
Setelah puas bermain dengan air dan lumpur, Rega menghubungi Yun demi kenyamanan dan keamanan mereka. Memberikan titik kordinat keberadaan dirinya, mengirimkan pakaian ganti untuknya dan Ella yang saat ini pakaian mereka berdua tak pantas lagi dan harus di ganti dengan yang kering juga bersih demi kesehatan mereka.
Rega memandangi matahari yang tengah meluncur ke peraduannya, semburat cahaya tampak sangat indah dengan perpaduan yang mampu membuat siapa pun berdecak kagum atas keindahannya. Benda bulat memancarkan cahaya itu bersiap pergi, tergantikan oleh cahaya bintang dan bulan yang lebih redup nan lembut menghias langit malam yang tak akan lama lagi datang menggantikan petang.
Pemandangan alam yang sangat indah, tercipta tanpa adanya campur tangan manusia disana. Menyuguhkan perpaduan yang sangat luar biasa hingga menyihir dua insan yang kini duduk bersama menikmatinya dengan rasa syukur tak terhingga dalam diam.
Bahkan Ella, cewek yang biasanya punya seribu satu gaya itu akhirnya diam. Menyandarkan kepalanya di dada bidang Rega dengan tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. Ia terhanyut dengan apa yang alam suguhkan untuk matanya nikmati, seulas senyum terurai dari bibirnya berwarna pink yang terlihat selalu segar itu.
Sungguh suasana romantis yang tak pernah mereka bayangkan dengan duduk di sawah dan tubuh yang kotor karena lumpur akibat ulah mereka sendiri. Baik Rega maupun Ella tak pernah menyesali apa yang mereka lakukan barusan, bertingkah konyol layaknya anak-anak namun mampu menghidupkan suasana bahagia yang tak mampu di beli oleh apa pun di dunia ini.
Tubuh Ella yang kecil sangat kontras dengan tubuh Rega yang tegap dan kokoh sehingga dengan mudahnya tampak bersembunyi di pelukan Rega. Lelaki itu memperlakukannya seolah-olah hanya ia yang mampu memilikinya dan tak akan membiarkan siapa pun menyentuh kesayangannya tersebut.
"Lo tau, gue rela mengorbankan apa pun yang gue miliki untuk menukarnya dengan saat ini." Katanya lembut tanpa melepaskan tangannya, tetap melingkar di pinggang mungil Ella.
"Kumat lagi deh Om lebaynya, kalo Om menukarkan semuanya trus Om bangkrut gimana?"
"Gak masalah, gue bangkit lagi. Gue usaha sampai gue berada di titik yang sama, gue yakin niat yang baik akan mendapat jalan yang baik."
Ella mendongakkan wajahnya, melihat Rega yang pandangannya lurus ke arah matahari terbit. Seulas senyum ia hadirkan, takdir yang mempertemukan Ella dengan laki-laki arogan itu hingga bersama saat ini menikmati pemandangan marahari tenggelam.
"Apa lo bakal ninggalin gue saat gue gak punya uang, kekuasaan lagi?" Rega menundukka wajahnya, melihat wajah Ella yang akan menjawab pertanyaan yang ia lontarkan hingga mata mereka bertemu.
Melihat antara satu dan lainnya disana.
"Apa Om harus tanya jawaban yang seharusnya Om sendiri tau jawabannya?"
Bukannya menjawab tapi Ella lebih memilih memberikan pertanyaan.
Sejauh ini mereka telah bersama, mengenal satu dan lainnya hingga harusnya Rega tau jawaban yang akan ia dapatkan atas pertanyaan b*doh itu. "Gue cuma mau dengar langsung dari mulut elo, bukan cuma asumsi gue sendiri."
Ella menundukkan wajahnya, tak lagi melihat ke arah manik mata Rega. Tangan Ella menyantuh dua tangan Rega yang terjalin di pinggangnya dan di balas oleh Rega dengan menggenggam tangan mungil Ella yang hilang dalam genggaman tangannya yang besar. "Bagi Ella yang terbiasa hidup sederhana, harta bukan segalanya untuk menjadikannya sebuah patokan kebahagiaan. Tapi, untuk melangsungkan hidup Ella gak munafik memerlukannya. Kalau Om dalam keadaan yang kayak Om bilang tadi, Ella gak bakal ninggalin Om." Mengelus lembut tangan Rega memberikan sentuhan bahwa yang ia katakan adalah kebenaran. "Ella gak akan membiarkan Om berjuang sendiri, Ella bakal nemenin Om sampai Om bisa bangkit lagi. Tapi, Ella harap Om gak bakalan bangkrut karena Ella mau Om bantuin Ella untuk menghidupi anak yatim piatu yang ada di yayasan Ella. Mereka perlu bantuan dari kita." Ucapnya lembut.
