar-benar minta maaf atas perlakuan dan kata-kata kasar yang telah saya lakukan. Saya harap anda memiliki hati yang lapang untuk memaafkan apa yang telah saya lakukan."


Anggun mengerjapkan matanya, memang dari awal wanita yang bernama Aliya itu gak banyak omong beda sama Jenifer yang mulutnya nyampah itu tapi Anggun gak nyangka bakal mendapatkan perlakuan seperti ini. Dengan gamblang Aliya berani mengakui kesalahannya di depan orang lain bahkan bersimpuh dan menyingkirkan harga dirinya, itu sudah lebih dari cukup untuk Anggun memaafkannya. Bahkan tanpa harus bersimpuh Anggun akan melupakan apa yang telah ia ucapkan asalkan meminta maaf dengan tulus. "Baik, gue maafin lo dengan syarat lo gak ngulangin kelakuan lo."


"Terimakasih...," Kata Aliya senang, dan kali ini tinggal satu orang lagi yang belum memberikan maafnya. Aliya melihat ke arah Ella dengan tatapan mata memohon.


"Udah lah, gue juga gak mau nambah urusan. Gue maafin lo tapi lo jangan merendahkan orang hanya dari penampilannha saja." Kata Ella yang gak mau memperpanjang masalah, lagian udah mengakui kesalahan di depan orang banyak dan meminta maaf audah cukup baginya.


"Terimakasih nyonya Ella."


"Sekarang lo berdiri, lo gak perlu sampek kayak gitu." Kata Anggun yang gak enak liatnya, dia bukan orang sehebat itu sampek mendapatkan perlakuan yang menurutnya berlebiham sekali.


Aliya berdiri dengan perasaan ringan, saat ini posisinya sudah aman terkendali dan melihat ke arah Jenifer dengan tatapan mata kasihan. Kasihan karena temannya itu dibutakan dengan kesombongan dan gak sadar kalau lagi gali kubur sendiri. Gimana mau sadar kalo belum liat komentar-komentar yag semuanya bakal jatuhin popularitasnya dan Aliya yakin beberapa produk bakal membatalkan perjanjian endors mereka karena banyak produk yang menjadikannya endors di bawah naungan keluarga Mahendra. Sorry Jen, gue udah gak kuat jadi temen lo. Lo memperlakukan gue selama ini bukan sebagai teman tapi lebih tepatnya udah kayak pembantu lo, bukannya gue seneng liat lo jatuh cuma gue mau ini sebagai peringatan buat lo kalo lo itu sombongnya gak ketulungan. Lo cuma manfaatin gue doang....


*********


Akh....!!!!


Duo emak berdaster emang luar biasa guys...


Makanya jangan coba-coba buat ngeremehin emak-emak berdaster kalo kalian gak mau mati kutu. Emak-emak itu punya nyali dan nyawa cadangan yang gak pernah di sangka-sangka, kalo dastetnya udah di gantung bakal jadi emak-emak kece badai lo...


Makasih buat kalian yang masih setia nunggu up dan tetep baca novel yang author tulis ini, Jangan lupa tinggalin Like, komentar dan Vote kalian buat nambah author jadi lebih semangat lagi dalam berkarya.


Makasih atas dukungan kalian semua yang udah berpatisipasi meramaikan kolom komentar, dukungan kalian itu sangat-sangat berarti buat Author.


Makasih....