Bagaimanapun setelah Rega menjadi suaminya, ia ingin Rega ikut andil dalam hal apa pun yang ia lakukan. Bahkan yayasan yatim piatu yang selama ini ia kelola.
"Tentu aja, mana mungkin gue lari dari tanggung jawab itu. Tanpa lo minta gue bakal memenuhi kebutuhan mereka."
"Terimakasih..." Katanya tulus.
Ella telah memutuskan untuk bisa menerima keberadaan, perhatian dan cinta yang Rega berikan. Tak ada salahnya mencoba menerimanya, karena Rega mampu membuktikan bahwa ia layak dan bisa bersamanya. Laki-laki itu telah bersusah payah meluangkan waktu untuk mendapatkan perhatiannya selama ini, bahkan telah meyakinkan papa atas keinginannya.
"Ini udah yang kesekian kali yang gue sendiri gak pernah bisa ngitung berapa banyaknya gue ngomong." Rega menarik nafas panjang, mengumpulkan segenap hatinya untuk mencobanya lagi. "Ella, menikahlah dengan laki-laki tua ini. Jadilah teman hidup dalam suka mau pun duka, berjanjilah menjadi ibu untuk anak-anaknya kelak. menjadi diri sendiri dalam keseharian, tertawalah untuk menjadikannya penyemangat." Ucapnya pelan, ingin Ella yang dalam pelukannya itu mendengar ketulusan dengan apa yang ia ucapkan dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Lamaran ini terdengar berbeda di telinga Ella saat ini, tak sama dengan lamaran-lamaran sebelumnya."Iya, Ella mau..." Ucapnya lirih.
Akhir manis yang ia harapkan itu kini telah ada di genggaman tangannya dan berjanji tak akan melepaskannya apa pun yang terjadi.
"Tapi, tolong Om beri waktu buat Ella. Saat ini Ella belum siap menikah, bahkan Ella belum tau apa Ella mencintai om atau enggak."
"Gak masalah, gue bakal ngasih perhatian dan cinta yang besar buat lo. Sampai cewek cerewet ini bisa memberikan hatinya buat gue sepenuhnya, gue dengan sabar nunggu sampai saat itu tiba. Tenang aja, kantong kesabaran gue masih sangat besar." Kata Rega dengan tersenyum lebar.
"Om tau apa yang Ella rasakan saat ini?"
Rega menundukkan wajahnya, tinggi badan mereka yang kontras itu membuatnya harus menunduk cuma buat liat wajah Ella. Itu pun pucuk kepala Ella hanya menyentuh ujung dagunya saat mereka duduk seperti ini.
"Ella ngantuk, capek, risih, lapar. Kapan sekertaris Om bakal datang bawa baju ganti?"
Rega yang udah nunggu kata-kata indah dari mulut Ella yang bakalan terdengar bagaikan syair itu langsung pecah berantakan.
Perut mereka cuma terisi dengan nasi goreng sarapan tadi pagi, dan ini sudah menjelang malam tentu aja udah lapar.
"Om tega bikin Ella kelaparan, katanya kaya, punya banyak uang tapi nyatanya Ella terdampar disini kelaparan. Kalo Ella mati gimana? kurus kering?"
Rega menggelengkan kepalanya, balik lagi tu cewek jadi cerewet. Padahal tadi udah anteng, ngomong serius bikin hati terhipnotis.
"Om.... L A P A R...."
" Iya, Yun bakal kesini gak lama lagi. Dia gue suruh bawa Bus yang ada kamar mandinya buat kita mandi. Lo mau pulang dalam keadaan kayak gini? Walau ada baju ganti percuma aja kan gak di bersihin?"
Ella yang baru nyadar kalo keadaannya babak belur itu cuma ketawa kecil, muka mereka aja yang keliatan itu pun karena mereka mencucinya sama air minum yang mereka bawa.
Rega meraih tangan Ella, seolah-olah tangannya memegang sesuatu yang tentu aja gak ada (bayangin aja tu cincin yang di pegang Rega) memasukkannya ke dalam jari manis Ella.
Ella yang bingung tu cowok lagi ngapain cuma bisa ngeliatin sambil mikir keras.
"Lamaran tu gak afdol kalo gak ada cincin, berhubung cincin yang gue persiapin ada di apartemen jadi gue ganti aja untuk saat ini cincin imanjinasi yang bisa lo bayangin sendiri bentuknya." Katanya seolah tau apa yang Ella pikirkan saat ini dari ekspresi wajahnya.
"Om gak modal banget sih?"
"Biarin, buktinya lo mau sama cowok yang gak modal."
"Iya juga ya?"
Rega mencium pipi Ella dengan gemas.
"Makasih udah mau nemenin gue, tapi yang lebih penting gue bersyukur banget bisa ketemu sama kenal sama lo." Katanya lembut.